Jumat, 10 Desember 2010

PAK DJOKO, SOSOK PENGAJAR, PENDIDIK, DAN ORANG TUA DI TEKNIK KIMIA UNDIP

Apabila berbicara tentang dosen, maka di benak kita akan muncul pertanyaan apa perbedaan antara guru dan dosen. Guru dapat didefinisikan sebagai pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sebutan “guru” biasa kita temui pada pendidikan setara TK, SD, SMP, dan SMA. Dalam Undang-Udang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab I pasal 1 ayat 6, dosen disebutkan sebagai pendidik termasuk pula di dalamnya guru, kanselor, pamong belajar, dan sebagainya. Selanjutnya dalam Bab XI Pasal 39 ayat 2 disebutkan “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”. Dari definisi pendidik tersebut dapat saya tarik kesimpulan bahwa perbedaan mendasar antara guru dan dosen terletak pada aktivitas penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Dosen tidak hanya sekadar melaksanakan tugas mengajar dan mendidik  seperti guru. Menurut saya, tidak lengkap rasanya seorang dosen menjadi dosen jika hanya mengajar saja tanpa pernah melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Begitu pula tidak layak seseorang disebut dosen  jika dosen tersebut hanya melakukan penelitian dan mengabaikan tugas utamanya untuk mengajar.

Di mata orang awam seperti saya, ada sebuah perbedaan yang begitu nampak antara dosen dan guru. Gambaran kasarnya seperti ini: tingkat kepedulian dosen akan mahasiswanya jauh lebih rendah dibandingkan tingkat kepedulian guru pada muridnya. Guru akan berusaha menerangkan pelajaran sejelas-jelasnya pada  murid sampai semua murid mampu mengerti dan memahami pelajaran tadi. Lain halnya dengan dosen yang kadang mengajar pun tak pernah penuh bahkan hanya beberapa menit saja di dalam kelas. Saya bisa maklumi hal ini mengingat peserta didik antara dosen dan guru berbeda. Guru biasa mengajar murid usia 6 sampai 17 tahun (usia yang dirasa masih sangat membutuhkan bimbingan intensif) , sedangkan dosen mengajar mahasiswa yang berusia di atas 17 tahun (usia yang dianggap sudah cukup dewasa dan sudah mampu belajar mandiri).

Terlepas dari semua perbedaan yang ada, tentu ada persamaan antara dosen dan guru. Mereka sama-sama memiliki tugas tidak hanya mengajar melainkan juga mendidik. Sekilas tak ada perbedaan antara mengajar dan mendidik. Namun jika kita melihat lebih dalam ke definisi pengajaran dan pendidikan, kita akan memahami bahwa ada perbedaan pada keduanya. Pengajaran merupakan aktivitas atau proses yang berkaitan dengan penyebaran ilmu pengetahuan atau kemahiran yang tertentu. Pengajaran merupakan pembinaan terhadap anak didik yang hanya menyangkut segi kognitif dan psikomotor saja yaitu agar anak lebih banyak pengetahuannya, lebih cakap berfikir kritis, sistematis, objektif ,dan terampil dalam mengerjakan sesuatu. Sedangkan pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Jadi antara mengajar dan mendidik ada perbedaan pada tujuan yang akan dicapai. Dalam mengajar tujuan akhirnya adalah ilmu yang disampaikan mampu diserap dengan baik oleh peserta didik dan hasilnya dapat bersifat kognitif serta psikomotor. Sedangkan mendidik tidak hanya dititikberatkan pada hasil kognitif saja, melainkan juga kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosi. Jadi “mendidik” merupakan bagian terpenting dalam “mengajar” agar peserta didik tidak hanya menerima ilmu baru atau sekadar mencari nilai melainkan juga mampu mengaplikasikannya agar bermanfaat bagi masyarakat.

Selama dua tahun kuliah di teknik kimia Undip ini, saya tak melihat banyak dosen yang mampu melakukan tugas sebagai pengajar sekaligus pendidik. Kebanyakan dosen di teknik kimia ini mampu melaksanakan tugas sebagai pengajar dengan baik, namun sangat jarang yang mampu berperan sebagai pendidik juga. Saya sendiri merasa sering bahkan selalu tidak mengerti apa-apa ketika diajar oleh dosen-dosen di sini. Saya terkadang memiliki perasaan “hampa” atau “tidak menemukan sesuatu yang baru” setelah dosen masuk kelas. Sudah tak ada ilmu yang masuk ke kepala, didikan dari dosen pun jarang saya dapat. Memang saya akui otak saya tak seencer beberapa mahasiswa lain yang bisa menyerap penjelasan dosen dalam waktu singkat. Tak heran kalau kadang saya baru bisa memahami semua yang diajarkan dosen sesaat menjelang ujian saja.

Namun di mata saya ada satu dosen yang begitu unik dan berbeda dari dosen-dosen yang lain. Perbedaan yang paling nampak adalah cara beliau dalam menyampaikan ilmu pada mahasiswa. Mungkin untuk pertama kalinya dalam sepanjang hidup saya di teknik kimia ini saya benar-benar merasa “bodoh” sebagai mahasiswa. Saya rasa beliau lah yang layak disebut sebagai pengajar dan pendidik. Cara beliau yang unik dalam mengajar mampu membius banyak mahasiswa untuk menjadikan beliau sebagai tokoh panutan. Bahkan jika kita search di facebook pun akan muncul grup pecinta dosen yang satu ini. Beliau adalah Ir. R. P. Djoko Murwono, SU atau yang biasa kita sapa dengan pak Djoko.
 
Pak Djoko mengampu mata kuliah Matematika Teknik Kimia 2 dan Fenomena Perpindahan di semester 4. Sejujurnya sebelum bertemu beliau di kelas, saya tidak pernah sekali pun melihat wajah beliau di kampus teknik kimia ini. Saya hanya mendengar desas-desus tentang beliau yang suka mempermalukan mahasiswa di depan kelas dan mem”bodoh-bodoh”i mahasiswa sampai mahasiswa tadi benar-benar merasa “bodoh sekali”. Jika dilihat dari fisik beliau, saya tak menyangka usia beliau sudah mencapai kepala enam. Badan beliau masih tegap serta selalu terlihat sehat dan bugar. Semangat beliau tidak kalah dengan dosen yang jauh lebih muda dari beliau. Pak Djoko merupakan sosok dosen yang sederhana di mata saya. Dari tutur kata dan bahasa “kasar” yang sering beliau ucapakan, mungkin tak akan ada yang percaya beliau adalah dosen. Meski terlihat agak “nyleneh” dan “seenaknya”, saya rasa hampir semua warga teknik kimia Undip ini begitu respect pada beliau.

Pak Djoko bukanlah dosen yang “banyak maunya”. Kuliah hanya perlu OHP dan transparansi dan kadang-kadang beliau meminta persediaan kapur tulis yang cukup banyak. Beliau sering memberi tugas pada mahasiswa namun tak pernah minta untuk dikumpulkan. Hal inilah yang tak jarang membuat hampir sebagian besar mahasiswa enggan untuk mengerjakan tugas. Boro-boro mengerjakan tugas, mengingat tugas mana yang diberikan saja jarang sekali dilakukan mahasiswa. Selama hampir 14 tahun menempuh pendidikan formal, hanya ada dua nama yang saya sebut sebagai orang cerdas. Yang pertama adalah almarhum guru matematika SMP saya dan yang kedua adalah Pak Djoko. Sosok Pak Djoko sangat mirip dengan guru matematika SMP saya. Dari luar terlihat galak dan begitu killer, namun di balik semua itu beliau  adalah dosen yang “lebih dari sekadar dosen”.
 
Saya sebenarnya heran bagaimana mungkin Tuhan menciptakan manusia secerdas pak Djoko. Saat mengajar beliau hanya membawa satu buku pegangan yang nampak sudah sangat tua. Buku yang dibawa pak Djoko biasanya berwarna kecoklatan dan terlihat sangat lusuh. Hal ini menunjukkan terlalu seringnya buku itu dibuka oleh sang pemilik (lain dengan buku milik saya yang masih sangat mulus dan tak kadang masih ada bau-bau fotocopy-an). Kecepatan berpikir pak Djoko dalam mengajar sangat jarang bisa dilampaui oleh mahasiswa. Semakin cepat otak pak Djoko berpikir semakin jelek tulisan beliau (yang langsung ditulis di atas OHP) pada tranparansi sehingga tak bisa dipungkiri semakin bingung pula mahasiswa yang melihatnya. Saat beliau mengajar kebanyakan mahasiswa hanya bisa mengangguk-angguk, menjawab pertanyaan pak Joko dengan “iya...iya..iya..”, ternganga karena kebingungan, menguap, dan mungkin sedikit yang berusaha memahami dengan konsentrasi penuh. Atau mungkin ada yang seperti saya: bergumam dalam hati, “Ya ampun masih ada saja manusia sedahsyat ini. Betapa luar biasanya Tuhan menciptakan makhluk ini”.

Hal yang paling dinanti-nanti adalah saat beberapa mahasiswa disuruh maju mengerjakan soal. Saya sebut “hal yang paling dinanti-nanti” karena saat itulah berbagai kejadian akan muncul. Detik pertama semua mahasiswa mungkin akan menahan nafas berharap tidak mendapat giliran maju. Detik berikutnya ada dua fenomena: mahasiswa yang dapat giliran maju akan memiliki ekspresi campur aduk antara takut dan pasrah, sedang mahasiswa yang selamat akan menghela nafas sebebas-bebasnya dengan tak henti mengucap syukur pada Yang Kuasa. Menit-menit selanjutnya pasti akan muuncul tawa riuh dari seisi kelas ketika mahasiswa yang maju tidak bisa mengerjakan kemudian dicaci maki pak Djoko dengan “guyonan” khas beliau. Begitu seterusnya terjadi sampai benar-benar ada mahasiswa yang bisa mengerjakan soal (dengan bantuan pak Djoko sepenuhnya tentunya). Di balik semua tawa dan malu yang ada, sebenarnya cara pak Djoko mengajar sangat mendidik kami. Mungkin hanya dengan cara dibentak-bentak dan dipermalukan di depan kelas lah kami menjadi bisa mengerti apa yang beliau ajarkan.
 
Sebenarnya apa yang diajarkan pak Djoko saat kuliah sangat jarang mampu diserap oleh otak saya ini dengan baik. Kalau dipresentase mungkin hanya 2-3 % yang ada di otak saya, sisanya tentu saja melayang entah ke mana. Namun di sela-sela mengajar beliau selalu memberi didikan yang sangat jarang saya dapatkan selama kuliah. Beliau selalu memberi pendidikan moral dan tanpa saya sadari beberapa yang beliau ucapkan mampu memotivasi saya menjalani beratnya kuliah di teknik kimia ini. Bahkan boleh dibilang beliau adalah best motivator yang ada (jauh lebih baik daripada trainer-trainer kebanyakan yang biasanya jago omong saja). Beliau mendidik mahasiswa agar tak hanya mengejar IP selama kuliah. Justru memperoleh dan memahami ilmu yang didapat jauh lebih berharga daripada IP cumlaude tiap semester. Pendidikan di Indonesia sekarang lebih diarahkan pada menyiapkan tenaga kerja "buruh", bukan pemikir-pemikir handal yang siap menganalisa segala kondisi. Pak Djoko bukanlah dosen yang mendidik mahasiswa dengan “cetakan buruh”. Beliau selalu berbagi pengalaman beliau dan tak lupa selalu memberi contoh mengaplikasikan ilmu teknik kimia yang kami peroleh ke masyarakat. Beliau tak jarang selalu menyelipkan filosofi kehidupan dan moral di sela-sela mengajar. Hal itu lah yang membedakan pak Djoko dengan dosen-dosen yang lain. Satu hal yang paling saya kagumi dari beliau adalah sifat beliau yang sangat “merakyat” (saya menyebut beliau sebagai sahabat para petani) dan tak pernah silau akan sebuah jabatan. Beliau berani memilih jalan kehidupannya sendiri yang mungkin sangat dianggap tak lazim bagi orang lain

Pak Djoko merupakan sosok dosen yang begitu komplit. Beliau tak hanya mengajar namun juga mendidik. Beliau juga melakukan aktivitas pengabdian masyarakat. Selain itu, menurut saya pak Djoko bisa juga disebut sebagai sosok “ayah” di kampus. Beliau mendidik “anak-anaknya” dengan cara unik. Ejekan dan segala cemoohan bagi mahasiswa merupakan bukti sayang beliau kepada mahasiswa teknik kimia Undip agar mahasiswa di sini mampu tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Beliau selalu mampu memberikan harapan bagi sebagian mahasiswa yang mungkin merasa kehidupannya sudah “tamat” di teknik kimia seperti saya. Saya menyebut beliau: Great Teacher Mr. Djoko!


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Jumat, 10 Desember 2010

PAK DJOKO, SOSOK PENGAJAR, PENDIDIK, DAN ORANG TUA DI TEKNIK KIMIA UNDIP

Apabila berbicara tentang dosen, maka di benak kita akan muncul pertanyaan apa perbedaan antara guru dan dosen. Guru dapat didefinisikan sebagai pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sebutan “guru” biasa kita temui pada pendidikan setara TK, SD, SMP, dan SMA. Dalam Undang-Udang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab I pasal 1 ayat 6, dosen disebutkan sebagai pendidik termasuk pula di dalamnya guru, kanselor, pamong belajar, dan sebagainya. Selanjutnya dalam Bab XI Pasal 39 ayat 2 disebutkan “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”. Dari definisi pendidik tersebut dapat saya tarik kesimpulan bahwa perbedaan mendasar antara guru dan dosen terletak pada aktivitas penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Dosen tidak hanya sekadar melaksanakan tugas mengajar dan mendidik  seperti guru. Menurut saya, tidak lengkap rasanya seorang dosen menjadi dosen jika hanya mengajar saja tanpa pernah melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Begitu pula tidak layak seseorang disebut dosen  jika dosen tersebut hanya melakukan penelitian dan mengabaikan tugas utamanya untuk mengajar.

Di mata orang awam seperti saya, ada sebuah perbedaan yang begitu nampak antara dosen dan guru. Gambaran kasarnya seperti ini: tingkat kepedulian dosen akan mahasiswanya jauh lebih rendah dibandingkan tingkat kepedulian guru pada muridnya. Guru akan berusaha menerangkan pelajaran sejelas-jelasnya pada  murid sampai semua murid mampu mengerti dan memahami pelajaran tadi. Lain halnya dengan dosen yang kadang mengajar pun tak pernah penuh bahkan hanya beberapa menit saja di dalam kelas. Saya bisa maklumi hal ini mengingat peserta didik antara dosen dan guru berbeda. Guru biasa mengajar murid usia 6 sampai 17 tahun (usia yang dirasa masih sangat membutuhkan bimbingan intensif) , sedangkan dosen mengajar mahasiswa yang berusia di atas 17 tahun (usia yang dianggap sudah cukup dewasa dan sudah mampu belajar mandiri).

Terlepas dari semua perbedaan yang ada, tentu ada persamaan antara dosen dan guru. Mereka sama-sama memiliki tugas tidak hanya mengajar melainkan juga mendidik. Sekilas tak ada perbedaan antara mengajar dan mendidik. Namun jika kita melihat lebih dalam ke definisi pengajaran dan pendidikan, kita akan memahami bahwa ada perbedaan pada keduanya. Pengajaran merupakan aktivitas atau proses yang berkaitan dengan penyebaran ilmu pengetahuan atau kemahiran yang tertentu. Pengajaran merupakan pembinaan terhadap anak didik yang hanya menyangkut segi kognitif dan psikomotor saja yaitu agar anak lebih banyak pengetahuannya, lebih cakap berfikir kritis, sistematis, objektif ,dan terampil dalam mengerjakan sesuatu. Sedangkan pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Jadi antara mengajar dan mendidik ada perbedaan pada tujuan yang akan dicapai. Dalam mengajar tujuan akhirnya adalah ilmu yang disampaikan mampu diserap dengan baik oleh peserta didik dan hasilnya dapat bersifat kognitif serta psikomotor. Sedangkan mendidik tidak hanya dititikberatkan pada hasil kognitif saja, melainkan juga kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosi. Jadi “mendidik” merupakan bagian terpenting dalam “mengajar” agar peserta didik tidak hanya menerima ilmu baru atau sekadar mencari nilai melainkan juga mampu mengaplikasikannya agar bermanfaat bagi masyarakat.

Selama dua tahun kuliah di teknik kimia Undip ini, saya tak melihat banyak dosen yang mampu melakukan tugas sebagai pengajar sekaligus pendidik. Kebanyakan dosen di teknik kimia ini mampu melaksanakan tugas sebagai pengajar dengan baik, namun sangat jarang yang mampu berperan sebagai pendidik juga. Saya sendiri merasa sering bahkan selalu tidak mengerti apa-apa ketika diajar oleh dosen-dosen di sini. Saya terkadang memiliki perasaan “hampa” atau “tidak menemukan sesuatu yang baru” setelah dosen masuk kelas. Sudah tak ada ilmu yang masuk ke kepala, didikan dari dosen pun jarang saya dapat. Memang saya akui otak saya tak seencer beberapa mahasiswa lain yang bisa menyerap penjelasan dosen dalam waktu singkat. Tak heran kalau kadang saya baru bisa memahami semua yang diajarkan dosen sesaat menjelang ujian saja.

Namun di mata saya ada satu dosen yang begitu unik dan berbeda dari dosen-dosen yang lain. Perbedaan yang paling nampak adalah cara beliau dalam menyampaikan ilmu pada mahasiswa. Mungkin untuk pertama kalinya dalam sepanjang hidup saya di teknik kimia ini saya benar-benar merasa “bodoh” sebagai mahasiswa. Saya rasa beliau lah yang layak disebut sebagai pengajar dan pendidik. Cara beliau yang unik dalam mengajar mampu membius banyak mahasiswa untuk menjadikan beliau sebagai tokoh panutan. Bahkan jika kita search di facebook pun akan muncul grup pecinta dosen yang satu ini. Beliau adalah Ir. R. P. Djoko Murwono, SU atau yang biasa kita sapa dengan pak Djoko.
 
Pak Djoko mengampu mata kuliah Matematika Teknik Kimia 2 dan Fenomena Perpindahan di semester 4. Sejujurnya sebelum bertemu beliau di kelas, saya tidak pernah sekali pun melihat wajah beliau di kampus teknik kimia ini. Saya hanya mendengar desas-desus tentang beliau yang suka mempermalukan mahasiswa di depan kelas dan mem”bodoh-bodoh”i mahasiswa sampai mahasiswa tadi benar-benar merasa “bodoh sekali”. Jika dilihat dari fisik beliau, saya tak menyangka usia beliau sudah mencapai kepala enam. Badan beliau masih tegap serta selalu terlihat sehat dan bugar. Semangat beliau tidak kalah dengan dosen yang jauh lebih muda dari beliau. Pak Djoko merupakan sosok dosen yang sederhana di mata saya. Dari tutur kata dan bahasa “kasar” yang sering beliau ucapakan, mungkin tak akan ada yang percaya beliau adalah dosen. Meski terlihat agak “nyleneh” dan “seenaknya”, saya rasa hampir semua warga teknik kimia Undip ini begitu respect pada beliau.

Pak Djoko bukanlah dosen yang “banyak maunya”. Kuliah hanya perlu OHP dan transparansi dan kadang-kadang beliau meminta persediaan kapur tulis yang cukup banyak. Beliau sering memberi tugas pada mahasiswa namun tak pernah minta untuk dikumpulkan. Hal inilah yang tak jarang membuat hampir sebagian besar mahasiswa enggan untuk mengerjakan tugas. Boro-boro mengerjakan tugas, mengingat tugas mana yang diberikan saja jarang sekali dilakukan mahasiswa. Selama hampir 14 tahun menempuh pendidikan formal, hanya ada dua nama yang saya sebut sebagai orang cerdas. Yang pertama adalah almarhum guru matematika SMP saya dan yang kedua adalah Pak Djoko. Sosok Pak Djoko sangat mirip dengan guru matematika SMP saya. Dari luar terlihat galak dan begitu killer, namun di balik semua itu beliau  adalah dosen yang “lebih dari sekadar dosen”.
 
Saya sebenarnya heran bagaimana mungkin Tuhan menciptakan manusia secerdas pak Djoko. Saat mengajar beliau hanya membawa satu buku pegangan yang nampak sudah sangat tua. Buku yang dibawa pak Djoko biasanya berwarna kecoklatan dan terlihat sangat lusuh. Hal ini menunjukkan terlalu seringnya buku itu dibuka oleh sang pemilik (lain dengan buku milik saya yang masih sangat mulus dan tak kadang masih ada bau-bau fotocopy-an). Kecepatan berpikir pak Djoko dalam mengajar sangat jarang bisa dilampaui oleh mahasiswa. Semakin cepat otak pak Djoko berpikir semakin jelek tulisan beliau (yang langsung ditulis di atas OHP) pada tranparansi sehingga tak bisa dipungkiri semakin bingung pula mahasiswa yang melihatnya. Saat beliau mengajar kebanyakan mahasiswa hanya bisa mengangguk-angguk, menjawab pertanyaan pak Joko dengan “iya...iya..iya..”, ternganga karena kebingungan, menguap, dan mungkin sedikit yang berusaha memahami dengan konsentrasi penuh. Atau mungkin ada yang seperti saya: bergumam dalam hati, “Ya ampun masih ada saja manusia sedahsyat ini. Betapa luar biasanya Tuhan menciptakan makhluk ini”.

Hal yang paling dinanti-nanti adalah saat beberapa mahasiswa disuruh maju mengerjakan soal. Saya sebut “hal yang paling dinanti-nanti” karena saat itulah berbagai kejadian akan muncul. Detik pertama semua mahasiswa mungkin akan menahan nafas berharap tidak mendapat giliran maju. Detik berikutnya ada dua fenomena: mahasiswa yang dapat giliran maju akan memiliki ekspresi campur aduk antara takut dan pasrah, sedang mahasiswa yang selamat akan menghela nafas sebebas-bebasnya dengan tak henti mengucap syukur pada Yang Kuasa. Menit-menit selanjutnya pasti akan muuncul tawa riuh dari seisi kelas ketika mahasiswa yang maju tidak bisa mengerjakan kemudian dicaci maki pak Djoko dengan “guyonan” khas beliau. Begitu seterusnya terjadi sampai benar-benar ada mahasiswa yang bisa mengerjakan soal (dengan bantuan pak Djoko sepenuhnya tentunya). Di balik semua tawa dan malu yang ada, sebenarnya cara pak Djoko mengajar sangat mendidik kami. Mungkin hanya dengan cara dibentak-bentak dan dipermalukan di depan kelas lah kami menjadi bisa mengerti apa yang beliau ajarkan.
 
Sebenarnya apa yang diajarkan pak Djoko saat kuliah sangat jarang mampu diserap oleh otak saya ini dengan baik. Kalau dipresentase mungkin hanya 2-3 % yang ada di otak saya, sisanya tentu saja melayang entah ke mana. Namun di sela-sela mengajar beliau selalu memberi didikan yang sangat jarang saya dapatkan selama kuliah. Beliau selalu memberi pendidikan moral dan tanpa saya sadari beberapa yang beliau ucapkan mampu memotivasi saya menjalani beratnya kuliah di teknik kimia ini. Bahkan boleh dibilang beliau adalah best motivator yang ada (jauh lebih baik daripada trainer-trainer kebanyakan yang biasanya jago omong saja). Beliau mendidik mahasiswa agar tak hanya mengejar IP selama kuliah. Justru memperoleh dan memahami ilmu yang didapat jauh lebih berharga daripada IP cumlaude tiap semester. Pendidikan di Indonesia sekarang lebih diarahkan pada menyiapkan tenaga kerja "buruh", bukan pemikir-pemikir handal yang siap menganalisa segala kondisi. Pak Djoko bukanlah dosen yang mendidik mahasiswa dengan “cetakan buruh”. Beliau selalu berbagi pengalaman beliau dan tak lupa selalu memberi contoh mengaplikasikan ilmu teknik kimia yang kami peroleh ke masyarakat. Beliau tak jarang selalu menyelipkan filosofi kehidupan dan moral di sela-sela mengajar. Hal itu lah yang membedakan pak Djoko dengan dosen-dosen yang lain. Satu hal yang paling saya kagumi dari beliau adalah sifat beliau yang sangat “merakyat” (saya menyebut beliau sebagai sahabat para petani) dan tak pernah silau akan sebuah jabatan. Beliau berani memilih jalan kehidupannya sendiri yang mungkin sangat dianggap tak lazim bagi orang lain

Pak Djoko merupakan sosok dosen yang begitu komplit. Beliau tak hanya mengajar namun juga mendidik. Beliau juga melakukan aktivitas pengabdian masyarakat. Selain itu, menurut saya pak Djoko bisa juga disebut sebagai sosok “ayah” di kampus. Beliau mendidik “anak-anaknya” dengan cara unik. Ejekan dan segala cemoohan bagi mahasiswa merupakan bukti sayang beliau kepada mahasiswa teknik kimia Undip agar mahasiswa di sini mampu tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Beliau selalu mampu memberikan harapan bagi sebagian mahasiswa yang mungkin merasa kehidupannya sudah “tamat” di teknik kimia seperti saya. Saya menyebut beliau: Great Teacher Mr. Djoko!


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar