Jumat, 22 Juli 2011

:: This Is Only A Story Between Us ::

You.. You.. You...
I remember the first time I saw you, it's been a long time ago
You were singing at there, and the people around you enjoyed your performance
next, I saw you again in every moment. You were always singing.... I don't know why I enjoyed every your performance
then you made me start feeling like this..
and now......
I always look at you when you pass
I never understand why you should play it cool
You never talk to me, but you just smile (sometimes)
Yeah, it's true that I'm a freak person
I do something that you call "absurd"
I'm sorry that I always disturb you.. I follow your path, I'm always looking for you...
It's a happiness for me to see you smile (though your smile is not for me)
This is something that I call "admire"
Yeah, I just admire you, boy
I don't know you can see it or not, I don't care
Do you know my name?  And (once again) I don't care
It's so nice to have a feeling like this...
I like the way you're walking, I like the way you're smiling
I like the way you're singing, and I like the way you keep everything on you so cool
That's why I admire you, boy...
This is only a story between us, between every our smile...
THIS IS US :))
You make me always sing ~ lalalalalalalala :D
I just sing like you do.... :))



*backsound: Everything by Michael Buble
....and when you smile at me you know exactly what you do.....
...and in this crazy life and through this crazy times, it's you it's you... You make me sing...
...you're every song and I sing along....

Kamis, 21 Juli 2011

Insiden Ganjel Pintu #sweetmemoriesontekim

Semester 6 ini hampir semua anak angkatan 2008 mengambil mata kuliah EKOTEK. Dilihat dari namanya saja sepertinya sudah nampak kalau di dalamnya ga jauh-jauh dari ekonomi. Mata kuliah ini memang perpaduan atau hasil sebuah fusion antara ekonomi dan teknik. Dua sisi yang jelas sangat bertolak belakang. Anak teknik kebanyakan lemah di ekonomi atau akuntansi, namun dengan amat sangat terpaksa harus mempelajari mata kuliah ini karena emang dibutuhin banget saat tugas PPK kelak. Sebenarnya ga cuma buat tugas PPK sih, besok-besok kalo udah kerja juga pasti butuh banget kalau misal mo ngrancang pabrik. Jadi biar ga salah pilih alat yang ekonomis, biar ga salah itung-itungan pas ngrancang biaya, dll. Namun kenyataannya, minat mahasiswa akan mata kuliah EKOTEK begitu rendah. Saking rendahnya bisa dihitung dengan jari berapa kali mahasiswa masuk mengikuti kelas ini. Kalau pun daftar hadir bisa penuh berarti telah terjadi persengkokolan busuk yang sudah menjadi hal biasa di kalangan mahasiswa. Yah, sudahlah saya ga mau bicara soal titip absen. Saya mau mengenang satu kisah yang lumayan lucu untuk dikenang…

Pak Darmadji, dosen EKOTEK yang satu ini memiliki tingkat kedisplinan yang tinggi. Bagi beliau kalau mau sukses ya disiplin. Kalau mau ikut kuliah EKOTEK ya jangan terlambat. Kalau terlambat ya ga usah masuk. Tegas. Beliau tidak suka kalau saat kuliah bangku-bangku depan masih kosong sementara bangku-bangku belakang berasa penuh sesak. Dengan tegas beliau pasti berkata, “Pindah depan mas/mbak. Depan masih banyak yang kosong. Jangan pernah mau hidup cuma jadi follower!”. Mahasiswa yang udah kena sentak begitu biasanya langsung nurut pindah duduk depan dengan muka sedikit manyun. Maka setelah bangku depan sudah terisi kuliah pun dimulai. Buka-buka diktat, buka-buka tabel, tapi biasanya ga ada satu pun yang nyantel di otak. Menit demi menit berlalu. Semakin lama waktu kuliah maka semakin lebar mulut mahasiswa menguap….

Jangan sekali-sekali terlalu pede untuk masuk kuliah kalau udah telat banget. Pintu di ruang A22 pasti sudah diganjel dengan kursi dengan tujuan agar mahasiswa telat ga bisa masuk. Kalau kamu masih punya nyali buat nerobos pintu yang diganjel itu maka kamu harus punya nyali juga buat dibentak: “KELUAR MAS/MBAK!!!”. Sejenak pasti kelas hening sambil pada ngelirik siapa yang telat tadi. Setalah mahasiswa yang telat sadar juga ga boleh masuk, pak Darmadji segera melanjutkan kuliah.
Namun ternyata pengganjal pintu itu pernah diterobos oleh beberapa mahasiswa telat. Siapa sangka niat para mahasiswa telat tadi yang begitu tulus untuk kuliah mampu mendobrak kuatnya kursi pengganjal pintu!

Alkisah, saat itu mahasiswa yang kuliah bisa dibilang sangat sedikit daripada biasanya. Pak Darmadji merasa waktu untuk mengganjal pintu telah tiba. Maka mahasiswa yang paling dekat dengan pintu saat itu disuruh untuk meletakkan kursi sebagai pengganjal pintu. Pada sutu saat, pak Darmadji sedang menerangkan sesuatu (yang entah apa itu) dan kebetulan butuh untuk menuliskannya di papan tulis. Entahlah ini yang disebut jodoh atau bukan: saat beliau menghadap papan tulis untuk menulis, serombongan mahasiswa telat datang. Dengan begitu pedenya mereka menerobos masuk, dengan suara-suara kaki mereka yang amat berisik plus suara cekakak-cekikik mahasiswa lain yang mengiringi langkah mereka. Saya sempat deg-deg an kalau-kalau pak Darmadji melihat kejadian ini, jangan-jangan luapan amarah besar akan beliau keluarkan. Parahnya, mahasiswa yang paling terakhir masuk tak sempurna menutup pntu sehingga kursi pengganjal nampak tak melakukan fungsinya dengan baik sebagai pengganjal. Belum sempat pintu ditutup rapat lagi, Pak Darmadji sudah selesai berurusan dengan papan tulis dan berbalik menghadap para mahasiswa lagi. Saya menahan napas siap-siap menerima bentakan beliau untuk kami. Namun hanya satu kalimat muncul dari mulut beliau: “Kok jumlahnya kayaknya nambah ya…”. Kalimat itu diucapkan dengan nada datar tanpa ekspresi marah atau kecewa. Setelah itu kuliah dilanjutkan kembali……..

Well. pak Darmadji mengajarkan saya tentang kedisplinan. Bagaimana cara kita menghargai waktu. Dan kawan-kawan saya yang telat tadi mengajarkan saya jangan pernah menyerah berjalan menghadapi penghalang sebesar apa pun. Berapa pun risikonya, harus diterjang. Hahahahahahahahahahahaha



*taken from another my blog: http://jessica066eksis08.tumblr.com/post/7107948652/insiden-ganjel-pintu-sweetmemoriesontekim

Surat untuk Bapak Presiden

Dear pak SBY,

Pak maaf sebelumnya kalo saya kelihatan ga sopan banget nulis surat kayak gini. Maklum lah pak saya anak gaoel gitu loooohhh. Sebenarnya saya cuma mau menyuarakan isi hati saya pak. Walau mungkin ga penting, mungkin ada baiknya bapak baca deh…

Saya mahasiswa semester 6 jurusan teknik kimia fakultas teknik Undip. Bapak tau Undip kan? Itu lo yang ada di Semarang. Yang terkenal dengan icon Patung Kuda-nya. Yang panas banget lingkungannya gara-gara kurang pohon. Yang biaya masuk kuliahnya ampun mahal banget bikin leher orang tua tercekik. Haduh maap pak, saya jadi ngalentur gini.. To the point aja ya pak..

Gini, pak. Saya jujur aja ga pernah ngerti apa yang terjadi ama bangsa ini. Kasus para koruptor ga pernah berhenti. Beritanya di tipi makin lama makin banyak hingga ngalahin berita video porno para artis. Sayangnya berita para koruptor belom mampu meredakan ketenaran sinetron kejar tayang Putri yang Ditukar dengan bintang utama Nikita Willy. Ya ampun maap ngelantur lagi. Jadi maksud saya: saya (dan mungkin jutaan masyarakat Indonesia lain) sudah muak dengan para koruptor itu pak. Persetan dengan persidangan kasus mereka yang lama, persetan dengan berapa duit yang mereka korupsi, persetan dengan hidup mereka yang masih bahagia-bahagia aja walau udah berstatus terdakwa. Tau ga sih pak, saya di sini geram lihat mereka. Kenapa kalo nangkap maling ayam lebih mudah daripada nangkap koruptor? Mungkin karena maling ayam ga punya cukup duit buat lari ke luar negeri kali ya, pak… Satu lagi pak. Saya bosan liat kasus korupsi yang seakan-akan mengikuti filosofi peribahasa: mati satu tumbuh seribu. Satu kasus terkuak muncul kasus lain. Satu nama terkuak muncul nama-nama yang lain. Saling lempar salah. Ga ada yang mau  ngaku. Heran saya ama koruptor pas dulu mereka SD dapat pelajaran agama ga sih? Atau jangan-jangan nilai agama mereka selalu merah kali ya, pak… Saya rasa sudah cukup bicara korupsi. Ganti topik.

Pak, saya tahu Bapak pasti banyak pikiran. Susah tidur kala malam. Pecah otak bapak pasti kalo tiap hari mikir nasib bangsa ini. Saya kasian ama Bapak. Tapi bisa ga pak, ga usah curhat melulu di depan media. Ga usah ngeluh melulu di depan media. Jujur saja, saya cuma bisa simpati dan tambah merasa kasihan ama segala keluhan bapak. Bapak kan pemimpin, simpan lah semua keluhan bapak. Kalau mau curhat boleh-boleh aja kok, tapi jangan ama seantero Indonesia juga. Cukup curhat ama orang terdekat aja. Justru menurut saya bapak harus e bisa tegar dan kuat di depan kami. Kalo kami liat bapak kuat kan otomatis sebagai warga negara kami juga tenang. Tapi kalo bapak curhat melulu gitu, kami jadi risih juga. Emang yang punya masalah bapak doang.. Saya juga pak.. Tau ga pak proposal penelitian saya belum beres? Tau ga pak saya belajar buat ujian ga mudeng-mudeng? PAP, ekotek, SOM, pemisahan dengan membran, PPK, dll itu susah pak mata kuliahnnya… Tau ga pak saya lagi butuh banyak duit buat penlit, kape, bayar listrik kost? Tau ga pak bahkan saya ga tau lulus ntar jadi apa? Parah kan pak. Bedanya saya ga pernah curhat di depan banyak media (lagian mana ada sih media nyari in saya„,). Gimana ya, pak.. Bingung bilang e. Intine yang kuat aja deh pak.

Sekian aja deh pak surat dari saya. Maap kalo banyak yang ga berkenan di hati bapak. Saya cuma manusia biasa pak. Kadang pengin juga ngeluarin uneg-uneg. Maap kalo cuma bisa lewat dunia maya. Kalo via pos, belum tentu bapak baca. Kalo via telpon, saya ga tau nomor telepon bapak. Kalo mau face to face, belum tentu bapak bisa dan mau ketemu saya. Anggap saja surat ini mewakili perasaan hampir seluruh bangsa Indonesia. Moga bapak bisa tegar membacanya. Makasih pak.

Warga negara yang cinta Indonesia,
Jessica


*taken from another my blog: http://jessica066eksis08.tumblr.com/post/7075464616/surat-untuk-bapak-presiden

Kamis, 16 Juni 2011

F R I E N D

Friend....
Can you tell me why I feel like this?
Can you see me that I'm so bored with you?
or you will wanna know everything?
I'm doubt about it....

Well, thank you for supporting me, thank you for listening to all my sigh, thank you for giving a lot of advices for me, thank you for all you've done to me. I'm proud to have a friend like you. But just "sometimes"....

Where are you when I feel so sad? Yeah, you're right beside me. But just "right beside me"
Where are you when I get some troubles in my life? Yeah, you'll be with me. But just "be with me"
What do you do when I always angry? Yeah, you say 'keep calm, dear'. But just "say keep calm"

Now...
Can you "really" understand what happen to me?
Can you "really" wanna know what I'm worried about?
Can you tell me how to solve this damn-freak-thing?
(Again) I'm doubt about it..
You say: "Spirit, dear!" But it's not easy like you say
You say: "I'll be there for you..." But actually you'll never always be there for me
You say: "You're great, you're strong. I'm sure that you can pass it!" But you have to know that I'm not strong like you think

Friend...
Can you hide your happiness from me when I'm down? Don't you think that I'm so depressed to watch it? Can you give me a hope? I don't need your advice because it seems just "a bullshit" to me. Don't you know that:
You can't understand me because YOU ARE NOT ME
You can't understand me because YOU DON'T GET THIS PROBLEM
You always ask the same question for me: Why.... why.... and why.....
You just try to "care for me" but you don't "really" care for me

Anyway, I think YOU ARE NOT ME but YOU ARE LIKE ME. Maybe sometimes you feel like me, you get a big trouble, you're sad; but I can't be your best friend when you feel all of this. That's why now you can't understand me. Actually now I can see that everyone has their own problems. Just like this: I don't wanna know your problem, so do you. It's true that: HARD TO BE UNDERSTOOD IF YOU CAN"T UNDERSTAND ANOTHER PERSON



Tulisan ini dibuat berdasarkan sebuah realita dalam pertemanan. Mudah memang mencari teman, namun sulit mencari sahabat. Jangan pernah menyuruh orang lain mengerti anda jika anda pun tak mampu mengerti orang lain :)). Spesial untuk kawan-kawan saya: I LOVE YOU ALL... Maap saya sering marah-marah ga jelas :)) I'm happy to be your friend...

Rabu, 27 April 2011

...when i talk about kormat....

Sebuah tulisan yang aku dedikasikan untuk para kormat. They are inspiring my life. They show me how to be faithful. Mereka mengajarkanku bagaimana caranya sabar....


Kormat. Nampaknya jabatan tadi sangatlah terhormat. Jika menjadi kormat, maka  bersiap-siaplah menjadi orang penting. Kau akan berhubungan langsung dan lebih intens  dengan dosen. Tak salah jika berharap nomor hapemu juga akan di-save oleh si dosen.  Inbox di hapemu akan dipenuhi pertanyaan kawan-kawanmu yang sama tiap minggunya: nanti  ada kuliah tidak? Maka setelah kau bosan dengan pertanyaan yang sama tiap minggunya,  setiap malam sebelum hari H kuliah kau akan membuat jarkom: JARKOM!! Besok ada kuliah  bla bla bla di ruang bla bla bla pukul bla bla bla. Kalau sudah musim menjelang ujian  maka sms yang masuk ke inboxmu berganti: besok ujiannya open apa close? Jenuh menjawab  pertanyaan yang sama pada tiap orang, ujung-ujungnya kau akan membuat jarkom lagi:  JARKOM!! Ujian bla bla close book. Derita kormat tak sampai di situ saja. Kadang jika  dosen memberi tugas yang rada "geje" dan sulit dipahami oleh otak mahasiswa rata-rata  macam kami, maka seolah-olah kormat lah yang harus bertanggung jawab. Ditanya ini itu,  kalau tak tahu disuruh tanya ke dosennya. Itulah kormat, mengemban tugas yang cukup  berat, menjadi penopang bagi mahasiswa malas macam kami ini.

Ada lagi derita kormat yang lain, dia hampir tak bisa membolos mata kuliah yang menjadi tanggung jawabnya (kecuali kalau dia nekat dan cuek pada nasib kawan-kawannya). Kormat biasanya duduk di depan saat kuliah. Dia akan mengikuti kuliah dengan amat baik, mencatat setiap tugas yang diberikan oleh dosen. Maka kutemukan lagi satu derita kormat: "memperhatikan kuliah dengan sungguh-sungguh". Sudah menjadi rahasia umum kalau mahasiswa bengal seperti kami jarang mengikuti kuliah dengan sungguh-sungguh. Ada saja yang dikerjakan: bergosip dengan teman sebelah, melamun, menggambar rupa-rupa bentuk di kertas, menyalin laporan praktikum, membuat proposal praktikum, mengantuk, tidur, sms an, browsing via hape. hingga sok serius memandang diktat kuliah padahal pikirannya ngelantur ke mana-mana. Namun sekali kau menyandang gelar kormat maka jangan harap bisa melakukan hal-hal tadi dengan leluasa. Kormat lah source of information bagi kawan-kawannya. Salah memberi info pasti akan menjadi pergunjingan walau hanya sesaat. Seperti tabiat kebanyakan orang Indonesia yang suka mengeluh, mahasiswa pun demikian. Sekali berbuat salah, pasti langsung dicibir, dianggap tak bertanggung jawab lah, lalai lah, malas lah, dan lain-lain. Padahal aku yakin, mereka yang tukang mengeluh tadi (termasuk aku) pasti belum tentu mengemban amanah mulia sebagai kormat. Oh ya satu hal lagi derita kormat yang paling akut: saat akan memfotocopy diktat dengan tebal yang lumayan ditambah jumlah mahasiswa yang lumayan banyak juga, mau tak mau dia harus menalangi uang pembayaran kawan-kawannya. Dapat kutarik kesimpulan bahwa kormat haruslah punya uang cadangan untuk keadaan mendadak macam ini. Belum lagi kalau ada beberapa kawan yang belum membayar uang diktat namun dia relakan memberikan diktat pada kawannya karena kasihan.

Atas dasar segala penderitaan yang kulihat jika menjadi kormat tadi, maka kuputuskan aku tak akan pernah mencalonkan diri menjadi kormat. Bahkan kalau sampai ada yang melambungkan namaku saat pemilihan kormat maka bisa kupastikan habislah dia di tanganku. Tak bisa kubayangkan bagaimana rasanya mengurusi puluhan mahasiswa-mahasiswa labil di kelasku. Aku malas sekali mengurusi nasib jadwal kuliah mereka. Aku malas juga jika ada jadwal yang bertabrakan atau dosen yang bersangkutan berhalangan hadir, maka aku harus mencari jadwal penggantinya. Belum lagi kalau kawan-kawanku selalu menghantui malamku dengan sms tentang kapan kuliah. Bukannya aku pelit pulsa, tapi malas saja membalas sms yang sama setiap minggu. Di mataku, setelah menjabat sebagai kormat maka hidup terasa gelap. Satu semester dijalani dengan kelelahan tiap minggu. Ambil absen, ambil LCD, mengingatkan dosen untuk kuliah, ada pula dosen minta dijemput di ruangannya (macam anak SD saja tipe dosen macam ini), kadang ada dosen meminta dibawakan air minum saat kuliah, dan hal-hal absurd lain. Aku akui kalau aku bukanlah tipe penyokong yang bisa melakukan hal-hal tadi. Aku malas mengurusi hajat hidup mahasiswa labil ini. Kalau aku jadi kormat maka pastilah kuliah berantakan. Kalau kau tanya tugas, mungkin kujawab: tidak ada tugas kok, santai saja. Kalau kau tanya ujian close book atau open book mungkin kujawab: open kok (padahal close book).

Kalian boleh men-judge aku sebagai mahasiswa tak bisa diandalkan dan tak bisa bertanggung jawab. Terserahlah. Namun daripada kalian menghujatku terus, aku bawa kalian ke sosok-sosok hebat yang sukses menjadi kormat. Kormat yang bisa aku katakan teladan karena kesabarannya, kepeduliannya pada nasib kami, kerajinannya, keuletannya, keramahnnya, dan terjaminnya nasib kami selama kuliah. Sosok pertama adalah TRINUG. Aku menyebutnya Master of Kormat. Bukan tanpa alasan aku menyebutnya seperti itu. Dia sosok paling bertanggung jawab dari semua kormat yang pernah aku lihat. Dia selalu datang lebih pagi dari yang lain. Dia selalu menyiapkan segala yang diperlukan sang dosen sebelum perkuliahan dimulai. Yang membuatku tambah kagum, meski saat tak menjabat sebagai kormat sekalipun, dia rela melakukan tugas kormat macam ambil LCD dan daftar absen saat kormat yang bersangkutan berhalangan bertugas tanpa alasan yang jelas. Dialah TRINUG, anak asli Semarang, cerdas, santun pula. Aku memandangnya sebagai muslim yang baik. Sosok yang kedua adalah ULIL. Dalam kamus kehidupan tekimku, aku menetapkannya sebagai orang kepercayaan Master of Kormat. Dia rajin datang pagi ke kampus (apalagi untuk download anime-anime kesukaannya). Kelakuannya mirip sang Master of Kormat. Hanya saja dia agak "grusa-grusu" alias agak mudah panik. Dia suka berlari-lari dari lantai dua gedung B menuju tempat perkuliahan. Dia juga ahli dalam memecahkan "masalah LCD". Ada kalanya LCD tidak mau connect dengan laptop, maka ULIL lah yang berhasil menjinakkan LCD tadi. Sebenarnya masih banyak lagi kormat-kormat yang di mataku baik, namun dari semuanya mereka berdua lah yang terbaik. Muncul pula nama kormat-kormat lain yang tak mungkin pula aku sebutkan satu per satu (karena sepertinya hampir semua anak sudah merasakan menjadi kormat..).

Keseluruhan, merekalah sebagian dari mahasiswa labil yang berani mengemban tanggung jawab berat. Mereka lah sosok yang menjadi panutan selama hidupku. Melalui mereka aku belajar agar aku jangan sampai hidup menderita seperti mereka. Ah, salah lagi. Maksudku melalui mereka aku belajar untuk menjadi pengayom bagi yang lain. Sulit memang sepertinya, namun aku tahu di balik kesengasaraan mereka muncul sebuah senyuman manis di akhir masa kerja mereka. Mereka patut berbangga karena melalui merekalah kuliah lancar, melalui merekalah tugas-tugas dapat dikumpulkan, melalui merekalah nilai-nilai  -baik indah maupun hancur-   milik kawan-kawannya akhirnya bisa terpampang di KHS. Sejuta hormatku untuk kalian, wahai para kormat...

Senin, 04 April 2011

Nge-Fans: Antara SUKA ato DEMEN??

Tulisan ini aku buat berdasarkan kisah pribadi, nyata, dan tanpa rekayasa. Apa yang ada di sini adalah bagain-bagian tak terpisahkan manusia ketika dia nge-fans dengan seseorang. Aku tertarik menulis hal "geje" ini karena sejujurnya inilah hal paling aneh yang sering aku lakukan. Mungkin hanya ingin sekadar share saja, kali aja ada yang kisahnya sama kayak aku.

Mengagumi seseorang bukanlah hal yang salah. Misal saja sekadar flash back, zaman SMA dulu aku kagum pada seorang pegawai TU di sekolahku. Beliau begitu santun, ramah, tidak neko-neko, dan tentu saja ganteng. Atau aku juga sempat kagum kepada guru SMP ku yang begitu galak namun sangat pintar dan membuat para siswanya pintar. Ada kalanya kagum itu dalam batasan "wajar", namun ada kalanya "kagum" itu dalam batasan yang "sangat tidak wajar". Untuk kategori "sangat tidak wajar" aku klasifikasikan untuk kisahku akhir-akhir ini selama duduk di bangku kuliah. Bentuk-bentuk tindakan "geje" plus aneh mulai muncul saat aku nge-fans dengan seseorang -sebut saja mas Oki- . Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari laki-laki itu. Dia begitu dingin dan teramat cuek plus sedikit jaim. Hal-hal itulah yang membuatku begitu penasaran dengannya. Sebenarnya sejak awal semester 1 aku sudah "tertarik" akan tingkah lakunya, namun mungkin baru semester ini lah aku menjadi terkena "penyakit gila" sebagai efek nge-fans kepadanya.

Aku membedakan antara nge-fans dan cinta. Perbedaan yang nyata terlihat tentu saja kalo nge-fans tuh ya cuma suka saja. Suka ama gerakannya, suka lihat wajah segernya, suka tingkah lakunya, pokoknya menjurus ke hal-hal yang berbau fisik. Tapi cinta itu lain. Cinta itu perasaan yang sulit didefinsikan, yang ada hanya perasaan gelisah, deg-deg an, berbunga-bunga, sampai patah hati. Kalau nge-fans biasanya aku tak sampai deg-deg an saat memandang wajahnya, namun jika cinta pasti ada deg-deg an di dalam dada. Nah, berdasarkan teori di atas (teori yang aku buat sendiri tentunya), maka bisa aku simpulkan apa-apa yang belakangan ini aku rasakan hanyalah sekadar perasaan sebagai fans mas Oki. Meski bukan cinta, namun tindakan yang akhir-akhir ini sering dilakukan sama "gila" nya dengan jatuh cinta. Inilah beberapa tindakan gila itu:
  • Mulai mencari wajahnya saat seharian tak melihat wajahnya. Ini tindakan gila pertama yang sering aku lakukan bersama partnerku (baca: Lia). Tempat-tempat yang sering menjadi sasaran utama kami biasanya gedung A bawah, gedung B bawah, dan parkiran (akhir-akhir ini perpustakaan juga menjadi target).
  • Mulai cengar-cengir kalau melihatnya berjalan atau lewat di hadapan kami. Ini juga tindakan gila karena kami dengan "geje" nya mengharapkan senyumnya untuk kami. Kadang yang muncul di bibirnya bukanlah sebuah senyuman untuk kami melainkan sebuah cengiran yang tak kalah geje bentuknya dengan tindakan kami
  • Mulai hapal jadwal mas Oki dari hari ke hari. Ini tindakan gila terparah yang kami alami. Entah karena sudah kebiasaan atau emang entah karena "sengaja" menghapal jadwal lewatnya jam berapa, jadwal hari apa biasanya dia di mana, jadwal jam berapa dia ada di parkiran, dan jadwal-jadwal lainnya. Ini makin menggila karena lama-kelamaan kami hapal di mana kami harus stand by buat menanti masnya lewat.
  • Mulai hapal baju yang dia pake. Ini tindakan gila yang jarang aku lakukan namun sering dilakuakan oleh partnerku (baca: Lia). Aku no comment untuk tindakan ini karena sudah termasuk level "parah".
Well, setidaknya itulah beberapa tindakan "gila" yang aku lakukan bersama partnerku.  Gila memang, namun kami seolah menikmatinya. Kadang kami menganggap sosok mas itu sebagai penyegar buat kami di tengah kejenuhan kuliah dan tugas plus kadang penyejuk hati kami yang kadang tersakiti oleh cinta. Namun makin ke sini jujur saja muncul pertanyaan di benakku, beda antara suka ama demen tipis sekali. Aku tidak demen ama mas itu, tapi suka aja lihat tingkah polahnya. Tapi lama-lama bisa saja suka itu jadi demen kalau aku sendiri tidak bisa mengendalikan "tindakan gila" di atas. Lucu memang kisah-kisah macam ini. Aku anggap ini sebagai kenangan, kenangan yang terlupakan saat aku berumur 20 tahun. Kenangan gila yang aku miliki di tengah frustasi hidup di teknik kimia. Nge-fans pada mas Oki menjadi sesuatu yang tidak akan aku sesali karena menurutku itu bukan hal salah.

Jumat, 25 Maret 2011

This is "The Bad" from Me: Aku dan Sejuta Keluhan

Sejenak aku daftar tugas-tugas yang ada: Teknologi Enzim, Perancangan Proses Kimia, SOM. Lalu aku melihat hal lain yang tak kalah urgent pula: Proposal Penelitian dan PKM. Awalnya aku sangat optimis bisa melalui semuanya dengan senyuman dan pada akhirnya hasilnya akan sangat memuaskan. Namun ternyata semua tak semudah yang aku bayangkan. Ketika setan-setan mulai masuk ke jiwaku maka yang muncul hanya satu: KELUHAN. Keluhan aku capek lah, keluhan tugasnya susah lah, keluhan mencari jurnalnya susah lah, dan ribuan keluhan lain. Bahkan kadang muncul rasa takut berlebihan seolah-olah aku tak mampu menjalani ini semua. Inilah serpihan kata-kata yang mendekam di otakku selama berhari-hari ini. Sesuatu yang hanya muncul ketika aku tengah sendirian di kamar kost, duduk di depan komputer yang lemotnya minta ampun dan kadang mati gara-gara listrik tidak kuat, serta mencari tugas dari internet namun tidak ketemu-ketemu. This is the bad from me....

Siapa sangka aku akan kesulitan mencari tugas Teknologi Enzim. Aku pikir tinggal search di Google lalu muncul lalu copy paste (dosa yang sering kali aku lakukan). Aku ketik nama enzim yang menjadi tugasku: 5'-Phosphodiesterase. Lalu kemudian yang muncul hanyalah jurnal-jurnal berbahasa Inggris yang amat sulit dimengerti karena kebanyakan mengenai farmasi. Aku mencoba mencari di laman berbahasa Indonesia, yang muncul jauh lebih mengejutkanku (maaf, yang muncul adalah hal-hal berbau disfungsi ereksi. Kontan kepalaku makin puyeng). Setelah dengan berbagai perjuangan, membaca jurnal-jurnal rumit, hingga bertanya pada kawan lamaku via Twitter, aku mulai sedikit memahami apa itu 5'-Phosphodiesterase. Puji Tuhan hingga detik ini satu halaman berhasil aku buat walaupun mungkin sangat 'geje' :(

Tugas yang tak kalah membingungkan tentu saja SOM. Awalnya aku santai-santai saja karena ternyata ada teman yang punya soft tugas yang dulu, jadi tidak perlu susah-susah membuat tugas SOM. Namun saat hari H presentasi ternyata tugas SOM kelompokku salah total. Maka mau tak mau harus dibenarkan. Berhubung aku ternyata mempunyai diktat SOM yang berisi materi untuk tugasku, aku menawarkan diri untuk membenarkan tugas tadi. Selesai masalah pembenaran tugas, tapi selanjutnya ada tugas SOM lagi yang menanti. Semoga tugas yang sekarang tidak salah lagi...

Tugas Perancangan Proses Kimia juga awalnya aku kira mudah karena kebetulan salah seorang rekan kelompokku sudah punya 'baceman' dari anak 2007. Namun setelah didalami arah tugas tadi, apa yang harus ada, analisisnya bagaimana, maka dapat kusimpulkan tugas ini juga tak semudah main ular tangga. Dan lagi-lagi dalam kesendirian di kamar kost, aku hanya bisa termenung di depan komputer lemot ini. Meski tugasnya masih lama, hati berasa tak tenang kalau belum menemukan referensi untuk tugas. Tidur tak enak, bernyanyi pun enggan, mau download lagu pun malas. Jika sudah seperti ini maka tujuan berikutnya adalah KASUR...

Hal yang masih sangat malas aku bicarakan adalah proposal penelitian dan PKM. Mengapa aku malas? Entahlah... Meski untuk proposal penelitian sudah diberi tema namun aku merasa minder melihat kawan-kawan yang lain: ada yang sudah sampai bab 2, ada yang sudah sering konsultasi, bahkan ada yang mulai nge-run. Bisa kuceritakan nasibku: dosen hanya bisa ditemui satu hari dalam seminggu, sekalinya mau datang konsultasi lebih sering ditolak karena beliau sibuk, sekalinya sudah bertemu maka tatap muka kami paling lama hanya 5 menit. Puji Tuhan sekarang sudah ada kepastian tema dan kesiapan jurnal sudah ada serta aku sudah lumayan mengerti tentang elektrokoagulasi. Bicara PKM maka itulah yang membuatku miris. Aku merasa lolos PKM bukanlah hal yang menggembirakan di saat-saat seperti ini. Kalau ingat PKM sungguh aku hanya ingin mengeluh: kenapa harus lolos??? PKM yang awalnya aku kira tidak rumit jika dilaksanakan ternyata rumit juga. Aku kadang tak bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi Erlinda, ibu ketuanya..

Setelah dirunut-runut berbagai masalahku, maka dari sekian banyak masalah yang muncul aku hanya bisa mengeluh. Bahkan saat berdoa sebelum tidur aku seperti men-judge Tuhan dengan kata: Why? Why? Why? Why? Why must to be me???? Keluhan sekarang menjadi sahabat karibku. Kadang aku bisa tertawa lepas kalau di kampus seolah santai dengan segalanya. Namun kalau sudah di kamar kost, maka aku menjadi melankolis akut. Lagi-lagi kadang aku meratapi nasib mengapa masuk teknik kimia, mengapa dapat dosen pembimbing sibuk, mengapa harus menjadi anak bungsu yang so complicated hidupnya...

Tapi kadang aku bisa STOP MENGELUH kalau melihat Spongebob. Lihatlah dia, tak pernah mengeluh sedikit pun meski selalu kerja di Krusty Krab (bahkan kadang tak dibayar). Lihatlah dia, selalu tersenyum pada siapa saja meski tanpa dia sadar banyak orang yang tak suka padanya. Lihatlah dia, selalu membawa keceriaan pada siapa saja. Aku rasa hanya satu hal yang bisa membuat aku berhenti mengeluh, yaitu dengan bersyukur. Gantilah ungkapan: 'Aku lelah' dengan 'Aku bersyukur aku masih bisa merasakan lelah'. Ubahlah keluhanku pada Tuhan tiap malam dengan: 'Terima kasih karena aku diberi kesempatan melewati cobaan ini'. Namun sekali lagi tak mudah menjalani ini, apalagi kalau iman tak kuat maka setan lebih mudah merasuki jiwa ini..

Aku sekarang sedang berusaha mengumpulkan sisa-sisa semangat yang ada. Biar tinggal sisa-sisa namun aku rasa jauh lebih baik daripada sudah tak ada semangat sama sekali. Biarlah sepotong lirik dari lagu Menanti Keajaiban nya Padi senantiasa aku dengarkan sekarang:
....seharusnya aku tak patut bersedih atas semua yang terjadi kepadaku, aku merasa bahwasanya hidup ini tak lebih dari sekadar perjalanan... hingga saatku tiba, semoga tak lelah aku terus berpeluh... hingga saatku tiba, kuharap temukan apa yang aku cari....

Jumat, 04 Maret 2011

How to be A Good Engineer????

Sabtu kemarin (2 minggu yang lalu) aku baru saja melihat wisuda kakak laki-lakiku. Aku kagum padanya. Anak laki-laki "rata-rata" di rumah kami sudah jadi sarjana. Siapa pun -termasuk aku- tak akan menyangka dia bisa menjadi insinyur seperti sekarang. Empat setengah tahun dia berjuang kuliah. Di antara ketiga anak di rumah kami, dia bisa dibilang -maaf- agak lemah otaknya. Dia belum pernah menyandang juara kelas semasa SD. Dia juga pernah tak mendapat ranking saat SD dan SMP. Jujur saja saat kecil aku merasa tak yakin dengan masa depannya. Jika dilihat dari nilai dan prestasi akademiknya, aku tak bisa katakan dia golongan orang pintar. Dia tak masuk SMP 1 seperti aku dan kakak perempuanku. Dia bahkan hanya sekolah "nomor 3" di kotaku saat SMA (Aku bisa cukup berbangga karena aku berhasil masuk ke sekolah "nomor 2"). Bahkan meski sudah sekolah di SMA yang biasa-biasa saja dia tak berhasil bersinar akademiknya di sana. Aku sempat berpikir jangan-jangan ini gara-gara dia pernah jatuh dari tempat tidur saat bayi dulu. Jadi mungkin setelah dewasa otaknya agak terganggu. Namun di balik segala "kebodohannya" yang selalu kupandang sebelah mata, aku bisa katakan hari Sabtu kemarin adalah pembuktian bahwa dia bukanlah laki-laki biasa.

Setelah lulus SMA kakakku diterima di sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Jurusannya pun tak main-main: Teknik Arsitektur. Aku sempat kaget bahkan hampir pingsan saat ia diterima di Teknik Arsitektur. Bagaimana bisa seorang anak dengan background "jelas-jelas anak IPS saat SMA" bisa diterima di teknik? Lama-kelamaan aku baru sadar bahwa universitas swasta berbeda dengan universitas negeri. Meski sama-sama pakai test masuk, uang jelas lebih "bicara". Sekadar catatan, sebelum ikut tes di perguruan tinggi swasta tadi kakakku sudah kenyang ikut Ujian Masuk sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta plus UMPTN. Dua-duanya memberi hasil sama: DITOLAK. Maka seperti kebanyakan jalan manusia yang lain, perguruan tinggi swasta menjadi pilihan melanjutkan hidup. Saat itu aku heran berani-beraninya dia mendaftar di teknik arsitektur. Apa pikir dia bakal diterima? Namun toh kenyataannya dia diterima. Usut punya usut, seperti yang kukatakan tadi, semuanya karena uang. Bapakku mengisi uang sumbangan sebesar 5 juta rupiah. Asal kalian tahu, bapakku sendiri tak bermaksud berbuat "nepotisme" macam pemerintah zaman sekarang. Beliau sunggu-sungguh polos dan tak tahu kalau uang segitu cukup besar jumlahnya untuk ukuran "sumbangan". Beliau pikir orang lain pun akan mengisi dengan uang yang lebih besar (padahal juga tidak...). Maka begitulah, jalan laki-laki itu telah ditetapkan untuk menempuh kuliah di teknik arsitektur.

Semester pertama dia kuliah di sana semuanya berjalan baik-baik saja. IP nya di atas 3. Namun di semester kedua IP nya melorot jadi 2 koma. Saat itu aku berpikir: nah lo, kau pikir gampang kuliah di teknik? Anak IPS macam kau mana kuat lama-lama di teknik. Kesangsianku akan kekuatan kakakku untuk bertahan di teknik arsitektur mulai luntur sejak dia semester tiga. Dia tak pernah lagi mendapat IP 2 koma. IP nya selalu di atas 3 lagi. Tak usahlah cumlaude, melihat dia bisa ada di sana bertahun-tahun saja aku heran. Dia luamayan hidup susah di sana. Kostnya tak semewah kost anak laki-laki pada umumnya. Dia ke mana-mana naik angkot, kuliah jalan kaki. Dia bisa bertahan hidup 2 tahun tanpa komputer. Bisa kubayangkan betapa repotnya dia pinjem komputer sana-sini jika ada tugas. Kira-kira semester 5 dia membeli komputer dengan uangnya sendiri. Bukan komputer baru, hanya komputer rakitan. Dia bukan tipe laki-laki yang ingin menyusahkan orang tua. Orang tuaku pasti masih mampulah kalau membelikan dia komputer. Tapi sekali lagi, dia anak yang sangat baik. Aku ingat saat dia masih kecil, jika ingin dibelikan sesuatu ia selalu pakai embel-embel: "nek sampun gajian aku tumbaske iki nggih.."(translate: misalnya sudah gajian aku belikan ini ya..). Ya, dia tak pernah memaksa orang tuaku beli ini itu. Dia selalu meminta dengan sopan bahkan kalau menurutku amat sopan. Bagaimana mungkin anak kecil bisa memohon dengan begitu sopannya? Mungkin dialah laki-laki tersopan yang pernah aku lihat.

Aku tak pernah tahu kapan dia ujian karena dia tak pernah terlihat stress atau belajar saat di rumah. Kerjaannya paling hanya tidur seharian atau main game bola favoritnya. Belakangan kuketahui bahwa saban hari dia baru tidur pukul 2 pagi bahkan 4 pagi. Aku bisa maklum kalau di rumah kerjaannya hanya tidur dan makan. Hebatnya lagi dia jarang atau bahkan hampir tak pernah mengeluh tentang kuliahnya. Dia tak pernah kudengar menggerutu atau menampakkan betapa malangnya dia dengan tugas-tugasnya yang berat. Aku pikir dia pulang ke rumah untuk dua hal: kehabisan uang dan mencari tempat nyaman untuk tidur. Saat semester 6 dia mulai kelihatan sibuknya. Dia mulai ada kerja praktek. Tempat kerja praktek bukan tempat-tempat jauh yang memakan biaya hidup banyak. Dia hanya kerja praktek di kota kelahirannya, Magelang, di sebuah tempat yang sedang membangun ruko. Tiap hari dia ke sana, pinjem hape kakak perempuanku untuk dokumentasi (maklum hapenya saja jelek), dan membuat laporannya. Hingga saat ini tiap lewat bangunan ruko itu maka aku langsung ingat kakak laki-lakiku itu. Kemudian dia juga menjalani KKN di pulau nun jauh di sana. Dia KKN di Toraja. Gara-gara dia KKN di sanalah, kini di keluargaku hanya tinggal aku yang belum pernah naik pesawat (yang ini bukan hal penting sebenarnya). Setahuku dia lagi-lagi tak mau merepotkan orang tua. Sebagian besar dia memakai uangnya sendiri untuk hidup di sana. Pernah juga dia kehabisan uang, lalu ibuku mengiriminya uang. Terakhir, kesibukannya adalah membuat tugas akhir. Nah kalau yang ini aku cukup tahu jalan hidupnya. Dia memilih untuk redesain pasar di kotaku yang terbakar bertahun-tahun yang lalu namun sampai sekarang belum beres dibangun lantaran pemerintah kotaku yang tak becus. Aku ikut saat dia mengambil potret kondisi pasar yang terbakar itu. Aku selalu melihat dia bekerja sampai malam saat di rumah. Kalau malam hari sudah larut aku menguap geje di depan televisi sambil menonton sinetron ibuku yang tak kalah geje, kakakku masih stay cool di depan laptop. Kadang saat aku beranjak tidur, dia belum beranjak dari tempatnya. Saat aku bangun di pagi hari untuk menonton Spongebob, maka yang kulihat pertama adalah kakakku yang (lagi-lagi) masih stay cool di depan laptop. Muncul pikiran di otakku: nih anak bobok ga sih? Maka jangan heran kalau kakakku selalu molor di siang bolong dengan kondisi belum mandi dari pagi. Kadang dia hanya mandi sekali saat sore hari. Bisa kalian bayangkan betapa merananya menjadi adik dari laki-laki macam itu...

Hingga Sabtu kemarin, aku melihat seorang laki-laki hebat itu sedang berjalan dengan "tidak gagahnya" memakai toga. Mengapa aku bilang tak gagah? Wajahnya tetap kumal, rambutnya belum dicukur, dan jenggotnya masih merajalela di dagunya. Padahal sebelum wisuda ibuku sudah mewanti-wanti agar semua bulu di dagunya itu dibersihkan dan rambut keritingnya yang sudah agak gondrong itu dicukur. Dia sangat tak elegan hari itu. Bahkan saat sudah masuk ruangan dan duduk, hal pertama yang ia lakukan adalah melahap sncak yang ada. Kelaparan katanya. Aku jadi berpikir seberapa sengasara hidupnya hingga kelaparan seperti itu? Sewaktu namanya dipanggil untuk diwisuda, lagi-lagi dia berjalan dengan sangat "tidak gagah". Wajahnya tak sesumringah teman-temannya yang lain. Ekspresi datar dan biasa-biasa saja. Namun satu hal yang membuatku hormat kepadanya. Dia lulus dengan IPK 3,32. Tak cumlaude memang. Bagiku cumlaude itu tak penting. Lihatlah sejarahnya, anak IPS yang bisa bertahan hidup di tengah kerasnya dunia keteknikan. Bahkan saat keluarganya mengkhawatirkan akan nilai-nilainya nanti, dia berhasil menunjukkan kalau dia bisa. Dia mampu. Dia kuat. Dia bukan insinyur yang banyak omong. Dia memang bukan lulusan universitas mentereng, tapi dia insinyur yang aplikatif. Tengoklah bangunan bagian depan rumah bulikku, dialah yang merancang segalanya. Saat itu dia belum genap dua tahun kuliah di teknik arsitektur namun sudah bisa membuat desain bangunan. Dia insinyur yang peka pada lingkungan sekitar. Tengoklah ia membuat rencana redesain pasar di kotaku. Aku pernah melihat hasil kerjanya, lumayan keren juga kalau pasar di kotaku menjadi seperti itu. Namun sayangnya dia masih kurang tenar namanya di kalangan pemerintah kotaku. Hasil kerjanya mana mungkin dilirik pemerintah. Bahkan aku sebagai adiknya tak sudi hasil kerja kakakku jatuh di tangan pemerintah kotor itu (mudah sekali aku senewen jika bicara tentang pemerintah). Di mataku, dialah sosok panutan seorang engineer.

Aku, sebentar lagi akan mulai menjalani semester 6. Beberapa kawanku sudah merancang masa depan mereka. Setahuku kebanyakan dari mereka ingin lulus kurang dari 4 tahun. Jujur saja aku bahkan tak pernah berpikir sejauh mereka. Bagiku, seorang engineer haruslah melewati proses yang panjang seperti kakakku. Dia belajar, dia berkorban, dia berjuang, bahkan sampai jarang tidur demi gelar Sarjana Teknik yang layak. Ujian di kampus kakakku terbilang susah. Yang namanya open book ya open book. Tidak ada baceman di sana. Mahasiswa di sana hanya mengenal text book. Jangan harap kita bisa melihat mereka membuka-buka kertas buram-buram yang tebalnya hampir menyamai novel The Lost Symbol karya Dan Brown. Satu hal lagi, di kampus kakakku jarang terjadi "obral nilai" dan pengulangan soal dari tahun ke tahun. Bisa kutarik kesimpulan, meski itu hanya perguruan tinggi swasta dan tak secermerlang kampusku, namun di sana tercetak insinyur yang "benar-benar insinyur". Wajar saja kakakku sempat rada kaget saat tahu di tempatku banyak yang bisa lulus 3,5 tahun. Pikirnya: itu teknik apa manajemen? Aku tak mau menyalahkan mereka yang lulus 3,5 tahun. Aku percaya dengan sepenuh hati kalau mereka pintar. Tapi aku ragu kalau mereka se-aplikatif kakakku. Aku ragu ilmu mereka sudah benar-benar melekat dan menancap di otak mereka. Jujur, dua tahun aku kuliah, aku masih merasa bodoh. Ironi rasanya ketika aku bisa bangga IPK di atas 3 tapi ketika ditanya orang: "wah kuliah dua tahun sudah bisa bikin apa?", maka aku hanya tersenyum. Senyum pahit. Miris amat nasibku, mau jadi apa besok...

Well, setelah kejadian wisuda Sabtu kemarin, kucamkan dalam hati bahwa kelak aku mau jadi insinyur seperti kakakku. Aku mau seperti laki-laki hebat itu. Meski hidup dengan wajah kumalnya namun jalan hidupnya begitu meyakinkan. Laki-laki yang menjadi kawanku sejak kecil itu mengajariku bahwa jalan menjadi insinyur tak semudah membalikkan tangan. Laki-laki yang mengajariku bermain rubik 3x3 itu memberi pencerahan bagiku bahwa tiada guna banjir nilai A dan B dalam transkripku kalau aku sendiri tak bisa mengenal ilmu yang kupelajari. Laki-laki yang tengah berusaha menyelesaikan rubik 4x4 itu membuka pikiranku bahwa bukan nilai-nilai lah yang membawa kita ke kesuksesan atau kesempurnaan menjadi sarjana, melainkan jalan dan berbagai rintangan berliku yang berhasil kita lewati. Laki-laki penyuka AC Milan itulah yang membuatku sadar: How to be a good engineer?


Kamis, 17 Februari 2011

Monotheisme yang terkadang Atheisme

Akhir-akhir ini gue ngrasa labil, ngrasa sering ngelamun, ngrasa gampang gundah, ngrasa waktu mendatang gue begitu suram. Gue belum manjalani semester 6 ini, tapi gue udah ngrasa pengin mati rasanya. Sejuta masalah satu per satu muncul, mulai dari kape, penelitian, perbaikan kuliah, tugas ppk, ipk, ampe besok abis lulus gue mau jadi apa. Gue stress sendiri mikir itu semua. Gue stress liat temen-teman gue udah dapat tempat kape tapi gue belum. Gue udah usaha pake air mata segala. Gue tinggal nunggu jawaban tapi kok ya ga dijawab-jawab. Gue rencana pengin nyamperin langsung pabriknya, tapi ternyata pas gue telpon dari pihak sana juga ga njamin kalo berkas kita bakal langsung diurus. Kadang cuma ditinggal aja trus ntar kita suruh telpon lagi buat tau keputusannya (la kalo gitu ga salah dong kalo gue milih mending ngirim via pos aja, lebih murah). Tapi yang namanya ngirim via pos juga ada ga enaknya. Sekarang gue harus harap harap cemas geje. Tiap hari telpon pabriknya, tapi selalu dapat jawaban geje juga. Ada kakak angkatan yang mencoba menghibur gue katanya emang kalo di sana mbales surat kita agak lama, jadi sabar aja. Namun sayangnya otak gue udah serasa mau pecah mikirin ini. Gue stress, gue gila!!


Itu tadi cuma seklumit kisah gue. Masih banyak yang laen sebenarnya. Gue cuma mau share, kalo gue lagi banyak masalah gini jujur aja gue ngrasa jadi atheis. Gue kayak kagak punya Tuhan. Gue dilindas ama ketakutan gue sendiri. Iman gue udah kalah ama rasa takut gue. Gue ngeluh, gue takut, gue nangis, gue njerit seolah-seolah gue ga punya tempat yang tepat buat bersandar. Gue jarang berdoa sekarang. Sebelum tidur pun gue enggan bicara lama-lama ama Tuhan. Kalau udah capek mikir gue rasanya pengin merem aja. Gue bener-bener udah hopeless sekarang. Bayangan ke depan berasa buram banget. What the hell it is!


Tulung deh tenang in hati gue......... Tuhan..... I need Your answer............ Gue percaya kalo gue ga harus bunuh diri kan ni??? Semua bakal baik-baik saja kan, Tuhan??? I need Your hug..... Gue butuh waktu buat talking to You so much... Setan-setan di pikiran gue minggir dong......

Begitu Ironinya (Negeri Tercintaku Ini)

Ini tulisan gue buat berdasarkan pengamatan gue selama hampir lebih dari 20 tahun gue hidup di tanah air ini. Ini kisah nyata. Sebuah refleksi biar mata kita terbuka dan gue harap setelah pada baca ini kalian dapat melakukan sesuatu untuk bangsa ini...

  • Ironinya bangsa ini, di saat gue lihat para kondektur dan sopir bus harus berjuang penuh keringat buat dapat duit HALAL, mereka pejabat-pejabat jahanam itu justru dengan nikmatnya korupsi yang jelas-jelas menurut gue itu duit HARAM
  • Ironinya negeri ini, para "anggota dewan yang terhormat" yang katanya memperjuangkan nasib rakyat, justru malah tidur nyenyak saat sidang, malah pada facebook an, pada BBM an seolah mereka ga bikin dosa ama kita. Sebenarnya apa yang mereka perjuangkan? Sekolah aja masih mahal, desa tertinggal makin banyak, harga kebutuhan pokok tambah mahal. So what the damn things they do at there?
  • Ironinya bangsa ini, saat para pedangang asongan dan para pengamen mencari nafkah dengan cara HALAL mereka justru malah dikejar-kejar satpol PP. Sementara mereka yang sudah makan uang rakyat dengan cara sangat HARAM justru bisa hidup aman-aman saja. Malah ada yang bisa jalan-jalan berlibur segala.. Apa karena para padagang asongan dan pengamen ga punya duit buat nyogok?
  • Ironinya negeri ini, maling ayam ama koruptor perlakuannya beda di penjara. Yang maling ayam tidur di sel sempit bareng napi lain, dingin, tanpa ada fasilitas mewah. Tapi yang koruptor bisa-bisanya ada di penjara bintang lima dengan AC, televisi, DVD, plus bonus pembantu
  • Ironinya bangsa ini, saat semua berlomba-lomba membangun rumah mewah, berlomba-lomba tinggal di apartemen mewah, masih ada aja yang lebih milih tinggal di bantaran kali, di kolong jembatan, di pinggir rel kereta. Yang paling parah gue pernah lihat di berita ada yang rela tinggal di kuburan.
  • Ironinya negeri ini, lulusan sarjana yang begitu intelek plus IPK cumlaude banyak yang ga dapat kerjaan. Pengangguran ga pernah turun jumlahnya, malah naik terus. Sebenarnya apa yang salah? Mahasiswa? Atau sistem pendidikannya?
  • Ironinya bangsa ini, saat para buruh pabrik harus bangun pagi untuk kerja dan sebisa mungkin ga telat biar upah ga dipotong, para PNS justru asyik leyeh-leyeh dan jalan-jalan saat jam kerja dengan gaji mereka yang tak pernah dipotong
  • Ironinya negeri ini, gue pernah liat pegawai dekanat asyik YM an ama buka Youtube saat jam kerja. Enak amat kerja kayak gitu, gue mau kalau kerja cuma bengong doang
  • Ironinya bangsa ini, para petinggi negara ini udah mati rasa ama kriktikan. Udah banyak lagu atau film atau tayangan yang sengaja menyindir mereka, tapi kuping mereka seolah disumpel ama kapas.
  • Ironinya negeri ini, mental anak-anak muda aja udah bobrok. Lihat aja dari hal kecil: nyontek saat ujian. Nilai kejujuran kayaknya udah ga dibutuhin lagi di negeri ini.
  • Ironinya negeri ini, kita masih saja gampang terpicu emosi hanya gara-gara isu SARA. Mungkin Bhineka Tunggal Ika udah ga bisa nyentuh nurani kita lagi
  • Ironinya bangsa ini, di lingkungan yang dikelilingi mahasiswa Undip, ada aja anak-anak Tembalang yang gak sekolah gara-gara ga ada duit. Tetangga depan kost gue persis, dua anaknya ga sekolah sama sekali. Yang pertama karena dia kena polio, yang kedua karena ga ada duit. Miris kalau gue lihat ada lingkungan terbelakang yang mana sekelilingnya adalah kost-kost an yang berisi banyak mahasiswa. Ironinya GUE, karena ga tanggep dari dulu dan gak nglakuin apa-apa.


Ini sebagian dari sejuta ironi yang gue lihat. Ini baru awal yang bisa gue tulis karena kadang otak gue juga ga sanggup ngungkapin semuanya. Menulis ini saja udah bikin gue pengin nangis. Gue percaya kalian juga pasti bisa nemuin ironi-ironi yang laen. Overall, i still love Indonesia

Jumat, 22 Juli 2011

:: This Is Only A Story Between Us ::

You.. You.. You...
I remember the first time I saw you, it's been a long time ago
You were singing at there, and the people around you enjoyed your performance
next, I saw you again in every moment. You were always singing.... I don't know why I enjoyed every your performance
then you made me start feeling like this..
and now......
I always look at you when you pass
I never understand why you should play it cool
You never talk to me, but you just smile (sometimes)
Yeah, it's true that I'm a freak person
I do something that you call "absurd"
I'm sorry that I always disturb you.. I follow your path, I'm always looking for you...
It's a happiness for me to see you smile (though your smile is not for me)
This is something that I call "admire"
Yeah, I just admire you, boy
I don't know you can see it or not, I don't care
Do you know my name?  And (once again) I don't care
It's so nice to have a feeling like this...
I like the way you're walking, I like the way you're smiling
I like the way you're singing, and I like the way you keep everything on you so cool
That's why I admire you, boy...
This is only a story between us, between every our smile...
THIS IS US :))
You make me always sing ~ lalalalalalalala :D
I just sing like you do.... :))



*backsound: Everything by Michael Buble
....and when you smile at me you know exactly what you do.....
...and in this crazy life and through this crazy times, it's you it's you... You make me sing...
...you're every song and I sing along....

Kamis, 21 Juli 2011

Insiden Ganjel Pintu #sweetmemoriesontekim

Semester 6 ini hampir semua anak angkatan 2008 mengambil mata kuliah EKOTEK. Dilihat dari namanya saja sepertinya sudah nampak kalau di dalamnya ga jauh-jauh dari ekonomi. Mata kuliah ini memang perpaduan atau hasil sebuah fusion antara ekonomi dan teknik. Dua sisi yang jelas sangat bertolak belakang. Anak teknik kebanyakan lemah di ekonomi atau akuntansi, namun dengan amat sangat terpaksa harus mempelajari mata kuliah ini karena emang dibutuhin banget saat tugas PPK kelak. Sebenarnya ga cuma buat tugas PPK sih, besok-besok kalo udah kerja juga pasti butuh banget kalau misal mo ngrancang pabrik. Jadi biar ga salah pilih alat yang ekonomis, biar ga salah itung-itungan pas ngrancang biaya, dll. Namun kenyataannya, minat mahasiswa akan mata kuliah EKOTEK begitu rendah. Saking rendahnya bisa dihitung dengan jari berapa kali mahasiswa masuk mengikuti kelas ini. Kalau pun daftar hadir bisa penuh berarti telah terjadi persengkokolan busuk yang sudah menjadi hal biasa di kalangan mahasiswa. Yah, sudahlah saya ga mau bicara soal titip absen. Saya mau mengenang satu kisah yang lumayan lucu untuk dikenang…

Pak Darmadji, dosen EKOTEK yang satu ini memiliki tingkat kedisplinan yang tinggi. Bagi beliau kalau mau sukses ya disiplin. Kalau mau ikut kuliah EKOTEK ya jangan terlambat. Kalau terlambat ya ga usah masuk. Tegas. Beliau tidak suka kalau saat kuliah bangku-bangku depan masih kosong sementara bangku-bangku belakang berasa penuh sesak. Dengan tegas beliau pasti berkata, “Pindah depan mas/mbak. Depan masih banyak yang kosong. Jangan pernah mau hidup cuma jadi follower!”. Mahasiswa yang udah kena sentak begitu biasanya langsung nurut pindah duduk depan dengan muka sedikit manyun. Maka setelah bangku depan sudah terisi kuliah pun dimulai. Buka-buka diktat, buka-buka tabel, tapi biasanya ga ada satu pun yang nyantel di otak. Menit demi menit berlalu. Semakin lama waktu kuliah maka semakin lebar mulut mahasiswa menguap….

Jangan sekali-sekali terlalu pede untuk masuk kuliah kalau udah telat banget. Pintu di ruang A22 pasti sudah diganjel dengan kursi dengan tujuan agar mahasiswa telat ga bisa masuk. Kalau kamu masih punya nyali buat nerobos pintu yang diganjel itu maka kamu harus punya nyali juga buat dibentak: “KELUAR MAS/MBAK!!!”. Sejenak pasti kelas hening sambil pada ngelirik siapa yang telat tadi. Setalah mahasiswa yang telat sadar juga ga boleh masuk, pak Darmadji segera melanjutkan kuliah.
Namun ternyata pengganjal pintu itu pernah diterobos oleh beberapa mahasiswa telat. Siapa sangka niat para mahasiswa telat tadi yang begitu tulus untuk kuliah mampu mendobrak kuatnya kursi pengganjal pintu!

Alkisah, saat itu mahasiswa yang kuliah bisa dibilang sangat sedikit daripada biasanya. Pak Darmadji merasa waktu untuk mengganjal pintu telah tiba. Maka mahasiswa yang paling dekat dengan pintu saat itu disuruh untuk meletakkan kursi sebagai pengganjal pintu. Pada sutu saat, pak Darmadji sedang menerangkan sesuatu (yang entah apa itu) dan kebetulan butuh untuk menuliskannya di papan tulis. Entahlah ini yang disebut jodoh atau bukan: saat beliau menghadap papan tulis untuk menulis, serombongan mahasiswa telat datang. Dengan begitu pedenya mereka menerobos masuk, dengan suara-suara kaki mereka yang amat berisik plus suara cekakak-cekikik mahasiswa lain yang mengiringi langkah mereka. Saya sempat deg-deg an kalau-kalau pak Darmadji melihat kejadian ini, jangan-jangan luapan amarah besar akan beliau keluarkan. Parahnya, mahasiswa yang paling terakhir masuk tak sempurna menutup pntu sehingga kursi pengganjal nampak tak melakukan fungsinya dengan baik sebagai pengganjal. Belum sempat pintu ditutup rapat lagi, Pak Darmadji sudah selesai berurusan dengan papan tulis dan berbalik menghadap para mahasiswa lagi. Saya menahan napas siap-siap menerima bentakan beliau untuk kami. Namun hanya satu kalimat muncul dari mulut beliau: “Kok jumlahnya kayaknya nambah ya…”. Kalimat itu diucapkan dengan nada datar tanpa ekspresi marah atau kecewa. Setelah itu kuliah dilanjutkan kembali……..

Well. pak Darmadji mengajarkan saya tentang kedisplinan. Bagaimana cara kita menghargai waktu. Dan kawan-kawan saya yang telat tadi mengajarkan saya jangan pernah menyerah berjalan menghadapi penghalang sebesar apa pun. Berapa pun risikonya, harus diterjang. Hahahahahahahahahahahaha



*taken from another my blog: http://jessica066eksis08.tumblr.com/post/7107948652/insiden-ganjel-pintu-sweetmemoriesontekim

Surat untuk Bapak Presiden

Dear pak SBY,

Pak maaf sebelumnya kalo saya kelihatan ga sopan banget nulis surat kayak gini. Maklum lah pak saya anak gaoel gitu loooohhh. Sebenarnya saya cuma mau menyuarakan isi hati saya pak. Walau mungkin ga penting, mungkin ada baiknya bapak baca deh…

Saya mahasiswa semester 6 jurusan teknik kimia fakultas teknik Undip. Bapak tau Undip kan? Itu lo yang ada di Semarang. Yang terkenal dengan icon Patung Kuda-nya. Yang panas banget lingkungannya gara-gara kurang pohon. Yang biaya masuk kuliahnya ampun mahal banget bikin leher orang tua tercekik. Haduh maap pak, saya jadi ngalentur gini.. To the point aja ya pak..

Gini, pak. Saya jujur aja ga pernah ngerti apa yang terjadi ama bangsa ini. Kasus para koruptor ga pernah berhenti. Beritanya di tipi makin lama makin banyak hingga ngalahin berita video porno para artis. Sayangnya berita para koruptor belom mampu meredakan ketenaran sinetron kejar tayang Putri yang Ditukar dengan bintang utama Nikita Willy. Ya ampun maap ngelantur lagi. Jadi maksud saya: saya (dan mungkin jutaan masyarakat Indonesia lain) sudah muak dengan para koruptor itu pak. Persetan dengan persidangan kasus mereka yang lama, persetan dengan berapa duit yang mereka korupsi, persetan dengan hidup mereka yang masih bahagia-bahagia aja walau udah berstatus terdakwa. Tau ga sih pak, saya di sini geram lihat mereka. Kenapa kalo nangkap maling ayam lebih mudah daripada nangkap koruptor? Mungkin karena maling ayam ga punya cukup duit buat lari ke luar negeri kali ya, pak… Satu lagi pak. Saya bosan liat kasus korupsi yang seakan-akan mengikuti filosofi peribahasa: mati satu tumbuh seribu. Satu kasus terkuak muncul kasus lain. Satu nama terkuak muncul nama-nama yang lain. Saling lempar salah. Ga ada yang mau  ngaku. Heran saya ama koruptor pas dulu mereka SD dapat pelajaran agama ga sih? Atau jangan-jangan nilai agama mereka selalu merah kali ya, pak… Saya rasa sudah cukup bicara korupsi. Ganti topik.

Pak, saya tahu Bapak pasti banyak pikiran. Susah tidur kala malam. Pecah otak bapak pasti kalo tiap hari mikir nasib bangsa ini. Saya kasian ama Bapak. Tapi bisa ga pak, ga usah curhat melulu di depan media. Ga usah ngeluh melulu di depan media. Jujur saja, saya cuma bisa simpati dan tambah merasa kasihan ama segala keluhan bapak. Bapak kan pemimpin, simpan lah semua keluhan bapak. Kalau mau curhat boleh-boleh aja kok, tapi jangan ama seantero Indonesia juga. Cukup curhat ama orang terdekat aja. Justru menurut saya bapak harus e bisa tegar dan kuat di depan kami. Kalo kami liat bapak kuat kan otomatis sebagai warga negara kami juga tenang. Tapi kalo bapak curhat melulu gitu, kami jadi risih juga. Emang yang punya masalah bapak doang.. Saya juga pak.. Tau ga pak proposal penelitian saya belum beres? Tau ga pak saya belajar buat ujian ga mudeng-mudeng? PAP, ekotek, SOM, pemisahan dengan membran, PPK, dll itu susah pak mata kuliahnnya… Tau ga pak saya lagi butuh banyak duit buat penlit, kape, bayar listrik kost? Tau ga pak bahkan saya ga tau lulus ntar jadi apa? Parah kan pak. Bedanya saya ga pernah curhat di depan banyak media (lagian mana ada sih media nyari in saya„,). Gimana ya, pak.. Bingung bilang e. Intine yang kuat aja deh pak.

Sekian aja deh pak surat dari saya. Maap kalo banyak yang ga berkenan di hati bapak. Saya cuma manusia biasa pak. Kadang pengin juga ngeluarin uneg-uneg. Maap kalo cuma bisa lewat dunia maya. Kalo via pos, belum tentu bapak baca. Kalo via telpon, saya ga tau nomor telepon bapak. Kalo mau face to face, belum tentu bapak bisa dan mau ketemu saya. Anggap saja surat ini mewakili perasaan hampir seluruh bangsa Indonesia. Moga bapak bisa tegar membacanya. Makasih pak.

Warga negara yang cinta Indonesia,
Jessica


*taken from another my blog: http://jessica066eksis08.tumblr.com/post/7075464616/surat-untuk-bapak-presiden

Kamis, 16 Juni 2011

F R I E N D

Friend....
Can you tell me why I feel like this?
Can you see me that I'm so bored with you?
or you will wanna know everything?
I'm doubt about it....

Well, thank you for supporting me, thank you for listening to all my sigh, thank you for giving a lot of advices for me, thank you for all you've done to me. I'm proud to have a friend like you. But just "sometimes"....

Where are you when I feel so sad? Yeah, you're right beside me. But just "right beside me"
Where are you when I get some troubles in my life? Yeah, you'll be with me. But just "be with me"
What do you do when I always angry? Yeah, you say 'keep calm, dear'. But just "say keep calm"

Now...
Can you "really" understand what happen to me?
Can you "really" wanna know what I'm worried about?
Can you tell me how to solve this damn-freak-thing?
(Again) I'm doubt about it..
You say: "Spirit, dear!" But it's not easy like you say
You say: "I'll be there for you..." But actually you'll never always be there for me
You say: "You're great, you're strong. I'm sure that you can pass it!" But you have to know that I'm not strong like you think

Friend...
Can you hide your happiness from me when I'm down? Don't you think that I'm so depressed to watch it? Can you give me a hope? I don't need your advice because it seems just "a bullshit" to me. Don't you know that:
You can't understand me because YOU ARE NOT ME
You can't understand me because YOU DON'T GET THIS PROBLEM
You always ask the same question for me: Why.... why.... and why.....
You just try to "care for me" but you don't "really" care for me

Anyway, I think YOU ARE NOT ME but YOU ARE LIKE ME. Maybe sometimes you feel like me, you get a big trouble, you're sad; but I can't be your best friend when you feel all of this. That's why now you can't understand me. Actually now I can see that everyone has their own problems. Just like this: I don't wanna know your problem, so do you. It's true that: HARD TO BE UNDERSTOOD IF YOU CAN"T UNDERSTAND ANOTHER PERSON



Tulisan ini dibuat berdasarkan sebuah realita dalam pertemanan. Mudah memang mencari teman, namun sulit mencari sahabat. Jangan pernah menyuruh orang lain mengerti anda jika anda pun tak mampu mengerti orang lain :)). Spesial untuk kawan-kawan saya: I LOVE YOU ALL... Maap saya sering marah-marah ga jelas :)) I'm happy to be your friend...

Rabu, 27 April 2011

...when i talk about kormat....

Sebuah tulisan yang aku dedikasikan untuk para kormat. They are inspiring my life. They show me how to be faithful. Mereka mengajarkanku bagaimana caranya sabar....


Kormat. Nampaknya jabatan tadi sangatlah terhormat. Jika menjadi kormat, maka  bersiap-siaplah menjadi orang penting. Kau akan berhubungan langsung dan lebih intens  dengan dosen. Tak salah jika berharap nomor hapemu juga akan di-save oleh si dosen.  Inbox di hapemu akan dipenuhi pertanyaan kawan-kawanmu yang sama tiap minggunya: nanti  ada kuliah tidak? Maka setelah kau bosan dengan pertanyaan yang sama tiap minggunya,  setiap malam sebelum hari H kuliah kau akan membuat jarkom: JARKOM!! Besok ada kuliah  bla bla bla di ruang bla bla bla pukul bla bla bla. Kalau sudah musim menjelang ujian  maka sms yang masuk ke inboxmu berganti: besok ujiannya open apa close? Jenuh menjawab  pertanyaan yang sama pada tiap orang, ujung-ujungnya kau akan membuat jarkom lagi:  JARKOM!! Ujian bla bla close book. Derita kormat tak sampai di situ saja. Kadang jika  dosen memberi tugas yang rada "geje" dan sulit dipahami oleh otak mahasiswa rata-rata  macam kami, maka seolah-olah kormat lah yang harus bertanggung jawab. Ditanya ini itu,  kalau tak tahu disuruh tanya ke dosennya. Itulah kormat, mengemban tugas yang cukup  berat, menjadi penopang bagi mahasiswa malas macam kami ini.

Ada lagi derita kormat yang lain, dia hampir tak bisa membolos mata kuliah yang menjadi tanggung jawabnya (kecuali kalau dia nekat dan cuek pada nasib kawan-kawannya). Kormat biasanya duduk di depan saat kuliah. Dia akan mengikuti kuliah dengan amat baik, mencatat setiap tugas yang diberikan oleh dosen. Maka kutemukan lagi satu derita kormat: "memperhatikan kuliah dengan sungguh-sungguh". Sudah menjadi rahasia umum kalau mahasiswa bengal seperti kami jarang mengikuti kuliah dengan sungguh-sungguh. Ada saja yang dikerjakan: bergosip dengan teman sebelah, melamun, menggambar rupa-rupa bentuk di kertas, menyalin laporan praktikum, membuat proposal praktikum, mengantuk, tidur, sms an, browsing via hape. hingga sok serius memandang diktat kuliah padahal pikirannya ngelantur ke mana-mana. Namun sekali kau menyandang gelar kormat maka jangan harap bisa melakukan hal-hal tadi dengan leluasa. Kormat lah source of information bagi kawan-kawannya. Salah memberi info pasti akan menjadi pergunjingan walau hanya sesaat. Seperti tabiat kebanyakan orang Indonesia yang suka mengeluh, mahasiswa pun demikian. Sekali berbuat salah, pasti langsung dicibir, dianggap tak bertanggung jawab lah, lalai lah, malas lah, dan lain-lain. Padahal aku yakin, mereka yang tukang mengeluh tadi (termasuk aku) pasti belum tentu mengemban amanah mulia sebagai kormat. Oh ya satu hal lagi derita kormat yang paling akut: saat akan memfotocopy diktat dengan tebal yang lumayan ditambah jumlah mahasiswa yang lumayan banyak juga, mau tak mau dia harus menalangi uang pembayaran kawan-kawannya. Dapat kutarik kesimpulan bahwa kormat haruslah punya uang cadangan untuk keadaan mendadak macam ini. Belum lagi kalau ada beberapa kawan yang belum membayar uang diktat namun dia relakan memberikan diktat pada kawannya karena kasihan.

Atas dasar segala penderitaan yang kulihat jika menjadi kormat tadi, maka kuputuskan aku tak akan pernah mencalonkan diri menjadi kormat. Bahkan kalau sampai ada yang melambungkan namaku saat pemilihan kormat maka bisa kupastikan habislah dia di tanganku. Tak bisa kubayangkan bagaimana rasanya mengurusi puluhan mahasiswa-mahasiswa labil di kelasku. Aku malas sekali mengurusi nasib jadwal kuliah mereka. Aku malas juga jika ada jadwal yang bertabrakan atau dosen yang bersangkutan berhalangan hadir, maka aku harus mencari jadwal penggantinya. Belum lagi kalau kawan-kawanku selalu menghantui malamku dengan sms tentang kapan kuliah. Bukannya aku pelit pulsa, tapi malas saja membalas sms yang sama setiap minggu. Di mataku, setelah menjabat sebagai kormat maka hidup terasa gelap. Satu semester dijalani dengan kelelahan tiap minggu. Ambil absen, ambil LCD, mengingatkan dosen untuk kuliah, ada pula dosen minta dijemput di ruangannya (macam anak SD saja tipe dosen macam ini), kadang ada dosen meminta dibawakan air minum saat kuliah, dan hal-hal absurd lain. Aku akui kalau aku bukanlah tipe penyokong yang bisa melakukan hal-hal tadi. Aku malas mengurusi hajat hidup mahasiswa labil ini. Kalau aku jadi kormat maka pastilah kuliah berantakan. Kalau kau tanya tugas, mungkin kujawab: tidak ada tugas kok, santai saja. Kalau kau tanya ujian close book atau open book mungkin kujawab: open kok (padahal close book).

Kalian boleh men-judge aku sebagai mahasiswa tak bisa diandalkan dan tak bisa bertanggung jawab. Terserahlah. Namun daripada kalian menghujatku terus, aku bawa kalian ke sosok-sosok hebat yang sukses menjadi kormat. Kormat yang bisa aku katakan teladan karena kesabarannya, kepeduliannya pada nasib kami, kerajinannya, keuletannya, keramahnnya, dan terjaminnya nasib kami selama kuliah. Sosok pertama adalah TRINUG. Aku menyebutnya Master of Kormat. Bukan tanpa alasan aku menyebutnya seperti itu. Dia sosok paling bertanggung jawab dari semua kormat yang pernah aku lihat. Dia selalu datang lebih pagi dari yang lain. Dia selalu menyiapkan segala yang diperlukan sang dosen sebelum perkuliahan dimulai. Yang membuatku tambah kagum, meski saat tak menjabat sebagai kormat sekalipun, dia rela melakukan tugas kormat macam ambil LCD dan daftar absen saat kormat yang bersangkutan berhalangan bertugas tanpa alasan yang jelas. Dialah TRINUG, anak asli Semarang, cerdas, santun pula. Aku memandangnya sebagai muslim yang baik. Sosok yang kedua adalah ULIL. Dalam kamus kehidupan tekimku, aku menetapkannya sebagai orang kepercayaan Master of Kormat. Dia rajin datang pagi ke kampus (apalagi untuk download anime-anime kesukaannya). Kelakuannya mirip sang Master of Kormat. Hanya saja dia agak "grusa-grusu" alias agak mudah panik. Dia suka berlari-lari dari lantai dua gedung B menuju tempat perkuliahan. Dia juga ahli dalam memecahkan "masalah LCD". Ada kalanya LCD tidak mau connect dengan laptop, maka ULIL lah yang berhasil menjinakkan LCD tadi. Sebenarnya masih banyak lagi kormat-kormat yang di mataku baik, namun dari semuanya mereka berdua lah yang terbaik. Muncul pula nama kormat-kormat lain yang tak mungkin pula aku sebutkan satu per satu (karena sepertinya hampir semua anak sudah merasakan menjadi kormat..).

Keseluruhan, merekalah sebagian dari mahasiswa labil yang berani mengemban tanggung jawab berat. Mereka lah sosok yang menjadi panutan selama hidupku. Melalui mereka aku belajar agar aku jangan sampai hidup menderita seperti mereka. Ah, salah lagi. Maksudku melalui mereka aku belajar untuk menjadi pengayom bagi yang lain. Sulit memang sepertinya, namun aku tahu di balik kesengasaraan mereka muncul sebuah senyuman manis di akhir masa kerja mereka. Mereka patut berbangga karena melalui merekalah kuliah lancar, melalui merekalah tugas-tugas dapat dikumpulkan, melalui merekalah nilai-nilai  -baik indah maupun hancur-   milik kawan-kawannya akhirnya bisa terpampang di KHS. Sejuta hormatku untuk kalian, wahai para kormat...

Senin, 04 April 2011

Nge-Fans: Antara SUKA ato DEMEN??

Tulisan ini aku buat berdasarkan kisah pribadi, nyata, dan tanpa rekayasa. Apa yang ada di sini adalah bagain-bagian tak terpisahkan manusia ketika dia nge-fans dengan seseorang. Aku tertarik menulis hal "geje" ini karena sejujurnya inilah hal paling aneh yang sering aku lakukan. Mungkin hanya ingin sekadar share saja, kali aja ada yang kisahnya sama kayak aku.

Mengagumi seseorang bukanlah hal yang salah. Misal saja sekadar flash back, zaman SMA dulu aku kagum pada seorang pegawai TU di sekolahku. Beliau begitu santun, ramah, tidak neko-neko, dan tentu saja ganteng. Atau aku juga sempat kagum kepada guru SMP ku yang begitu galak namun sangat pintar dan membuat para siswanya pintar. Ada kalanya kagum itu dalam batasan "wajar", namun ada kalanya "kagum" itu dalam batasan yang "sangat tidak wajar". Untuk kategori "sangat tidak wajar" aku klasifikasikan untuk kisahku akhir-akhir ini selama duduk di bangku kuliah. Bentuk-bentuk tindakan "geje" plus aneh mulai muncul saat aku nge-fans dengan seseorang -sebut saja mas Oki- . Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari laki-laki itu. Dia begitu dingin dan teramat cuek plus sedikit jaim. Hal-hal itulah yang membuatku begitu penasaran dengannya. Sebenarnya sejak awal semester 1 aku sudah "tertarik" akan tingkah lakunya, namun mungkin baru semester ini lah aku menjadi terkena "penyakit gila" sebagai efek nge-fans kepadanya.

Aku membedakan antara nge-fans dan cinta. Perbedaan yang nyata terlihat tentu saja kalo nge-fans tuh ya cuma suka saja. Suka ama gerakannya, suka lihat wajah segernya, suka tingkah lakunya, pokoknya menjurus ke hal-hal yang berbau fisik. Tapi cinta itu lain. Cinta itu perasaan yang sulit didefinsikan, yang ada hanya perasaan gelisah, deg-deg an, berbunga-bunga, sampai patah hati. Kalau nge-fans biasanya aku tak sampai deg-deg an saat memandang wajahnya, namun jika cinta pasti ada deg-deg an di dalam dada. Nah, berdasarkan teori di atas (teori yang aku buat sendiri tentunya), maka bisa aku simpulkan apa-apa yang belakangan ini aku rasakan hanyalah sekadar perasaan sebagai fans mas Oki. Meski bukan cinta, namun tindakan yang akhir-akhir ini sering dilakukan sama "gila" nya dengan jatuh cinta. Inilah beberapa tindakan gila itu:
  • Mulai mencari wajahnya saat seharian tak melihat wajahnya. Ini tindakan gila pertama yang sering aku lakukan bersama partnerku (baca: Lia). Tempat-tempat yang sering menjadi sasaran utama kami biasanya gedung A bawah, gedung B bawah, dan parkiran (akhir-akhir ini perpustakaan juga menjadi target).
  • Mulai cengar-cengir kalau melihatnya berjalan atau lewat di hadapan kami. Ini juga tindakan gila karena kami dengan "geje" nya mengharapkan senyumnya untuk kami. Kadang yang muncul di bibirnya bukanlah sebuah senyuman untuk kami melainkan sebuah cengiran yang tak kalah geje bentuknya dengan tindakan kami
  • Mulai hapal jadwal mas Oki dari hari ke hari. Ini tindakan gila terparah yang kami alami. Entah karena sudah kebiasaan atau emang entah karena "sengaja" menghapal jadwal lewatnya jam berapa, jadwal hari apa biasanya dia di mana, jadwal jam berapa dia ada di parkiran, dan jadwal-jadwal lainnya. Ini makin menggila karena lama-kelamaan kami hapal di mana kami harus stand by buat menanti masnya lewat.
  • Mulai hapal baju yang dia pake. Ini tindakan gila yang jarang aku lakukan namun sering dilakuakan oleh partnerku (baca: Lia). Aku no comment untuk tindakan ini karena sudah termasuk level "parah".
Well, setidaknya itulah beberapa tindakan "gila" yang aku lakukan bersama partnerku.  Gila memang, namun kami seolah menikmatinya. Kadang kami menganggap sosok mas itu sebagai penyegar buat kami di tengah kejenuhan kuliah dan tugas plus kadang penyejuk hati kami yang kadang tersakiti oleh cinta. Namun makin ke sini jujur saja muncul pertanyaan di benakku, beda antara suka ama demen tipis sekali. Aku tidak demen ama mas itu, tapi suka aja lihat tingkah polahnya. Tapi lama-lama bisa saja suka itu jadi demen kalau aku sendiri tidak bisa mengendalikan "tindakan gila" di atas. Lucu memang kisah-kisah macam ini. Aku anggap ini sebagai kenangan, kenangan yang terlupakan saat aku berumur 20 tahun. Kenangan gila yang aku miliki di tengah frustasi hidup di teknik kimia. Nge-fans pada mas Oki menjadi sesuatu yang tidak akan aku sesali karena menurutku itu bukan hal salah.

Jumat, 25 Maret 2011

This is "The Bad" from Me: Aku dan Sejuta Keluhan

Sejenak aku daftar tugas-tugas yang ada: Teknologi Enzim, Perancangan Proses Kimia, SOM. Lalu aku melihat hal lain yang tak kalah urgent pula: Proposal Penelitian dan PKM. Awalnya aku sangat optimis bisa melalui semuanya dengan senyuman dan pada akhirnya hasilnya akan sangat memuaskan. Namun ternyata semua tak semudah yang aku bayangkan. Ketika setan-setan mulai masuk ke jiwaku maka yang muncul hanya satu: KELUHAN. Keluhan aku capek lah, keluhan tugasnya susah lah, keluhan mencari jurnalnya susah lah, dan ribuan keluhan lain. Bahkan kadang muncul rasa takut berlebihan seolah-olah aku tak mampu menjalani ini semua. Inilah serpihan kata-kata yang mendekam di otakku selama berhari-hari ini. Sesuatu yang hanya muncul ketika aku tengah sendirian di kamar kost, duduk di depan komputer yang lemotnya minta ampun dan kadang mati gara-gara listrik tidak kuat, serta mencari tugas dari internet namun tidak ketemu-ketemu. This is the bad from me....

Siapa sangka aku akan kesulitan mencari tugas Teknologi Enzim. Aku pikir tinggal search di Google lalu muncul lalu copy paste (dosa yang sering kali aku lakukan). Aku ketik nama enzim yang menjadi tugasku: 5'-Phosphodiesterase. Lalu kemudian yang muncul hanyalah jurnal-jurnal berbahasa Inggris yang amat sulit dimengerti karena kebanyakan mengenai farmasi. Aku mencoba mencari di laman berbahasa Indonesia, yang muncul jauh lebih mengejutkanku (maaf, yang muncul adalah hal-hal berbau disfungsi ereksi. Kontan kepalaku makin puyeng). Setelah dengan berbagai perjuangan, membaca jurnal-jurnal rumit, hingga bertanya pada kawan lamaku via Twitter, aku mulai sedikit memahami apa itu 5'-Phosphodiesterase. Puji Tuhan hingga detik ini satu halaman berhasil aku buat walaupun mungkin sangat 'geje' :(

Tugas yang tak kalah membingungkan tentu saja SOM. Awalnya aku santai-santai saja karena ternyata ada teman yang punya soft tugas yang dulu, jadi tidak perlu susah-susah membuat tugas SOM. Namun saat hari H presentasi ternyata tugas SOM kelompokku salah total. Maka mau tak mau harus dibenarkan. Berhubung aku ternyata mempunyai diktat SOM yang berisi materi untuk tugasku, aku menawarkan diri untuk membenarkan tugas tadi. Selesai masalah pembenaran tugas, tapi selanjutnya ada tugas SOM lagi yang menanti. Semoga tugas yang sekarang tidak salah lagi...

Tugas Perancangan Proses Kimia juga awalnya aku kira mudah karena kebetulan salah seorang rekan kelompokku sudah punya 'baceman' dari anak 2007. Namun setelah didalami arah tugas tadi, apa yang harus ada, analisisnya bagaimana, maka dapat kusimpulkan tugas ini juga tak semudah main ular tangga. Dan lagi-lagi dalam kesendirian di kamar kost, aku hanya bisa termenung di depan komputer lemot ini. Meski tugasnya masih lama, hati berasa tak tenang kalau belum menemukan referensi untuk tugas. Tidur tak enak, bernyanyi pun enggan, mau download lagu pun malas. Jika sudah seperti ini maka tujuan berikutnya adalah KASUR...

Hal yang masih sangat malas aku bicarakan adalah proposal penelitian dan PKM. Mengapa aku malas? Entahlah... Meski untuk proposal penelitian sudah diberi tema namun aku merasa minder melihat kawan-kawan yang lain: ada yang sudah sampai bab 2, ada yang sudah sering konsultasi, bahkan ada yang mulai nge-run. Bisa kuceritakan nasibku: dosen hanya bisa ditemui satu hari dalam seminggu, sekalinya mau datang konsultasi lebih sering ditolak karena beliau sibuk, sekalinya sudah bertemu maka tatap muka kami paling lama hanya 5 menit. Puji Tuhan sekarang sudah ada kepastian tema dan kesiapan jurnal sudah ada serta aku sudah lumayan mengerti tentang elektrokoagulasi. Bicara PKM maka itulah yang membuatku miris. Aku merasa lolos PKM bukanlah hal yang menggembirakan di saat-saat seperti ini. Kalau ingat PKM sungguh aku hanya ingin mengeluh: kenapa harus lolos??? PKM yang awalnya aku kira tidak rumit jika dilaksanakan ternyata rumit juga. Aku kadang tak bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi Erlinda, ibu ketuanya..

Setelah dirunut-runut berbagai masalahku, maka dari sekian banyak masalah yang muncul aku hanya bisa mengeluh. Bahkan saat berdoa sebelum tidur aku seperti men-judge Tuhan dengan kata: Why? Why? Why? Why? Why must to be me???? Keluhan sekarang menjadi sahabat karibku. Kadang aku bisa tertawa lepas kalau di kampus seolah santai dengan segalanya. Namun kalau sudah di kamar kost, maka aku menjadi melankolis akut. Lagi-lagi kadang aku meratapi nasib mengapa masuk teknik kimia, mengapa dapat dosen pembimbing sibuk, mengapa harus menjadi anak bungsu yang so complicated hidupnya...

Tapi kadang aku bisa STOP MENGELUH kalau melihat Spongebob. Lihatlah dia, tak pernah mengeluh sedikit pun meski selalu kerja di Krusty Krab (bahkan kadang tak dibayar). Lihatlah dia, selalu tersenyum pada siapa saja meski tanpa dia sadar banyak orang yang tak suka padanya. Lihatlah dia, selalu membawa keceriaan pada siapa saja. Aku rasa hanya satu hal yang bisa membuat aku berhenti mengeluh, yaitu dengan bersyukur. Gantilah ungkapan: 'Aku lelah' dengan 'Aku bersyukur aku masih bisa merasakan lelah'. Ubahlah keluhanku pada Tuhan tiap malam dengan: 'Terima kasih karena aku diberi kesempatan melewati cobaan ini'. Namun sekali lagi tak mudah menjalani ini, apalagi kalau iman tak kuat maka setan lebih mudah merasuki jiwa ini..

Aku sekarang sedang berusaha mengumpulkan sisa-sisa semangat yang ada. Biar tinggal sisa-sisa namun aku rasa jauh lebih baik daripada sudah tak ada semangat sama sekali. Biarlah sepotong lirik dari lagu Menanti Keajaiban nya Padi senantiasa aku dengarkan sekarang:
....seharusnya aku tak patut bersedih atas semua yang terjadi kepadaku, aku merasa bahwasanya hidup ini tak lebih dari sekadar perjalanan... hingga saatku tiba, semoga tak lelah aku terus berpeluh... hingga saatku tiba, kuharap temukan apa yang aku cari....

Jumat, 04 Maret 2011

How to be A Good Engineer????

Sabtu kemarin (2 minggu yang lalu) aku baru saja melihat wisuda kakak laki-lakiku. Aku kagum padanya. Anak laki-laki "rata-rata" di rumah kami sudah jadi sarjana. Siapa pun -termasuk aku- tak akan menyangka dia bisa menjadi insinyur seperti sekarang. Empat setengah tahun dia berjuang kuliah. Di antara ketiga anak di rumah kami, dia bisa dibilang -maaf- agak lemah otaknya. Dia belum pernah menyandang juara kelas semasa SD. Dia juga pernah tak mendapat ranking saat SD dan SMP. Jujur saja saat kecil aku merasa tak yakin dengan masa depannya. Jika dilihat dari nilai dan prestasi akademiknya, aku tak bisa katakan dia golongan orang pintar. Dia tak masuk SMP 1 seperti aku dan kakak perempuanku. Dia bahkan hanya sekolah "nomor 3" di kotaku saat SMA (Aku bisa cukup berbangga karena aku berhasil masuk ke sekolah "nomor 2"). Bahkan meski sudah sekolah di SMA yang biasa-biasa saja dia tak berhasil bersinar akademiknya di sana. Aku sempat berpikir jangan-jangan ini gara-gara dia pernah jatuh dari tempat tidur saat bayi dulu. Jadi mungkin setelah dewasa otaknya agak terganggu. Namun di balik segala "kebodohannya" yang selalu kupandang sebelah mata, aku bisa katakan hari Sabtu kemarin adalah pembuktian bahwa dia bukanlah laki-laki biasa.

Setelah lulus SMA kakakku diterima di sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Jurusannya pun tak main-main: Teknik Arsitektur. Aku sempat kaget bahkan hampir pingsan saat ia diterima di Teknik Arsitektur. Bagaimana bisa seorang anak dengan background "jelas-jelas anak IPS saat SMA" bisa diterima di teknik? Lama-kelamaan aku baru sadar bahwa universitas swasta berbeda dengan universitas negeri. Meski sama-sama pakai test masuk, uang jelas lebih "bicara". Sekadar catatan, sebelum ikut tes di perguruan tinggi swasta tadi kakakku sudah kenyang ikut Ujian Masuk sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta plus UMPTN. Dua-duanya memberi hasil sama: DITOLAK. Maka seperti kebanyakan jalan manusia yang lain, perguruan tinggi swasta menjadi pilihan melanjutkan hidup. Saat itu aku heran berani-beraninya dia mendaftar di teknik arsitektur. Apa pikir dia bakal diterima? Namun toh kenyataannya dia diterima. Usut punya usut, seperti yang kukatakan tadi, semuanya karena uang. Bapakku mengisi uang sumbangan sebesar 5 juta rupiah. Asal kalian tahu, bapakku sendiri tak bermaksud berbuat "nepotisme" macam pemerintah zaman sekarang. Beliau sunggu-sungguh polos dan tak tahu kalau uang segitu cukup besar jumlahnya untuk ukuran "sumbangan". Beliau pikir orang lain pun akan mengisi dengan uang yang lebih besar (padahal juga tidak...). Maka begitulah, jalan laki-laki itu telah ditetapkan untuk menempuh kuliah di teknik arsitektur.

Semester pertama dia kuliah di sana semuanya berjalan baik-baik saja. IP nya di atas 3. Namun di semester kedua IP nya melorot jadi 2 koma. Saat itu aku berpikir: nah lo, kau pikir gampang kuliah di teknik? Anak IPS macam kau mana kuat lama-lama di teknik. Kesangsianku akan kekuatan kakakku untuk bertahan di teknik arsitektur mulai luntur sejak dia semester tiga. Dia tak pernah lagi mendapat IP 2 koma. IP nya selalu di atas 3 lagi. Tak usahlah cumlaude, melihat dia bisa ada di sana bertahun-tahun saja aku heran. Dia luamayan hidup susah di sana. Kostnya tak semewah kost anak laki-laki pada umumnya. Dia ke mana-mana naik angkot, kuliah jalan kaki. Dia bisa bertahan hidup 2 tahun tanpa komputer. Bisa kubayangkan betapa repotnya dia pinjem komputer sana-sini jika ada tugas. Kira-kira semester 5 dia membeli komputer dengan uangnya sendiri. Bukan komputer baru, hanya komputer rakitan. Dia bukan tipe laki-laki yang ingin menyusahkan orang tua. Orang tuaku pasti masih mampulah kalau membelikan dia komputer. Tapi sekali lagi, dia anak yang sangat baik. Aku ingat saat dia masih kecil, jika ingin dibelikan sesuatu ia selalu pakai embel-embel: "nek sampun gajian aku tumbaske iki nggih.."(translate: misalnya sudah gajian aku belikan ini ya..). Ya, dia tak pernah memaksa orang tuaku beli ini itu. Dia selalu meminta dengan sopan bahkan kalau menurutku amat sopan. Bagaimana mungkin anak kecil bisa memohon dengan begitu sopannya? Mungkin dialah laki-laki tersopan yang pernah aku lihat.

Aku tak pernah tahu kapan dia ujian karena dia tak pernah terlihat stress atau belajar saat di rumah. Kerjaannya paling hanya tidur seharian atau main game bola favoritnya. Belakangan kuketahui bahwa saban hari dia baru tidur pukul 2 pagi bahkan 4 pagi. Aku bisa maklum kalau di rumah kerjaannya hanya tidur dan makan. Hebatnya lagi dia jarang atau bahkan hampir tak pernah mengeluh tentang kuliahnya. Dia tak pernah kudengar menggerutu atau menampakkan betapa malangnya dia dengan tugas-tugasnya yang berat. Aku pikir dia pulang ke rumah untuk dua hal: kehabisan uang dan mencari tempat nyaman untuk tidur. Saat semester 6 dia mulai kelihatan sibuknya. Dia mulai ada kerja praktek. Tempat kerja praktek bukan tempat-tempat jauh yang memakan biaya hidup banyak. Dia hanya kerja praktek di kota kelahirannya, Magelang, di sebuah tempat yang sedang membangun ruko. Tiap hari dia ke sana, pinjem hape kakak perempuanku untuk dokumentasi (maklum hapenya saja jelek), dan membuat laporannya. Hingga saat ini tiap lewat bangunan ruko itu maka aku langsung ingat kakak laki-lakiku itu. Kemudian dia juga menjalani KKN di pulau nun jauh di sana. Dia KKN di Toraja. Gara-gara dia KKN di sanalah, kini di keluargaku hanya tinggal aku yang belum pernah naik pesawat (yang ini bukan hal penting sebenarnya). Setahuku dia lagi-lagi tak mau merepotkan orang tua. Sebagian besar dia memakai uangnya sendiri untuk hidup di sana. Pernah juga dia kehabisan uang, lalu ibuku mengiriminya uang. Terakhir, kesibukannya adalah membuat tugas akhir. Nah kalau yang ini aku cukup tahu jalan hidupnya. Dia memilih untuk redesain pasar di kotaku yang terbakar bertahun-tahun yang lalu namun sampai sekarang belum beres dibangun lantaran pemerintah kotaku yang tak becus. Aku ikut saat dia mengambil potret kondisi pasar yang terbakar itu. Aku selalu melihat dia bekerja sampai malam saat di rumah. Kalau malam hari sudah larut aku menguap geje di depan televisi sambil menonton sinetron ibuku yang tak kalah geje, kakakku masih stay cool di depan laptop. Kadang saat aku beranjak tidur, dia belum beranjak dari tempatnya. Saat aku bangun di pagi hari untuk menonton Spongebob, maka yang kulihat pertama adalah kakakku yang (lagi-lagi) masih stay cool di depan laptop. Muncul pikiran di otakku: nih anak bobok ga sih? Maka jangan heran kalau kakakku selalu molor di siang bolong dengan kondisi belum mandi dari pagi. Kadang dia hanya mandi sekali saat sore hari. Bisa kalian bayangkan betapa merananya menjadi adik dari laki-laki macam itu...

Hingga Sabtu kemarin, aku melihat seorang laki-laki hebat itu sedang berjalan dengan "tidak gagahnya" memakai toga. Mengapa aku bilang tak gagah? Wajahnya tetap kumal, rambutnya belum dicukur, dan jenggotnya masih merajalela di dagunya. Padahal sebelum wisuda ibuku sudah mewanti-wanti agar semua bulu di dagunya itu dibersihkan dan rambut keritingnya yang sudah agak gondrong itu dicukur. Dia sangat tak elegan hari itu. Bahkan saat sudah masuk ruangan dan duduk, hal pertama yang ia lakukan adalah melahap sncak yang ada. Kelaparan katanya. Aku jadi berpikir seberapa sengasara hidupnya hingga kelaparan seperti itu? Sewaktu namanya dipanggil untuk diwisuda, lagi-lagi dia berjalan dengan sangat "tidak gagah". Wajahnya tak sesumringah teman-temannya yang lain. Ekspresi datar dan biasa-biasa saja. Namun satu hal yang membuatku hormat kepadanya. Dia lulus dengan IPK 3,32. Tak cumlaude memang. Bagiku cumlaude itu tak penting. Lihatlah sejarahnya, anak IPS yang bisa bertahan hidup di tengah kerasnya dunia keteknikan. Bahkan saat keluarganya mengkhawatirkan akan nilai-nilainya nanti, dia berhasil menunjukkan kalau dia bisa. Dia mampu. Dia kuat. Dia bukan insinyur yang banyak omong. Dia memang bukan lulusan universitas mentereng, tapi dia insinyur yang aplikatif. Tengoklah bangunan bagian depan rumah bulikku, dialah yang merancang segalanya. Saat itu dia belum genap dua tahun kuliah di teknik arsitektur namun sudah bisa membuat desain bangunan. Dia insinyur yang peka pada lingkungan sekitar. Tengoklah ia membuat rencana redesain pasar di kotaku. Aku pernah melihat hasil kerjanya, lumayan keren juga kalau pasar di kotaku menjadi seperti itu. Namun sayangnya dia masih kurang tenar namanya di kalangan pemerintah kotaku. Hasil kerjanya mana mungkin dilirik pemerintah. Bahkan aku sebagai adiknya tak sudi hasil kerja kakakku jatuh di tangan pemerintah kotor itu (mudah sekali aku senewen jika bicara tentang pemerintah). Di mataku, dialah sosok panutan seorang engineer.

Aku, sebentar lagi akan mulai menjalani semester 6. Beberapa kawanku sudah merancang masa depan mereka. Setahuku kebanyakan dari mereka ingin lulus kurang dari 4 tahun. Jujur saja aku bahkan tak pernah berpikir sejauh mereka. Bagiku, seorang engineer haruslah melewati proses yang panjang seperti kakakku. Dia belajar, dia berkorban, dia berjuang, bahkan sampai jarang tidur demi gelar Sarjana Teknik yang layak. Ujian di kampus kakakku terbilang susah. Yang namanya open book ya open book. Tidak ada baceman di sana. Mahasiswa di sana hanya mengenal text book. Jangan harap kita bisa melihat mereka membuka-buka kertas buram-buram yang tebalnya hampir menyamai novel The Lost Symbol karya Dan Brown. Satu hal lagi, di kampus kakakku jarang terjadi "obral nilai" dan pengulangan soal dari tahun ke tahun. Bisa kutarik kesimpulan, meski itu hanya perguruan tinggi swasta dan tak secermerlang kampusku, namun di sana tercetak insinyur yang "benar-benar insinyur". Wajar saja kakakku sempat rada kaget saat tahu di tempatku banyak yang bisa lulus 3,5 tahun. Pikirnya: itu teknik apa manajemen? Aku tak mau menyalahkan mereka yang lulus 3,5 tahun. Aku percaya dengan sepenuh hati kalau mereka pintar. Tapi aku ragu kalau mereka se-aplikatif kakakku. Aku ragu ilmu mereka sudah benar-benar melekat dan menancap di otak mereka. Jujur, dua tahun aku kuliah, aku masih merasa bodoh. Ironi rasanya ketika aku bisa bangga IPK di atas 3 tapi ketika ditanya orang: "wah kuliah dua tahun sudah bisa bikin apa?", maka aku hanya tersenyum. Senyum pahit. Miris amat nasibku, mau jadi apa besok...

Well, setelah kejadian wisuda Sabtu kemarin, kucamkan dalam hati bahwa kelak aku mau jadi insinyur seperti kakakku. Aku mau seperti laki-laki hebat itu. Meski hidup dengan wajah kumalnya namun jalan hidupnya begitu meyakinkan. Laki-laki yang menjadi kawanku sejak kecil itu mengajariku bahwa jalan menjadi insinyur tak semudah membalikkan tangan. Laki-laki yang mengajariku bermain rubik 3x3 itu memberi pencerahan bagiku bahwa tiada guna banjir nilai A dan B dalam transkripku kalau aku sendiri tak bisa mengenal ilmu yang kupelajari. Laki-laki yang tengah berusaha menyelesaikan rubik 4x4 itu membuka pikiranku bahwa bukan nilai-nilai lah yang membawa kita ke kesuksesan atau kesempurnaan menjadi sarjana, melainkan jalan dan berbagai rintangan berliku yang berhasil kita lewati. Laki-laki penyuka AC Milan itulah yang membuatku sadar: How to be a good engineer?


Kamis, 17 Februari 2011

Monotheisme yang terkadang Atheisme

Akhir-akhir ini gue ngrasa labil, ngrasa sering ngelamun, ngrasa gampang gundah, ngrasa waktu mendatang gue begitu suram. Gue belum manjalani semester 6 ini, tapi gue udah ngrasa pengin mati rasanya. Sejuta masalah satu per satu muncul, mulai dari kape, penelitian, perbaikan kuliah, tugas ppk, ipk, ampe besok abis lulus gue mau jadi apa. Gue stress sendiri mikir itu semua. Gue stress liat temen-teman gue udah dapat tempat kape tapi gue belum. Gue udah usaha pake air mata segala. Gue tinggal nunggu jawaban tapi kok ya ga dijawab-jawab. Gue rencana pengin nyamperin langsung pabriknya, tapi ternyata pas gue telpon dari pihak sana juga ga njamin kalo berkas kita bakal langsung diurus. Kadang cuma ditinggal aja trus ntar kita suruh telpon lagi buat tau keputusannya (la kalo gitu ga salah dong kalo gue milih mending ngirim via pos aja, lebih murah). Tapi yang namanya ngirim via pos juga ada ga enaknya. Sekarang gue harus harap harap cemas geje. Tiap hari telpon pabriknya, tapi selalu dapat jawaban geje juga. Ada kakak angkatan yang mencoba menghibur gue katanya emang kalo di sana mbales surat kita agak lama, jadi sabar aja. Namun sayangnya otak gue udah serasa mau pecah mikirin ini. Gue stress, gue gila!!


Itu tadi cuma seklumit kisah gue. Masih banyak yang laen sebenarnya. Gue cuma mau share, kalo gue lagi banyak masalah gini jujur aja gue ngrasa jadi atheis. Gue kayak kagak punya Tuhan. Gue dilindas ama ketakutan gue sendiri. Iman gue udah kalah ama rasa takut gue. Gue ngeluh, gue takut, gue nangis, gue njerit seolah-seolah gue ga punya tempat yang tepat buat bersandar. Gue jarang berdoa sekarang. Sebelum tidur pun gue enggan bicara lama-lama ama Tuhan. Kalau udah capek mikir gue rasanya pengin merem aja. Gue bener-bener udah hopeless sekarang. Bayangan ke depan berasa buram banget. What the hell it is!


Tulung deh tenang in hati gue......... Tuhan..... I need Your answer............ Gue percaya kalo gue ga harus bunuh diri kan ni??? Semua bakal baik-baik saja kan, Tuhan??? I need Your hug..... Gue butuh waktu buat talking to You so much... Setan-setan di pikiran gue minggir dong......

Begitu Ironinya (Negeri Tercintaku Ini)

Ini tulisan gue buat berdasarkan pengamatan gue selama hampir lebih dari 20 tahun gue hidup di tanah air ini. Ini kisah nyata. Sebuah refleksi biar mata kita terbuka dan gue harap setelah pada baca ini kalian dapat melakukan sesuatu untuk bangsa ini...

  • Ironinya bangsa ini, di saat gue lihat para kondektur dan sopir bus harus berjuang penuh keringat buat dapat duit HALAL, mereka pejabat-pejabat jahanam itu justru dengan nikmatnya korupsi yang jelas-jelas menurut gue itu duit HARAM
  • Ironinya negeri ini, para "anggota dewan yang terhormat" yang katanya memperjuangkan nasib rakyat, justru malah tidur nyenyak saat sidang, malah pada facebook an, pada BBM an seolah mereka ga bikin dosa ama kita. Sebenarnya apa yang mereka perjuangkan? Sekolah aja masih mahal, desa tertinggal makin banyak, harga kebutuhan pokok tambah mahal. So what the damn things they do at there?
  • Ironinya bangsa ini, saat para pedangang asongan dan para pengamen mencari nafkah dengan cara HALAL mereka justru malah dikejar-kejar satpol PP. Sementara mereka yang sudah makan uang rakyat dengan cara sangat HARAM justru bisa hidup aman-aman saja. Malah ada yang bisa jalan-jalan berlibur segala.. Apa karena para padagang asongan dan pengamen ga punya duit buat nyogok?
  • Ironinya negeri ini, maling ayam ama koruptor perlakuannya beda di penjara. Yang maling ayam tidur di sel sempit bareng napi lain, dingin, tanpa ada fasilitas mewah. Tapi yang koruptor bisa-bisanya ada di penjara bintang lima dengan AC, televisi, DVD, plus bonus pembantu
  • Ironinya bangsa ini, saat semua berlomba-lomba membangun rumah mewah, berlomba-lomba tinggal di apartemen mewah, masih ada aja yang lebih milih tinggal di bantaran kali, di kolong jembatan, di pinggir rel kereta. Yang paling parah gue pernah lihat di berita ada yang rela tinggal di kuburan.
  • Ironinya negeri ini, lulusan sarjana yang begitu intelek plus IPK cumlaude banyak yang ga dapat kerjaan. Pengangguran ga pernah turun jumlahnya, malah naik terus. Sebenarnya apa yang salah? Mahasiswa? Atau sistem pendidikannya?
  • Ironinya bangsa ini, saat para buruh pabrik harus bangun pagi untuk kerja dan sebisa mungkin ga telat biar upah ga dipotong, para PNS justru asyik leyeh-leyeh dan jalan-jalan saat jam kerja dengan gaji mereka yang tak pernah dipotong
  • Ironinya negeri ini, gue pernah liat pegawai dekanat asyik YM an ama buka Youtube saat jam kerja. Enak amat kerja kayak gitu, gue mau kalau kerja cuma bengong doang
  • Ironinya bangsa ini, para petinggi negara ini udah mati rasa ama kriktikan. Udah banyak lagu atau film atau tayangan yang sengaja menyindir mereka, tapi kuping mereka seolah disumpel ama kapas.
  • Ironinya negeri ini, mental anak-anak muda aja udah bobrok. Lihat aja dari hal kecil: nyontek saat ujian. Nilai kejujuran kayaknya udah ga dibutuhin lagi di negeri ini.
  • Ironinya negeri ini, kita masih saja gampang terpicu emosi hanya gara-gara isu SARA. Mungkin Bhineka Tunggal Ika udah ga bisa nyentuh nurani kita lagi
  • Ironinya bangsa ini, di lingkungan yang dikelilingi mahasiswa Undip, ada aja anak-anak Tembalang yang gak sekolah gara-gara ga ada duit. Tetangga depan kost gue persis, dua anaknya ga sekolah sama sekali. Yang pertama karena dia kena polio, yang kedua karena ga ada duit. Miris kalau gue lihat ada lingkungan terbelakang yang mana sekelilingnya adalah kost-kost an yang berisi banyak mahasiswa. Ironinya GUE, karena ga tanggep dari dulu dan gak nglakuin apa-apa.


Ini sebagian dari sejuta ironi yang gue lihat. Ini baru awal yang bisa gue tulis karena kadang otak gue juga ga sanggup ngungkapin semuanya. Menulis ini saja udah bikin gue pengin nangis. Gue percaya kalian juga pasti bisa nemuin ironi-ironi yang laen. Overall, i still love Indonesia