Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 April 2011

...when i talk about kormat....

Sebuah tulisan yang aku dedikasikan untuk para kormat. They are inspiring my life. They show me how to be faithful. Mereka mengajarkanku bagaimana caranya sabar....


Kormat. Nampaknya jabatan tadi sangatlah terhormat. Jika menjadi kormat, maka  bersiap-siaplah menjadi orang penting. Kau akan berhubungan langsung dan lebih intens  dengan dosen. Tak salah jika berharap nomor hapemu juga akan di-save oleh si dosen.  Inbox di hapemu akan dipenuhi pertanyaan kawan-kawanmu yang sama tiap minggunya: nanti  ada kuliah tidak? Maka setelah kau bosan dengan pertanyaan yang sama tiap minggunya,  setiap malam sebelum hari H kuliah kau akan membuat jarkom: JARKOM!! Besok ada kuliah  bla bla bla di ruang bla bla bla pukul bla bla bla. Kalau sudah musim menjelang ujian  maka sms yang masuk ke inboxmu berganti: besok ujiannya open apa close? Jenuh menjawab  pertanyaan yang sama pada tiap orang, ujung-ujungnya kau akan membuat jarkom lagi:  JARKOM!! Ujian bla bla close book. Derita kormat tak sampai di situ saja. Kadang jika  dosen memberi tugas yang rada "geje" dan sulit dipahami oleh otak mahasiswa rata-rata  macam kami, maka seolah-olah kormat lah yang harus bertanggung jawab. Ditanya ini itu,  kalau tak tahu disuruh tanya ke dosennya. Itulah kormat, mengemban tugas yang cukup  berat, menjadi penopang bagi mahasiswa malas macam kami ini.

Ada lagi derita kormat yang lain, dia hampir tak bisa membolos mata kuliah yang menjadi tanggung jawabnya (kecuali kalau dia nekat dan cuek pada nasib kawan-kawannya). Kormat biasanya duduk di depan saat kuliah. Dia akan mengikuti kuliah dengan amat baik, mencatat setiap tugas yang diberikan oleh dosen. Maka kutemukan lagi satu derita kormat: "memperhatikan kuliah dengan sungguh-sungguh". Sudah menjadi rahasia umum kalau mahasiswa bengal seperti kami jarang mengikuti kuliah dengan sungguh-sungguh. Ada saja yang dikerjakan: bergosip dengan teman sebelah, melamun, menggambar rupa-rupa bentuk di kertas, menyalin laporan praktikum, membuat proposal praktikum, mengantuk, tidur, sms an, browsing via hape. hingga sok serius memandang diktat kuliah padahal pikirannya ngelantur ke mana-mana. Namun sekali kau menyandang gelar kormat maka jangan harap bisa melakukan hal-hal tadi dengan leluasa. Kormat lah source of information bagi kawan-kawannya. Salah memberi info pasti akan menjadi pergunjingan walau hanya sesaat. Seperti tabiat kebanyakan orang Indonesia yang suka mengeluh, mahasiswa pun demikian. Sekali berbuat salah, pasti langsung dicibir, dianggap tak bertanggung jawab lah, lalai lah, malas lah, dan lain-lain. Padahal aku yakin, mereka yang tukang mengeluh tadi (termasuk aku) pasti belum tentu mengemban amanah mulia sebagai kormat. Oh ya satu hal lagi derita kormat yang paling akut: saat akan memfotocopy diktat dengan tebal yang lumayan ditambah jumlah mahasiswa yang lumayan banyak juga, mau tak mau dia harus menalangi uang pembayaran kawan-kawannya. Dapat kutarik kesimpulan bahwa kormat haruslah punya uang cadangan untuk keadaan mendadak macam ini. Belum lagi kalau ada beberapa kawan yang belum membayar uang diktat namun dia relakan memberikan diktat pada kawannya karena kasihan.

Atas dasar segala penderitaan yang kulihat jika menjadi kormat tadi, maka kuputuskan aku tak akan pernah mencalonkan diri menjadi kormat. Bahkan kalau sampai ada yang melambungkan namaku saat pemilihan kormat maka bisa kupastikan habislah dia di tanganku. Tak bisa kubayangkan bagaimana rasanya mengurusi puluhan mahasiswa-mahasiswa labil di kelasku. Aku malas sekali mengurusi nasib jadwal kuliah mereka. Aku malas juga jika ada jadwal yang bertabrakan atau dosen yang bersangkutan berhalangan hadir, maka aku harus mencari jadwal penggantinya. Belum lagi kalau kawan-kawanku selalu menghantui malamku dengan sms tentang kapan kuliah. Bukannya aku pelit pulsa, tapi malas saja membalas sms yang sama setiap minggu. Di mataku, setelah menjabat sebagai kormat maka hidup terasa gelap. Satu semester dijalani dengan kelelahan tiap minggu. Ambil absen, ambil LCD, mengingatkan dosen untuk kuliah, ada pula dosen minta dijemput di ruangannya (macam anak SD saja tipe dosen macam ini), kadang ada dosen meminta dibawakan air minum saat kuliah, dan hal-hal absurd lain. Aku akui kalau aku bukanlah tipe penyokong yang bisa melakukan hal-hal tadi. Aku malas mengurusi hajat hidup mahasiswa labil ini. Kalau aku jadi kormat maka pastilah kuliah berantakan. Kalau kau tanya tugas, mungkin kujawab: tidak ada tugas kok, santai saja. Kalau kau tanya ujian close book atau open book mungkin kujawab: open kok (padahal close book).

Kalian boleh men-judge aku sebagai mahasiswa tak bisa diandalkan dan tak bisa bertanggung jawab. Terserahlah. Namun daripada kalian menghujatku terus, aku bawa kalian ke sosok-sosok hebat yang sukses menjadi kormat. Kormat yang bisa aku katakan teladan karena kesabarannya, kepeduliannya pada nasib kami, kerajinannya, keuletannya, keramahnnya, dan terjaminnya nasib kami selama kuliah. Sosok pertama adalah TRINUG. Aku menyebutnya Master of Kormat. Bukan tanpa alasan aku menyebutnya seperti itu. Dia sosok paling bertanggung jawab dari semua kormat yang pernah aku lihat. Dia selalu datang lebih pagi dari yang lain. Dia selalu menyiapkan segala yang diperlukan sang dosen sebelum perkuliahan dimulai. Yang membuatku tambah kagum, meski saat tak menjabat sebagai kormat sekalipun, dia rela melakukan tugas kormat macam ambil LCD dan daftar absen saat kormat yang bersangkutan berhalangan bertugas tanpa alasan yang jelas. Dialah TRINUG, anak asli Semarang, cerdas, santun pula. Aku memandangnya sebagai muslim yang baik. Sosok yang kedua adalah ULIL. Dalam kamus kehidupan tekimku, aku menetapkannya sebagai orang kepercayaan Master of Kormat. Dia rajin datang pagi ke kampus (apalagi untuk download anime-anime kesukaannya). Kelakuannya mirip sang Master of Kormat. Hanya saja dia agak "grusa-grusu" alias agak mudah panik. Dia suka berlari-lari dari lantai dua gedung B menuju tempat perkuliahan. Dia juga ahli dalam memecahkan "masalah LCD". Ada kalanya LCD tidak mau connect dengan laptop, maka ULIL lah yang berhasil menjinakkan LCD tadi. Sebenarnya masih banyak lagi kormat-kormat yang di mataku baik, namun dari semuanya mereka berdua lah yang terbaik. Muncul pula nama kormat-kormat lain yang tak mungkin pula aku sebutkan satu per satu (karena sepertinya hampir semua anak sudah merasakan menjadi kormat..).

Keseluruhan, merekalah sebagian dari mahasiswa labil yang berani mengemban tanggung jawab berat. Mereka lah sosok yang menjadi panutan selama hidupku. Melalui mereka aku belajar agar aku jangan sampai hidup menderita seperti mereka. Ah, salah lagi. Maksudku melalui mereka aku belajar untuk menjadi pengayom bagi yang lain. Sulit memang sepertinya, namun aku tahu di balik kesengasaraan mereka muncul sebuah senyuman manis di akhir masa kerja mereka. Mereka patut berbangga karena melalui merekalah kuliah lancar, melalui merekalah tugas-tugas dapat dikumpulkan, melalui merekalah nilai-nilai  -baik indah maupun hancur-   milik kawan-kawannya akhirnya bisa terpampang di KHS. Sejuta hormatku untuk kalian, wahai para kormat...

Kamis, 16 September 2010

PROSES PEMBUATAN PLASTIK DENGAN INJECTION MOLDING MACHINE

Setiap jenis dan material plastik memengaruhi proses pembuatan dan teknologi yang dipakai dalam pembuatan plastik. Misal untuk membuat part-part elektronik seperti casing handphone, gear pada printer, gelas plastik, dan benda sejenisnya digunakan mesin injection, untuk membentuk sol sepatu digunakan press rubber, sedangkan untuk membuat botol digunakan blow mold type injection. Kali ini kita akan lebih dalam mengenal proses pembuatan plastik melalui teknologi injection serta komponen-komponen yang ada pada injection machine.


Teknologi pembuatan plastik mulai dikembangkan pada tahun 1800-an. Kemudian pada tahun 1868 John Wesley Hyatt membuat billiard ball dengan menginjeksikan celluloid ke dalam mold. John dan Isaiah Hyatt mematenkan injection machine molding untuk pertama kalinya pada tahun 1872. Injection molding adalah metode pemrosesan material termoplastik yang mana material yang meleleh karena pemanasan diinjeksikan oleh plunger ke dalam cetakan yang didinginkan oleh air kemudian material tersebut akan menjadi dingin dan mengeras sehingga bisa dikeluarkan dari cetakan. Termoplastik dalam bentuk butiran atau bubuk ditampung dalam sebuah hopper kemudian turun ke dalam barrel secara otomatis (karena gaya gravitasi) yang mana dilelehkan oleh pemanas yang terdapat di dinding barrel dan oleh gesekan akibat perputaran sekrup injeksi. Plastik yang sudah meleleh diinjeksikan oleh sekrup injeksi (yang juga berfungsi sebagai plunger) melalui nozzle ke dalam cetakan yang didinginkan oleh air. Produk yang sudah dingin dan mengeras dikeluarkan dari cetakan oleh pendorong hidrolik yang tertanam dalam rumah cetakan selanjutnya diambil oleh manusia atau menggunakan robot. Pada saat proses pendinginan produk secara bersamaan di dalam barrel terjadi proses pelelehan plastik sehingga begitu produk dikeluarkan dari cetakan dan cetakan menutup, plastik leleh bisa langsung diinjeksikan.


Secara garis besar pada injection machine terbagi menjadi 3 bagian:
1. Clamping Unit
Clamping unit berfungsi untuk memegang dan mengatur gerakan dari mold unit serta gerakan ejector saat melepas benda dari molding unit. Pada clamping unit lah kita bisa mengatur berapa panjang gerakan molding saat dibuka dan berapa panjang ejector harus bergerak. Ada 2 macam clamping unit yang dipakai pada umumnya, yaitu toggle clamp dan hidrolik clamp.
2. Molding Unit
Molding unit sebenarnya adalah bagian lain dari plastic injection machine. Molding unit adalah bagian yang membentuk benda yang dibuat, Secara garis besar molding unit memiliki 2 bagian utama yaitu bagian cavity dan core. Bagian cavity adalah bagian cetakan yang berhubungan dengan nozzle pada mesin, sedangkan bagian core adalah bagian yang berhubungan dengan ejector.
3. Injection Unit
Bagian-bagian dari injection unit adalah:
a. Motor dan transmission gear unit
Bagian ini berfungsi untuk menghasilkan daya yang digunakan untuk memutar screw pada barrel, sedangkan transmisi unit berfungsi untuk memindahkan daya dari putaran motor ke dalam screw. Selain itu transmission unit juga berfungsi untuk mengatur tenaga yang disalurkan sehingga tidak pembebanan yang terlalu besar.
b. Cylinder screw ram
Bagian ini berfungsi untuk mempermudah gerakan screw dengan menggunakan momen enersia sekaligus menjaga perputaran screw tetap konstan sehingga didapat dihasilkan kecepatan dan tekanan yang konstan saat proses injeksi plastik dilakukan.
c. Hopper
Hopper adalah tempat untuk menempatkan material plastik sebelum masuk ke barrel. Biasanya untuk menjaga kelembapan material plastik digunakan tempat penyimpanan khusus yang dapat mengatur kelembapan sebab apabila kandungan air terlalu besar pada udara, dapat menyebabkan hasil injeksi yang tidak bagus.
d. Barrel
Barrel merupakan tempat screw dan selubung yang menjaga aliran plastik ketika dipanasi oleh heater. Pada bagian ini juga terdapat heater untuk memanaskan plastik sebelum masuk ke nozzle.
e. Screw
Reciprocating screw berfungsi untuk mengalirkan plastik dari hopper ke nozzle. Ketika screw berputar material dari hopper akan tertarik mengisi screw yang selanjutnya dipanasi lalu didorong ke arah nozzle.
f. Non return valve
Valve ini berfungsi untuk menjaga aliran plastik yang telah meleleh agar tidak kembali saat screw berhenti berputar.


Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Injection_molding
http://oke.or.id/wp-content/plugins/downloads-manager/upload/plastik.pdf
http://smk3ae.wordpress.com/2009/01/11/proses-pembuatan-plastik-dengan-sistem-injeksi/



*artikel ini saya buat untuk rubrik Instrumen majalah Kinetika Edisi 35

MASTERAN ENZIM

BAB I
PENDAHULUAN


I.1.    Latar Belakang
    Enzim merupakan katalis yang berasal dari zat hidup yang mempunyai derajat dan efisiensi yang tinggi. Enzim dapat dimanfaatkan dalam proses industri, misalnya amilase yang digunakan untuk mengubah pati menjadi sakarin, papain yang berguna untuk melunakkan daging, dan sebagainya. Melihat manfaat enzim ini maka praktikum isolasi enzim perlu dilakukan.

II.2.    Tujuan Percobaan
1.     Mengisolasi enzim papain dari getah pepaya
2.    Menghitung aktivitas enzim papain
3.    Membandingkan aktivitas enzim papain sesuai variabel percobaan

II.3.    Manfaat Percobaan
    Manfaat dari percobaan isolasi enzim papain adalah mengetahui sifat-sifat enzim sehingga dapat menghasilkan kuantitas enzim yang baik dan produktif.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


II.1.     Pengertian Umum
    Enzim berasal dari kata en = in = dalam dan zim = yeast = khamir. Artinya dalam khamir yang maksudnya katalis dari zat hidup yang punya derajat efisiensi tinggi. Enzim merupakan sejenis protein kompleks yang unik dan merupakan bahan antara yang penting untuk metabolisme dan berbagai perubahan kimia dalam tubuh.

II.2.     Teori Enzim Papain
    Enzim papain banyak digunakan dalam pelunakan daging dan untuk menghaluskan gandum dalam pembuatan kue kering. Papain berasal dari tumbuhan hijau dan Carica papaya, kira-kira 3 tahun pohon ini tumbuh tinggi untuk menghasilkan latex. Latex digumpalkan dengan membuat goresan pada buah pada waktu pagi sekali ketika buah itu berisi cairan. Latex mengalir sampai habis dan membuat beku pada permukaannya.
    Pembentukan latex berjalan cepat dan segera menutupi buah seperti lilin dan itulah yang dikumpulkan. Secara sederhana dikeringkan oleh matahari, tetapi untuk hasil lebih baik pengeringan dilakukan dalam bejana. Latex beku dikumpulkan, dicairkan dengan cepat, disaring agar bebas dari serangga, dikeringkan dengan spray dryer. Latex kasar harus dikeringkan, saring dan dikeringkan lagi untuk mendapatkan papain yang sempurna sesuai digunakan pada makanan.
    Papain sangat aktif pada range pH 3-7. Untuk melunakkan daging pada pH 7. Papain merupakan enzim pelunak pilihan karena enzim ini dapat disuntikkan ke dalam untuk menimbulkan enzim sedalam 4 cm pada permukaan daging sehingga daging tetap lunak.

II.3.     Isolasi Enzim
    Untuk mengisolasi enzim papain dari getah pepaya dilakukan 3 proses pemisahan:
    Ekstraksi padat-cair
Merupakan salah satu metode pemisahan cair-padatan. Pada proses ini komponen yang tidak larut dipisahkan dari padatan dengan bantuan solvent. Ketika solvent dicampur dengan sampel, maka solvent akan melarutkan ekstrak dengan difusi sampai terjadi keseimbangan konsentrasi.
    Sentrifugasi
Merupakan cara memisahkan bagian seperti partikel dalam medan gaya sentrifugal partikel yang berukuran berbeda dalam berbagai ukuran. Densitas dan bentuk akan mengendap searah sentrifugal dengan kepentingan berbeda.
    Presipitasi
Banyak agent pemisah yang digunakan untuk mengendapkan protein seperti garam proteolitik, polimer, panas, pH, dan solvent organik.

II.4.     Imobilisasi Enzim
    Enzim tidak dapat mengalami perubahan reaksi kimia, maka enzim dapat digunakan berulang-ulang. Pada umumnya reaksi dan pemisahan enzim dari produk dengan menggunakan modifikasi pH, panas, atau kedua-duanya. Penggunaan cara seperti ini mengakibatkan enzim kehilangan sebagian besar aktivitas kataliknya, sehingga enzim dapat digunakan berulang-ulang. Agar dapat digunakan berulang-ulang pemisahan enzim dari produk harus dengan cara tertentu sehingga didapatkan enzim dalam bentuk terimobilisasi tanpa mengurangi aktivitas kataliknya.

II.5.     Mekanisme Kerja Enzim
    Enzim menyesuaikan diri di sekitar substrat untuk membentuk suatu kompleks enzim substrat
    Karena adanya gaya tarik antara enzim dan substrat, ikatan substrat menjadi tegang. Ikatan tegang ini mempunyai energi tinggi atau lebih mudah terpatahkan sehingga reaksi lebih mudah dan membentuk kompleks enzim-produk.
    Karena produk dan substrat tidak sama maka kesesuaian antara produk dan enzim tidak sempurna
    Bentuk produk menyebabkan kompleks berdisosiasi dan permukaan enzim siap untuk menerima substrat lain. Teori aktivitas enzim ini disebut teori kesesuaian terimbas (Induced-fit Theory)
E + S → ES → EP → E + P

II.6.     Sifat-Sifat Enzim
    Dalam jumlah kecil dapat mengkatalis substrat dalam jumlah besar
    Enzim bereaksi optimum pada 400C dan tekanan normal
    Reaksi enzimatis berlangsung pada pH netral
    Tidak dapat menghidrolisis disakarida dan polisakarida
    Umumnya dipakai koenzim
    Enzim biasanya merusak zat yang dapat mengurangi keaktifannya
    Biasanya diperlukan energi aktivasi

II.7.     Inhibitor Enzim
    Inhibitor Kompetitif
Inhibitor yang bersaing dengan susbstrat dengan cara meniru bentuk substrat sehingga dapat berikatan dengan sisi aktif enzim
    Inhibitor Non Kompetitif
Tidak bersaing dengan substrat tapi menempel pada bagian lain enzim sehingga bentuk enzim berubah

II.8     Faktor yang Mempengaruhi
    Konsentrasi substrat
    Pengaruh pH
    Konsentrasi enzim
    Temperatur
    Racun enzim

II.9.     Fungsi Reagen
    Getah buah papaya    : sumber enzim papain
    NaOH    : pengatur pH
    Garam    :    mengendapkan enzim, membentuk gugus mikro (dapat berupa NaCl atau (NH4)2SO4)
    Celite    :    memecah dinding sel pembungkus enzim
    Cystein HCl    :    mengikat protein, mengikat enzim sehingga bisa menembus kertas saring, melarutkan enzim yang telah diendapkan
    Kasein    :    penyedia protein untuk diendapkan
    Aquadest    :    melarutkan protein enzim
    Solvent    :    sebagai tenaga pemisah dalam ekstraksi cair padat untuk mandapatkan enzim dari getah (acetaon, formaldehid, etanol)

II.10.     Kegunaan Produk
    Sebagai pelunak daging
    Sebagai bahan antidingin pada pembuatan beer
    Sebagai pelunak kulit pada industri penyamakan kulit

II.11.    Penelitian Terdahulu
    Bahan
    Getah pepaya
    Cystein
    Aquadest
    NaOH
    H2SO4
    Larutan susu bubuk 12%
    Alat yang Digunakan
    Gelas ukur
    Beaker glass
    Magnetic stirrer
    Saringan vakum
    Centrifuge        Erlenmeyer
    Indikator pH
    Fermenter
    Kompor listrik dan water bath
    Oven




    Penetapan Variabel
    Variabel Tetap
    Sistem operasi    :    batch
    Berat getah papaya    :    50 gr
    Kepadatan pengadukan    :    3 digit
    Waktu operasi    :    15 menit
    Pengendapan enzim pepaya    :    aceton
    Pencucian enzim pepaya    :    aquades
    Variabel Berubah
    Volume cystein    :    700, 100, 125 ml
    Suhu Operasi    :    100C, 500C
    pH operasi    :    5, 7, 9
    Prosedur Percobaan
    Ekstraksi Enzim Papain
    Menyiapkan alat dan bahan percobaan
    Menimbang getah pepaya kering 50 gr
    Menambah solvent cystein dan volume dan mengatur pH campuran dengan menambah NaOH dan H2SO4
    Memindahkan campuran dalam beaker glass yang ditempatkan di atas magnetic stirrer. Atur kecepatan pengadukan dan panaskan campuran sampai suhu tertentu dan jaga agar suhu konstan, operasi selama 10 menit
    Memisahkan ekstrak dan residu dengan saringan vakum, buang ampasnya dan filtrat disimpan dalam beaker glass
    Setelah selesai didiamkan sampai dingin dan residu padatan mengendap disaring residu padatannya. Untuk residu yang masih tersuspensi dapat dipisahkan dengan sentrifugasi pada kecepatan 3500 rpm selama 15 menit. Saring endapan yang terbentuk ambil sumber natannya
    Dalam beaker glass, super natan dan aceton dengan perbandingan 1:1. Beaker glass ditutup dan disimpan dalam keadaan dingin selama 1 malam lalu sentrifugasi sehingga timbul endapan putih papain. Kemudian endapan tersebut dipisahkan dengan saringan racun dilengkapi dengan kertas saring Whatman
    Endapan papain yang diperoleh kemudian dioven
    Kristal putih papain yang dihasilkan ditimbang untuk ditentukan beratnya
    Analisa Aktivitas Proteolitik Enzim Papain
    Masukkan 1 gr sampel papain dalam labu takar 100 ml + a hingga tepat waktu
    Kocok lalu centrifuge untuk mendapatkan larutan papain, ukur densitas
    Simpan larutan susu bubuk (full cream) dengan kepekatan 1:pekat
    Ambil 10 ml larutan susu tempatkan pada Erlenmeyer 50 ml panaskan dalam water bath 40%
    Ambil sejumlah larutan enzim lalu dimasukkan ke dalam susu, suhu dijaga 400C hingga tepat terjadi gumpalan
    Waktu dicatat dengan teliti dengan stopwatch sejak saat penambahan papain ke dalam larutan susu tepat terjadi gumpalan
    Aktivitas proteolitik, catat protein dihitung dengan rumus
A = 1/(E.t)
A = aktivitas proteolitik
E = berat sample yang diuji
t = waktu yang diperlukan terjadinya penggumpalan susu

Besarnya aktivitas dinyatakan dalam MCU/gr, sebagai hasil dikali 1000
(Reff: Anang Yudi dan Nurhadi, “Isolasi Enzim Papain Getah Pepaya dengan Metode Ekstrak Cair-Cair)
       

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN


III.1.    Bahan dan Alat
    Bahan
    Getah buah pepaya    @ 4 gr
    (NH4)2SO4        3 gr
    Etanol            17 ml
    Celite            @ 2,5 gr
    Cystein            @ 2 gr
    Aquadest            @ 15 ml
    NaOH
    Alat
    Erlenmeyer
    Beaker glass
    Sentrifuge
    Mortar
    Indicator pH
    Kertas saring
    Pengaduk strirer dan pemanas
    Gelas ukur
III.2.    Gambar Alat
    
            (2)     (3)  (4)     (5)
Gambar III.2.1. Gambar Alat
Keterangan:
    Erlenmeyer
    Beaker glass
    Gelas ukur
    Pengaduk
    Kertas saring
III.3.    Variabel Percobaan
Getah pepaya @ 40 gr
Getah pepaya+2,5 gr celite+2 gr cystein+17 ml etanol+15 ml aquadest
Variabel I     pH tidak diatur
Variabel II    pH 7
Variabel III    pH 9
Reaksi Enzimatis
Larutan susu 16% W basis 100 ml
T pencampuran: 400C, 500C, 600C
Susu : enzim = 1:8

III.4.    Cara Kerja
    Isolasi Enzim
    Haluskan getah pepaya dengan mortar, setelah halus timbang 40 gr masukkan dalam beaker glass
    Tambahkan ke dalam beaker glass tersebut 2,5 gr celite; 2 gr cystein; 17 ml etanol; 15 ml aquadest. Lalu atur pHnya
    Aduk dengan magnetic stirrer salama 15 menit pada 300C
    Saring dengan kertas saring sehingga didapat filtrat I dan endapan I. Buang endapannya
    Pada filtrat I tambahkan (NH4)2SO4 3 gr sebagai tenaga pengendap
    Masukkan pada cuvet lalu disentrifugasi selama 20 menit dengan kecepatan 200 rpm
    Saring hasil sentrifugasi sehingga didapatkan endapan II dan filtrat II
    Keringkan dan timbang endapan II (misalnya a gr) simpan endapan II
    Tambahkan 3 gr (NH4)2SO4 pada filtrat II lalu simpan 1 malam dalam lemari es
    Saring filtrat II dengan kertas saring sehingga didapat filtrat III dan endapan III
    Keringkan dan timbang endapan III (misalnya b gr)
    Ambil endapan II campurkan dengan endapan III, jika jumlah endapan II dan III lebih dari 1 gr, ambil 1 gr endapan tersebut larutkan dalam air sampai 10 ml (larutan ini adalah enzim)
    Jika a + b kurang dari 1 gr, ambil filtrat III encerkan sampai 10 ml (larutan ini adalah enzim)
    Reaksi Enzimatis
    Buat larutan susu 16% W
    Ambil 1 ml larutan enzim dan 8 ml larutan susu
    Panaskan kedua larutan tersebut sampai suhu sesuai variabel (400C, 500C, 600C)
    Setelah mencapai suhu tersebut tuangkan larutan enzim ke dalam larutan susu
    Catat waktu sampai terjadi penggumpalan pertama

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


IV.1.    Hasil Percobaan
    Tabel IV.1.1. Variabel I, pH tidak diatur (pH = 3)
Suhu (oC)    Waktu (detik)    Aktivitas Enzim (MCU/mg)
40    4    1333,3
50    5    1066,7
60    9    592,59

    Tabel IV.1.2. Variabel II, pH = 7
Suhu (oC)    Waktu (detik)    Aktivitas Enzim (MCU/mg)
40    8    666,7
50    10    533,3
60    15    355,5

    Tabel IV.1.3. Variabel III, pH = 9
Suhu (oC)    Waktu (detik)    Aktivitas Enzim (MCU/mg)
40    35    152,38
50    47    113,4
60    56    95,2









IV.2.    Pembahasan
    Grafik Hubungan Suhu vs Aktivitas Enzim

Gambar IV.2.1. Grafik Hubungan Suhu vs Aktivitas Enzim
    Dari grafik terlihat bahwa semakin tinggi suhu aktivitas enzim semakin kecil. Hal disebabkan oleh sifat enzim yang peka terhadap suhu. Enzim sebagai protein akan mengalami denaturasi jika suhu dinaikkan, akibatnya daya kerja enzim akan menurun. Denaturasi adalah terurainya protein menajdi struktur primernya atau rusaknya sifat fisik dan fisiologik protein akibat pemanasan atau penambahan asam kuat. Energi panas mengakibatkan terputusnya ikatan non-kovalen protein. Hingga suhu 450C aktivitas enzim masih terus meningkat. Tapi lebih dari 450C akan terjadi denaturasi sehingga aktivitas enzim menurun. Menjelang suhu 550C fungsi katalitik enzim punah. Suhu optimum terjadi pada 300C-450C, maka pada suhu ini efek yang terlihat adalah peningkatan aktivitas enzim.
    Pada suhu 400C, enzim masih dalam range suhu optimum. Oleh sebab itu aktivitas enzim pada suhu tersebut paling tinggi. Pada suhu 500C enzim berada pada range suhu tidak optimum. Pada suhu tidak optimum tersebut enzim mengalami denaturasi sehingga aktivitas enzimnya menurun. Demikian juga pada suhu 600C memiliki energi aktivasi paling rendah karena berada pada suhu tidak optimum sehingga mengalami denaturasi.
(Diktat Dasar-Dasar Bioproses hal.99-100)
    Pengaruh pH terhadap Aktivitas Enzim
    Enzim merupakan protein dan protein akan bekerja optimum pada pH 5-7. Enzim papain juga akan bekerja optimum pada pH 5-7. Jika terlalu asam maupun basa enzim akan mengalami denaturasi. Denaturasi adalah terurainya protein menjadi struktur primernya atau rusaknya sifat fisik dan fisiologik protein akibat pemanasan atau penambahan asam kuat.
(Diktat Dasar-Dasar Bioproses hal.99-100)
   

BAB V
PENUTUP


V.1.    Kesimpulan
1.    Pada variabel I, II, III grafik terlihat menurun karena adanya peningkatan suhu yang mengakibatkan denaturasi
2.     pH berpengaruh pada naik turunnya aktivitas enzim

V.2.    Saran
1. Pengambilan getah dilakukan dini hari karena buah pepaya banyak mengandung cairan
2. Harus cermat dalam pengaturan pH


DAFTAR PUSTAKA


Diktat Dasar-Dasar Bioproses
Nurhadi dan Anang Yudi,  Isolasi Enzim Papain Getah Pepaya dengan Metode Ekstrak Cair-Cair
Tim Dosen Pemimbing, Buku Petunjuk Praktiukum Mikrobiologi Industri, Jurusan Teknik Kimia, Semarang, 2002
www.kumpulblogger.com
www.chemistrystation.blogspot.com


*masteran ini sangat bermanfaat buat yang ngrasa praktikum enzimnya menemukan fenomena yang terjadi aneh..hahahaha >>> kelompok saya fenomenanya aneh soalnya :)

Selasa, 14 September 2010

MARI KENAL LEBIH DEKAT DENGAN SMART POLYMER

Sekilas tentang Polimer
Polimer lebih dikenal sebagai “plastik” bagi orang awam. Namun sebenarnya polimer bukanlah plastik saja. Polimer pun sebenarnya sudah dipakai sejak dahulu kala, lebih tepatnya pada penggunaan polimer alam seperti kapas, wool, dan damar. Pada sekitar tahun 1925 dunia mulai mengenal polimer sentesis dan mulai berkembang pesat saat pada tahun 1955 Staudinger berhasil mendapatkan Nobel atas hipotesis makromolekul yang ditemukannya. Polimer sintesis yang sering ada di kehidupan kita sehari-hari antara lain nilon, ban, plastik polietilena untuk botol susu, plastik poliuretana untuk jantung buatan, dan lain-lain.
         Polimer merupakan suatu molekul raksasa yang terbentuk dari susunan ulang molekul yang kecil yang terikat melalui ikatan kimia. Sifat-sifat polimer berbeda dari monomer-monomer yang menyusunnya, misalnya molekul-molekul gas etilena bereaksi membentuk rantai panjang plastik polietilena yang ada pada kaleng susu.


Pengertian Smart Polymer
    Smart polymer juga dikenal dengan nama polimer cerdas. Jika mendengar kata “cerdas”, mungkin yang ada di benak kita adalah kepintaran atau kemampuan berpikir yang luar biasa yang dimiliki manusia. Namun definisi “cerdas” pada smart polymer jangan diintrepetasikan sama dengan definisi “cerdas” seperti yang dimiliki manusia. Sejatinya polimer merupakan benda mati dan sama sekali tak memiliki anugerah “kecerdasan” seperti manusia. Sebuatan “cerdas” layak diberikan pada  polimer jika polimer tersebut mampu beradaptasi atau memberi respon kecil terhadap perubahan yang terjadi pada kondisi lingkungan. Kemampuan polimer itulah yang kemudian membuat istilah smart polymer muncul karena meski benda mati ternyata polimer juga mampu adaptasi selayaknya makhluk hidup.
    Kondisi lingkungan pada polimer biasanya meliputi pH, temperatur, medan listrik, medan magnet, cahaya, pelarut, agen biokimia (enzim), tekanan, faktor ionik, dan sebagainya. Klasifikasi smart polymer selanjutnya dapat diklasifikasikan berdasarkan kondisi lingkungan tadi. Misal untuk polimer yang mampu merespon perubahan pH maka akan disebut polimer peka pH, untuk polimer yang mampu merespon perubahan temperatur maka akan disebut polimer peka temperatur, dan seterusnya. Sedangkan respon yang diberikan oleh smart polymer terhadap perubahan kondisi lingkungan dapat berupa mengerut, menggembung, melarut, mengendap, membentuk misel, membentuk transisi antara sol dan gel bergantung pada bentuk fisik ikatannya.
Tabel 1. Bentuk fisik ikatan pada smart polymer dan jenis responnya. 
Bentuk Fisik Ikatan Jenis Respon
Ikatan linear bebas tanpa crosslink (Konjugat) Melarut/Mengendap, Transisi Sol-Gel
Kopolimer block dan graft amphiphilic (tanpa crosslink) Terbentuk Misel
Crosslink Kimia (Hidrogel) Menggembung/Mengkerut
Modifikasi Permukaan Respon Interface (antarmuka)
Sumber: Aguilar et al (2007)
Respon di atas umumnya bersifat reversible (dapat bolak-balik). Sebagai contoh smart polymer adalah hidrogel poli Asam Akrilat (AA) yang mampu beradaptasi sesuai perubahan pH lingkungannya. Pada pH rendah hidrogel AA akan mengerut (Unswell/Shrinking) dan apabila pH bertambah naik (tinggi), AA akan menggembung (swelling).
Gambar 1. Ilustrasi respon hidrogel poli asam akrilat terhadap pH

Contoh smart polymer yang lain dapat dilihat dari tabel di bawah ini:
Tabel 2. Contoh smart polymer
Nama Polimer Cerdas Klasifikasi
Polyacrylic acid (PAA) Peka pH
Polmethacrylic acid (PMAA) Peka pH
Poly(ethylene imine) Peka pH
Poly(L-lysine) Peka pH
Poly(N-isopropylacrylamide) (PNIPAAM) Peka Temperatur
Poly(N,N-diethylacrylamide) (PDEAAM) Peka Temperatur
Poly(ethylene oxide) (PEO) Peka Temperatur
Poly(ethylene glycol) (PEG) Peka Cahaya
Poly(Vinyl alcohol) (PVA) Peka Cahaya
Diblock copolymer (PEO-PPO) Peka Cahaya
Poly(D,L-lactide) Peka Phase
Poly(amino acid) Peka Phase


Aplikasi Smart Polymer
    Pemanfaatan smart polymer yang peka suhu nampak pada pakaian yang dipakai para olahragawan. Pakaian tersebut dirancang agar suhu para atlet tetap terjaga. Beberapa produk plastik kemasan juga sudah mulai memanfaatkan smart polymer ini. Selain itu aplikasi smart polymer dapat ditemui di bidang medis sebagai biomaterial pada sitem delivery drug (penyampai obat).
     Drug delivery secara terkontrol terjadi ketika sebuah polimer, baik sintesis maupun alam, dipadukan secara tepat dengan sebuah obat atau zat aktif lainnya yang mana zat aktif akan dilepaskan dari polimer dengan cara yang telah didesain sebelumnya. Jumlah zat aktif yang dilepaskan mungkin konstan sepanjang periode tertentu, atau dapat berupa suatu siklus, atau pelepasan disebabkan karena adanya faktor – faktor eksternal. Tujuan dilakukan pengontrolan pada drug delivery adalah untuk mencapai penyembuhan atau terapi yang lebih efektif, mengurangi potensi kekurangan atau kelebihan dosis, menjaga konsentrasi obat dalam jangka waktu yang telah ditetapkan, yang pada akhirnya akan dapat meingkatkan kepuasan pasien.
     Material pembawa harus memiliki sifat inert, biocompatible, kuat, nyaman dipakai, mampu menapung konsentrasi obat atau zat aktif yang tinggi, aman bagi manusia, mudah dihilangkan, mudah diproduksi, dan mudah untuk disterilkan. Pengunaan polimer sebagai material pembawa (carrier) akan meminimalkan kemungkinan terjadinya keracunan akibat tak terurainya material pembawa atau akibat dari produk–produk samping hasil degradasi yang tidak diinginkan sehingga akan meminimalkan potensi terjadinya operasi. Penggunaan polimer juga memiliki nilai ekonomis karena harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan formulasi–formulasi farmasi tradisional. Pengontrolan dengan polimer juga akan menghasilkan konsentrasi obat di dalam darah yang tinggi sepanjang periode waktu yang lama, hal ini berbeda jika digunakan tablet–tablet tradisional atau injeksi, konsentrasi obat dalam darah akan menurun dengan cepat selama waktu tertentu.
      Dewasa ini sudah ditemukan material polimer yang dapat mengontrol drug delivey dengan merespon perubahan–perubahan yang terjadi di dalam sistem biologi tubuh kita, artinya jika bagian tubuh kita ada yang sakit maka sistem akan melepaskan zat aktif dengan kadar yang tepat dan ketika rasa sakit itu hilang maka sistem akan menghentikan pelepasan zat aktif. Dengan cara demikian akan dapat dicegah terjadinya overdosis.
      Cara kerja dari drug delivery dari smart polymer ini adalah dengan memanfaatkan variasi pH yang terdapat pada gastrointestinal tract (GIT) atau lambung perut yang mempunyai variasi pH antara 2 (pada perut) dan 10 (pada usus besar). Dalam lingkungan asam, drug delivery menahan obat yang dikandungnya untuk tidak terdegradasi dengan cara mengerut dan ketika telah tiba pada lokasi spesifiknya yang bermedium basa, smart polymer akan mengembung sekaligus melepas obat yang dikandungnya ke target. Variasi pH ini, juga terdapat pada lokasi spesifik lainnya seperti pada jaringan (termasuk pada jaringan tumor) atau pada sub-sub sel. Polimer peka temperatur dengan T kritis juga ideal untuk digunakan sebagai drug delivery pada daerah fisiologis ini.
     Pada beberapa tahun terakhir ini, pengembangan smart polymer mulai dikembangkan ke arah polimer yang mempunyai dua kepekaan sekaligus. Umumnya metode yang digunakan adalah dengan pencangkokan atau dikenal dengan istilah grafting. Beberapa peneliti telah sukses meng-grafting seperti Leung et al (2005) yang telah mempreparasi mikrogel kulit-inti (core-shell) cerdas bebasis PNIPAAm, MBAAm, dan kitosan (Polyethyleneimine) yang menghasilkan mikrogel yang dapat peka pH sekaligus peka temperatur. Kurata dan Dobashi (2004) yang telah berhasil membuat kopolimer baru dari N,N-dimethylaminoethylmethacrylate (DMAEM) dan asam akrilat (AA) yang mampu peka pH dan temperatur. Begitupun dengan Gonzalez et al (2005) yang telah menemukan polimer baru turunan dari ethylpyrrolidine yaitu N-ethylpyrrolidine methacrylate (EPyM) yang juga peka pH dan temperatur.
     Sedangkan pengembangan smart polymer di Indonesia masih sangat langka. Dari literatur yang didapat, baru ditemukan pengembangan smart polymer oleh Irwan Ginting Suka, peneliti dari Universitas Lampung, yang memanfaatkan polimer alam yang berasal dari selulosa onggok yang diharapkan akan dapat diperoleh smart polymer yang peka pada pH dan temperatur. Semoga seiring dengan perkembangan teknologi dan kemajuan pola berpikir manusia, Indonesia juga mampu memanfaatkan keberadaan smart polymer untuk kehidupan sehari-hari.


Sumber: http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_material/mengenal-polimer-cerdas-smart-polymer/
http://nbudiman.blogspot.com/2007/09/polimer-pengontrol-sistem-drug-delivery.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Smart_polymer


*artikel ini saya buat untuk rubrik Ilmiah Populer majalah Kinetika Edisi 35

Rabu, 18 Agustus 2010

LAPORAN RESMI KARBOHIDRAT

BAB I
PENDAHULUAN


I.1. Latar Belakang
    Karbohidrat ialah polihidrosialdehid, polihidroksiketon, atau zat yang memberikan senyawa seperti itu jika dihidrolisis. Kimiawi karbohidrat pada dasarnya merupakan kimia gabungan dari dua gugus fungsi, yaitu gugus hidroksil dan gugus karbonil. Karbohidrat terdapat dalam semua tumbuhan dan hewan dan sangat penting bagi kehidupan. Melalui proses fotosintesis, tumbuhan mengonversi karbondioksida menjadi karbohidrat, terutama selulosa, pati, dan gula. Selulosa ialah blok pembangun pada dinding sel yang kaku dan jaringan kayu dalam tumbuhan, sedangkan pati ialah bentuk cadangan uatama dari karbohidrat untuk nantinya digunakan sebagai makanan/ sumber energi.

I.2. Tujuan
I.2.1. Tujuan Instruksional Umum
    Setelah mengikuti praktikum mahasiswa mampu menyusun rangkaian alat dan mengoperasikannya, serta memahami reaksi-reaksi yang terjadi pada bahan organik serta menganalisa secara kuantitatif.
I.2.2. Tujuan Instruksional Khusus
    Setelah mengikuti parkatikum kimia organik dengan pokok bahasan analisa karbohidrat (pati), mahasiswa akan dapat menyusun rangkaian alat analisa karbohidrat (pati) dan mengoperasikannya, serta memahami reaksi-reaksi yang terjadi pada senyawa karbohidrat dan cara menentukan kadar karbohidrat (pati) pada suatu bahan dengan prosedur yang benar.
I.2.3. Tujuan Percobaan
a. Mahasiswa dapat menyusun rangkaian alat analisa karbohidrat (pati) dan mengopersikannya
b.    Mampu memahami reaksi-reaksi yang terjadi pada senyawa    karbohidrat
c.    Mengetahui cara menentukan kadar karbohidrat (pati) pada suatu bahan sesuai dengan prosedur yang benar

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


    Karbohidrat merupakan senyawa organik yang banyak di alam yang terdiri dari unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. Rumus empiris dari senyawa karbohidrat adalah CH2O. Senyawa karbohidrat merupakan polihidroksi aldehid dan keton atau turunannya.
    Menurut ukuran molekulnya, karbohidrat dibagi menajadi:
1.    Monosakarida: merupakan karbohidrat yang paling sederhana
    Contoh: glukosa, fruktosa, galaktosa, ribosa
2.    Disakarida: terdiri dari dua satuan monosakarida
    Contoh: sukrosa, maltosa, selobiosa, laktosa
3.    Poliskarida: terdiri banyak satuan (lebih dari delapan satuan)
    Conttoh: pati, selilosa, pektin, kitin, dan lain-lain
    Sifat-sifat umum karbohidrat:
1.    Senyawa karbohidrat dari tingkat yang lebih tinggi dapat diubah menjadi tingkat yang lebih rendah dengan cara menghidrolisa
2.    Gugus hemiasteal (keton maupun aldehid) mempunyai sifat pereduksi
3.    Gugus-gugus hidroksil pada karbohidrat juga bertabiat serupa dengan yang terdapat pada gugus alkohol lain.

Pati
Pati terdiri dari 2 macam senayawa, yaitu:
a.    Amilosa (+20%)
Yang mempunyai sifat larut dalam air panas.
Amilosa merupakan polimer linier dari α-D glukosa yang dihubungkan secara 1,4’

    Tiap molekul amilosa terdapat + 250 satuan glukosa
    Hidrolisis parsial manghasilkan maltosa (dan oligomer lain) sedangkan hidrolisis lengkap hanya menghasilkan D-glukosa
    Molekul amilosa membentuk spiral di sekitar molekul I2 dan antaraksi keduanya akan menimbulkan warna biru. Hal ini digunakan sebagai dasar uji iod pada pati
b.    Amilopektin (+80%)
    Mempunyai sifat tidak larut dalam air
    Struktur bangun dari senyawa amilopektin hampir sama dengan amilosa, perbedaannya rantai amilopektin mempunyai percabangan
    Rantai utama amilopektin mengandung 1,4’ α-D glukosa dan percabangan rantainya mengandung 1,6’ α-D glukosa. Tiap molekul mengandung + 1000 satuan glukosa
    Hidrolisa parsial dari amilopektin akan menghasilkan oligosakarida yang disebut dekstrin, yang sering digunakan sebagai perekat (lem), pasta, dan kanji tekstil
    Hidrolisa lanjut dari dekstrin dapat menghasilkan maltosa dan isomaltosa
    Hidrolisa lengkap dari amilopektin hanya menghasilakan D-glukosa
Amilopektin→dekstrin→maltosa+isomaltosa→D-glukosa

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN


III.1. Bahan dan Alat yang Digunakan
III.1.1. Bahan
    CuSO4
    HCl            0,1 N; 100 ml
    NaOH            0,1 N; 100 ml
    K-Na tartrat
    Glukosa anhididris    1,25 gr
    Metilen Blue        secukupnya
    Sampel roti marie    10 gr
III.1.2. Alat

    Timbangan
    Buret
    Magnetic Stirrer
    Waterbath
    Labu leher tiga
    Termometer
    Pendingin balik
    Klem
    Statif
    Pipet volum


III.2. Gambar Rangkaian Alat

III.3. Prosedur Kerja
    Analisa kadar pati
    Persiapan bahan
Timbang 10 gr sampel  roti marie yang telah dihalusakan dalam gelas piala 250 ml, tambahkan 100 ml aquades dan aduk selama 1 jam. Suspensi disaring dengan kertas saing dan cuci dengan aquades sampai volume filtrat 250 ml. Filtrat dibuang.
Untuk bahan yang mengandung lemak, padatan yang telah disaring dicuci 5 kali dengan 10 ml ether. Biarkan ether menguap, kemudian cuci dengan 150 ml alkohol 10%.
    Standarisasi larutan fehling
Larutan fehling A sebanyak 5 ml dan larutan fehling B sebayak 5 mml dicampur lalu ditambah 15 ml larutan glukosa standar dari buret. Campuran didihkan selama 2 menit. Kemudian masih dalam keadaaan mendidih, penetesan glukosa dilanjutkan sampai warna biru hampir hilang. Penambahan ini dilakukan dalam waktu 1 menit. Seetelah itu campuran ditambah 2- 4 tetes indikator MB, dan titrasi dilanjtkan sampai warna merah. Catat volume glukosa standar yang diperlukan (F).
    Penentuan kadar pati
10 gr pati dilarutkan dalam 100 ml HCl 0,1 N. Larutan dipanaskan pada suhu + 100o C selama 1 jam. Setelah itu didinginkan, diencerkan dengan aquades sampai 500 ml, dan netralkan. Diambil 5 ml, diencerkan sampai 100 ml, diambil 5 ml. Kemudia dititrasi 5 ml sampel+5ml fehling A+5 ml fehling B+15 ml glukosa standar, dipanaskan sampai mendidih ditambahkan 3 tetes indikator MB.  2 menit dari mendidih, larutan dititrasi dengan glukosa standar hingga warna berubah menjadi merah bata. Catat kebutuhan titran (M ml). Hitung kadar pati. Yang perlu diperhatikan, proses titrasi dilakukan dalam keadaan mendidih (di atas kompor), titrasi efektif dilakukan maksimal 1 jam.
    X=((F-M)N(100/5)(B/5))/W
Dengan B=500 ml, jika ingin diperoleh kadar pati dikalikan dengan 0,9
Keterangan:
X= hasil glukosa, dalam bagian berat pati
F= larutan glukosa standar yang diperlukan
M= larutan glukosa standar yang digunakan untuk menitrasi sampel
N= gr glukosa/ml larutan standar = 0,0025 gr/l
W= berat pati yang dihidrolisis, gr
B= volume larutan suspensi pati dalam reaktor yang dihdrolisis
    Pembuatan larutan fehling
    Larutan fehling A
Dibuat dengan melarutkan 34,639 gr CuSO45H2O dalam 500 ml aquades, zat padat yang terlarut disaring
    Larutan fehling B
Dibuat dengan melarutkan 172 gr Kalium Natrium Tartrat (KnaC4H4O64H2O) dan 50 gr NaOH dalam aquades sampai volumenya menjadi 500 ml lalu dibiarkan selama 2 hari. Selanjutnya larutan disaring dengan wol glass.
    Pembuatan larutan glukosa standar
Ddibuat dengan melarutkan 2,5 gr glukosa anhidris dengan air suling sampai volume 1000 ml.

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


IV.1. Hasil Percobaan
    Standarisasi larutan fehling
Volume larutan standar yang dibutuhkan (F) = 24,4 ml
    Penentuan kadar pati
Volume titran glukosa standar (M) = 21 ml
    Berat pati yang ditemukan dalam percobaan (X) = 1,35 gr
Berat pati sebenarnya = 20 gr
% error = 93%

IV.2. Pembahasan
    Kadar pati yang ditemukan lebih kecil
    Hal tersebut dikarenakan pemanasan dilakukan terlalu lama (setelah mendidih). Pemanasan akan mempercepat laju reaksi. Pemanasan pada saat titrasi (setelah mendidih) akan menyebabkan reaksi antara campuran fehling dan glukosa standar semakin cepat, sehingga larutan fehling cepat dan banyak tereduksi. Pada reaksi antara glukosa dan fehling, ion Cu2+ akan direduksi menjadi Cu. Hal ini karena glukosa terdapat gugus aldehid yang merupakan reduktor kuat yang dapat mereduksi fehling menjadi Cu2O
    R-CH=O + 2Cu2+ + 5OH- → R-C-OH + Cu2O + 3H2O
    Hal ini mengakibatkan volume titran yang dibutuhkan lebih sedikit. Ion Cu2+ yang direduksi menjadi Cu+ tidak hanya direduksi oleh gugus aldehid yang ada di dalam glukosa standar melainkan juga direduksi oleh gugus aldehid dari glukosa yang ada di dalam sampel sehingga titran yang dibutuhkan lebih sedikit.
(Reff: www.univ.uit.umas.edv)

    Tujuan standarisasi glukosa anhidris
    Glukosa anhidris dilarutkan dalam aquades guna mendapatkan glukosa standar. Larutan tersebut perlu distandarisasi terlebih dahulu karena merupakan larutan standar sekunder, di mana normalitasnya dapat berubah (sesuai volume dan massa)
    N = M eq
            = m1000/(BM V) eq
          = 1,25x1000/180x500 . 1
        = 0,1 N
Normalitasnya adalah 0,1 N
Larutan glukosa standar digunakan untuk melakukan titrasi terhadap larutan yang sudah diberi fehling A dan fehling B. Glukosa merupakan aldehid dan reduktor kuat sehingga akan mereduksi fehling menajdi Cu2O dan membentuk endapan merah bata,

(Reff: www.wikipedia.org)
    Munculnya endapan merah bata
    Larutan glukosa standar berfungsi untuk menitrasi larutan fehling A dan fehling B yang telah bercampur dengan sampel. Glukosa tersebut akan mereduksi fehling menjadi Cu2O sehingga membentuk ebdapan merah bata.

(Reff: David S, Page, 153)
    Cara kerja larutan fehling
    Bila larutan fehling A dan fehling B dicampur dengan volume yang sama maka dihasilakn larutan yang berwarna biru tua. Adanya glukosa atau heksosa pada karbohidrat mereduksi larutan fehling menjadi Cu2O dan meimbulkan adanya warna merah bata. Sehingga adanya karbohidrat pada suatu sampel dapat diidentifikasi menggunakan larutan fehling.

Reduksi

Oksidasi

(Reff: David S. Page, 153)
    Koefisien 0,9
    Untuk menghitung kadar pati yang ada di roti marie harus dikalikan dengan 0,9 sesuai dengan rumus:
    X=((F-M)N(100/5)(B/5))/W x0,9
Koefisien 0,9 merupakan rasio perbandingan berat molekul glukosa dengan berat molekul pati:
Glukosa C6H12O6 BM = 180
Pati        C6H12O6 BM = 162
    Koefisien = (BM Pati)/(BM Glukosa)
                = 162/180
                         =  0,9
(Reff: Tabel SPU)

BAB V
PENUTUP


V.1. Kesimpulan
1. Kadar pati dalam percobaan roti marie 1,35 gr dan kadar asli 20 gr dengan persen error 93%
2. Pemanasan saat titrasi mempercepat laju reaksi sehingga makin banyak fehling yang tereduksi dan volume titran makin sedikit
3. Glukosa anhidris perlu distandarisasi karena larutan standar sekunder
4. Fehling digunakan untuk menganalisa gugus aldehid (glukosa)
5. Endapan merah bata Cu2O hasil reduksi larutan fehling
6. 0,9 merupakan rasio perbandingan BM pati dengan glukosa

V.2. Saran
1. Sampel harus benar-benar halus dan kering
2. Standarisasi larutan fehling harus ddilakukan secara teliti
3. Titrasi dengan glukosa standar harus dalam keadaan mendidih
4. Glukosa standar harus distandarisasi terlebih dahulu

DAFTAR PUSTAKA


A.O.A.C., Official Method of Analysis of the A.O.A.C, II ed, P.539-540, Washington D.C., 1970
Dasar-Dasar Biokimia
Groggins, PH, Unit Processes in Organic Syntesis”, 5 ed, PP.750-783, Mc.Graw Hill Book Company Inc, New York, 1950
Kerr, R.W., Chemistry and Industry of Strach”, 2 ed, PP.375-403, Academic Press Inc, New York, 1950
Woodman, A. Food Analysis, 4 ed, PP.264-265, Mc Graw Hill Book Company Inc, New York, 1941
www.wikipedia.org
Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 April 2011

...when i talk about kormat....

Sebuah tulisan yang aku dedikasikan untuk para kormat. They are inspiring my life. They show me how to be faithful. Mereka mengajarkanku bagaimana caranya sabar....


Kormat. Nampaknya jabatan tadi sangatlah terhormat. Jika menjadi kormat, maka  bersiap-siaplah menjadi orang penting. Kau akan berhubungan langsung dan lebih intens  dengan dosen. Tak salah jika berharap nomor hapemu juga akan di-save oleh si dosen.  Inbox di hapemu akan dipenuhi pertanyaan kawan-kawanmu yang sama tiap minggunya: nanti  ada kuliah tidak? Maka setelah kau bosan dengan pertanyaan yang sama tiap minggunya,  setiap malam sebelum hari H kuliah kau akan membuat jarkom: JARKOM!! Besok ada kuliah  bla bla bla di ruang bla bla bla pukul bla bla bla. Kalau sudah musim menjelang ujian  maka sms yang masuk ke inboxmu berganti: besok ujiannya open apa close? Jenuh menjawab  pertanyaan yang sama pada tiap orang, ujung-ujungnya kau akan membuat jarkom lagi:  JARKOM!! Ujian bla bla close book. Derita kormat tak sampai di situ saja. Kadang jika  dosen memberi tugas yang rada "geje" dan sulit dipahami oleh otak mahasiswa rata-rata  macam kami, maka seolah-olah kormat lah yang harus bertanggung jawab. Ditanya ini itu,  kalau tak tahu disuruh tanya ke dosennya. Itulah kormat, mengemban tugas yang cukup  berat, menjadi penopang bagi mahasiswa malas macam kami ini.

Ada lagi derita kormat yang lain, dia hampir tak bisa membolos mata kuliah yang menjadi tanggung jawabnya (kecuali kalau dia nekat dan cuek pada nasib kawan-kawannya). Kormat biasanya duduk di depan saat kuliah. Dia akan mengikuti kuliah dengan amat baik, mencatat setiap tugas yang diberikan oleh dosen. Maka kutemukan lagi satu derita kormat: "memperhatikan kuliah dengan sungguh-sungguh". Sudah menjadi rahasia umum kalau mahasiswa bengal seperti kami jarang mengikuti kuliah dengan sungguh-sungguh. Ada saja yang dikerjakan: bergosip dengan teman sebelah, melamun, menggambar rupa-rupa bentuk di kertas, menyalin laporan praktikum, membuat proposal praktikum, mengantuk, tidur, sms an, browsing via hape. hingga sok serius memandang diktat kuliah padahal pikirannya ngelantur ke mana-mana. Namun sekali kau menyandang gelar kormat maka jangan harap bisa melakukan hal-hal tadi dengan leluasa. Kormat lah source of information bagi kawan-kawannya. Salah memberi info pasti akan menjadi pergunjingan walau hanya sesaat. Seperti tabiat kebanyakan orang Indonesia yang suka mengeluh, mahasiswa pun demikian. Sekali berbuat salah, pasti langsung dicibir, dianggap tak bertanggung jawab lah, lalai lah, malas lah, dan lain-lain. Padahal aku yakin, mereka yang tukang mengeluh tadi (termasuk aku) pasti belum tentu mengemban amanah mulia sebagai kormat. Oh ya satu hal lagi derita kormat yang paling akut: saat akan memfotocopy diktat dengan tebal yang lumayan ditambah jumlah mahasiswa yang lumayan banyak juga, mau tak mau dia harus menalangi uang pembayaran kawan-kawannya. Dapat kutarik kesimpulan bahwa kormat haruslah punya uang cadangan untuk keadaan mendadak macam ini. Belum lagi kalau ada beberapa kawan yang belum membayar uang diktat namun dia relakan memberikan diktat pada kawannya karena kasihan.

Atas dasar segala penderitaan yang kulihat jika menjadi kormat tadi, maka kuputuskan aku tak akan pernah mencalonkan diri menjadi kormat. Bahkan kalau sampai ada yang melambungkan namaku saat pemilihan kormat maka bisa kupastikan habislah dia di tanganku. Tak bisa kubayangkan bagaimana rasanya mengurusi puluhan mahasiswa-mahasiswa labil di kelasku. Aku malas sekali mengurusi nasib jadwal kuliah mereka. Aku malas juga jika ada jadwal yang bertabrakan atau dosen yang bersangkutan berhalangan hadir, maka aku harus mencari jadwal penggantinya. Belum lagi kalau kawan-kawanku selalu menghantui malamku dengan sms tentang kapan kuliah. Bukannya aku pelit pulsa, tapi malas saja membalas sms yang sama setiap minggu. Di mataku, setelah menjabat sebagai kormat maka hidup terasa gelap. Satu semester dijalani dengan kelelahan tiap minggu. Ambil absen, ambil LCD, mengingatkan dosen untuk kuliah, ada pula dosen minta dijemput di ruangannya (macam anak SD saja tipe dosen macam ini), kadang ada dosen meminta dibawakan air minum saat kuliah, dan hal-hal absurd lain. Aku akui kalau aku bukanlah tipe penyokong yang bisa melakukan hal-hal tadi. Aku malas mengurusi hajat hidup mahasiswa labil ini. Kalau aku jadi kormat maka pastilah kuliah berantakan. Kalau kau tanya tugas, mungkin kujawab: tidak ada tugas kok, santai saja. Kalau kau tanya ujian close book atau open book mungkin kujawab: open kok (padahal close book).

Kalian boleh men-judge aku sebagai mahasiswa tak bisa diandalkan dan tak bisa bertanggung jawab. Terserahlah. Namun daripada kalian menghujatku terus, aku bawa kalian ke sosok-sosok hebat yang sukses menjadi kormat. Kormat yang bisa aku katakan teladan karena kesabarannya, kepeduliannya pada nasib kami, kerajinannya, keuletannya, keramahnnya, dan terjaminnya nasib kami selama kuliah. Sosok pertama adalah TRINUG. Aku menyebutnya Master of Kormat. Bukan tanpa alasan aku menyebutnya seperti itu. Dia sosok paling bertanggung jawab dari semua kormat yang pernah aku lihat. Dia selalu datang lebih pagi dari yang lain. Dia selalu menyiapkan segala yang diperlukan sang dosen sebelum perkuliahan dimulai. Yang membuatku tambah kagum, meski saat tak menjabat sebagai kormat sekalipun, dia rela melakukan tugas kormat macam ambil LCD dan daftar absen saat kormat yang bersangkutan berhalangan bertugas tanpa alasan yang jelas. Dialah TRINUG, anak asli Semarang, cerdas, santun pula. Aku memandangnya sebagai muslim yang baik. Sosok yang kedua adalah ULIL. Dalam kamus kehidupan tekimku, aku menetapkannya sebagai orang kepercayaan Master of Kormat. Dia rajin datang pagi ke kampus (apalagi untuk download anime-anime kesukaannya). Kelakuannya mirip sang Master of Kormat. Hanya saja dia agak "grusa-grusu" alias agak mudah panik. Dia suka berlari-lari dari lantai dua gedung B menuju tempat perkuliahan. Dia juga ahli dalam memecahkan "masalah LCD". Ada kalanya LCD tidak mau connect dengan laptop, maka ULIL lah yang berhasil menjinakkan LCD tadi. Sebenarnya masih banyak lagi kormat-kormat yang di mataku baik, namun dari semuanya mereka berdua lah yang terbaik. Muncul pula nama kormat-kormat lain yang tak mungkin pula aku sebutkan satu per satu (karena sepertinya hampir semua anak sudah merasakan menjadi kormat..).

Keseluruhan, merekalah sebagian dari mahasiswa labil yang berani mengemban tanggung jawab berat. Mereka lah sosok yang menjadi panutan selama hidupku. Melalui mereka aku belajar agar aku jangan sampai hidup menderita seperti mereka. Ah, salah lagi. Maksudku melalui mereka aku belajar untuk menjadi pengayom bagi yang lain. Sulit memang sepertinya, namun aku tahu di balik kesengasaraan mereka muncul sebuah senyuman manis di akhir masa kerja mereka. Mereka patut berbangga karena melalui merekalah kuliah lancar, melalui merekalah tugas-tugas dapat dikumpulkan, melalui merekalah nilai-nilai  -baik indah maupun hancur-   milik kawan-kawannya akhirnya bisa terpampang di KHS. Sejuta hormatku untuk kalian, wahai para kormat...

Kamis, 16 September 2010

PROSES PEMBUATAN PLASTIK DENGAN INJECTION MOLDING MACHINE

Setiap jenis dan material plastik memengaruhi proses pembuatan dan teknologi yang dipakai dalam pembuatan plastik. Misal untuk membuat part-part elektronik seperti casing handphone, gear pada printer, gelas plastik, dan benda sejenisnya digunakan mesin injection, untuk membentuk sol sepatu digunakan press rubber, sedangkan untuk membuat botol digunakan blow mold type injection. Kali ini kita akan lebih dalam mengenal proses pembuatan plastik melalui teknologi injection serta komponen-komponen yang ada pada injection machine.


Teknologi pembuatan plastik mulai dikembangkan pada tahun 1800-an. Kemudian pada tahun 1868 John Wesley Hyatt membuat billiard ball dengan menginjeksikan celluloid ke dalam mold. John dan Isaiah Hyatt mematenkan injection machine molding untuk pertama kalinya pada tahun 1872. Injection molding adalah metode pemrosesan material termoplastik yang mana material yang meleleh karena pemanasan diinjeksikan oleh plunger ke dalam cetakan yang didinginkan oleh air kemudian material tersebut akan menjadi dingin dan mengeras sehingga bisa dikeluarkan dari cetakan. Termoplastik dalam bentuk butiran atau bubuk ditampung dalam sebuah hopper kemudian turun ke dalam barrel secara otomatis (karena gaya gravitasi) yang mana dilelehkan oleh pemanas yang terdapat di dinding barrel dan oleh gesekan akibat perputaran sekrup injeksi. Plastik yang sudah meleleh diinjeksikan oleh sekrup injeksi (yang juga berfungsi sebagai plunger) melalui nozzle ke dalam cetakan yang didinginkan oleh air. Produk yang sudah dingin dan mengeras dikeluarkan dari cetakan oleh pendorong hidrolik yang tertanam dalam rumah cetakan selanjutnya diambil oleh manusia atau menggunakan robot. Pada saat proses pendinginan produk secara bersamaan di dalam barrel terjadi proses pelelehan plastik sehingga begitu produk dikeluarkan dari cetakan dan cetakan menutup, plastik leleh bisa langsung diinjeksikan.


Secara garis besar pada injection machine terbagi menjadi 3 bagian:
1. Clamping Unit
Clamping unit berfungsi untuk memegang dan mengatur gerakan dari mold unit serta gerakan ejector saat melepas benda dari molding unit. Pada clamping unit lah kita bisa mengatur berapa panjang gerakan molding saat dibuka dan berapa panjang ejector harus bergerak. Ada 2 macam clamping unit yang dipakai pada umumnya, yaitu toggle clamp dan hidrolik clamp.
2. Molding Unit
Molding unit sebenarnya adalah bagian lain dari plastic injection machine. Molding unit adalah bagian yang membentuk benda yang dibuat, Secara garis besar molding unit memiliki 2 bagian utama yaitu bagian cavity dan core. Bagian cavity adalah bagian cetakan yang berhubungan dengan nozzle pada mesin, sedangkan bagian core adalah bagian yang berhubungan dengan ejector.
3. Injection Unit
Bagian-bagian dari injection unit adalah:
a. Motor dan transmission gear unit
Bagian ini berfungsi untuk menghasilkan daya yang digunakan untuk memutar screw pada barrel, sedangkan transmisi unit berfungsi untuk memindahkan daya dari putaran motor ke dalam screw. Selain itu transmission unit juga berfungsi untuk mengatur tenaga yang disalurkan sehingga tidak pembebanan yang terlalu besar.
b. Cylinder screw ram
Bagian ini berfungsi untuk mempermudah gerakan screw dengan menggunakan momen enersia sekaligus menjaga perputaran screw tetap konstan sehingga didapat dihasilkan kecepatan dan tekanan yang konstan saat proses injeksi plastik dilakukan.
c. Hopper
Hopper adalah tempat untuk menempatkan material plastik sebelum masuk ke barrel. Biasanya untuk menjaga kelembapan material plastik digunakan tempat penyimpanan khusus yang dapat mengatur kelembapan sebab apabila kandungan air terlalu besar pada udara, dapat menyebabkan hasil injeksi yang tidak bagus.
d. Barrel
Barrel merupakan tempat screw dan selubung yang menjaga aliran plastik ketika dipanasi oleh heater. Pada bagian ini juga terdapat heater untuk memanaskan plastik sebelum masuk ke nozzle.
e. Screw
Reciprocating screw berfungsi untuk mengalirkan plastik dari hopper ke nozzle. Ketika screw berputar material dari hopper akan tertarik mengisi screw yang selanjutnya dipanasi lalu didorong ke arah nozzle.
f. Non return valve
Valve ini berfungsi untuk menjaga aliran plastik yang telah meleleh agar tidak kembali saat screw berhenti berputar.


Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Injection_molding
http://oke.or.id/wp-content/plugins/downloads-manager/upload/plastik.pdf
http://smk3ae.wordpress.com/2009/01/11/proses-pembuatan-plastik-dengan-sistem-injeksi/



*artikel ini saya buat untuk rubrik Instrumen majalah Kinetika Edisi 35

MASTERAN ENZIM

BAB I
PENDAHULUAN


I.1.    Latar Belakang
    Enzim merupakan katalis yang berasal dari zat hidup yang mempunyai derajat dan efisiensi yang tinggi. Enzim dapat dimanfaatkan dalam proses industri, misalnya amilase yang digunakan untuk mengubah pati menjadi sakarin, papain yang berguna untuk melunakkan daging, dan sebagainya. Melihat manfaat enzim ini maka praktikum isolasi enzim perlu dilakukan.

II.2.    Tujuan Percobaan
1.     Mengisolasi enzim papain dari getah pepaya
2.    Menghitung aktivitas enzim papain
3.    Membandingkan aktivitas enzim papain sesuai variabel percobaan

II.3.    Manfaat Percobaan
    Manfaat dari percobaan isolasi enzim papain adalah mengetahui sifat-sifat enzim sehingga dapat menghasilkan kuantitas enzim yang baik dan produktif.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


II.1.     Pengertian Umum
    Enzim berasal dari kata en = in = dalam dan zim = yeast = khamir. Artinya dalam khamir yang maksudnya katalis dari zat hidup yang punya derajat efisiensi tinggi. Enzim merupakan sejenis protein kompleks yang unik dan merupakan bahan antara yang penting untuk metabolisme dan berbagai perubahan kimia dalam tubuh.

II.2.     Teori Enzim Papain
    Enzim papain banyak digunakan dalam pelunakan daging dan untuk menghaluskan gandum dalam pembuatan kue kering. Papain berasal dari tumbuhan hijau dan Carica papaya, kira-kira 3 tahun pohon ini tumbuh tinggi untuk menghasilkan latex. Latex digumpalkan dengan membuat goresan pada buah pada waktu pagi sekali ketika buah itu berisi cairan. Latex mengalir sampai habis dan membuat beku pada permukaannya.
    Pembentukan latex berjalan cepat dan segera menutupi buah seperti lilin dan itulah yang dikumpulkan. Secara sederhana dikeringkan oleh matahari, tetapi untuk hasil lebih baik pengeringan dilakukan dalam bejana. Latex beku dikumpulkan, dicairkan dengan cepat, disaring agar bebas dari serangga, dikeringkan dengan spray dryer. Latex kasar harus dikeringkan, saring dan dikeringkan lagi untuk mendapatkan papain yang sempurna sesuai digunakan pada makanan.
    Papain sangat aktif pada range pH 3-7. Untuk melunakkan daging pada pH 7. Papain merupakan enzim pelunak pilihan karena enzim ini dapat disuntikkan ke dalam untuk menimbulkan enzim sedalam 4 cm pada permukaan daging sehingga daging tetap lunak.

II.3.     Isolasi Enzim
    Untuk mengisolasi enzim papain dari getah pepaya dilakukan 3 proses pemisahan:
    Ekstraksi padat-cair
Merupakan salah satu metode pemisahan cair-padatan. Pada proses ini komponen yang tidak larut dipisahkan dari padatan dengan bantuan solvent. Ketika solvent dicampur dengan sampel, maka solvent akan melarutkan ekstrak dengan difusi sampai terjadi keseimbangan konsentrasi.
    Sentrifugasi
Merupakan cara memisahkan bagian seperti partikel dalam medan gaya sentrifugal partikel yang berukuran berbeda dalam berbagai ukuran. Densitas dan bentuk akan mengendap searah sentrifugal dengan kepentingan berbeda.
    Presipitasi
Banyak agent pemisah yang digunakan untuk mengendapkan protein seperti garam proteolitik, polimer, panas, pH, dan solvent organik.

II.4.     Imobilisasi Enzim
    Enzim tidak dapat mengalami perubahan reaksi kimia, maka enzim dapat digunakan berulang-ulang. Pada umumnya reaksi dan pemisahan enzim dari produk dengan menggunakan modifikasi pH, panas, atau kedua-duanya. Penggunaan cara seperti ini mengakibatkan enzim kehilangan sebagian besar aktivitas kataliknya, sehingga enzim dapat digunakan berulang-ulang. Agar dapat digunakan berulang-ulang pemisahan enzim dari produk harus dengan cara tertentu sehingga didapatkan enzim dalam bentuk terimobilisasi tanpa mengurangi aktivitas kataliknya.

II.5.     Mekanisme Kerja Enzim
    Enzim menyesuaikan diri di sekitar substrat untuk membentuk suatu kompleks enzim substrat
    Karena adanya gaya tarik antara enzim dan substrat, ikatan substrat menjadi tegang. Ikatan tegang ini mempunyai energi tinggi atau lebih mudah terpatahkan sehingga reaksi lebih mudah dan membentuk kompleks enzim-produk.
    Karena produk dan substrat tidak sama maka kesesuaian antara produk dan enzim tidak sempurna
    Bentuk produk menyebabkan kompleks berdisosiasi dan permukaan enzim siap untuk menerima substrat lain. Teori aktivitas enzim ini disebut teori kesesuaian terimbas (Induced-fit Theory)
E + S → ES → EP → E + P

II.6.     Sifat-Sifat Enzim
    Dalam jumlah kecil dapat mengkatalis substrat dalam jumlah besar
    Enzim bereaksi optimum pada 400C dan tekanan normal
    Reaksi enzimatis berlangsung pada pH netral
    Tidak dapat menghidrolisis disakarida dan polisakarida
    Umumnya dipakai koenzim
    Enzim biasanya merusak zat yang dapat mengurangi keaktifannya
    Biasanya diperlukan energi aktivasi

II.7.     Inhibitor Enzim
    Inhibitor Kompetitif
Inhibitor yang bersaing dengan susbstrat dengan cara meniru bentuk substrat sehingga dapat berikatan dengan sisi aktif enzim
    Inhibitor Non Kompetitif
Tidak bersaing dengan substrat tapi menempel pada bagian lain enzim sehingga bentuk enzim berubah

II.8     Faktor yang Mempengaruhi
    Konsentrasi substrat
    Pengaruh pH
    Konsentrasi enzim
    Temperatur
    Racun enzim

II.9.     Fungsi Reagen
    Getah buah papaya    : sumber enzim papain
    NaOH    : pengatur pH
    Garam    :    mengendapkan enzim, membentuk gugus mikro (dapat berupa NaCl atau (NH4)2SO4)
    Celite    :    memecah dinding sel pembungkus enzim
    Cystein HCl    :    mengikat protein, mengikat enzim sehingga bisa menembus kertas saring, melarutkan enzim yang telah diendapkan
    Kasein    :    penyedia protein untuk diendapkan
    Aquadest    :    melarutkan protein enzim
    Solvent    :    sebagai tenaga pemisah dalam ekstraksi cair padat untuk mandapatkan enzim dari getah (acetaon, formaldehid, etanol)

II.10.     Kegunaan Produk
    Sebagai pelunak daging
    Sebagai bahan antidingin pada pembuatan beer
    Sebagai pelunak kulit pada industri penyamakan kulit

II.11.    Penelitian Terdahulu
    Bahan
    Getah pepaya
    Cystein
    Aquadest
    NaOH
    H2SO4
    Larutan susu bubuk 12%
    Alat yang Digunakan
    Gelas ukur
    Beaker glass
    Magnetic stirrer
    Saringan vakum
    Centrifuge        Erlenmeyer
    Indikator pH
    Fermenter
    Kompor listrik dan water bath
    Oven




    Penetapan Variabel
    Variabel Tetap
    Sistem operasi    :    batch
    Berat getah papaya    :    50 gr
    Kepadatan pengadukan    :    3 digit
    Waktu operasi    :    15 menit
    Pengendapan enzim pepaya    :    aceton
    Pencucian enzim pepaya    :    aquades
    Variabel Berubah
    Volume cystein    :    700, 100, 125 ml
    Suhu Operasi    :    100C, 500C
    pH operasi    :    5, 7, 9
    Prosedur Percobaan
    Ekstraksi Enzim Papain
    Menyiapkan alat dan bahan percobaan
    Menimbang getah pepaya kering 50 gr
    Menambah solvent cystein dan volume dan mengatur pH campuran dengan menambah NaOH dan H2SO4
    Memindahkan campuran dalam beaker glass yang ditempatkan di atas magnetic stirrer. Atur kecepatan pengadukan dan panaskan campuran sampai suhu tertentu dan jaga agar suhu konstan, operasi selama 10 menit
    Memisahkan ekstrak dan residu dengan saringan vakum, buang ampasnya dan filtrat disimpan dalam beaker glass
    Setelah selesai didiamkan sampai dingin dan residu padatan mengendap disaring residu padatannya. Untuk residu yang masih tersuspensi dapat dipisahkan dengan sentrifugasi pada kecepatan 3500 rpm selama 15 menit. Saring endapan yang terbentuk ambil sumber natannya
    Dalam beaker glass, super natan dan aceton dengan perbandingan 1:1. Beaker glass ditutup dan disimpan dalam keadaan dingin selama 1 malam lalu sentrifugasi sehingga timbul endapan putih papain. Kemudian endapan tersebut dipisahkan dengan saringan racun dilengkapi dengan kertas saring Whatman
    Endapan papain yang diperoleh kemudian dioven
    Kristal putih papain yang dihasilkan ditimbang untuk ditentukan beratnya
    Analisa Aktivitas Proteolitik Enzim Papain
    Masukkan 1 gr sampel papain dalam labu takar 100 ml + a hingga tepat waktu
    Kocok lalu centrifuge untuk mendapatkan larutan papain, ukur densitas
    Simpan larutan susu bubuk (full cream) dengan kepekatan 1:pekat
    Ambil 10 ml larutan susu tempatkan pada Erlenmeyer 50 ml panaskan dalam water bath 40%
    Ambil sejumlah larutan enzim lalu dimasukkan ke dalam susu, suhu dijaga 400C hingga tepat terjadi gumpalan
    Waktu dicatat dengan teliti dengan stopwatch sejak saat penambahan papain ke dalam larutan susu tepat terjadi gumpalan
    Aktivitas proteolitik, catat protein dihitung dengan rumus
A = 1/(E.t)
A = aktivitas proteolitik
E = berat sample yang diuji
t = waktu yang diperlukan terjadinya penggumpalan susu

Besarnya aktivitas dinyatakan dalam MCU/gr, sebagai hasil dikali 1000
(Reff: Anang Yudi dan Nurhadi, “Isolasi Enzim Papain Getah Pepaya dengan Metode Ekstrak Cair-Cair)
       

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN


III.1.    Bahan dan Alat
    Bahan
    Getah buah pepaya    @ 4 gr
    (NH4)2SO4        3 gr
    Etanol            17 ml
    Celite            @ 2,5 gr
    Cystein            @ 2 gr
    Aquadest            @ 15 ml
    NaOH
    Alat
    Erlenmeyer
    Beaker glass
    Sentrifuge
    Mortar
    Indicator pH
    Kertas saring
    Pengaduk strirer dan pemanas
    Gelas ukur
III.2.    Gambar Alat
    
            (2)     (3)  (4)     (5)
Gambar III.2.1. Gambar Alat
Keterangan:
    Erlenmeyer
    Beaker glass
    Gelas ukur
    Pengaduk
    Kertas saring
III.3.    Variabel Percobaan
Getah pepaya @ 40 gr
Getah pepaya+2,5 gr celite+2 gr cystein+17 ml etanol+15 ml aquadest
Variabel I     pH tidak diatur
Variabel II    pH 7
Variabel III    pH 9
Reaksi Enzimatis
Larutan susu 16% W basis 100 ml
T pencampuran: 400C, 500C, 600C
Susu : enzim = 1:8

III.4.    Cara Kerja
    Isolasi Enzim
    Haluskan getah pepaya dengan mortar, setelah halus timbang 40 gr masukkan dalam beaker glass
    Tambahkan ke dalam beaker glass tersebut 2,5 gr celite; 2 gr cystein; 17 ml etanol; 15 ml aquadest. Lalu atur pHnya
    Aduk dengan magnetic stirrer salama 15 menit pada 300C
    Saring dengan kertas saring sehingga didapat filtrat I dan endapan I. Buang endapannya
    Pada filtrat I tambahkan (NH4)2SO4 3 gr sebagai tenaga pengendap
    Masukkan pada cuvet lalu disentrifugasi selama 20 menit dengan kecepatan 200 rpm
    Saring hasil sentrifugasi sehingga didapatkan endapan II dan filtrat II
    Keringkan dan timbang endapan II (misalnya a gr) simpan endapan II
    Tambahkan 3 gr (NH4)2SO4 pada filtrat II lalu simpan 1 malam dalam lemari es
    Saring filtrat II dengan kertas saring sehingga didapat filtrat III dan endapan III
    Keringkan dan timbang endapan III (misalnya b gr)
    Ambil endapan II campurkan dengan endapan III, jika jumlah endapan II dan III lebih dari 1 gr, ambil 1 gr endapan tersebut larutkan dalam air sampai 10 ml (larutan ini adalah enzim)
    Jika a + b kurang dari 1 gr, ambil filtrat III encerkan sampai 10 ml (larutan ini adalah enzim)
    Reaksi Enzimatis
    Buat larutan susu 16% W
    Ambil 1 ml larutan enzim dan 8 ml larutan susu
    Panaskan kedua larutan tersebut sampai suhu sesuai variabel (400C, 500C, 600C)
    Setelah mencapai suhu tersebut tuangkan larutan enzim ke dalam larutan susu
    Catat waktu sampai terjadi penggumpalan pertama

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


IV.1.    Hasil Percobaan
    Tabel IV.1.1. Variabel I, pH tidak diatur (pH = 3)
Suhu (oC)    Waktu (detik)    Aktivitas Enzim (MCU/mg)
40    4    1333,3
50    5    1066,7
60    9    592,59

    Tabel IV.1.2. Variabel II, pH = 7
Suhu (oC)    Waktu (detik)    Aktivitas Enzim (MCU/mg)
40    8    666,7
50    10    533,3
60    15    355,5

    Tabel IV.1.3. Variabel III, pH = 9
Suhu (oC)    Waktu (detik)    Aktivitas Enzim (MCU/mg)
40    35    152,38
50    47    113,4
60    56    95,2









IV.2.    Pembahasan
    Grafik Hubungan Suhu vs Aktivitas Enzim

Gambar IV.2.1. Grafik Hubungan Suhu vs Aktivitas Enzim
    Dari grafik terlihat bahwa semakin tinggi suhu aktivitas enzim semakin kecil. Hal disebabkan oleh sifat enzim yang peka terhadap suhu. Enzim sebagai protein akan mengalami denaturasi jika suhu dinaikkan, akibatnya daya kerja enzim akan menurun. Denaturasi adalah terurainya protein menajdi struktur primernya atau rusaknya sifat fisik dan fisiologik protein akibat pemanasan atau penambahan asam kuat. Energi panas mengakibatkan terputusnya ikatan non-kovalen protein. Hingga suhu 450C aktivitas enzim masih terus meningkat. Tapi lebih dari 450C akan terjadi denaturasi sehingga aktivitas enzim menurun. Menjelang suhu 550C fungsi katalitik enzim punah. Suhu optimum terjadi pada 300C-450C, maka pada suhu ini efek yang terlihat adalah peningkatan aktivitas enzim.
    Pada suhu 400C, enzim masih dalam range suhu optimum. Oleh sebab itu aktivitas enzim pada suhu tersebut paling tinggi. Pada suhu 500C enzim berada pada range suhu tidak optimum. Pada suhu tidak optimum tersebut enzim mengalami denaturasi sehingga aktivitas enzimnya menurun. Demikian juga pada suhu 600C memiliki energi aktivasi paling rendah karena berada pada suhu tidak optimum sehingga mengalami denaturasi.
(Diktat Dasar-Dasar Bioproses hal.99-100)
    Pengaruh pH terhadap Aktivitas Enzim
    Enzim merupakan protein dan protein akan bekerja optimum pada pH 5-7. Enzim papain juga akan bekerja optimum pada pH 5-7. Jika terlalu asam maupun basa enzim akan mengalami denaturasi. Denaturasi adalah terurainya protein menjadi struktur primernya atau rusaknya sifat fisik dan fisiologik protein akibat pemanasan atau penambahan asam kuat.
(Diktat Dasar-Dasar Bioproses hal.99-100)
   

BAB V
PENUTUP


V.1.    Kesimpulan
1.    Pada variabel I, II, III grafik terlihat menurun karena adanya peningkatan suhu yang mengakibatkan denaturasi
2.     pH berpengaruh pada naik turunnya aktivitas enzim

V.2.    Saran
1. Pengambilan getah dilakukan dini hari karena buah pepaya banyak mengandung cairan
2. Harus cermat dalam pengaturan pH


DAFTAR PUSTAKA


Diktat Dasar-Dasar Bioproses
Nurhadi dan Anang Yudi,  Isolasi Enzim Papain Getah Pepaya dengan Metode Ekstrak Cair-Cair
Tim Dosen Pemimbing, Buku Petunjuk Praktiukum Mikrobiologi Industri, Jurusan Teknik Kimia, Semarang, 2002
www.kumpulblogger.com
www.chemistrystation.blogspot.com


*masteran ini sangat bermanfaat buat yang ngrasa praktikum enzimnya menemukan fenomena yang terjadi aneh..hahahaha >>> kelompok saya fenomenanya aneh soalnya :)

Selasa, 14 September 2010

MARI KENAL LEBIH DEKAT DENGAN SMART POLYMER

Sekilas tentang Polimer
Polimer lebih dikenal sebagai “plastik” bagi orang awam. Namun sebenarnya polimer bukanlah plastik saja. Polimer pun sebenarnya sudah dipakai sejak dahulu kala, lebih tepatnya pada penggunaan polimer alam seperti kapas, wool, dan damar. Pada sekitar tahun 1925 dunia mulai mengenal polimer sentesis dan mulai berkembang pesat saat pada tahun 1955 Staudinger berhasil mendapatkan Nobel atas hipotesis makromolekul yang ditemukannya. Polimer sintesis yang sering ada di kehidupan kita sehari-hari antara lain nilon, ban, plastik polietilena untuk botol susu, plastik poliuretana untuk jantung buatan, dan lain-lain.
         Polimer merupakan suatu molekul raksasa yang terbentuk dari susunan ulang molekul yang kecil yang terikat melalui ikatan kimia. Sifat-sifat polimer berbeda dari monomer-monomer yang menyusunnya, misalnya molekul-molekul gas etilena bereaksi membentuk rantai panjang plastik polietilena yang ada pada kaleng susu.


Pengertian Smart Polymer
    Smart polymer juga dikenal dengan nama polimer cerdas. Jika mendengar kata “cerdas”, mungkin yang ada di benak kita adalah kepintaran atau kemampuan berpikir yang luar biasa yang dimiliki manusia. Namun definisi “cerdas” pada smart polymer jangan diintrepetasikan sama dengan definisi “cerdas” seperti yang dimiliki manusia. Sejatinya polimer merupakan benda mati dan sama sekali tak memiliki anugerah “kecerdasan” seperti manusia. Sebuatan “cerdas” layak diberikan pada  polimer jika polimer tersebut mampu beradaptasi atau memberi respon kecil terhadap perubahan yang terjadi pada kondisi lingkungan. Kemampuan polimer itulah yang kemudian membuat istilah smart polymer muncul karena meski benda mati ternyata polimer juga mampu adaptasi selayaknya makhluk hidup.
    Kondisi lingkungan pada polimer biasanya meliputi pH, temperatur, medan listrik, medan magnet, cahaya, pelarut, agen biokimia (enzim), tekanan, faktor ionik, dan sebagainya. Klasifikasi smart polymer selanjutnya dapat diklasifikasikan berdasarkan kondisi lingkungan tadi. Misal untuk polimer yang mampu merespon perubahan pH maka akan disebut polimer peka pH, untuk polimer yang mampu merespon perubahan temperatur maka akan disebut polimer peka temperatur, dan seterusnya. Sedangkan respon yang diberikan oleh smart polymer terhadap perubahan kondisi lingkungan dapat berupa mengerut, menggembung, melarut, mengendap, membentuk misel, membentuk transisi antara sol dan gel bergantung pada bentuk fisik ikatannya.
Tabel 1. Bentuk fisik ikatan pada smart polymer dan jenis responnya. 
Bentuk Fisik Ikatan Jenis Respon
Ikatan linear bebas tanpa crosslink (Konjugat) Melarut/Mengendap, Transisi Sol-Gel
Kopolimer block dan graft amphiphilic (tanpa crosslink) Terbentuk Misel
Crosslink Kimia (Hidrogel) Menggembung/Mengkerut
Modifikasi Permukaan Respon Interface (antarmuka)
Sumber: Aguilar et al (2007)
Respon di atas umumnya bersifat reversible (dapat bolak-balik). Sebagai contoh smart polymer adalah hidrogel poli Asam Akrilat (AA) yang mampu beradaptasi sesuai perubahan pH lingkungannya. Pada pH rendah hidrogel AA akan mengerut (Unswell/Shrinking) dan apabila pH bertambah naik (tinggi), AA akan menggembung (swelling).
Gambar 1. Ilustrasi respon hidrogel poli asam akrilat terhadap pH

Contoh smart polymer yang lain dapat dilihat dari tabel di bawah ini:
Tabel 2. Contoh smart polymer
Nama Polimer Cerdas Klasifikasi
Polyacrylic acid (PAA) Peka pH
Polmethacrylic acid (PMAA) Peka pH
Poly(ethylene imine) Peka pH
Poly(L-lysine) Peka pH
Poly(N-isopropylacrylamide) (PNIPAAM) Peka Temperatur
Poly(N,N-diethylacrylamide) (PDEAAM) Peka Temperatur
Poly(ethylene oxide) (PEO) Peka Temperatur
Poly(ethylene glycol) (PEG) Peka Cahaya
Poly(Vinyl alcohol) (PVA) Peka Cahaya
Diblock copolymer (PEO-PPO) Peka Cahaya
Poly(D,L-lactide) Peka Phase
Poly(amino acid) Peka Phase


Aplikasi Smart Polymer
    Pemanfaatan smart polymer yang peka suhu nampak pada pakaian yang dipakai para olahragawan. Pakaian tersebut dirancang agar suhu para atlet tetap terjaga. Beberapa produk plastik kemasan juga sudah mulai memanfaatkan smart polymer ini. Selain itu aplikasi smart polymer dapat ditemui di bidang medis sebagai biomaterial pada sitem delivery drug (penyampai obat).
     Drug delivery secara terkontrol terjadi ketika sebuah polimer, baik sintesis maupun alam, dipadukan secara tepat dengan sebuah obat atau zat aktif lainnya yang mana zat aktif akan dilepaskan dari polimer dengan cara yang telah didesain sebelumnya. Jumlah zat aktif yang dilepaskan mungkin konstan sepanjang periode tertentu, atau dapat berupa suatu siklus, atau pelepasan disebabkan karena adanya faktor – faktor eksternal. Tujuan dilakukan pengontrolan pada drug delivery adalah untuk mencapai penyembuhan atau terapi yang lebih efektif, mengurangi potensi kekurangan atau kelebihan dosis, menjaga konsentrasi obat dalam jangka waktu yang telah ditetapkan, yang pada akhirnya akan dapat meingkatkan kepuasan pasien.
     Material pembawa harus memiliki sifat inert, biocompatible, kuat, nyaman dipakai, mampu menapung konsentrasi obat atau zat aktif yang tinggi, aman bagi manusia, mudah dihilangkan, mudah diproduksi, dan mudah untuk disterilkan. Pengunaan polimer sebagai material pembawa (carrier) akan meminimalkan kemungkinan terjadinya keracunan akibat tak terurainya material pembawa atau akibat dari produk–produk samping hasil degradasi yang tidak diinginkan sehingga akan meminimalkan potensi terjadinya operasi. Penggunaan polimer juga memiliki nilai ekonomis karena harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan formulasi–formulasi farmasi tradisional. Pengontrolan dengan polimer juga akan menghasilkan konsentrasi obat di dalam darah yang tinggi sepanjang periode waktu yang lama, hal ini berbeda jika digunakan tablet–tablet tradisional atau injeksi, konsentrasi obat dalam darah akan menurun dengan cepat selama waktu tertentu.
      Dewasa ini sudah ditemukan material polimer yang dapat mengontrol drug delivey dengan merespon perubahan–perubahan yang terjadi di dalam sistem biologi tubuh kita, artinya jika bagian tubuh kita ada yang sakit maka sistem akan melepaskan zat aktif dengan kadar yang tepat dan ketika rasa sakit itu hilang maka sistem akan menghentikan pelepasan zat aktif. Dengan cara demikian akan dapat dicegah terjadinya overdosis.
      Cara kerja dari drug delivery dari smart polymer ini adalah dengan memanfaatkan variasi pH yang terdapat pada gastrointestinal tract (GIT) atau lambung perut yang mempunyai variasi pH antara 2 (pada perut) dan 10 (pada usus besar). Dalam lingkungan asam, drug delivery menahan obat yang dikandungnya untuk tidak terdegradasi dengan cara mengerut dan ketika telah tiba pada lokasi spesifiknya yang bermedium basa, smart polymer akan mengembung sekaligus melepas obat yang dikandungnya ke target. Variasi pH ini, juga terdapat pada lokasi spesifik lainnya seperti pada jaringan (termasuk pada jaringan tumor) atau pada sub-sub sel. Polimer peka temperatur dengan T kritis juga ideal untuk digunakan sebagai drug delivery pada daerah fisiologis ini.
     Pada beberapa tahun terakhir ini, pengembangan smart polymer mulai dikembangkan ke arah polimer yang mempunyai dua kepekaan sekaligus. Umumnya metode yang digunakan adalah dengan pencangkokan atau dikenal dengan istilah grafting. Beberapa peneliti telah sukses meng-grafting seperti Leung et al (2005) yang telah mempreparasi mikrogel kulit-inti (core-shell) cerdas bebasis PNIPAAm, MBAAm, dan kitosan (Polyethyleneimine) yang menghasilkan mikrogel yang dapat peka pH sekaligus peka temperatur. Kurata dan Dobashi (2004) yang telah berhasil membuat kopolimer baru dari N,N-dimethylaminoethylmethacrylate (DMAEM) dan asam akrilat (AA) yang mampu peka pH dan temperatur. Begitupun dengan Gonzalez et al (2005) yang telah menemukan polimer baru turunan dari ethylpyrrolidine yaitu N-ethylpyrrolidine methacrylate (EPyM) yang juga peka pH dan temperatur.
     Sedangkan pengembangan smart polymer di Indonesia masih sangat langka. Dari literatur yang didapat, baru ditemukan pengembangan smart polymer oleh Irwan Ginting Suka, peneliti dari Universitas Lampung, yang memanfaatkan polimer alam yang berasal dari selulosa onggok yang diharapkan akan dapat diperoleh smart polymer yang peka pada pH dan temperatur. Semoga seiring dengan perkembangan teknologi dan kemajuan pola berpikir manusia, Indonesia juga mampu memanfaatkan keberadaan smart polymer untuk kehidupan sehari-hari.


Sumber: http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_material/mengenal-polimer-cerdas-smart-polymer/
http://nbudiman.blogspot.com/2007/09/polimer-pengontrol-sistem-drug-delivery.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Smart_polymer


*artikel ini saya buat untuk rubrik Ilmiah Populer majalah Kinetika Edisi 35

Rabu, 18 Agustus 2010

LAPORAN RESMI KARBOHIDRAT

BAB I
PENDAHULUAN


I.1. Latar Belakang
    Karbohidrat ialah polihidrosialdehid, polihidroksiketon, atau zat yang memberikan senyawa seperti itu jika dihidrolisis. Kimiawi karbohidrat pada dasarnya merupakan kimia gabungan dari dua gugus fungsi, yaitu gugus hidroksil dan gugus karbonil. Karbohidrat terdapat dalam semua tumbuhan dan hewan dan sangat penting bagi kehidupan. Melalui proses fotosintesis, tumbuhan mengonversi karbondioksida menjadi karbohidrat, terutama selulosa, pati, dan gula. Selulosa ialah blok pembangun pada dinding sel yang kaku dan jaringan kayu dalam tumbuhan, sedangkan pati ialah bentuk cadangan uatama dari karbohidrat untuk nantinya digunakan sebagai makanan/ sumber energi.

I.2. Tujuan
I.2.1. Tujuan Instruksional Umum
    Setelah mengikuti praktikum mahasiswa mampu menyusun rangkaian alat dan mengoperasikannya, serta memahami reaksi-reaksi yang terjadi pada bahan organik serta menganalisa secara kuantitatif.
I.2.2. Tujuan Instruksional Khusus
    Setelah mengikuti parkatikum kimia organik dengan pokok bahasan analisa karbohidrat (pati), mahasiswa akan dapat menyusun rangkaian alat analisa karbohidrat (pati) dan mengoperasikannya, serta memahami reaksi-reaksi yang terjadi pada senyawa karbohidrat dan cara menentukan kadar karbohidrat (pati) pada suatu bahan dengan prosedur yang benar.
I.2.3. Tujuan Percobaan
a. Mahasiswa dapat menyusun rangkaian alat analisa karbohidrat (pati) dan mengopersikannya
b.    Mampu memahami reaksi-reaksi yang terjadi pada senyawa    karbohidrat
c.    Mengetahui cara menentukan kadar karbohidrat (pati) pada suatu bahan sesuai dengan prosedur yang benar

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


    Karbohidrat merupakan senyawa organik yang banyak di alam yang terdiri dari unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. Rumus empiris dari senyawa karbohidrat adalah CH2O. Senyawa karbohidrat merupakan polihidroksi aldehid dan keton atau turunannya.
    Menurut ukuran molekulnya, karbohidrat dibagi menajadi:
1.    Monosakarida: merupakan karbohidrat yang paling sederhana
    Contoh: glukosa, fruktosa, galaktosa, ribosa
2.    Disakarida: terdiri dari dua satuan monosakarida
    Contoh: sukrosa, maltosa, selobiosa, laktosa
3.    Poliskarida: terdiri banyak satuan (lebih dari delapan satuan)
    Conttoh: pati, selilosa, pektin, kitin, dan lain-lain
    Sifat-sifat umum karbohidrat:
1.    Senyawa karbohidrat dari tingkat yang lebih tinggi dapat diubah menjadi tingkat yang lebih rendah dengan cara menghidrolisa
2.    Gugus hemiasteal (keton maupun aldehid) mempunyai sifat pereduksi
3.    Gugus-gugus hidroksil pada karbohidrat juga bertabiat serupa dengan yang terdapat pada gugus alkohol lain.

Pati
Pati terdiri dari 2 macam senayawa, yaitu:
a.    Amilosa (+20%)
Yang mempunyai sifat larut dalam air panas.
Amilosa merupakan polimer linier dari α-D glukosa yang dihubungkan secara 1,4’

    Tiap molekul amilosa terdapat + 250 satuan glukosa
    Hidrolisis parsial manghasilkan maltosa (dan oligomer lain) sedangkan hidrolisis lengkap hanya menghasilkan D-glukosa
    Molekul amilosa membentuk spiral di sekitar molekul I2 dan antaraksi keduanya akan menimbulkan warna biru. Hal ini digunakan sebagai dasar uji iod pada pati
b.    Amilopektin (+80%)
    Mempunyai sifat tidak larut dalam air
    Struktur bangun dari senyawa amilopektin hampir sama dengan amilosa, perbedaannya rantai amilopektin mempunyai percabangan
    Rantai utama amilopektin mengandung 1,4’ α-D glukosa dan percabangan rantainya mengandung 1,6’ α-D glukosa. Tiap molekul mengandung + 1000 satuan glukosa
    Hidrolisa parsial dari amilopektin akan menghasilkan oligosakarida yang disebut dekstrin, yang sering digunakan sebagai perekat (lem), pasta, dan kanji tekstil
    Hidrolisa lanjut dari dekstrin dapat menghasilkan maltosa dan isomaltosa
    Hidrolisa lengkap dari amilopektin hanya menghasilakan D-glukosa
Amilopektin→dekstrin→maltosa+isomaltosa→D-glukosa

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN


III.1. Bahan dan Alat yang Digunakan
III.1.1. Bahan
    CuSO4
    HCl            0,1 N; 100 ml
    NaOH            0,1 N; 100 ml
    K-Na tartrat
    Glukosa anhididris    1,25 gr
    Metilen Blue        secukupnya
    Sampel roti marie    10 gr
III.1.2. Alat

    Timbangan
    Buret
    Magnetic Stirrer
    Waterbath
    Labu leher tiga
    Termometer
    Pendingin balik
    Klem
    Statif
    Pipet volum


III.2. Gambar Rangkaian Alat

III.3. Prosedur Kerja
    Analisa kadar pati
    Persiapan bahan
Timbang 10 gr sampel  roti marie yang telah dihalusakan dalam gelas piala 250 ml, tambahkan 100 ml aquades dan aduk selama 1 jam. Suspensi disaring dengan kertas saing dan cuci dengan aquades sampai volume filtrat 250 ml. Filtrat dibuang.
Untuk bahan yang mengandung lemak, padatan yang telah disaring dicuci 5 kali dengan 10 ml ether. Biarkan ether menguap, kemudian cuci dengan 150 ml alkohol 10%.
    Standarisasi larutan fehling
Larutan fehling A sebanyak 5 ml dan larutan fehling B sebayak 5 mml dicampur lalu ditambah 15 ml larutan glukosa standar dari buret. Campuran didihkan selama 2 menit. Kemudian masih dalam keadaaan mendidih, penetesan glukosa dilanjutkan sampai warna biru hampir hilang. Penambahan ini dilakukan dalam waktu 1 menit. Seetelah itu campuran ditambah 2- 4 tetes indikator MB, dan titrasi dilanjtkan sampai warna merah. Catat volume glukosa standar yang diperlukan (F).
    Penentuan kadar pati
10 gr pati dilarutkan dalam 100 ml HCl 0,1 N. Larutan dipanaskan pada suhu + 100o C selama 1 jam. Setelah itu didinginkan, diencerkan dengan aquades sampai 500 ml, dan netralkan. Diambil 5 ml, diencerkan sampai 100 ml, diambil 5 ml. Kemudia dititrasi 5 ml sampel+5ml fehling A+5 ml fehling B+15 ml glukosa standar, dipanaskan sampai mendidih ditambahkan 3 tetes indikator MB.  2 menit dari mendidih, larutan dititrasi dengan glukosa standar hingga warna berubah menjadi merah bata. Catat kebutuhan titran (M ml). Hitung kadar pati. Yang perlu diperhatikan, proses titrasi dilakukan dalam keadaan mendidih (di atas kompor), titrasi efektif dilakukan maksimal 1 jam.
    X=((F-M)N(100/5)(B/5))/W
Dengan B=500 ml, jika ingin diperoleh kadar pati dikalikan dengan 0,9
Keterangan:
X= hasil glukosa, dalam bagian berat pati
F= larutan glukosa standar yang diperlukan
M= larutan glukosa standar yang digunakan untuk menitrasi sampel
N= gr glukosa/ml larutan standar = 0,0025 gr/l
W= berat pati yang dihidrolisis, gr
B= volume larutan suspensi pati dalam reaktor yang dihdrolisis
    Pembuatan larutan fehling
    Larutan fehling A
Dibuat dengan melarutkan 34,639 gr CuSO45H2O dalam 500 ml aquades, zat padat yang terlarut disaring
    Larutan fehling B
Dibuat dengan melarutkan 172 gr Kalium Natrium Tartrat (KnaC4H4O64H2O) dan 50 gr NaOH dalam aquades sampai volumenya menjadi 500 ml lalu dibiarkan selama 2 hari. Selanjutnya larutan disaring dengan wol glass.
    Pembuatan larutan glukosa standar
Ddibuat dengan melarutkan 2,5 gr glukosa anhidris dengan air suling sampai volume 1000 ml.

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


IV.1. Hasil Percobaan
    Standarisasi larutan fehling
Volume larutan standar yang dibutuhkan (F) = 24,4 ml
    Penentuan kadar pati
Volume titran glukosa standar (M) = 21 ml
    Berat pati yang ditemukan dalam percobaan (X) = 1,35 gr
Berat pati sebenarnya = 20 gr
% error = 93%

IV.2. Pembahasan
    Kadar pati yang ditemukan lebih kecil
    Hal tersebut dikarenakan pemanasan dilakukan terlalu lama (setelah mendidih). Pemanasan akan mempercepat laju reaksi. Pemanasan pada saat titrasi (setelah mendidih) akan menyebabkan reaksi antara campuran fehling dan glukosa standar semakin cepat, sehingga larutan fehling cepat dan banyak tereduksi. Pada reaksi antara glukosa dan fehling, ion Cu2+ akan direduksi menjadi Cu. Hal ini karena glukosa terdapat gugus aldehid yang merupakan reduktor kuat yang dapat mereduksi fehling menjadi Cu2O
    R-CH=O + 2Cu2+ + 5OH- → R-C-OH + Cu2O + 3H2O
    Hal ini mengakibatkan volume titran yang dibutuhkan lebih sedikit. Ion Cu2+ yang direduksi menjadi Cu+ tidak hanya direduksi oleh gugus aldehid yang ada di dalam glukosa standar melainkan juga direduksi oleh gugus aldehid dari glukosa yang ada di dalam sampel sehingga titran yang dibutuhkan lebih sedikit.
(Reff: www.univ.uit.umas.edv)

    Tujuan standarisasi glukosa anhidris
    Glukosa anhidris dilarutkan dalam aquades guna mendapatkan glukosa standar. Larutan tersebut perlu distandarisasi terlebih dahulu karena merupakan larutan standar sekunder, di mana normalitasnya dapat berubah (sesuai volume dan massa)
    N = M eq
            = m1000/(BM V) eq
          = 1,25x1000/180x500 . 1
        = 0,1 N
Normalitasnya adalah 0,1 N
Larutan glukosa standar digunakan untuk melakukan titrasi terhadap larutan yang sudah diberi fehling A dan fehling B. Glukosa merupakan aldehid dan reduktor kuat sehingga akan mereduksi fehling menajdi Cu2O dan membentuk endapan merah bata,

(Reff: www.wikipedia.org)
    Munculnya endapan merah bata
    Larutan glukosa standar berfungsi untuk menitrasi larutan fehling A dan fehling B yang telah bercampur dengan sampel. Glukosa tersebut akan mereduksi fehling menjadi Cu2O sehingga membentuk ebdapan merah bata.

(Reff: David S, Page, 153)
    Cara kerja larutan fehling
    Bila larutan fehling A dan fehling B dicampur dengan volume yang sama maka dihasilakn larutan yang berwarna biru tua. Adanya glukosa atau heksosa pada karbohidrat mereduksi larutan fehling menjadi Cu2O dan meimbulkan adanya warna merah bata. Sehingga adanya karbohidrat pada suatu sampel dapat diidentifikasi menggunakan larutan fehling.

Reduksi

Oksidasi

(Reff: David S. Page, 153)
    Koefisien 0,9
    Untuk menghitung kadar pati yang ada di roti marie harus dikalikan dengan 0,9 sesuai dengan rumus:
    X=((F-M)N(100/5)(B/5))/W x0,9
Koefisien 0,9 merupakan rasio perbandingan berat molekul glukosa dengan berat molekul pati:
Glukosa C6H12O6 BM = 180
Pati        C6H12O6 BM = 162
    Koefisien = (BM Pati)/(BM Glukosa)
                = 162/180
                         =  0,9
(Reff: Tabel SPU)

BAB V
PENUTUP


V.1. Kesimpulan
1. Kadar pati dalam percobaan roti marie 1,35 gr dan kadar asli 20 gr dengan persen error 93%
2. Pemanasan saat titrasi mempercepat laju reaksi sehingga makin banyak fehling yang tereduksi dan volume titran makin sedikit
3. Glukosa anhidris perlu distandarisasi karena larutan standar sekunder
4. Fehling digunakan untuk menganalisa gugus aldehid (glukosa)
5. Endapan merah bata Cu2O hasil reduksi larutan fehling
6. 0,9 merupakan rasio perbandingan BM pati dengan glukosa

V.2. Saran
1. Sampel harus benar-benar halus dan kering
2. Standarisasi larutan fehling harus ddilakukan secara teliti
3. Titrasi dengan glukosa standar harus dalam keadaan mendidih
4. Glukosa standar harus distandarisasi terlebih dahulu

DAFTAR PUSTAKA


A.O.A.C., Official Method of Analysis of the A.O.A.C, II ed, P.539-540, Washington D.C., 1970
Dasar-Dasar Biokimia
Groggins, PH, Unit Processes in Organic Syntesis”, 5 ed, PP.750-783, Mc.Graw Hill Book Company Inc, New York, 1950
Kerr, R.W., Chemistry and Industry of Strach”, 2 ed, PP.375-403, Academic Press Inc, New York, 1950
Woodman, A. Food Analysis, 4 ed, PP.264-265, Mc Graw Hill Book Company Inc, New York, 1941
www.wikipedia.org