Sabtu, 29 Januari 2011

Hope Is A Dream That Doesn't Sleep

Lirik terjemahan ini adalah soundtrack dari drama korea Bread, Love, and Dreams. Selain lagunya yang memang enak didengar, liriknya pun ternyata sangat bagus.

It doesn’t matter if I’m lonely. Whenever I think of you
A smile spreads across my face.
It doesn’t matter if I’m tired. Whenever you are happy
My heart is filled with love.

Today I might live in a harsh world again.
Even if I’m tired, when I close my eyes, I only see your image.
The dreams that are still ringing in my ears
Are leaving my side towards you.

Everyday my life is like a dream.
If we can look at each other and love each
I’ll stand up again.

To me, the happiness of those precious memories
Will be warmer during hard times.
For me, hope is a dream that never sleeps.

Like a shadow by my side you always
Quietly come to me.
To see if I’m hurt, to see if I’m lonely everyday
With feelings of yearning, you come to me.

Even if the world makes me cry, I’m okay.
Because you are always by my side.
Like dust, will those memories change and leave?
I’ll keep smiling to ease my heart.

Everyday my life is like a dream.
If we can look at each other and love each
I’ll stand up again.

To me, the happiness of those precious memories
Will be warmer during hard times.
For me, hope is a dream that never sleeps.

No matter how many times I stumble and fall
I’m still standing like this.
I only have one heart.
When I’m tired you become my strength.
My heart is towards you forever.

So I swallowed the hurt and grief.
I’ll only show you my smiling form.
It doesn’t even hurt now.

I’ll always hold on to the dreams I want to fulfill with you
I’ll try to call for you at the place I cannot reach
I love you with all my heart.

PADI - Discography

Dari sekian banyak grup band yang makin menjamur belakangan ini, nampaknya hanya ada satu grup band yang mempu membuat saya tetap setia untuk jatuh cinta kepadanya. Lima album telah ditelurkan band beranggotakan Fadly (vokal), Piyu (gitar), Ari (gitar), Rindra (bass), dan Yoyok (drum) ini. Meski sekarang harus bersaing dengan puluhan band absurd yang muncul, saya rasa Padi masih mampu mempertahankan eksistensinya di industri musik Indonesia. Padi bukan band kacangan yang mengikuti selera pasar, melainkan band yang selalu menciptakan musik yang berkualitas. Seridaknya sudah lima album mereka keluarkan dan kebanyakan lagu-lagu mereka selalu menjadi hits.

LAIN DUNIA (1999)
Album pertama Padi ini cukup laris di pasaran dan langsung disambut baik oleh pencinta musik Indonesia. Single Sobat langsung digemari remaja kala itu. Selain itu ada pula lagu Mahadewi yang memiliki aransemen luar biasa indah yang juga menjadi hits. Lagu andalan lain antara lain Begitu Indah, dan Seperti Kekasihku.

  1. Bidadari
  2. Demi Cinta
  3. Sudahlah
  4. Beri Aku Arti
  5. Terlanjur
  6. Begitu Indah
  7. Mahadewi
  8. Di Sini Tanpamu
  9. Seperti Kekasihku
  10. Sobat
Download Full Album  Lain Dunia


SESUATU YANG TERTUNDA (2001)
Bisa dibilang ini album terlaris yang dimiliki Padi. Album ini kebanyakan berkisah tentang cinta. Hits andalannya antara lain Sesuatu yang Indah, Kasih Tak Sampai, dan Semua Tak Sama. Di album ini pula Padi cukup banyak mendapatkan penghargaan dari berbagai ajang penghargaan musik. Lagu-lagu di album ini begitu easy listening sehingga begitu diminati remaja kala itu
  1. Bayangkanlah
  2. Sesuatu Yang Indah
  3. Semua Tak Sama
  4. Kemana Angin Berhembus
  5.  Lain Dunia
  6. Perjalanan Ini
  7. Seandainya Bisa Memilih
  8. Angkuh
  9. Lingkaran
  10. Kasih Tak Sampai
Download Full Album   Sesuatu yang Tertunda

SAVE MY SOUL (2003)
Di album ketiga mereka, Padi membuat sebuah gebrakan baru. Di album ini akan jarang sekali kita temukan musik mendayu menyentuh hati seperti di album sebelumnya. Musik di Save My Soul ini agak "keras" dan liriknya pun lebih banyak berbicara tentang kegelapan (bukan lagi cinta). Di sini Padi menunjukkan sisi lainnya melalui aransemen musik yang lebih mantap dan lebih "rock". Hits di album ini antara lain Hitam, Rapuh, dan Patah. Padi berhasil berkolaborasi dengan Iwan Fals dalam lagu Sesuatu yang Tertunda. Pada album ketiga ini pun Padi berhasil menyabet banyak nominasi di AMI Award. Padi berani tampil beda di album ini. Walau harus diakui beberapa penggemar butuh adaptasi lagi dengan jenis musik yang mereka bawakan.
  1. Ketakjuban
  2. Hitam
  3. Rapuh
  4. Di Atas Bumi Kita Berpijak
  5. Cahaya Mata
  6. Menanti Keajaiban
  7. Menjadi Bijak
  8. Sesuatu yang Tertunda
  9. Patah
  10. Rephan Hati
Download Full Album  Save My Soul


SELF TITLED-PADI (2005)
Padi kembali muncul dengan lagu yang easy listening. Salah satu single di album ini, Menanti Sebuah Jawaban, bahkan menjadi soundtrack film Ungu Violet. Padi juga berkolaborasi dengan Idris Sardi dalam lagu Masih Tetap Tersenyum. Lagu-lagu andalan di album ini antara lain Ternyata Cinta, Siapakah Gerangan Dirinya, dan Tak Hanya Diam. Di sini Padi kembali mengusung tema cinta pada lagu-lagunya.
  1. Prolog
  2. Tak Hanya Diam
  3. Menanti Sebuah Jawaban
  4. Elok
  5. Siapakah Gerangan Dirinya
  6. Menerobos Gelap
  7. Save My Soul
  8. Akhir Dunia
  9. Ternyata Cinta
  10. Masih Tetap Tersenyum
Download Full Album  Self Titled-Padi


TAK HANYA DIAM (2007)
Di tahun inilah Padi kembali merilis album di tengah ketatnya persaingan munculnya band-band baru macam Kerispatih dan Nidji. Single andalan di album kelima ini adalah Sang Penghibur. Selain itu ada pula Harmony, Belum Terlambat, dan Jangan Datang Malam Ini yang enak untuk didengarkan. Meski angka penjualan album ini tak sefenomenal album-album sebelumnya, setidaknya melalui album ini Padi berhasil menunjukkan bahwa mereka masih ada di industri musik Indonesia.
  1. Sang Penghibur
  2. Harmony
  3. Belum Terlambat
  4. Rencana Besar
  5. Terluka
  6. Jika Engkau Bersedih
  7. Teruslah Benyanyi
  8. Ode
  9. Jangan Datang Malam Ini
  10. Aku Bisa Menjadi Kekasih
Download Full Album  Tak Hanya Diam


Selain itu, Padi juga pernah mengeluarkan single Work of Heaven yang mengisi OST World Cup 2002. Saat itu Padi mewakili Indonesia untuk mengisi album tersebut. Di akhir tahun 2010 ini pun Padi kembali mengeluarkan single Sahabat Selamanya yang menjadi soundtrack Ipin dan Upin.

Kamis, 27 Januari 2011

Challenger

 sebuah tulisan yang saya ambil dari note facebook guru SMP saya


Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun terjadilah.

Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challenger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center.

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini ?

Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa. Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih orang lain yaitu Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku?

Bagian diriku yang mana yang kurang?Mengapa aku diperlakukan kejam ?

Aku berpaling pada ayahku. Katanya: “Semua terjadi karena suatu alasan.”

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang.

Aku teringat kata-kata ayahku: “Semua terjadi karena suatu alasan.” Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang….

Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.

Tuhan mengabulkan doa kita dengan 3 cara:
  1. Apabila Tuhan mengatakan YA. Maka kita akan mendapatkan apa yang kita minta.
  2. Apabila Tuhan mengatakan TIDAK. Maka mungkin kita akan mendapatkan yang lain yang lebih sesuai untuk kita.
  3. Apabila Tuhan mengatakan TUNGGU. Maka mungkin kita akan mendapatkan yang terbaik sesuai dengan kehendakNYA.

70 Tahun Berdoa

sebuah tulisan yang saya ambil dari note facebook guru SMP saya.....

Ada seorang kakek yang tinggal di India. Umurnya sudah lebih dari 70 th. Sepanjang hidupnya selama 70 th itu, ia gunakan untuk menyembah berhala dari batu. Setiap hari ia begitu taat menyembah tuhannya itu.
Suatu ketika, kakek ini punya suatu keinginan. Ia pun kemudian mendatangi tuhannya seraya memohon agar doa`nya dapat dikabulkan.
“Oh, tuhanku Latta. Oh tuhanku Uzza. Tujuh puluh tahun aku terus menerus menyembahmu. Selama itu, tak ada sesuatupun yang aku mohonkan kepadamu. Sekarang, aku ada permohonan kepadamu. Mohon, kabulkanlah permohonanku ini”.
Kakek itu memohon sambil merengek-rengek kepada Latta dan Uzza kiranya doa`nya dapat dikabulkan. Demikian seterusnya dia lakukan. Setelah sampai tujuh puluh kali doa` itu ia panjatkan, tak ada sedikitpun pengabulan dari berhala tuhannya yang ia peroleh. Maka kakek itu sedih sekali dan akhirnya putus asa.
Dalam keputusasaannya itu, ternyata Allah SWT memberi hidayah kepada kakek. Hati sang kakek dilapangkan oleh Allah, dan sang kakek segera sadar akan kekeliruannya selama ini. Gantilah kakek itu berdoa` kepada Allah SWT .
” Ya Allah SWT, baru sekarang aku menghadap-Mu. Aku memohon ssuatu kepada-Mu. Kabulkanlah, ya Allah SWT, permohonanku ini “.
Selesai kakek itu bermunajat kepada Allah SWT, maka sesaat kemudian ia mendengar jawban dari Allah SWT.
” Wahai hamba-Ku, mintalah kamu kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu “.
Waktu para malaikat mendengar jawaban yang diberikan Allah SWT kepada sang kakek, maka gemparlah para malaikat.
” Ya Allah SWT, tujuh puluh tahun lamanya orang itu musyrik dan menyembah berhala. Dan telah tujuh puluh kali pula ia telah memohon kepada berhalanya agar dikabulkan permohonannya, namun itu tidak terjadi. Sekarang, ia baru sekali saja berdoa` kepada-Mu, mengapa Engkau kabulkan permohonannya itu ?”
Mendengar pertanyaan para malaikat itu, maka Allah SWT segera memberi penjelasan.
Wahai para malaikat, jika berhala yang benda mati itu tidak bisa mengabulkan permohonannya dan Aku-pun juga tidak, lalu dimana letak perbedaannya antara Aku dan berhala itu ?”

Jumat, 21 Januari 2011

Bread, Love, and Dreams: I think it's all about Forgive and Forgotten

Saya bukanlah penggemar drama Korea yang mengharu biru atau pun penggemar boyband (sekumpulan mas-mas yang energik nari-nari sambil nyanyi) korea yang sedang digandrungi ABG zaman sekarang. Saya masih bertahan di jalur saya sebagai penikmat musik dan film barat serta beberapa karya anak bangsa yang masih "nggenah" dan tidak absurd (beberapa grup band baru yang muncul dan film-film geje yang rilis belakangan ini adalah karya anak bangsa yang amat sangat absurd). Kalau pun akhir-akhir ini saya mngikuti sebuah drama korea yang ditayangkan di televisi, bukan berarti saya sekarang maniak korea. Ini hanya bagian dari perjalanan hidup di mana manusia pun sering masuk ke lubang kesalahan. Meski telah jatuh ke sebuah kesalahan besar, ada hal yang bisa saya petik dari sana. Saya bisa mengambil kesimpulan bahwa memang mata orang-orang Korea memang sipit seperti saya. Saya juga bisa mengerti mengapa banyak ABG suka orang Korea. Usut punya usut memang mereka memiliki wajah yang cute. Imut. Menggemaskan. Sayangnya saya tidak suka tipe-tipe macam Korea begitu. Kurang "cowok" menurut saya. Ah, tapi bukan ini sebenarnya yang ingin saya bicarakan! Bisa-bisanya jadi ngalor ngidul gini. Baiklah.. Ini hal yang ingin saya share kan...


Bread, Love, and Dreams. Inilah judul drama korea yang sedang saya ikuti. Awalnya saya hanya mendengar desas-desus cerita ini dari 2 kawan saya yang begitu menggemari drama korea - Risa dan Noor. Desas-desus kisah ini berlanjut hingga di kost ketika kawan saya menunda membeli beras dan telur (sebagai solusi pengiritan dalam hal makan) di sore hari hanya gara-gara tak mau melewatkan episode drama korea ini. Awalnya saya agak sebal juga, bagaimana bisa drama korea mengalahkan kepentingan kami dalam hal memepertahankan hidup di kost (baca: beli beras dan telur). Karena saat itu semua anak kost berkerubung di depan televisi, mau tak mau saya juga ikutan nimbrung. Sebenarnya sehari sebelumnya saya telah melihat drama itu di kost temen saya, tapi cuma sekilas. Belum mengerti ceritanya juga. Hari itulah kemudian saya mulai bisa mengerti jalan ceritanya sedikit demi sedikit setalah tanya-tanya teman kost. Dan sejak hari itulah saya jadi mengikuti terus kelanjutan kisahnya tanpa pernah melewatkannya sekali pun....


Di sini saya tidak akan membahas tentang alur kisah atau konflik-konflik yang ada. Saya akan menjabarkan tentang satu makna penting dari drama ini yang saya dapatkan dari sifat sang tokoh utama: Kim Tak Goo. Secara fisik, saya akui Kim Tak Goo memang imut. Wajahnya selalu penuh semyuman dan kebahagiaan. Tapi di sisi lain saya melihat dia kadang sebagai laki-laki cengeng yang gampang menangis. Namun satu hal yang membuat saya begitu kagum padanya adalah sifatnya yang begitu baik: memaafkan dan tak menyimpan dendam. Ada satu tokoh lagi bernama Ma Jun yang teramat menyebalkan di mata saya. Segala tingkah lakunya membuat saya gemas dan ingin memukul wajahnya. Perbuatan jahatnya terkadang amat sangat licik dan amat sangat "ala sinetron Indonesia banget". Ma Jun sangat membenci Kim Tak Goo. Segala hal ia lakukan untuk mengalahkan Tak Goo. Namun Tak Goo -entah mengapa di  begitu memiliki hati yang baik- tak pernah sedikit pun ingin membalas kebencian Ma Jun pada dirinya. Ada sebuah scene yang membuat saya begitu terharu. Saat itu Ma Jun begitu jahatnya pada Tak Goo: dia mengambil perempuan yang paling dicintai Tak Goo (entah siapa namanya, saya lupa) dan dia  juga telah membuat Tak Goo kehilangan indra perasa dan penciumannya. Kalau saya jadi Tak Goo, mungkin saya akan membunuh Ma Jun atau kalau perlu meminta kembali walkman yang diberikan untuk Ma Jun (waktu itu Tak Goo pernah mengganti walkman Ma Jun yang rusak dengan walkman yang baru dengan uang gajinya). Namun sayangnya Tak Goo bukanlah saya. Pernah suatu saat dia dengan polos bilang pada Ma Jun: aku tak akan pernah membencimu! What? Sudah gila kah dia? Disakiti berulang-ulang namun tak pernah sedikit pun membenci Ma Jun? Masih normalkah Tak Goo sebagai manusia? Di sinilah pelajaran yang bisa saya ambil.


Pengampunan adalah hal yang mungkin paling sulit dilakukan manusia. Manusia hidup dengan ego masing-masing. Manusia kerap  akan mudah marah kala idealismenya, idenya, pemikirannya, kebebasannya, atau keinginannya dirusak oleh orang lain. Manusia mudah terluka hatinya dan luka tadi tak kunjung kering meski sudah bertahun-tahun. Manusia cenderung menyimpan luka hati selama hidupnya dan mengingat-ingat kesalahan-kesalahan orang lain padanya. Namun dari Tak Goo saya belajar tentang "Forgive and Forgotten": mengampuni dan melupakan. Dendam biasanya muncul karena kebencian yang sudah lama terpendam dan tak terungkapkan. Dendam yang telah tumbuh lama tak akan membuat kita tenang karena kita masih selalu mengingat perbuatan orang lain yang menyakiti kita. Mengampuni adalah solusi terbaik karena melalui pengampunan hati kita tenang, pikiran kita senantiasa positif, tak ada lagi hal-hal yang mengganjal di hati. Pengampunan adalah memberikan sedikit ruang bagi kebencian di dalam hati kita. Jadi penuhilah hati kita dengan cinta dan kasih, maka kebencian yang ada hanya akan mendapat ruangan yang sangat sempit. Sulit memang menghapus ruangan bagi kebencian karena itu sifat manusiawi kita. Oleh sebab itu berikanlah sedikit.. sedikit saja ruangan dalam hatimu bagi  kebencianmu. Ketika kebencian itu sudah tak betah lantaran ruangan yang kamu berikan terlampau sempit, maka dia akan pergi dengan sendirinya. Selain memberi pengampunan, hal lain yang harus kita lakukan adalah melupakan. Lupakanlah segala tindakan kawan atau musuh kita, lupakanlah sakit yang kita rasa, biarkanlah luka di hati kering dengan sendirinya seiring dengan senyuman di tiap langkah kita. So, do you wanna follow Kim Tak Goo? Cause I want to follow him.. Hahahahaha

Minggu, 02 Januari 2011

The Power of Dreams

Sejak kecil saya adalah orang yang percaya akan mimpi. Sebagaimana dengan manusia normal kebanyakan, saya punya segudang mimpi di hidup saya. Bagi saya, mimpi merupakan fungsi waktu. Mimpi-mimpi akan semakin berubah atau bertambah seiring berjalannya waktu. Tidak percaya? Inilah perjalanan mimpi saya:
  • Saat masih TK, saya punya mimpi ingin menjadi artis cilik gara-gara kebanyakan lihat artis cilik zaman itu macam Trio Kwek-Kwek. Kayaknya seru aja jadi kayak mereka. Masih kecil, banyak yang suka, dapet duit lagi
  • Beranjak SD (masih awal SD, cupu..), mimpi saya mulai rada realistis: pengin jadi astronot. Waktu itu saya ingat ada iklan Pepsodent yang bercerita tentang cita-cita seorang anak. Sang anak berkata pengin jadi astronot. Lalu orang tua berkata: astronot giginya ga boleh bolong. Dari situlah saya terhipnotis. Saya jadi tertarik jadi astronot kemudian dengan hebohnya minta dibeliin Pepsodent biar giginya ga bolong (Well, sebegitu besar dampak iklan terhadap anak kecil macam saya...)
  • SD pertengahan (kelas 4 an ke atas lah), mulai muncul mimpi geje lagi. Zaman itu pas lagi booming nya boyband macam BSB, Westlife, N sync. Saya pun mulai doyan nari-nari kalo liat mereka di MTV. Pernah kepikiran pengin jadi penari latar mereka... *kalo inget bagian ini pengin muntah rasanya
  • Zaman SMP, mimpi ini sudah berada di jalur yang "benar". Saya pengin jadi dokter. Mimpi yang sangat mulia kan? Realistis juga karena saat itu otak saya masih berfungsi sebagaimana mestinya (baca: saya pintar). Mimpi itu dilatarbelakangi oleh seseorang. Saat itu saya naksir mas-mas dokter. Jadi entah kenapa mimpi menjadi dokter tiba-tiba muncul. Lagipula jaminan masa depan dokter lumayan cerah ~ kaya maksud e.. hahaha
  • Beranjak SMA, pemikiran saya semakin lebih dewasa. Menimbang kecerdasan saya yang semakin menurun (sebenernya tetep pinter kok, cuma MALAS nya itu gak ketulungan..), kelemotan otak saya yang tiba-tiba muncul, nilai-nilai yang semakin amburadul (pernah saya dapat 35 untuk fisika di rapor bayangan ~ rapor tengah semester, berfungsi untuk menakut-nakuti siswa), dan kehidupan yang semakin nakal juga ~ mulai kenal CINTA.. hahahaha; maka saya putuskan berubah haluan: pengin jadi apoteker aja! Ini jelas lebih realistis karena cewek IPA biasane minim kesempatan. Mau di teknik kayake berat, kalo pinter banget plus punya duit bisa lah nyoba kedokteran. La kalo saya? Dengan modal kemampuan IPA yang minim, saya hanya berani mencoba Farmasi (matematika plus fisika nya dikit, banyak biologinya..)
But dreams are just dreams. Semuanya kembali ama decision maker nya, yaitu Tuhan. Ternayata Tuhan ga mengizinkan saya menjadi artis cilik, astronot, menjadi penari latar, dokter, atau bahkan apoteker. Saat ini saya "diletakkan" di Teknik Kimia. Kalau saya berjalan menurut jalur yang benar, harusnya saya jadi insinyur. Namun kadang mimpi saya emang ekstrim. Apa yang saya lihat, saya suka, dan saya demen; langsung terpatok di otak saya. Dulu sempat suka liat Captain Tsubasa, lalu sempet pengin jadi manajer klub bola kayak di kartun itu (terkadang ampe mikir kalo-kalo saya kemudian cinlok ama kaptennya, persis kayak cerita kartun geje itu..).  Untung sekarang saya sudah ga gitu lagi (bayangin aja kalo saat ini lagi demen ama Spongebob, ga mungkin kan punya mimpi jadi kayak spongebob gitu.. Bisa-bisa saya pake baju ala spongebob buat ke kampus.. hadoohhh).

Meski sudah disuratkan untuk menimba ilmu di teknik kimia, saya masih saja punya mimpi yang "menyimpang". Saya punya mimpi menjadi JURNALIS sekaligus PENULIS. Sangat menyimpang bukan? Mana ada hubungan jurnalis ama reaktor, mana ada hubungan antara neraca massa dengan penulis. Dreams are like love, sulit dimengerti dan dipahami. Kenapa ga dari dulu masuk kuliah penyiaran aja? Kenapa ga dari  dulu masuk sastra aja? Hidup saya memang rumit, penuh pemikiran, dan kehati-hatian sekaligus penuh coba-coba. Siapa sangka tiba-tiba minat menulis saya menjadi bangkit kembali saat saya kuliah di teknik kimia? Siapa sangka imajinasi saya dalam menulis kembali muncul saat saya masuk Kinetika? Jujur saya ga punya harapan berlebih akan mimpi saya saat ini. Harus saya akui juga minat serta bakat menulis saya bisa tiba-tiba luntur oleh jutaan tugas kuliah, ribuan mata kuliah yang tak pernah saya mengerti, dan ratusan masalah selama kuliah. Namun ada satu hal yang ingin saya pahami dari mimpi itu...

Mimpi itu hal murah. Gratis. Maka saya suka bermimpi. Mimpi itu bukan khayalan. Kalau khayalan adalah hal-hal yang sangat tidak realistis yang mucul di otak (ex: manusia bertelur, pergi kuliah naek pesawat, pengin jadi orang kaya tapi ga kerja, dll). Tapi mimpi jelas berbeda dengan khayalan. Definisi mimpi menurut saya: sesuatu yang mendorong manusia untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bersifat realistis. Mimpi mampu menjadi motivator terbaik buat saya. Mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia (pinjem liriknya Nidji deh). Kalau kita punya mimpi berarti kita berpikir selangkah lebih maju. Mimpi itu tak akan lekang oleh waktu (jika dipupuk dan dijaga). Meski suatu saat nanti mungkin saya akan menjadi PNS (kebetulan ini lagi jadi trending topic di rumah saya) ato ibu rumah tangga, saya rasa mimpi menjadi seorang penulis dan jurnalis akan tetap ada. Saya pasti akan tetap menulis meski menjadi PNS. Saya akan tetep menulis walau harus tetep ngemong anak. Itulah yang saya namakan dengan The Power of Dreams. Kekuatan yang mampu mengalahkan kepesimisan kita akan dunia ini. Bermimpilah, karena bermimpi itu GRATIS dan HALAL. Bagi saya, orang yang punya mimpi adalah orang yang punya tujuan di masa depan..

Minggu, 26 Desember 2010

I Wanna Play This

ada satu lagu yang tiba-tiba aku suka akhir-akhir ini. Tiba-tiba demen lagi ama lagu ini. Dan tiba-tiba terobsesi pengin bisa main lagu ini. Langsung nyari tutorial di youtube. Langsung praktik setelah sejuta kali lihat videonya plus sedikit improvisasi di sana sini. Walau ga selincah yang nyanyi.. Tapi cukup untuk menghibur hati... Moga-moga jari ini makin lincah dengan sendirinya (maklum kebanyakan nulis laporan, bukan main musik. Jadi kadang kaku..hehehhe)

Melle - Built to Last



Jumat, 24 Desember 2010

SOLUTE - A Drug of Broken Heart

Setelah sempet dua hari patah hati, maka di hari berikutnya aku mulai bersikap rada melow-melow gitu dengan muter lagu-lagu ala orang patah hati. Namun ujung-ujungnya malah aku muter lagu ajeb-ajeb kayak "Cukup Siti Nurbaya" nya Dewa 19, "Hitam" nya Padi, dan yang terakhir adalah "No Love" kepunyaan Simple Plan. Rada aneh juga menjelang Natal besok malah muter lagu begituan. Padahal jauh-jauh hari kemarin aku muter lagu Natal melulu di kost sebagai usaha menyambut datangnya Sinterklas di jemuran sebelah kamar (maklum aku selalu menaruh kaus kaki di jemuran belakangan ini. Kadang imajinasiku berlebih macam tiba-tiba aja pas bangun pagi tuh kaus kaki udah ada kado di dalamnya...). Entah karena kejadian patah hati tiba-tiba ini segala mood jadi berubah. Termasuk yang terjadi hari ini....


Aku terbangun pukul 06.45 dengan kondisi perut lapar. Kondisi udara yang begitu dingin di Magelang membuat tubuh ini enggan beranjak dari kasur. Setelah kucek-kucek mata bentar, menguap sejuta kali, dan puter-puter badan; akhirnya aku berhasil keluar dari jerat kasur. Waktu keluar kamar aku kaget melihat pemandangan yang ada: kakak cowok lagi serius bikin TA (kayaknya dari pagi-pagi buta), kakak cewek mandi, papa nonton Editorial Media Indonesia, dan mama seperti biasa ngomel-ngomel geje di pagi hari. Well, aku paling telat bangun!!! *LUWEH... Agenda hari ini pun disusun: mandi, makan omelet, OL bentar, dilanjutkan belanja roti buat Natal (semua dilakukan semata-mata untuk menghapus sedikit rasa sakit yang masih tersisa..hahahahahaha).

Perjalanan membeli roti untuk Natal adalah perjalanan yang cukup melelahkan. Mama muter-muter nyari roti ini itu sambil komen melulu. Mahal lah, kok kuenya ga bervariasi lah, toplesnya pecah lah, dan masih banyak lagi keluhan ala ibu-ibu yang keluar. Aku cuma diminta pendapat sesekali: sing iki doyan gak? Sesuk selasa diasta nggih nggo kancane.. (translate: yang ini suka gak? besok selasa dibawa ya buat teman-teman..). Jawabanku hanya sebuah anggukan kecil sambil mata menerawang ke mana-mana nyari kue yang ada unsur coklatnya. Akhirnya pencarian roti di tempat pertama mengalami kegagalan. Setelah muuter lama-lama mama hanya membeli dua toples jenis makanan saja. Kami sepakat mencari roti lain di toko daerah jalan Ikhlas saja. Well, ternyata toko di sana ga kalah crowded. Ratusan pengunjung datang. Rada bete juga lihat lautan manusia kayak gitu. Namun kebetulan tiba-tiba sirna saat mata ini melihat tumpukan rak berisi roti-roti berbahan coklat. Aku langsung nyamperin rak itu dan langsung memilih-milih beberapa roti yang dirasa enak. Mama meilih untuk antri membeli roti kilo an. Sedangkan papa yang nganter kami cuma lihat-lihat berkeliling. Setelah satu jam hidup sumpek di toko tadi, kami pun mulai beranjak pulang dengan wajah berseri-seri (wajahku paling berseri-seri plus ditambah tampang ngiler pengin makan tuh roti-roti).

Sampai di rumah entah kenapa tiba-tiba ingat kejadian belakangan hari ini yang lagi-lagi bikin sedih, miris, teriris-iris, hingga aku menjadi makhluk paling mengenaskan hari ini. Maka aku putuskan untuk dunlud video-video saja guna memecah gundah ini. Pertama aku searching video-video David Archuleta, dari awal dia masih culun ampe sekarang jadi imut plus ganteng. Lalu tiba-tiba inget lagu Built to Last nya Malee, jadilah aku nyari videonya sekalian nostalgia zaman SMA. Habis itu aku stuck. Mo liat apa lagi? Backstreet Boys udah komplit, video laga-laga AS Roma belakangan ini udah au dunlud, ga mungkin juga aku dunlud video cowok-cowok nari (baca: boyband korea... Kayaknya dua MV Super Junior di kompiku udah cukup deh, ga usah nambah). Lalu aku alihkan perhatian sejenak ke Facebook. Sekilas aku liat foto mas ferdi di sana. Entah kenapa tiba-tiba terlintas SOLUTE di kepala ini. Maka iseng-iseng aku ketik 'solute' di youtube. Alhasil ternyata ada 3 video yang muncul di sana. Didorong oleh rasa ingin tahu plus penasaran, maka aku bukalah satu per satu video-video tadi.

Pertama: aku buka video SOLUTE saat maen lagu Cinta Kau dan Dia

Kebetulan saat itu ada kakakku yang cowok. Maka obrolan inilah yang terjadi
Kakak Cowok (KC): opo kuwi? (apa itu?)
Aku (A): SOLUTE, mas. Band e seniorku. Cah 2007... (SOLUTE, mas. Band nya seniorku. Anak 2007...)
KC: nyanyi opo kuwi? rak jelas (nyanyi apa? ga jelas)
A: Cinta Kau dan Dia ne Ahmad Dani kae lo
KC: vokalis e kuwi lo.. Rambut e nganti nutupi mripat (vokalis e itu lo.. Rambutnya ampe nutupin mata)
A: (ngekek.. hahahahaha... dalam hati: masku berisik amat to...)
(kemudian hening sejenak, kami menikmati video itu...)
KC: (ngekek... hahahahahaha...) wagu vokalis e ah. mau nek nyanyi rak mbukak bibir e, nek pas bagian lirik sing 'cinta kau dan diiaaaaaa' mulut e mbukak e amba tenan......
A: yo iyolah.. masak muni 'diiiaaaaa' karo mingkem yo gak iso to... (ya iyalah.. masak bilang 'diiiaaaa' sambil mulut nutup rapet mana bisa...)
(mencoba membela SOLUTE, bagaimana pun juga mereka dari tekim undip)
KC: eh kuwi... gitaris e rupa ne korea tenan... (eh itu.. gitarisnya wajahnya korea banget..)
A: ahahahahahaha... he'eh og.. akeh sing bilang gitu
KC: mesakke yo drummer e ga ketok. ketutupan vokalis e (kasian yo drummer nya ga keliatan. ketutup ama vokalisnya)
A: yah emang vokalis kudu ning ngarep kan (yah emang vokalis harus e di depan kan). front man gitu.
(beberapa saat kemudian....)
KC: ah bosen.. liyane wae!! (ah bosen.. yang lain aja!!)

Kedua: aku buka video SOLUTE yang Bento..
KC: rada lumayan ki intro ne *udah mulai memuji dikit*
A: kayake nggawe aransemen dhewe wez (kayaknya bikin aransemen sendiri deh)
KC: ooohhh..
(hening sejenak)
KC: wah., sumpah vokalis e ekspresif! Rambut e melambai-lambai *mulai komen geje lagi*
A: ah kowe ki kakehan komen og!! (ah kamu tuh kebanyakan komen!!) *mulai emosi, jadi ga bisa menikmati SOLUTE
KC: intro ne dawa tenan ik *mulai berisik lagi
(no sound...)
KC: weh.. lumayan juga ki band e... kreatif. Ga alay.
A: Wez terbuka to matamu?
KC: sing Bento luwih apik daripada sing pertama mau. Tenan *mata udah mulai berbinar, obrolan udah menjurus ke lebih serius
A: he'eh ik sing Bento luwih apik emang
KC: vokalis e gayane ga alay, pas lah. Mung rambut e ae sing melambai-lambai kayak iklan shampoo clear. apik sih komposisi musik e. cuma mungkin kasih kesempatan yang lain buat nampang juga lah. drummer karo bassist e ki lo ga ketok blas..
A: (dalam hati: drummer ki wez cilik ga ketok meneh.. hahaha)

Finally, obrolan kami pun berkutat di sekitar SOLUTE. Maka aku jelaskanlah SOLUTE sebisanya (maklum kalo ditanya sejarah namanya mana aku tahu.. pokoke asal tahu nama personil e lah..haahhaha). Intinya kami bisa menikmati musik SOLUTE. Seenggaknya SOLUTE ga se-geje band labil macam Kangen Band ato Taxi Band ato bahkan boyband ala korea yang ditiru Indonesia. Kami juga mbahas tuh video yang kami tonton. Bagaimana pun juga sang vokalis menjadi trending topic kami: mulai dari suara, gaya nyanyi, gaya rambut, ampe pose-pose di tiap video (aduh maap ya bukan maksud nggosip in vokalis, tapi gimana lagi.. La dia yang paling depan, mau ga mau jadi bahan pembicaraan lah.. hehehehe). Intinya kami punya harapan lebih ama band ini. Moga aja kelak, entah beberapa tahun lagi.. Aku bakal liat mereka manggung di tipi menggusur band-band labil zaman sekarang.. Trus kalo mereka bikin album, aku usahakan aku lah orang yang pertama beli (alay.... xixixixixixixi). Sukses buat SOLUTE deh! Special thanks juga karena SOLUTE udah bikin aku ketawa terkekek-kekek seharian karena liat gaya kalian di video... SOLUTE lah yang bikin aku bisa senyum lagi setelah sempet manyun beberapa menit... Wajar aku menyebutnya: SOLUTE - a drug of broken heart :)


Kamis, 23 Desember 2010

Fixing As Broken Heart - pinjem judul lagu

Virus Raditya Dika lagi hidup dan bersemi di jiwa gue. Entah kenapa kisah yang baru aja gue baca dari novel kelimanya - Marmut Merah Jambu - seolah menjadi de javu buat gue. Gue ga tau itu cuma kebetulan ato emang Tuhan pengin ngasih jawaban ke gue melalui kisah di novel itu. Maaf kalo kali ini gaya bahasa gue rada mirip Raditya Dika (maklum dari pagi ampe malam gue nglahap habis kisah-kisahnya, maaf juga kalau kini kata "gue" dan "elo" banyak muncul). Well, gue ga mau banyak omong. Gue udah ngebet cerita karena sebenernya nih cerita gue tulis dari kemaren-kemaren (gara-gara tugas kespros batal deh bikin ni tulisan).


Lo pernah jatuh cinta? Lo pernah sakit gara-gara jatuh cinta? Banyak kisah menyedihkan soal cinta. Kisah Romeo dan Juliet yang ga bisa bersatu karena perbedaan, kisah Siti Nurbaya yang gagal memperoleh cinta sejati lantaran dijodohin ama ortunya, kisah romantis mendayu-dayu ala Titanic yang malah berujung pada kematian, kisah dua insan beda agama yang berpisah padahal Tuhan itu satu, ampe kisah cinta ga logis kucing yang jatuh cinta ama tikus yang harus rela ga bisa bersatu karena Tuhan menakdirkan mereka buat berantem melulu. Kita emang bisa gila kalo bicara soal cinta. Namun dari segala kisah sedih mengharu biru yang pernah ada, kisah "cinta bertepuk sebelah tangan" alias cinta tak berbalas adalah kisah paling dramatis yang pernah ada. Efek dari kisah ini begitu dahsyat: patah hati berkepanjangan, trauma jatuh cinta, berdiam diri ampe berhari-hari bahkan berminggu-minggu, sampai yang paling kronis adalah ga doyan makan dan minum. Sebegitukah efek cinta tak berbalas? Apa iya ampe parah kayak gitu? Ga semua orang patah hati itu bisa memiliki tanda-tanda yang gue sebutin tadi. Tanda-tanda tadi cuma berlaku buat orang lebai stadium empat yang lagi nunggu malaikat datang buat bilang ke dia: 'sudah waktunya buat ketemu Tuhan. Yuk ikut gue'. Intinya, respon orang-orang yang baru aja patah hati itu berbeda-beda. Ada yang kuat, ada yang 'sok kuat', dan ada yang rapuh. Kenapa gue tiba-tiba bicara patah hati? Apa gue baru aja patah hati? Maybe it's true! Yeah, gue baru aja broken heart. Parahnya, ceritanya rada-rada mirip kisah di novel Marmut Merah Jambu yang judulnya 'Orang yang Jatuh Cinta Diam-diam'....

Gue emang lagi dalam kondisi sukacita menerima anugrah dari Tuhan berupa cinta. Dan cinta itu datang dari seorang cowok, sebut aja Dwi, yang akhir-akhir ini udah gue anggep kayak kakak gue sendiri. Dwi sebenarnya ga masuk daftar kriteria cowok yang gue pengin (mas-mas, tinggi, rada item, manis, rada tegap, cuek, dingin). Tapi entah kenapa Tuhan menciptakan tuh cowok sebagai laki-laki yang gue cintai belakangan ini. Dialah cowok yang kadang bikin gue cengar-cengir sendiri kalo lagi sms an ama dia, dia cowok yang bersedia menjadi tumpahan segala keluh kesah gue (gue kebiasaan curhat ama seorang cowok, dan setelah 2 tahun di tekim gue baru bisa nemu yang pas kayak dia), dia cowok yang kadang bikin gue sebel ama tingkah anehnya, dan dia cowok yang bisa meruntuhkan dinding beton yang nutupi hati gue bertahun-tahun lewat tingkahnya yang begitu sederhana. Selayaknya orang jatuh cinta, gue punya soundtrack tersendiri untuk perasaan gue belakangan ini. Gue pilih lagu You Can dari David Archuleta sebagai lagu wajib gue menjelang tidur malam. Rada alay sih cewek cuek kayak gue tiba-tiba jadi melankolis gara-gara cinta. Apalagi kalo lo nyimak liriknya dalam-dalam:
Tell me I'm not on my own
Tell me I won't be alone
Tell me what I'm feeling isn't some mistake
If anyone can make me fall in love, you can...
ato bagian ini:
This is where it all begins
so tell me it will never end
I can't fool myself it's you and no one else....
Hoeeekk... emang rada gombal tuh lagu. Tapi gue ngrasa tuh liriknya sebenarnya gue bangetlah. Maka jangan heran kalau lagi ga ada gawean di kampus (baca: nunggu dosen, nunggu kuliah, nunggu hujan reda) tuh lagu bisa gue dengerin ampe beribu kali! Bahkan saat tulisan ini dibuat gue muter lagu ini.

Overall, gue ama Dwi emang tak ada yang special. Kadang kalo lagi ada waktu gue sms an ama dia. Ada aja yang diomongin mulai dari bola, film, bacaan, curhatan gue yang geje, ato topik pembicaraan dia yang jauh lebih geje dari curhatan gue. Di mata gue Dwi itu baik,  dia pendengar yang paling baik yang pernah gue temui, dia sabar, dia pinter, dia teramat rohani di mata gue. Ga salah juga kalo akhirnya nganggep dia sebagai kakak gue. Bahkan ga salah juga kalo akhirnya rasa kagum gue berubah jadi cinta. Cinta emang datang tiba-tiba, cinta emang anugerah dari yang kuasa, dan cinta tak kan sia-sia ketika lo menyapa (loh, perasaan ini kok mirip lagunya Marcell ya.. hehehe). Pokoknya gue bahagia lah bisa jatuh cinta ama dia. Kadang ada rasa penasaran kalo ga liat dia seharian, kadang ada yang perasaan rada jengkel kalo liat dia ama cewek lain, kadang kayak ada panah nancep plus degupan jantung luar biasa kalau liat dia, dan yang paling parah gue ga pernah bisa berani natap matanya lama-lama. Yah, gue ngalami hal-hal yang sama kayak layaknya cewek yang jatuh cinta deh. Gue yakin lo pada juga tau gimana rasanya.

Gue ga pernah mengharapkan rasa gue ke Dwi berlanjut ke hal lain. Ato lebih gamblangnya gue ga pernah ngarep pengin pacaran ama dia. Gue cuma mau menikmati rasa ini, menjalani kisah ini, dia temen gue begitu juga gue adalah temen dia. Kalau pun boleh lebih gue pengin nganggep dia jadi kakak gue aja. Paling ga gue lebih seneng dia ga dimiliki siapa pun dan hati dia belom diberi buat orang lain lah (gue rasa sebagian besar cewek punya pikiran yang sama ama gue dalam hal ini). Tiap malam sebelum tidur gue berdoa: 'Tuhan, makasih buat cinta ini. Aku ga tau mau jadi apa nanti, tapi ijinkanlah aku menikmati ini seperti aku menikmati roti bakar (kebetulan gue demen amat ama roti bakar..). Jagai tidurnya di malam ini, Tuhan. Bangunkan dia di esok pagi dengan sukacita sama seperti engkau membangunkanku dengan sukacita pula'. Hmmm.. kelihatannya gue emang rada berlebihan ampe membawa nama dia ke dalam doa gue tiap malam. Entah kenapa gue suka berdoa buat orang-orang yang gue sayangi, termasuk si Dwi. Oh ya gue juga kadang bilang gini ke Tuhan: 'God please prepare my heart and my soul if there is something that can make me hurt'. Dari sini gamblang sudah kalo gue emang cuma pengin sayang ama dia with everything  I am tanpa pengin mengharap hal-hal berlebih dari Dwi. Asal dia masih jadi temen gue aja gue udah seneng...

Tapi emang kisah cinta sulit ditebak. Layaknya cerita sinetron ato FTV di tivi, kisah gue kali ini pun sebelas dua belas ama cerita bikinan sutradara sinetron stripping. Pada akhirnya pun gue harus menerima rasa sakit itu. Cinta diam-diam gue emang harus bertepuk sebelah tangan kayaknya. Baru aja gue sadari kalo emang sebenarnya sudah ada cewek di hatinya (seperti yang gue bilang tadi, gue lebih seneng dia ga ada yang punya dan dia ga mberi hatinya buat cewek lain. Intinya gue lebih seneng dia jadi free man). Walau sebenarnya si cewek, sebut aja X, juga belom tentu sebagai pilihan Dwi, tapi dari gerak-gerik Dwi dan tingkahnya (yang baru gue sadari juga) menunjukkan kalau dia emang sedang (atau pernah) jatuh cinta ama si X. Kalau boleh rada hiperbolis, rasanya dada gue kayak ditusuk ribuan duri dari batang mawar trus nancep dalam banget ampe ga bisa lepas. Seharian muka gue jadi sedih, pikiran jadi kosong, hasrat buat pulang menggebu, pengin nglepas beban, bahkan ga pengin liat muka Dwi. Well, gue kagak tau ada ga yang nyadar kalo muka gue berasa tambah kucel hari itu. Gue tiba-tiba aja bete hari itu. Males. Sulit deh gimana ngungkapinnya.

Jatuh cinta diam-diam emang ada asyik dan enggaknya. Asyiknya kita bisa merasa bahagia tiba-tiba, berasa dunia indah aja asal bisa lihat orang yang kita suka, pokoknya yang indah-indah lah. Di sisi lain jatuh cinta diam-diam ada ga enaknya: kita bisa mati gila ama perasaan yang dipendam melulu. Kita bisa aja sakit hati tiba-tiba ketika melihat orang yang kita cintai tiba-tiba gandeng cewek lain. Dari kisah yang gue baca dari Raditya Dika, ada satu hal yang paling gue inget: pada akhirnya orang yang jatuh cinta diam-diam ujung-ujungnya akan 'menerima'. orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya hanya akan mendoakan. Orang yang jatuh cinta diam-diam memang harus belajar untuk merelakan. Satu lagi, di mata gue orang yang jatuh cinta diam-diam akan punya soundtrack lagu Kahitna: Cinta Sendiri.



Lalu, apa yang gue lakukan? Setelah sempet menitikkan air mata sedikit saat mandi di kamar mandi malam-malam, gue putuskan sejak hari itu tiap malam gue berdoa gini: 'Tuhan, makasih buat petunjuk hari ini. Malam ini aku ga akan mengubah isi doa ini. Tolong tetap jagai dia, lindungi dia, beri dia sukacita sama seperti engkau memberi aku sukacita. Ijinkah dia hidup bahagia dengan cewek mana pun yang menjadi pilihan hatinya. Aku bahagia ketika melihat senyumnya dan jika senyum itu muncul saat dia bersama si X, maka biarkan itu terjadi'. Gue juga putuskan akan tetap menjaga perasaan ini ampe gue bosen sendiri. Biarlah gue nunjukkin sayang gue ke Dwi bukan secara tersurat, melainkan secara tersirat (tentu dengan cara gue sendiri). Gue percaya zaman sekarang ga zaman bilang: 'i love you'. Biarlah gue tempuh cara gue sendiri, ga peduli dia nyadar apa kagak. Gue cuma pengin menikamti anugrah cinta dari Tuhan ini.

I let him live happily with his life, his love, and his girl.. I'm happy because of his happiness...

Jumat, 10 Desember 2010

My Journey, My Story, and My Experience: dari mbah kakung, ibu paruh baya, hingga pengamen...

Saya bersyukur hidup sebagai anak rantau. Walau mungkin lebih sering hidup susah daripada hidup senang (jika menyangkut masalah "ekonomi"), pengalaman menjalani hidup sendiri jauh dari orang tua (walau sebenarnya sih tidak jauh-jauh amat) menjadi harta yang tak bisa ditandingi oleh uang jutaan rupiah sekalipun. Apalagi kisah-kisah yang sering saya alami selama di bus mampu menjadi inspirasi tersendiri untuk saya. Seperti kisah yang ingin saya bagi kali ini....
 
Jumlah orang rantau daerah Yogya, Magelang, Ambarawa, Ungaran cukup banyak di Semarang. Sayangnya hal ini tidak didukung dengan jumlah bus yang beroperasi dengan jurusan Semarang-Yogya. Jumlah bus yang dari tahun ke tahun makin sedikit menjadi keluhan tersendiri bagi para rantau. Selain jumlahnya yang sedikit, kenyamanan pun jarang didapatkan (saya bicara bus kelas ekonomi, kalau patas tentu lain cerita). Tak jarang saya sering harus berdiri di bus sepanjang perjalanan karena sudah tak ada tempat duduk lagi. Saya pun bisa maklum kalau "tempat duduk" ibarat "surga dunia" bagi penumpang bus.Sekali sudah mendapat tempat duduk, enggan rasanya membagi atau bahkan memberikannya bagi orang lain. Namun apa yang terjadi ketika ego untuk memiliki "tempat duduk" mengalahkan "nurani hati"? Mungkin agak sulit mencerna kalimat ini. Semua akan lebih jelas melalui kisah yang terjadi kira-kira 4 minggu yang lalu:

 
Di Sabtu pagi yang cerah, saya berangkat dengan senyuman lebar di bibir plus langkah kaki yang begitu ringan. Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan: pulang Magelang :). Tak heran saya bela-belain berangkat terlampau pagi (pukul 06.30) untuk menghindari tragedi "berdiri" di bus. Biasanya bus kalau masih pagi sekali penumpangnya tidak begitu banyak. Sesuai prediksi, setelah hampir setengah jam menunggu akhirnya saya bisa mendapat bus yang lumayan nyaman dan saya juga bisa  duduk di tempat favorit saya (dua dari depan, dekat pak kondektur). Berhubung masih sepi, saya langsung memasang headset di telinga dan mendengarkan lagu-lagu favorit saya sembari membaca komik DDS (kenangan tak terlupakan masa SMP) hasil pinjem punya kawan saya. Tak lama kemudian ada seorang mbak yang duduk di sebelah saya. Senyumnya manis, sepertinya orangnya baik dan ramah. Dia sempat bertanya ramah pada saya: turun mana, mbak? Jawab saya dengan irit: Magelang. Detik itulah mungkin mbak tadi merasa saya orang paling ngejutekin di seluruh dunia sehingga dia mengurungkan niat berbincang dengan saya. Detik demi detik berlalu. Tak terasa bus melaju hingga Ambarawa. Tanpa saya sadari pula ternyata bus makin sesak saja, bahkan sudah ada yang berdiri. Awalnya saya cuek-cuek saja (seperti yang saya bilang sebelumnya: tempat duduk di bus bagai surga dunia, jadi kalau ada yang berdiri, ya itu derita dia lah..), namun segalanya berubah ketika saya melihat sesosok laki-laki yang mengingatkan saya akan seseorang. Di dekat tempat saya duduk ada seorang mbah kakung dengan tas segedhe orang mau naik gunung berdiri menyandar pada kursi. Sekilas melihat beliau, saya langsung teringat pada almarhum eyang kakung saya yang sudah tiada sejak 2 tahun lalu. Saya sempat melihat berkeliling dahulu, kalau-kalau para muda di bus ini mau memberi tempat untuk mbah kakung ini. Namun tak ada yang bergeming (termasuk mbak manis di sebelah saya. Malah dari ekspresinya pura-pura tidak tahu). Didorong rasa kasihan dan rasa sayang saya yang begitu besar pada almarhum eyang kakung saya, saya kemudian beranjak berdiri dari "surga dunia" milik saya. Sebuah kalimat saya ucapkan sambil menatap dalam mata beliau: Monggo, Pak. Lenggah mriki kemawon. Beliau sempat membalas: Mboten usah, mbak. Kula kuat kok. Lalu dengan senyuman paling manis yang saya miliki saya menjawab: Nggih mboten to, Pak. Kula tasih enom, kuat kula to.. Bapak lenggah mawon. Kula badhe mandhap kok (dusta sedikit.. Padahal masih agak jauh perjalanan saya...hahaha). Akhirnya setelah dengan sedikit paksaan, mbah kakung tadi mau duduk juga. Sesaat setelah beliau duduk, beliau berkata: Maturnuwun, mbak. Mugi diberkahi Gusti. I like this!! (dalam hati: doain juga mbah biar cepet ketemu jodoh...).


Selang 4 minggu kemudian (tepatnya hari ini), saya kembali melakukan aktivitas mudik dengan latar belakang penyakit masuk angin yang saya bawa dari kost (intinya pengin mendapat perawatan lebih baik di rumah). Saya agak pesimis bisa mendapat tempat duduk karena berangkat terlalu siang (pukul 13.00). Tebakan saya nyaris benar. Hampir saja saya tidak mendapat tempat duduk kalau saja tidak terampil rebutan naik bus. Baru beberapa menit menikmati "surga dunia", de javu kejadian 4 minggu lalu terulang. Kali ini "pelaku" nya bukan mbah kakung, tapi ibu paruh baya yang kalau dilihat dari wajahnya yang kusut dan bawaan yang beliau bawa menunjukkan betapa lelah tubuhnya dan nampaknya lebih memerlukan tempat duduk daripada saya. Celingak-celinguk sebentar, lirik depan-belakang, samping kanan-kiri, lagi-lagi tak ada yang bergeming. I do something that I did before. Saya berikan tempat saya kepada ibu tadi. Bedanya kalau ibu ini begitu ditawari langsung capcus duduk (mungkin memang sudah sangat lelah) tidak seperti mbah kakung yang "geje-geje" dulu. Hanya segelintir orang yang berdiri. Tiga orang termasuk saya kalau tidak salah. Kemudian masuklah mas pengamen dengan tampang tak begitu tampan dan kurang meyakinkan. Dia berdiri di sebelah saya persis (dalam hati: Grr... geser sedikit kek mas.. Emang saya seneng deket2 mas...). Tak disangka-sangka... Ternyata suara mas pengamen tadi bagus juga. Yang lebih membuat kaget adalah lagu yang dia nyanyikan: ANGELS nya Robbie Williams (lagu zaman saya SMP... Like this..). Karena lagunya asyik tak heran kalau saya kemudian ikut bersenandung kecil. Dan entah kenapa kemudian saya mulai menggila di bagian reffrein:
and through it all she offers me protection
a lot of love and affection
whether I’m right or wrong
and down the waterfall
wherever it may take me
I know that life wont break me
when I come to call she wont forsake me
I’m loving angels instead
Dan di saat itu juga mas pengamen menyadari suara saya yang makin keras kemudian dia mulai mengecilkan suaranya sendiri. Saya sempat salting dilihatin banyak orang. Saya melirik mas pengamen, dia membalas dengan kedipan mata dan senyum manis (artinya: lanjutin aja mbak ampe selesai). Lalu dengan pede tingkat tinggi saya terus bernyanyi sambil diiringi gitar mas pengamen sampai lagu itu habis. Tak disangka respon penumpang begitu heboh dan ada seorang bapak yang meminta saya dan mas pengamen duet satu lagu lagi (dalam hati saya: bah,, enak bener pak nyuruh-nyuruh ane.. Saya lagi pilek, batuk, demam tauuukkk). Meski agak enggan saya akhirnya meluluskan permintaan bapak tadi (udah nanggung asyik nyanyi juga.. hahahaha.. ketagihan critane). Saya berbisik pada mas pengamen: Mas, tahu lagu Tapi Bukan Aku? Maen di G ya :). Mas pengamen sekali lagi hanya mengedipkan mata dan tersenyum. Maka dimulailah duet maut kami. Suara saya memang tidak ada apa-apanya dibandingkan mas pengamen itu. Tapi melihat semua mata tertuju pada kami, saya jadi pede saja. Lagipula ini lagu favorit saya.. Bakaaaaarrrrr (pinjem kata komting..hehehe). Well, intinya meski saya harus berdiri di bus tapi saya bahagia karena bisa bernyanyi bareng mas pengamen.. Hahahahaha. That was my new experience.. Seumur-umur belum pernah gitu deh... Sayangnya saya tidak sempat berfoto bareng mas pengamen (mas nya malu sih...) :(

Setelah mas pengamen turun di terminal Ambarawa, bus pun akhirnya mulai lengang ketika ada dua orang turun di terminal itu juga. Mata saya langsung mencari tempat mana yang kosong. Secepat kilat saya datangi tempat itu. Sayang seribu sayang saya kalah rebutan sama seorang bapak gendut dengan tampang galak. Bahkan beliau tak mampu membaca wajah memelas saya (kira-kira wajah saya bilang begini: Pak, saya lagi sakit. Saya saja dong yang duduk situ...). Saya pasrah terima nasib harus tetap berdiri (sambil menahan sensasi puyeng di kepala akibat pilek dan demam). Tiba-tiba ada mas rada manis menawari saya duduk! Wow, baik amat tuh mas. Manis pula, sayang tidak sempat tanya nama.. Hahahaha. Ternyata eh ternyata mas tadi adalah cucu dari mbah kakung 4 minggu lalu. Tanpa saya sadari saya duduk di sebelah mbah kakung 4 minggu lalu. Beliau masih ingat jelas wajah saya padahal saya sama sekali tidak ingat bentukan beliau. Kami kemudian mengobrol ringan (sambil saya sedikit-sedikit mengorek info tentang cucunya. Setelah dikorek ternyata cucunya itu angkatan 2008 pendidikan matematika Unnes.. Xixixixixixi) membahas kuliah saya hingga sampai ke obrolan serius. Kata-kata beliau yang tak pernah saya lupakan: Anak muda zaman sekarang itu pinter-pinter, mbak. Cuma satu kurangnya, mereka kurang peka. Mereka terlalu asyik sama dunia mereka sendiri. Hati anak muda zaman sekarang sudah seperti batu. Saya sampai heran masih ada anak muda kayak mbak lo. Ternyata masih ada yang baik. Detik itu saya langsung berbunga-bunga geje, kemudian berkata: Ah nggih mboten, Pak. Banyak kok yang seperti saya, tapi bapak aja yang jarang ketemu yang baik-baik.. Kemudian mbah kakung tadi langsung tertawa (manis juga kalau ketawa, pasti mudanya ganteng deh...). Kata-kata terkahir dari beliau sebelum saya turun bus: Teruslah berbuat kebaikan, mbak. Beri bukti kalau anak muda itu tidak sejelek yang dipikirkan orang. Iki pesenku terusna ning kanca-kancamu, mbak. Memang kata-kata mbah kakung ada benarnya. Anak muda itu perlu mengubah dunia. Bagaimana cara mengubah dunia? Mulailah dari satu kebaikan tulus (mengutip dari film Evan Almighty. Dan ini ada benarnya juga ternyata...)


Kisah ini semoga dapat menjadi inspirasi bagi yang membaca. Anak muda, kalian pasti BISA!
Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari mbah kakung untuk kalian :)




Sabtu, 29 Januari 2011

Hope Is A Dream That Doesn't Sleep

Lirik terjemahan ini adalah soundtrack dari drama korea Bread, Love, and Dreams. Selain lagunya yang memang enak didengar, liriknya pun ternyata sangat bagus.

It doesn’t matter if I’m lonely. Whenever I think of you
A smile spreads across my face.
It doesn’t matter if I’m tired. Whenever you are happy
My heart is filled with love.

Today I might live in a harsh world again.
Even if I’m tired, when I close my eyes, I only see your image.
The dreams that are still ringing in my ears
Are leaving my side towards you.

Everyday my life is like a dream.
If we can look at each other and love each
I’ll stand up again.

To me, the happiness of those precious memories
Will be warmer during hard times.
For me, hope is a dream that never sleeps.

Like a shadow by my side you always
Quietly come to me.
To see if I’m hurt, to see if I’m lonely everyday
With feelings of yearning, you come to me.

Even if the world makes me cry, I’m okay.
Because you are always by my side.
Like dust, will those memories change and leave?
I’ll keep smiling to ease my heart.

Everyday my life is like a dream.
If we can look at each other and love each
I’ll stand up again.

To me, the happiness of those precious memories
Will be warmer during hard times.
For me, hope is a dream that never sleeps.

No matter how many times I stumble and fall
I’m still standing like this.
I only have one heart.
When I’m tired you become my strength.
My heart is towards you forever.

So I swallowed the hurt and grief.
I’ll only show you my smiling form.
It doesn’t even hurt now.

I’ll always hold on to the dreams I want to fulfill with you
I’ll try to call for you at the place I cannot reach
I love you with all my heart.

PADI - Discography

Dari sekian banyak grup band yang makin menjamur belakangan ini, nampaknya hanya ada satu grup band yang mempu membuat saya tetap setia untuk jatuh cinta kepadanya. Lima album telah ditelurkan band beranggotakan Fadly (vokal), Piyu (gitar), Ari (gitar), Rindra (bass), dan Yoyok (drum) ini. Meski sekarang harus bersaing dengan puluhan band absurd yang muncul, saya rasa Padi masih mampu mempertahankan eksistensinya di industri musik Indonesia. Padi bukan band kacangan yang mengikuti selera pasar, melainkan band yang selalu menciptakan musik yang berkualitas. Seridaknya sudah lima album mereka keluarkan dan kebanyakan lagu-lagu mereka selalu menjadi hits.

LAIN DUNIA (1999)
Album pertama Padi ini cukup laris di pasaran dan langsung disambut baik oleh pencinta musik Indonesia. Single Sobat langsung digemari remaja kala itu. Selain itu ada pula lagu Mahadewi yang memiliki aransemen luar biasa indah yang juga menjadi hits. Lagu andalan lain antara lain Begitu Indah, dan Seperti Kekasihku.

  1. Bidadari
  2. Demi Cinta
  3. Sudahlah
  4. Beri Aku Arti
  5. Terlanjur
  6. Begitu Indah
  7. Mahadewi
  8. Di Sini Tanpamu
  9. Seperti Kekasihku
  10. Sobat
Download Full Album  Lain Dunia


SESUATU YANG TERTUNDA (2001)
Bisa dibilang ini album terlaris yang dimiliki Padi. Album ini kebanyakan berkisah tentang cinta. Hits andalannya antara lain Sesuatu yang Indah, Kasih Tak Sampai, dan Semua Tak Sama. Di album ini pula Padi cukup banyak mendapatkan penghargaan dari berbagai ajang penghargaan musik. Lagu-lagu di album ini begitu easy listening sehingga begitu diminati remaja kala itu
  1. Bayangkanlah
  2. Sesuatu Yang Indah
  3. Semua Tak Sama
  4. Kemana Angin Berhembus
  5.  Lain Dunia
  6. Perjalanan Ini
  7. Seandainya Bisa Memilih
  8. Angkuh
  9. Lingkaran
  10. Kasih Tak Sampai
Download Full Album   Sesuatu yang Tertunda

SAVE MY SOUL (2003)
Di album ketiga mereka, Padi membuat sebuah gebrakan baru. Di album ini akan jarang sekali kita temukan musik mendayu menyentuh hati seperti di album sebelumnya. Musik di Save My Soul ini agak "keras" dan liriknya pun lebih banyak berbicara tentang kegelapan (bukan lagi cinta). Di sini Padi menunjukkan sisi lainnya melalui aransemen musik yang lebih mantap dan lebih "rock". Hits di album ini antara lain Hitam, Rapuh, dan Patah. Padi berhasil berkolaborasi dengan Iwan Fals dalam lagu Sesuatu yang Tertunda. Pada album ketiga ini pun Padi berhasil menyabet banyak nominasi di AMI Award. Padi berani tampil beda di album ini. Walau harus diakui beberapa penggemar butuh adaptasi lagi dengan jenis musik yang mereka bawakan.
  1. Ketakjuban
  2. Hitam
  3. Rapuh
  4. Di Atas Bumi Kita Berpijak
  5. Cahaya Mata
  6. Menanti Keajaiban
  7. Menjadi Bijak
  8. Sesuatu yang Tertunda
  9. Patah
  10. Rephan Hati
Download Full Album  Save My Soul


SELF TITLED-PADI (2005)
Padi kembali muncul dengan lagu yang easy listening. Salah satu single di album ini, Menanti Sebuah Jawaban, bahkan menjadi soundtrack film Ungu Violet. Padi juga berkolaborasi dengan Idris Sardi dalam lagu Masih Tetap Tersenyum. Lagu-lagu andalan di album ini antara lain Ternyata Cinta, Siapakah Gerangan Dirinya, dan Tak Hanya Diam. Di sini Padi kembali mengusung tema cinta pada lagu-lagunya.
  1. Prolog
  2. Tak Hanya Diam
  3. Menanti Sebuah Jawaban
  4. Elok
  5. Siapakah Gerangan Dirinya
  6. Menerobos Gelap
  7. Save My Soul
  8. Akhir Dunia
  9. Ternyata Cinta
  10. Masih Tetap Tersenyum
Download Full Album  Self Titled-Padi


TAK HANYA DIAM (2007)
Di tahun inilah Padi kembali merilis album di tengah ketatnya persaingan munculnya band-band baru macam Kerispatih dan Nidji. Single andalan di album kelima ini adalah Sang Penghibur. Selain itu ada pula Harmony, Belum Terlambat, dan Jangan Datang Malam Ini yang enak untuk didengarkan. Meski angka penjualan album ini tak sefenomenal album-album sebelumnya, setidaknya melalui album ini Padi berhasil menunjukkan bahwa mereka masih ada di industri musik Indonesia.
  1. Sang Penghibur
  2. Harmony
  3. Belum Terlambat
  4. Rencana Besar
  5. Terluka
  6. Jika Engkau Bersedih
  7. Teruslah Benyanyi
  8. Ode
  9. Jangan Datang Malam Ini
  10. Aku Bisa Menjadi Kekasih
Download Full Album  Tak Hanya Diam


Selain itu, Padi juga pernah mengeluarkan single Work of Heaven yang mengisi OST World Cup 2002. Saat itu Padi mewakili Indonesia untuk mengisi album tersebut. Di akhir tahun 2010 ini pun Padi kembali mengeluarkan single Sahabat Selamanya yang menjadi soundtrack Ipin dan Upin.

Kamis, 27 Januari 2011

Challenger

 sebuah tulisan yang saya ambil dari note facebook guru SMP saya


Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun terjadilah.

Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challenger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center.

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini ?

Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa. Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih orang lain yaitu Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku?

Bagian diriku yang mana yang kurang?Mengapa aku diperlakukan kejam ?

Aku berpaling pada ayahku. Katanya: “Semua terjadi karena suatu alasan.”

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang.

Aku teringat kata-kata ayahku: “Semua terjadi karena suatu alasan.” Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang….

Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.

Tuhan mengabulkan doa kita dengan 3 cara:
  1. Apabila Tuhan mengatakan YA. Maka kita akan mendapatkan apa yang kita minta.
  2. Apabila Tuhan mengatakan TIDAK. Maka mungkin kita akan mendapatkan yang lain yang lebih sesuai untuk kita.
  3. Apabila Tuhan mengatakan TUNGGU. Maka mungkin kita akan mendapatkan yang terbaik sesuai dengan kehendakNYA.

70 Tahun Berdoa

sebuah tulisan yang saya ambil dari note facebook guru SMP saya.....

Ada seorang kakek yang tinggal di India. Umurnya sudah lebih dari 70 th. Sepanjang hidupnya selama 70 th itu, ia gunakan untuk menyembah berhala dari batu. Setiap hari ia begitu taat menyembah tuhannya itu.
Suatu ketika, kakek ini punya suatu keinginan. Ia pun kemudian mendatangi tuhannya seraya memohon agar doa`nya dapat dikabulkan.
“Oh, tuhanku Latta. Oh tuhanku Uzza. Tujuh puluh tahun aku terus menerus menyembahmu. Selama itu, tak ada sesuatupun yang aku mohonkan kepadamu. Sekarang, aku ada permohonan kepadamu. Mohon, kabulkanlah permohonanku ini”.
Kakek itu memohon sambil merengek-rengek kepada Latta dan Uzza kiranya doa`nya dapat dikabulkan. Demikian seterusnya dia lakukan. Setelah sampai tujuh puluh kali doa` itu ia panjatkan, tak ada sedikitpun pengabulan dari berhala tuhannya yang ia peroleh. Maka kakek itu sedih sekali dan akhirnya putus asa.
Dalam keputusasaannya itu, ternyata Allah SWT memberi hidayah kepada kakek. Hati sang kakek dilapangkan oleh Allah, dan sang kakek segera sadar akan kekeliruannya selama ini. Gantilah kakek itu berdoa` kepada Allah SWT .
” Ya Allah SWT, baru sekarang aku menghadap-Mu. Aku memohon ssuatu kepada-Mu. Kabulkanlah, ya Allah SWT, permohonanku ini “.
Selesai kakek itu bermunajat kepada Allah SWT, maka sesaat kemudian ia mendengar jawban dari Allah SWT.
” Wahai hamba-Ku, mintalah kamu kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu “.
Waktu para malaikat mendengar jawaban yang diberikan Allah SWT kepada sang kakek, maka gemparlah para malaikat.
” Ya Allah SWT, tujuh puluh tahun lamanya orang itu musyrik dan menyembah berhala. Dan telah tujuh puluh kali pula ia telah memohon kepada berhalanya agar dikabulkan permohonannya, namun itu tidak terjadi. Sekarang, ia baru sekali saja berdoa` kepada-Mu, mengapa Engkau kabulkan permohonannya itu ?”
Mendengar pertanyaan para malaikat itu, maka Allah SWT segera memberi penjelasan.
Wahai para malaikat, jika berhala yang benda mati itu tidak bisa mengabulkan permohonannya dan Aku-pun juga tidak, lalu dimana letak perbedaannya antara Aku dan berhala itu ?”

Jumat, 21 Januari 2011

Bread, Love, and Dreams: I think it's all about Forgive and Forgotten

Saya bukanlah penggemar drama Korea yang mengharu biru atau pun penggemar boyband (sekumpulan mas-mas yang energik nari-nari sambil nyanyi) korea yang sedang digandrungi ABG zaman sekarang. Saya masih bertahan di jalur saya sebagai penikmat musik dan film barat serta beberapa karya anak bangsa yang masih "nggenah" dan tidak absurd (beberapa grup band baru yang muncul dan film-film geje yang rilis belakangan ini adalah karya anak bangsa yang amat sangat absurd). Kalau pun akhir-akhir ini saya mngikuti sebuah drama korea yang ditayangkan di televisi, bukan berarti saya sekarang maniak korea. Ini hanya bagian dari perjalanan hidup di mana manusia pun sering masuk ke lubang kesalahan. Meski telah jatuh ke sebuah kesalahan besar, ada hal yang bisa saya petik dari sana. Saya bisa mengambil kesimpulan bahwa memang mata orang-orang Korea memang sipit seperti saya. Saya juga bisa mengerti mengapa banyak ABG suka orang Korea. Usut punya usut memang mereka memiliki wajah yang cute. Imut. Menggemaskan. Sayangnya saya tidak suka tipe-tipe macam Korea begitu. Kurang "cowok" menurut saya. Ah, tapi bukan ini sebenarnya yang ingin saya bicarakan! Bisa-bisanya jadi ngalor ngidul gini. Baiklah.. Ini hal yang ingin saya share kan...


Bread, Love, and Dreams. Inilah judul drama korea yang sedang saya ikuti. Awalnya saya hanya mendengar desas-desus cerita ini dari 2 kawan saya yang begitu menggemari drama korea - Risa dan Noor. Desas-desus kisah ini berlanjut hingga di kost ketika kawan saya menunda membeli beras dan telur (sebagai solusi pengiritan dalam hal makan) di sore hari hanya gara-gara tak mau melewatkan episode drama korea ini. Awalnya saya agak sebal juga, bagaimana bisa drama korea mengalahkan kepentingan kami dalam hal memepertahankan hidup di kost (baca: beli beras dan telur). Karena saat itu semua anak kost berkerubung di depan televisi, mau tak mau saya juga ikutan nimbrung. Sebenarnya sehari sebelumnya saya telah melihat drama itu di kost temen saya, tapi cuma sekilas. Belum mengerti ceritanya juga. Hari itulah kemudian saya mulai bisa mengerti jalan ceritanya sedikit demi sedikit setalah tanya-tanya teman kost. Dan sejak hari itulah saya jadi mengikuti terus kelanjutan kisahnya tanpa pernah melewatkannya sekali pun....


Di sini saya tidak akan membahas tentang alur kisah atau konflik-konflik yang ada. Saya akan menjabarkan tentang satu makna penting dari drama ini yang saya dapatkan dari sifat sang tokoh utama: Kim Tak Goo. Secara fisik, saya akui Kim Tak Goo memang imut. Wajahnya selalu penuh semyuman dan kebahagiaan. Tapi di sisi lain saya melihat dia kadang sebagai laki-laki cengeng yang gampang menangis. Namun satu hal yang membuat saya begitu kagum padanya adalah sifatnya yang begitu baik: memaafkan dan tak menyimpan dendam. Ada satu tokoh lagi bernama Ma Jun yang teramat menyebalkan di mata saya. Segala tingkah lakunya membuat saya gemas dan ingin memukul wajahnya. Perbuatan jahatnya terkadang amat sangat licik dan amat sangat "ala sinetron Indonesia banget". Ma Jun sangat membenci Kim Tak Goo. Segala hal ia lakukan untuk mengalahkan Tak Goo. Namun Tak Goo -entah mengapa di  begitu memiliki hati yang baik- tak pernah sedikit pun ingin membalas kebencian Ma Jun pada dirinya. Ada sebuah scene yang membuat saya begitu terharu. Saat itu Ma Jun begitu jahatnya pada Tak Goo: dia mengambil perempuan yang paling dicintai Tak Goo (entah siapa namanya, saya lupa) dan dia  juga telah membuat Tak Goo kehilangan indra perasa dan penciumannya. Kalau saya jadi Tak Goo, mungkin saya akan membunuh Ma Jun atau kalau perlu meminta kembali walkman yang diberikan untuk Ma Jun (waktu itu Tak Goo pernah mengganti walkman Ma Jun yang rusak dengan walkman yang baru dengan uang gajinya). Namun sayangnya Tak Goo bukanlah saya. Pernah suatu saat dia dengan polos bilang pada Ma Jun: aku tak akan pernah membencimu! What? Sudah gila kah dia? Disakiti berulang-ulang namun tak pernah sedikit pun membenci Ma Jun? Masih normalkah Tak Goo sebagai manusia? Di sinilah pelajaran yang bisa saya ambil.


Pengampunan adalah hal yang mungkin paling sulit dilakukan manusia. Manusia hidup dengan ego masing-masing. Manusia kerap  akan mudah marah kala idealismenya, idenya, pemikirannya, kebebasannya, atau keinginannya dirusak oleh orang lain. Manusia mudah terluka hatinya dan luka tadi tak kunjung kering meski sudah bertahun-tahun. Manusia cenderung menyimpan luka hati selama hidupnya dan mengingat-ingat kesalahan-kesalahan orang lain padanya. Namun dari Tak Goo saya belajar tentang "Forgive and Forgotten": mengampuni dan melupakan. Dendam biasanya muncul karena kebencian yang sudah lama terpendam dan tak terungkapkan. Dendam yang telah tumbuh lama tak akan membuat kita tenang karena kita masih selalu mengingat perbuatan orang lain yang menyakiti kita. Mengampuni adalah solusi terbaik karena melalui pengampunan hati kita tenang, pikiran kita senantiasa positif, tak ada lagi hal-hal yang mengganjal di hati. Pengampunan adalah memberikan sedikit ruang bagi kebencian di dalam hati kita. Jadi penuhilah hati kita dengan cinta dan kasih, maka kebencian yang ada hanya akan mendapat ruangan yang sangat sempit. Sulit memang menghapus ruangan bagi kebencian karena itu sifat manusiawi kita. Oleh sebab itu berikanlah sedikit.. sedikit saja ruangan dalam hatimu bagi  kebencianmu. Ketika kebencian itu sudah tak betah lantaran ruangan yang kamu berikan terlampau sempit, maka dia akan pergi dengan sendirinya. Selain memberi pengampunan, hal lain yang harus kita lakukan adalah melupakan. Lupakanlah segala tindakan kawan atau musuh kita, lupakanlah sakit yang kita rasa, biarkanlah luka di hati kering dengan sendirinya seiring dengan senyuman di tiap langkah kita. So, do you wanna follow Kim Tak Goo? Cause I want to follow him.. Hahahahaha

Minggu, 02 Januari 2011

The Power of Dreams

Sejak kecil saya adalah orang yang percaya akan mimpi. Sebagaimana dengan manusia normal kebanyakan, saya punya segudang mimpi di hidup saya. Bagi saya, mimpi merupakan fungsi waktu. Mimpi-mimpi akan semakin berubah atau bertambah seiring berjalannya waktu. Tidak percaya? Inilah perjalanan mimpi saya:
  • Saat masih TK, saya punya mimpi ingin menjadi artis cilik gara-gara kebanyakan lihat artis cilik zaman itu macam Trio Kwek-Kwek. Kayaknya seru aja jadi kayak mereka. Masih kecil, banyak yang suka, dapet duit lagi
  • Beranjak SD (masih awal SD, cupu..), mimpi saya mulai rada realistis: pengin jadi astronot. Waktu itu saya ingat ada iklan Pepsodent yang bercerita tentang cita-cita seorang anak. Sang anak berkata pengin jadi astronot. Lalu orang tua berkata: astronot giginya ga boleh bolong. Dari situlah saya terhipnotis. Saya jadi tertarik jadi astronot kemudian dengan hebohnya minta dibeliin Pepsodent biar giginya ga bolong (Well, sebegitu besar dampak iklan terhadap anak kecil macam saya...)
  • SD pertengahan (kelas 4 an ke atas lah), mulai muncul mimpi geje lagi. Zaman itu pas lagi booming nya boyband macam BSB, Westlife, N sync. Saya pun mulai doyan nari-nari kalo liat mereka di MTV. Pernah kepikiran pengin jadi penari latar mereka... *kalo inget bagian ini pengin muntah rasanya
  • Zaman SMP, mimpi ini sudah berada di jalur yang "benar". Saya pengin jadi dokter. Mimpi yang sangat mulia kan? Realistis juga karena saat itu otak saya masih berfungsi sebagaimana mestinya (baca: saya pintar). Mimpi itu dilatarbelakangi oleh seseorang. Saat itu saya naksir mas-mas dokter. Jadi entah kenapa mimpi menjadi dokter tiba-tiba muncul. Lagipula jaminan masa depan dokter lumayan cerah ~ kaya maksud e.. hahaha
  • Beranjak SMA, pemikiran saya semakin lebih dewasa. Menimbang kecerdasan saya yang semakin menurun (sebenernya tetep pinter kok, cuma MALAS nya itu gak ketulungan..), kelemotan otak saya yang tiba-tiba muncul, nilai-nilai yang semakin amburadul (pernah saya dapat 35 untuk fisika di rapor bayangan ~ rapor tengah semester, berfungsi untuk menakut-nakuti siswa), dan kehidupan yang semakin nakal juga ~ mulai kenal CINTA.. hahahaha; maka saya putuskan berubah haluan: pengin jadi apoteker aja! Ini jelas lebih realistis karena cewek IPA biasane minim kesempatan. Mau di teknik kayake berat, kalo pinter banget plus punya duit bisa lah nyoba kedokteran. La kalo saya? Dengan modal kemampuan IPA yang minim, saya hanya berani mencoba Farmasi (matematika plus fisika nya dikit, banyak biologinya..)
But dreams are just dreams. Semuanya kembali ama decision maker nya, yaitu Tuhan. Ternayata Tuhan ga mengizinkan saya menjadi artis cilik, astronot, menjadi penari latar, dokter, atau bahkan apoteker. Saat ini saya "diletakkan" di Teknik Kimia. Kalau saya berjalan menurut jalur yang benar, harusnya saya jadi insinyur. Namun kadang mimpi saya emang ekstrim. Apa yang saya lihat, saya suka, dan saya demen; langsung terpatok di otak saya. Dulu sempat suka liat Captain Tsubasa, lalu sempet pengin jadi manajer klub bola kayak di kartun itu (terkadang ampe mikir kalo-kalo saya kemudian cinlok ama kaptennya, persis kayak cerita kartun geje itu..).  Untung sekarang saya sudah ga gitu lagi (bayangin aja kalo saat ini lagi demen ama Spongebob, ga mungkin kan punya mimpi jadi kayak spongebob gitu.. Bisa-bisa saya pake baju ala spongebob buat ke kampus.. hadoohhh).

Meski sudah disuratkan untuk menimba ilmu di teknik kimia, saya masih saja punya mimpi yang "menyimpang". Saya punya mimpi menjadi JURNALIS sekaligus PENULIS. Sangat menyimpang bukan? Mana ada hubungan jurnalis ama reaktor, mana ada hubungan antara neraca massa dengan penulis. Dreams are like love, sulit dimengerti dan dipahami. Kenapa ga dari dulu masuk kuliah penyiaran aja? Kenapa ga dari  dulu masuk sastra aja? Hidup saya memang rumit, penuh pemikiran, dan kehati-hatian sekaligus penuh coba-coba. Siapa sangka tiba-tiba minat menulis saya menjadi bangkit kembali saat saya kuliah di teknik kimia? Siapa sangka imajinasi saya dalam menulis kembali muncul saat saya masuk Kinetika? Jujur saya ga punya harapan berlebih akan mimpi saya saat ini. Harus saya akui juga minat serta bakat menulis saya bisa tiba-tiba luntur oleh jutaan tugas kuliah, ribuan mata kuliah yang tak pernah saya mengerti, dan ratusan masalah selama kuliah. Namun ada satu hal yang ingin saya pahami dari mimpi itu...

Mimpi itu hal murah. Gratis. Maka saya suka bermimpi. Mimpi itu bukan khayalan. Kalau khayalan adalah hal-hal yang sangat tidak realistis yang mucul di otak (ex: manusia bertelur, pergi kuliah naek pesawat, pengin jadi orang kaya tapi ga kerja, dll). Tapi mimpi jelas berbeda dengan khayalan. Definisi mimpi menurut saya: sesuatu yang mendorong manusia untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bersifat realistis. Mimpi mampu menjadi motivator terbaik buat saya. Mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia (pinjem liriknya Nidji deh). Kalau kita punya mimpi berarti kita berpikir selangkah lebih maju. Mimpi itu tak akan lekang oleh waktu (jika dipupuk dan dijaga). Meski suatu saat nanti mungkin saya akan menjadi PNS (kebetulan ini lagi jadi trending topic di rumah saya) ato ibu rumah tangga, saya rasa mimpi menjadi seorang penulis dan jurnalis akan tetap ada. Saya pasti akan tetap menulis meski menjadi PNS. Saya akan tetep menulis walau harus tetep ngemong anak. Itulah yang saya namakan dengan The Power of Dreams. Kekuatan yang mampu mengalahkan kepesimisan kita akan dunia ini. Bermimpilah, karena bermimpi itu GRATIS dan HALAL. Bagi saya, orang yang punya mimpi adalah orang yang punya tujuan di masa depan..

Minggu, 26 Desember 2010

I Wanna Play This

ada satu lagu yang tiba-tiba aku suka akhir-akhir ini. Tiba-tiba demen lagi ama lagu ini. Dan tiba-tiba terobsesi pengin bisa main lagu ini. Langsung nyari tutorial di youtube. Langsung praktik setelah sejuta kali lihat videonya plus sedikit improvisasi di sana sini. Walau ga selincah yang nyanyi.. Tapi cukup untuk menghibur hati... Moga-moga jari ini makin lincah dengan sendirinya (maklum kebanyakan nulis laporan, bukan main musik. Jadi kadang kaku..hehehhe)

Melle - Built to Last



Jumat, 24 Desember 2010

SOLUTE - A Drug of Broken Heart

Setelah sempet dua hari patah hati, maka di hari berikutnya aku mulai bersikap rada melow-melow gitu dengan muter lagu-lagu ala orang patah hati. Namun ujung-ujungnya malah aku muter lagu ajeb-ajeb kayak "Cukup Siti Nurbaya" nya Dewa 19, "Hitam" nya Padi, dan yang terakhir adalah "No Love" kepunyaan Simple Plan. Rada aneh juga menjelang Natal besok malah muter lagu begituan. Padahal jauh-jauh hari kemarin aku muter lagu Natal melulu di kost sebagai usaha menyambut datangnya Sinterklas di jemuran sebelah kamar (maklum aku selalu menaruh kaus kaki di jemuran belakangan ini. Kadang imajinasiku berlebih macam tiba-tiba aja pas bangun pagi tuh kaus kaki udah ada kado di dalamnya...). Entah karena kejadian patah hati tiba-tiba ini segala mood jadi berubah. Termasuk yang terjadi hari ini....


Aku terbangun pukul 06.45 dengan kondisi perut lapar. Kondisi udara yang begitu dingin di Magelang membuat tubuh ini enggan beranjak dari kasur. Setelah kucek-kucek mata bentar, menguap sejuta kali, dan puter-puter badan; akhirnya aku berhasil keluar dari jerat kasur. Waktu keluar kamar aku kaget melihat pemandangan yang ada: kakak cowok lagi serius bikin TA (kayaknya dari pagi-pagi buta), kakak cewek mandi, papa nonton Editorial Media Indonesia, dan mama seperti biasa ngomel-ngomel geje di pagi hari. Well, aku paling telat bangun!!! *LUWEH... Agenda hari ini pun disusun: mandi, makan omelet, OL bentar, dilanjutkan belanja roti buat Natal (semua dilakukan semata-mata untuk menghapus sedikit rasa sakit yang masih tersisa..hahahahahaha).

Perjalanan membeli roti untuk Natal adalah perjalanan yang cukup melelahkan. Mama muter-muter nyari roti ini itu sambil komen melulu. Mahal lah, kok kuenya ga bervariasi lah, toplesnya pecah lah, dan masih banyak lagi keluhan ala ibu-ibu yang keluar. Aku cuma diminta pendapat sesekali: sing iki doyan gak? Sesuk selasa diasta nggih nggo kancane.. (translate: yang ini suka gak? besok selasa dibawa ya buat teman-teman..). Jawabanku hanya sebuah anggukan kecil sambil mata menerawang ke mana-mana nyari kue yang ada unsur coklatnya. Akhirnya pencarian roti di tempat pertama mengalami kegagalan. Setelah muuter lama-lama mama hanya membeli dua toples jenis makanan saja. Kami sepakat mencari roti lain di toko daerah jalan Ikhlas saja. Well, ternyata toko di sana ga kalah crowded. Ratusan pengunjung datang. Rada bete juga lihat lautan manusia kayak gitu. Namun kebetulan tiba-tiba sirna saat mata ini melihat tumpukan rak berisi roti-roti berbahan coklat. Aku langsung nyamperin rak itu dan langsung memilih-milih beberapa roti yang dirasa enak. Mama meilih untuk antri membeli roti kilo an. Sedangkan papa yang nganter kami cuma lihat-lihat berkeliling. Setelah satu jam hidup sumpek di toko tadi, kami pun mulai beranjak pulang dengan wajah berseri-seri (wajahku paling berseri-seri plus ditambah tampang ngiler pengin makan tuh roti-roti).

Sampai di rumah entah kenapa tiba-tiba ingat kejadian belakangan hari ini yang lagi-lagi bikin sedih, miris, teriris-iris, hingga aku menjadi makhluk paling mengenaskan hari ini. Maka aku putuskan untuk dunlud video-video saja guna memecah gundah ini. Pertama aku searching video-video David Archuleta, dari awal dia masih culun ampe sekarang jadi imut plus ganteng. Lalu tiba-tiba inget lagu Built to Last nya Malee, jadilah aku nyari videonya sekalian nostalgia zaman SMA. Habis itu aku stuck. Mo liat apa lagi? Backstreet Boys udah komplit, video laga-laga AS Roma belakangan ini udah au dunlud, ga mungkin juga aku dunlud video cowok-cowok nari (baca: boyband korea... Kayaknya dua MV Super Junior di kompiku udah cukup deh, ga usah nambah). Lalu aku alihkan perhatian sejenak ke Facebook. Sekilas aku liat foto mas ferdi di sana. Entah kenapa tiba-tiba terlintas SOLUTE di kepala ini. Maka iseng-iseng aku ketik 'solute' di youtube. Alhasil ternyata ada 3 video yang muncul di sana. Didorong oleh rasa ingin tahu plus penasaran, maka aku bukalah satu per satu video-video tadi.

Pertama: aku buka video SOLUTE saat maen lagu Cinta Kau dan Dia

Kebetulan saat itu ada kakakku yang cowok. Maka obrolan inilah yang terjadi
Kakak Cowok (KC): opo kuwi? (apa itu?)
Aku (A): SOLUTE, mas. Band e seniorku. Cah 2007... (SOLUTE, mas. Band nya seniorku. Anak 2007...)
KC: nyanyi opo kuwi? rak jelas (nyanyi apa? ga jelas)
A: Cinta Kau dan Dia ne Ahmad Dani kae lo
KC: vokalis e kuwi lo.. Rambut e nganti nutupi mripat (vokalis e itu lo.. Rambutnya ampe nutupin mata)
A: (ngekek.. hahahahaha... dalam hati: masku berisik amat to...)
(kemudian hening sejenak, kami menikmati video itu...)
KC: (ngekek... hahahahahaha...) wagu vokalis e ah. mau nek nyanyi rak mbukak bibir e, nek pas bagian lirik sing 'cinta kau dan diiaaaaaa' mulut e mbukak e amba tenan......
A: yo iyolah.. masak muni 'diiiaaaaa' karo mingkem yo gak iso to... (ya iyalah.. masak bilang 'diiiaaaa' sambil mulut nutup rapet mana bisa...)
(mencoba membela SOLUTE, bagaimana pun juga mereka dari tekim undip)
KC: eh kuwi... gitaris e rupa ne korea tenan... (eh itu.. gitarisnya wajahnya korea banget..)
A: ahahahahahaha... he'eh og.. akeh sing bilang gitu
KC: mesakke yo drummer e ga ketok. ketutupan vokalis e (kasian yo drummer nya ga keliatan. ketutup ama vokalisnya)
A: yah emang vokalis kudu ning ngarep kan (yah emang vokalis harus e di depan kan). front man gitu.
(beberapa saat kemudian....)
KC: ah bosen.. liyane wae!! (ah bosen.. yang lain aja!!)

Kedua: aku buka video SOLUTE yang Bento..
KC: rada lumayan ki intro ne *udah mulai memuji dikit*
A: kayake nggawe aransemen dhewe wez (kayaknya bikin aransemen sendiri deh)
KC: ooohhh..
(hening sejenak)
KC: wah., sumpah vokalis e ekspresif! Rambut e melambai-lambai *mulai komen geje lagi*
A: ah kowe ki kakehan komen og!! (ah kamu tuh kebanyakan komen!!) *mulai emosi, jadi ga bisa menikmati SOLUTE
KC: intro ne dawa tenan ik *mulai berisik lagi
(no sound...)
KC: weh.. lumayan juga ki band e... kreatif. Ga alay.
A: Wez terbuka to matamu?
KC: sing Bento luwih apik daripada sing pertama mau. Tenan *mata udah mulai berbinar, obrolan udah menjurus ke lebih serius
A: he'eh ik sing Bento luwih apik emang
KC: vokalis e gayane ga alay, pas lah. Mung rambut e ae sing melambai-lambai kayak iklan shampoo clear. apik sih komposisi musik e. cuma mungkin kasih kesempatan yang lain buat nampang juga lah. drummer karo bassist e ki lo ga ketok blas..
A: (dalam hati: drummer ki wez cilik ga ketok meneh.. hahaha)

Finally, obrolan kami pun berkutat di sekitar SOLUTE. Maka aku jelaskanlah SOLUTE sebisanya (maklum kalo ditanya sejarah namanya mana aku tahu.. pokoke asal tahu nama personil e lah..haahhaha). Intinya kami bisa menikmati musik SOLUTE. Seenggaknya SOLUTE ga se-geje band labil macam Kangen Band ato Taxi Band ato bahkan boyband ala korea yang ditiru Indonesia. Kami juga mbahas tuh video yang kami tonton. Bagaimana pun juga sang vokalis menjadi trending topic kami: mulai dari suara, gaya nyanyi, gaya rambut, ampe pose-pose di tiap video (aduh maap ya bukan maksud nggosip in vokalis, tapi gimana lagi.. La dia yang paling depan, mau ga mau jadi bahan pembicaraan lah.. hehehehe). Intinya kami punya harapan lebih ama band ini. Moga aja kelak, entah beberapa tahun lagi.. Aku bakal liat mereka manggung di tipi menggusur band-band labil zaman sekarang.. Trus kalo mereka bikin album, aku usahakan aku lah orang yang pertama beli (alay.... xixixixixixixi). Sukses buat SOLUTE deh! Special thanks juga karena SOLUTE udah bikin aku ketawa terkekek-kekek seharian karena liat gaya kalian di video... SOLUTE lah yang bikin aku bisa senyum lagi setelah sempet manyun beberapa menit... Wajar aku menyebutnya: SOLUTE - a drug of broken heart :)


Kamis, 23 Desember 2010

Fixing As Broken Heart - pinjem judul lagu

Virus Raditya Dika lagi hidup dan bersemi di jiwa gue. Entah kenapa kisah yang baru aja gue baca dari novel kelimanya - Marmut Merah Jambu - seolah menjadi de javu buat gue. Gue ga tau itu cuma kebetulan ato emang Tuhan pengin ngasih jawaban ke gue melalui kisah di novel itu. Maaf kalo kali ini gaya bahasa gue rada mirip Raditya Dika (maklum dari pagi ampe malam gue nglahap habis kisah-kisahnya, maaf juga kalau kini kata "gue" dan "elo" banyak muncul). Well, gue ga mau banyak omong. Gue udah ngebet cerita karena sebenernya nih cerita gue tulis dari kemaren-kemaren (gara-gara tugas kespros batal deh bikin ni tulisan).


Lo pernah jatuh cinta? Lo pernah sakit gara-gara jatuh cinta? Banyak kisah menyedihkan soal cinta. Kisah Romeo dan Juliet yang ga bisa bersatu karena perbedaan, kisah Siti Nurbaya yang gagal memperoleh cinta sejati lantaran dijodohin ama ortunya, kisah romantis mendayu-dayu ala Titanic yang malah berujung pada kematian, kisah dua insan beda agama yang berpisah padahal Tuhan itu satu, ampe kisah cinta ga logis kucing yang jatuh cinta ama tikus yang harus rela ga bisa bersatu karena Tuhan menakdirkan mereka buat berantem melulu. Kita emang bisa gila kalo bicara soal cinta. Namun dari segala kisah sedih mengharu biru yang pernah ada, kisah "cinta bertepuk sebelah tangan" alias cinta tak berbalas adalah kisah paling dramatis yang pernah ada. Efek dari kisah ini begitu dahsyat: patah hati berkepanjangan, trauma jatuh cinta, berdiam diri ampe berhari-hari bahkan berminggu-minggu, sampai yang paling kronis adalah ga doyan makan dan minum. Sebegitukah efek cinta tak berbalas? Apa iya ampe parah kayak gitu? Ga semua orang patah hati itu bisa memiliki tanda-tanda yang gue sebutin tadi. Tanda-tanda tadi cuma berlaku buat orang lebai stadium empat yang lagi nunggu malaikat datang buat bilang ke dia: 'sudah waktunya buat ketemu Tuhan. Yuk ikut gue'. Intinya, respon orang-orang yang baru aja patah hati itu berbeda-beda. Ada yang kuat, ada yang 'sok kuat', dan ada yang rapuh. Kenapa gue tiba-tiba bicara patah hati? Apa gue baru aja patah hati? Maybe it's true! Yeah, gue baru aja broken heart. Parahnya, ceritanya rada-rada mirip kisah di novel Marmut Merah Jambu yang judulnya 'Orang yang Jatuh Cinta Diam-diam'....

Gue emang lagi dalam kondisi sukacita menerima anugrah dari Tuhan berupa cinta. Dan cinta itu datang dari seorang cowok, sebut aja Dwi, yang akhir-akhir ini udah gue anggep kayak kakak gue sendiri. Dwi sebenarnya ga masuk daftar kriteria cowok yang gue pengin (mas-mas, tinggi, rada item, manis, rada tegap, cuek, dingin). Tapi entah kenapa Tuhan menciptakan tuh cowok sebagai laki-laki yang gue cintai belakangan ini. Dialah cowok yang kadang bikin gue cengar-cengir sendiri kalo lagi sms an ama dia, dia cowok yang bersedia menjadi tumpahan segala keluh kesah gue (gue kebiasaan curhat ama seorang cowok, dan setelah 2 tahun di tekim gue baru bisa nemu yang pas kayak dia), dia cowok yang kadang bikin gue sebel ama tingkah anehnya, dan dia cowok yang bisa meruntuhkan dinding beton yang nutupi hati gue bertahun-tahun lewat tingkahnya yang begitu sederhana. Selayaknya orang jatuh cinta, gue punya soundtrack tersendiri untuk perasaan gue belakangan ini. Gue pilih lagu You Can dari David Archuleta sebagai lagu wajib gue menjelang tidur malam. Rada alay sih cewek cuek kayak gue tiba-tiba jadi melankolis gara-gara cinta. Apalagi kalo lo nyimak liriknya dalam-dalam:
Tell me I'm not on my own
Tell me I won't be alone
Tell me what I'm feeling isn't some mistake
If anyone can make me fall in love, you can...
ato bagian ini:
This is where it all begins
so tell me it will never end
I can't fool myself it's you and no one else....
Hoeeekk... emang rada gombal tuh lagu. Tapi gue ngrasa tuh liriknya sebenarnya gue bangetlah. Maka jangan heran kalau lagi ga ada gawean di kampus (baca: nunggu dosen, nunggu kuliah, nunggu hujan reda) tuh lagu bisa gue dengerin ampe beribu kali! Bahkan saat tulisan ini dibuat gue muter lagu ini.

Overall, gue ama Dwi emang tak ada yang special. Kadang kalo lagi ada waktu gue sms an ama dia. Ada aja yang diomongin mulai dari bola, film, bacaan, curhatan gue yang geje, ato topik pembicaraan dia yang jauh lebih geje dari curhatan gue. Di mata gue Dwi itu baik,  dia pendengar yang paling baik yang pernah gue temui, dia sabar, dia pinter, dia teramat rohani di mata gue. Ga salah juga kalo akhirnya nganggep dia sebagai kakak gue. Bahkan ga salah juga kalo akhirnya rasa kagum gue berubah jadi cinta. Cinta emang datang tiba-tiba, cinta emang anugerah dari yang kuasa, dan cinta tak kan sia-sia ketika lo menyapa (loh, perasaan ini kok mirip lagunya Marcell ya.. hehehe). Pokoknya gue bahagia lah bisa jatuh cinta ama dia. Kadang ada rasa penasaran kalo ga liat dia seharian, kadang ada yang perasaan rada jengkel kalo liat dia ama cewek lain, kadang kayak ada panah nancep plus degupan jantung luar biasa kalau liat dia, dan yang paling parah gue ga pernah bisa berani natap matanya lama-lama. Yah, gue ngalami hal-hal yang sama kayak layaknya cewek yang jatuh cinta deh. Gue yakin lo pada juga tau gimana rasanya.

Gue ga pernah mengharapkan rasa gue ke Dwi berlanjut ke hal lain. Ato lebih gamblangnya gue ga pernah ngarep pengin pacaran ama dia. Gue cuma mau menikmati rasa ini, menjalani kisah ini, dia temen gue begitu juga gue adalah temen dia. Kalau pun boleh lebih gue pengin nganggep dia jadi kakak gue aja. Paling ga gue lebih seneng dia ga dimiliki siapa pun dan hati dia belom diberi buat orang lain lah (gue rasa sebagian besar cewek punya pikiran yang sama ama gue dalam hal ini). Tiap malam sebelum tidur gue berdoa: 'Tuhan, makasih buat cinta ini. Aku ga tau mau jadi apa nanti, tapi ijinkanlah aku menikmati ini seperti aku menikmati roti bakar (kebetulan gue demen amat ama roti bakar..). Jagai tidurnya di malam ini, Tuhan. Bangunkan dia di esok pagi dengan sukacita sama seperti engkau membangunkanku dengan sukacita pula'. Hmmm.. kelihatannya gue emang rada berlebihan ampe membawa nama dia ke dalam doa gue tiap malam. Entah kenapa gue suka berdoa buat orang-orang yang gue sayangi, termasuk si Dwi. Oh ya gue juga kadang bilang gini ke Tuhan: 'God please prepare my heart and my soul if there is something that can make me hurt'. Dari sini gamblang sudah kalo gue emang cuma pengin sayang ama dia with everything  I am tanpa pengin mengharap hal-hal berlebih dari Dwi. Asal dia masih jadi temen gue aja gue udah seneng...

Tapi emang kisah cinta sulit ditebak. Layaknya cerita sinetron ato FTV di tivi, kisah gue kali ini pun sebelas dua belas ama cerita bikinan sutradara sinetron stripping. Pada akhirnya pun gue harus menerima rasa sakit itu. Cinta diam-diam gue emang harus bertepuk sebelah tangan kayaknya. Baru aja gue sadari kalo emang sebenarnya sudah ada cewek di hatinya (seperti yang gue bilang tadi, gue lebih seneng dia ga ada yang punya dan dia ga mberi hatinya buat cewek lain. Intinya gue lebih seneng dia jadi free man). Walau sebenarnya si cewek, sebut aja X, juga belom tentu sebagai pilihan Dwi, tapi dari gerak-gerik Dwi dan tingkahnya (yang baru gue sadari juga) menunjukkan kalau dia emang sedang (atau pernah) jatuh cinta ama si X. Kalau boleh rada hiperbolis, rasanya dada gue kayak ditusuk ribuan duri dari batang mawar trus nancep dalam banget ampe ga bisa lepas. Seharian muka gue jadi sedih, pikiran jadi kosong, hasrat buat pulang menggebu, pengin nglepas beban, bahkan ga pengin liat muka Dwi. Well, gue kagak tau ada ga yang nyadar kalo muka gue berasa tambah kucel hari itu. Gue tiba-tiba aja bete hari itu. Males. Sulit deh gimana ngungkapinnya.

Jatuh cinta diam-diam emang ada asyik dan enggaknya. Asyiknya kita bisa merasa bahagia tiba-tiba, berasa dunia indah aja asal bisa lihat orang yang kita suka, pokoknya yang indah-indah lah. Di sisi lain jatuh cinta diam-diam ada ga enaknya: kita bisa mati gila ama perasaan yang dipendam melulu. Kita bisa aja sakit hati tiba-tiba ketika melihat orang yang kita cintai tiba-tiba gandeng cewek lain. Dari kisah yang gue baca dari Raditya Dika, ada satu hal yang paling gue inget: pada akhirnya orang yang jatuh cinta diam-diam ujung-ujungnya akan 'menerima'. orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya hanya akan mendoakan. Orang yang jatuh cinta diam-diam memang harus belajar untuk merelakan. Satu lagi, di mata gue orang yang jatuh cinta diam-diam akan punya soundtrack lagu Kahitna: Cinta Sendiri.



Lalu, apa yang gue lakukan? Setelah sempet menitikkan air mata sedikit saat mandi di kamar mandi malam-malam, gue putuskan sejak hari itu tiap malam gue berdoa gini: 'Tuhan, makasih buat petunjuk hari ini. Malam ini aku ga akan mengubah isi doa ini. Tolong tetap jagai dia, lindungi dia, beri dia sukacita sama seperti engkau memberi aku sukacita. Ijinkah dia hidup bahagia dengan cewek mana pun yang menjadi pilihan hatinya. Aku bahagia ketika melihat senyumnya dan jika senyum itu muncul saat dia bersama si X, maka biarkan itu terjadi'. Gue juga putuskan akan tetap menjaga perasaan ini ampe gue bosen sendiri. Biarlah gue nunjukkin sayang gue ke Dwi bukan secara tersurat, melainkan secara tersirat (tentu dengan cara gue sendiri). Gue percaya zaman sekarang ga zaman bilang: 'i love you'. Biarlah gue tempuh cara gue sendiri, ga peduli dia nyadar apa kagak. Gue cuma pengin menikamti anugrah cinta dari Tuhan ini.

I let him live happily with his life, his love, and his girl.. I'm happy because of his happiness...

Jumat, 10 Desember 2010

My Journey, My Story, and My Experience: dari mbah kakung, ibu paruh baya, hingga pengamen...

Saya bersyukur hidup sebagai anak rantau. Walau mungkin lebih sering hidup susah daripada hidup senang (jika menyangkut masalah "ekonomi"), pengalaman menjalani hidup sendiri jauh dari orang tua (walau sebenarnya sih tidak jauh-jauh amat) menjadi harta yang tak bisa ditandingi oleh uang jutaan rupiah sekalipun. Apalagi kisah-kisah yang sering saya alami selama di bus mampu menjadi inspirasi tersendiri untuk saya. Seperti kisah yang ingin saya bagi kali ini....
 
Jumlah orang rantau daerah Yogya, Magelang, Ambarawa, Ungaran cukup banyak di Semarang. Sayangnya hal ini tidak didukung dengan jumlah bus yang beroperasi dengan jurusan Semarang-Yogya. Jumlah bus yang dari tahun ke tahun makin sedikit menjadi keluhan tersendiri bagi para rantau. Selain jumlahnya yang sedikit, kenyamanan pun jarang didapatkan (saya bicara bus kelas ekonomi, kalau patas tentu lain cerita). Tak jarang saya sering harus berdiri di bus sepanjang perjalanan karena sudah tak ada tempat duduk lagi. Saya pun bisa maklum kalau "tempat duduk" ibarat "surga dunia" bagi penumpang bus.Sekali sudah mendapat tempat duduk, enggan rasanya membagi atau bahkan memberikannya bagi orang lain. Namun apa yang terjadi ketika ego untuk memiliki "tempat duduk" mengalahkan "nurani hati"? Mungkin agak sulit mencerna kalimat ini. Semua akan lebih jelas melalui kisah yang terjadi kira-kira 4 minggu yang lalu:

 
Di Sabtu pagi yang cerah, saya berangkat dengan senyuman lebar di bibir plus langkah kaki yang begitu ringan. Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan: pulang Magelang :). Tak heran saya bela-belain berangkat terlampau pagi (pukul 06.30) untuk menghindari tragedi "berdiri" di bus. Biasanya bus kalau masih pagi sekali penumpangnya tidak begitu banyak. Sesuai prediksi, setelah hampir setengah jam menunggu akhirnya saya bisa mendapat bus yang lumayan nyaman dan saya juga bisa  duduk di tempat favorit saya (dua dari depan, dekat pak kondektur). Berhubung masih sepi, saya langsung memasang headset di telinga dan mendengarkan lagu-lagu favorit saya sembari membaca komik DDS (kenangan tak terlupakan masa SMP) hasil pinjem punya kawan saya. Tak lama kemudian ada seorang mbak yang duduk di sebelah saya. Senyumnya manis, sepertinya orangnya baik dan ramah. Dia sempat bertanya ramah pada saya: turun mana, mbak? Jawab saya dengan irit: Magelang. Detik itulah mungkin mbak tadi merasa saya orang paling ngejutekin di seluruh dunia sehingga dia mengurungkan niat berbincang dengan saya. Detik demi detik berlalu. Tak terasa bus melaju hingga Ambarawa. Tanpa saya sadari pula ternyata bus makin sesak saja, bahkan sudah ada yang berdiri. Awalnya saya cuek-cuek saja (seperti yang saya bilang sebelumnya: tempat duduk di bus bagai surga dunia, jadi kalau ada yang berdiri, ya itu derita dia lah..), namun segalanya berubah ketika saya melihat sesosok laki-laki yang mengingatkan saya akan seseorang. Di dekat tempat saya duduk ada seorang mbah kakung dengan tas segedhe orang mau naik gunung berdiri menyandar pada kursi. Sekilas melihat beliau, saya langsung teringat pada almarhum eyang kakung saya yang sudah tiada sejak 2 tahun lalu. Saya sempat melihat berkeliling dahulu, kalau-kalau para muda di bus ini mau memberi tempat untuk mbah kakung ini. Namun tak ada yang bergeming (termasuk mbak manis di sebelah saya. Malah dari ekspresinya pura-pura tidak tahu). Didorong rasa kasihan dan rasa sayang saya yang begitu besar pada almarhum eyang kakung saya, saya kemudian beranjak berdiri dari "surga dunia" milik saya. Sebuah kalimat saya ucapkan sambil menatap dalam mata beliau: Monggo, Pak. Lenggah mriki kemawon. Beliau sempat membalas: Mboten usah, mbak. Kula kuat kok. Lalu dengan senyuman paling manis yang saya miliki saya menjawab: Nggih mboten to, Pak. Kula tasih enom, kuat kula to.. Bapak lenggah mawon. Kula badhe mandhap kok (dusta sedikit.. Padahal masih agak jauh perjalanan saya...hahaha). Akhirnya setelah dengan sedikit paksaan, mbah kakung tadi mau duduk juga. Sesaat setelah beliau duduk, beliau berkata: Maturnuwun, mbak. Mugi diberkahi Gusti. I like this!! (dalam hati: doain juga mbah biar cepet ketemu jodoh...).


Selang 4 minggu kemudian (tepatnya hari ini), saya kembali melakukan aktivitas mudik dengan latar belakang penyakit masuk angin yang saya bawa dari kost (intinya pengin mendapat perawatan lebih baik di rumah). Saya agak pesimis bisa mendapat tempat duduk karena berangkat terlalu siang (pukul 13.00). Tebakan saya nyaris benar. Hampir saja saya tidak mendapat tempat duduk kalau saja tidak terampil rebutan naik bus. Baru beberapa menit menikmati "surga dunia", de javu kejadian 4 minggu lalu terulang. Kali ini "pelaku" nya bukan mbah kakung, tapi ibu paruh baya yang kalau dilihat dari wajahnya yang kusut dan bawaan yang beliau bawa menunjukkan betapa lelah tubuhnya dan nampaknya lebih memerlukan tempat duduk daripada saya. Celingak-celinguk sebentar, lirik depan-belakang, samping kanan-kiri, lagi-lagi tak ada yang bergeming. I do something that I did before. Saya berikan tempat saya kepada ibu tadi. Bedanya kalau ibu ini begitu ditawari langsung capcus duduk (mungkin memang sudah sangat lelah) tidak seperti mbah kakung yang "geje-geje" dulu. Hanya segelintir orang yang berdiri. Tiga orang termasuk saya kalau tidak salah. Kemudian masuklah mas pengamen dengan tampang tak begitu tampan dan kurang meyakinkan. Dia berdiri di sebelah saya persis (dalam hati: Grr... geser sedikit kek mas.. Emang saya seneng deket2 mas...). Tak disangka-sangka... Ternyata suara mas pengamen tadi bagus juga. Yang lebih membuat kaget adalah lagu yang dia nyanyikan: ANGELS nya Robbie Williams (lagu zaman saya SMP... Like this..). Karena lagunya asyik tak heran kalau saya kemudian ikut bersenandung kecil. Dan entah kenapa kemudian saya mulai menggila di bagian reffrein:
and through it all she offers me protection
a lot of love and affection
whether I’m right or wrong
and down the waterfall
wherever it may take me
I know that life wont break me
when I come to call she wont forsake me
I’m loving angels instead
Dan di saat itu juga mas pengamen menyadari suara saya yang makin keras kemudian dia mulai mengecilkan suaranya sendiri. Saya sempat salting dilihatin banyak orang. Saya melirik mas pengamen, dia membalas dengan kedipan mata dan senyum manis (artinya: lanjutin aja mbak ampe selesai). Lalu dengan pede tingkat tinggi saya terus bernyanyi sambil diiringi gitar mas pengamen sampai lagu itu habis. Tak disangka respon penumpang begitu heboh dan ada seorang bapak yang meminta saya dan mas pengamen duet satu lagu lagi (dalam hati saya: bah,, enak bener pak nyuruh-nyuruh ane.. Saya lagi pilek, batuk, demam tauuukkk). Meski agak enggan saya akhirnya meluluskan permintaan bapak tadi (udah nanggung asyik nyanyi juga.. hahahaha.. ketagihan critane). Saya berbisik pada mas pengamen: Mas, tahu lagu Tapi Bukan Aku? Maen di G ya :). Mas pengamen sekali lagi hanya mengedipkan mata dan tersenyum. Maka dimulailah duet maut kami. Suara saya memang tidak ada apa-apanya dibandingkan mas pengamen itu. Tapi melihat semua mata tertuju pada kami, saya jadi pede saja. Lagipula ini lagu favorit saya.. Bakaaaaarrrrr (pinjem kata komting..hehehe). Well, intinya meski saya harus berdiri di bus tapi saya bahagia karena bisa bernyanyi bareng mas pengamen.. Hahahahaha. That was my new experience.. Seumur-umur belum pernah gitu deh... Sayangnya saya tidak sempat berfoto bareng mas pengamen (mas nya malu sih...) :(

Setelah mas pengamen turun di terminal Ambarawa, bus pun akhirnya mulai lengang ketika ada dua orang turun di terminal itu juga. Mata saya langsung mencari tempat mana yang kosong. Secepat kilat saya datangi tempat itu. Sayang seribu sayang saya kalah rebutan sama seorang bapak gendut dengan tampang galak. Bahkan beliau tak mampu membaca wajah memelas saya (kira-kira wajah saya bilang begini: Pak, saya lagi sakit. Saya saja dong yang duduk situ...). Saya pasrah terima nasib harus tetap berdiri (sambil menahan sensasi puyeng di kepala akibat pilek dan demam). Tiba-tiba ada mas rada manis menawari saya duduk! Wow, baik amat tuh mas. Manis pula, sayang tidak sempat tanya nama.. Hahahaha. Ternyata eh ternyata mas tadi adalah cucu dari mbah kakung 4 minggu lalu. Tanpa saya sadari saya duduk di sebelah mbah kakung 4 minggu lalu. Beliau masih ingat jelas wajah saya padahal saya sama sekali tidak ingat bentukan beliau. Kami kemudian mengobrol ringan (sambil saya sedikit-sedikit mengorek info tentang cucunya. Setelah dikorek ternyata cucunya itu angkatan 2008 pendidikan matematika Unnes.. Xixixixixixi) membahas kuliah saya hingga sampai ke obrolan serius. Kata-kata beliau yang tak pernah saya lupakan: Anak muda zaman sekarang itu pinter-pinter, mbak. Cuma satu kurangnya, mereka kurang peka. Mereka terlalu asyik sama dunia mereka sendiri. Hati anak muda zaman sekarang sudah seperti batu. Saya sampai heran masih ada anak muda kayak mbak lo. Ternyata masih ada yang baik. Detik itu saya langsung berbunga-bunga geje, kemudian berkata: Ah nggih mboten, Pak. Banyak kok yang seperti saya, tapi bapak aja yang jarang ketemu yang baik-baik.. Kemudian mbah kakung tadi langsung tertawa (manis juga kalau ketawa, pasti mudanya ganteng deh...). Kata-kata terkahir dari beliau sebelum saya turun bus: Teruslah berbuat kebaikan, mbak. Beri bukti kalau anak muda itu tidak sejelek yang dipikirkan orang. Iki pesenku terusna ning kanca-kancamu, mbak. Memang kata-kata mbah kakung ada benarnya. Anak muda itu perlu mengubah dunia. Bagaimana cara mengubah dunia? Mulailah dari satu kebaikan tulus (mengutip dari film Evan Almighty. Dan ini ada benarnya juga ternyata...)


Kisah ini semoga dapat menjadi inspirasi bagi yang membaca. Anak muda, kalian pasti BISA!
Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari mbah kakung untuk kalian :)