Kamis, 24 November 2011

Jalan Kaki ke Kampus, antara Pelit Ato Sehat?

Aku terbiasa berjalan kaki ke mana pun selama di Tembalang. Ini gara-gara tidak punya motor seperti kebanyakan teman (dan karena bodohnya aku tak bisa naik motor). Jarak antara kost dan kampus yang tidak terlalu jauh membautku sering ke kampus dengan berjalan kaki, baik pagi ato siang ato sore. Capekkah? Lumayan, tapi paling hanya ngos-ngos an beberapa menit. Setelah itu akan biasa juga.

Hari ini, tepatnya siang hari bolong jam setengah dua, aku keluar kost demi ke kampus menghadiri preface Praktiukum Kompros. Wedyan pake bawa-bawa nama kompros! Sedikit pamer lah, aku kebetulan aslab kompros (yang entah kenapa bisa terpilih, sungguh beruntung aku). Rada sebel juga kenapa preface sangat sore yaitu jam setengah 4. Hal ini sungguh membuatku harus berdoa ekstra keras agar bus Semarang-Yogya tidak penuh saat aku pulang nanti. Selain menghambat jam kepulangan, ada hal yang paling membuat aku lemas: siang hari panas-panas aku harus jalan kaki ke kampus. Woooaaa... Hari ini sungguh matahari begitu terik (padahal hari-hari lalu jam segini mendung). Sebenarnya aku bisa milih naik angkot, tapi aku enggan. Enggan kenapa? Enggan mengeluarkan uang seribu rupiah untuk angkot (betapa pelitnya aku ini). Emang cuma seribu tapi sebenarnya sungguh sayang "seribu" untuk angkot yang seharusnya "seribu" bisa dapat gorengan dua biji!

Pada akhirnya, aku sering menutupi "kepelitan"ku dengan alasan: demi kesehatan jalan kaki aja! Hah, betapa naifnya aku. Sehat sih sehat, tapi kalo panas siang-siang bolong gini mana pas buat jalan kaki. Yang ada udah capek dua kali lipat, mandi keringat, plus sumpah serapah sepanjang jalan karena sinar matahari begitu silau. Well, di mata kalian jalan kaki ke kampus adalah hal yang melelahkan dan bodoh. Ga salah anggapan itu, karena aku juga kadang ngrasa begitu. Tapi buatku, jalan kaki adalah bagian dari seni. Siapa sangka dari perjalanan kost menuju kampus aku sering dapat inspirasi. Jalan kaki juga melepaskan penat. Kita bisa memandang tanaman jauh sedikit lebih lama daripada kita naik motor. Jalan kaki juga olahraga paling mudah yang bisa aku lakukan. Iklan aja ada yang bilang jalan kaki 10.000 langkah! Nah lo, seberapa seringkah kalian jalan kaki??? Aku yakin fisik kalian tak seberapa hebat jika dibandingkan dengan fisikku. Try it! Sehatlah dengan jalan kaki :)



ditulis saat hanya berdua dengan Ulil di Lab Kompros, pukul 14.03. Yang laen mana nih???? Lama banget datangnya!!!!! Grrrrr

Jumat, 18 November 2011

List Gombalan #1

Kayaknya gombalan emang lagi nge-trend di mana-mana. Sayangnya ga semua orang bisa ngegombal dengan baik atau pun suka digombalin. Aku udah beberapa hari ini menjadi penganut gombalan. Tiap ada gombalan di tivi pasti aku langsung antusias kemudian akan ketawa ketiwi ga jelas. Hingga tanpa sadar beberapa gombalan bisa membekas di otak ini. Iseng-iseng aku gombali orang lain dan alhamdulillah mereka suka hahahaha. Meski belum banyak gombalan yang aku dapat, paling tidak kebiasaan melihat gombalan di tivi membuat aku sedikit kreatif buat bikin gombalan. Ini nih beberapa list gombalan yang jadi favorit beberapa temanku:
  • Bapak kamu pemain bulutangkis ya? Kok tahu? Soalnya smash cinta kamu pas banget nyangkut di hatiku
  • Kamu atlet tuh mirip atlet sea games ya, pandai banget memenagkan hatiku...
  • Kalau aku disuruh milih 3 hal paling berharga di dunia, aku bakal pilih matahari, bintang, dan kamu. Matahari buat pagi dan siangku, bintang buat malamku, dan kamu buat SELAMANYA
  • Kamu ada duit dua ribu ga? Nggak, emang kenapa? Soalnya biar aku bisa parkir di hati kamu
  • Kamu udah lapor pak RT belum? Lapor? Buat apa? Ya karena kamu udah 1x24 jam nginep di pikiranku
  • Kamu takut tenggelam ga? Iya takut. Kalau aku ga bakal takut tenggelam, selama itu tenggelam di lautan cintamu
  • Seumur-umur aku takut banget ama hantu, apalagi kalo ampe menghantui mimpiku. Tapi aku ga akan keberatan kalo kamu yang menghantui pikiranku
  • Kadang kamu butuh lo mematikan semua lampu di malam hari. Lo kok gitu, ntar gelap dong. Ya ga apa-apa, asalkan kamu masih bisa liat dengan jelas sinar cintaku buat kamu
  • Bapak kamu nelayan ya? Kok tahu? Soalnya jangkar cintamu pas banget nancep di hatiku
  • Kalau di Palembang dan Jakarta sana banyak atlet berebut emas, kamu sadar ga kalo orang-orang di sekelilingmu pada berebut hati kamu
  • Coba deh kamu merem. Gelap ga? Gelap banget. Itu juga yang aku rasakan kalo ga ada kamu di sampingku
  • Kamu tahu filosofi cinta? Awalnya cinta itu dibawa oleh Adam dan Hawa, lalu disebarkan oleh Rama dan Sinta, hingga pada akhirnya dibawa mati oleh Romeo dan Juliet. Sekarang cinta itu kembali dihidupkan oleh AKU dan KAMU
  • Kalau penambahan reagen terus menerus bisa bikin larutan jenuh, lain halnya dengan penambahan rasa sayangku ke kamu yang ga bakal bikin kamu jenuh
  • Dulu kita pernah belajar trial dan error hingga diperoleh hasil yang benar. Namun rasa sayangku ke kamu ga butuh trial dan error karena aku selalu yakin perasaan ini BENAR
  • Kalau udara butuh blower buat naikin tekanan, maka aku cuma butuh kamu buat naikin semangatku

Sekian gombalan hari ini. Kapan kapan lanjut ya. Sekadar info beberapa gombalan diambil dari acara Comedy Project TRANS TV yang dibawain ama Deni Cagur. Esok ketika ada waktu untuk nggombal lagi, aku tak akan lupa buat posting di sini :)

Rabu, 16 November 2011

Aku, Ego, dan Realita

Aku ini pribadi yang sangat anomali. Kadang sedih saat seharusnya bahagia, kadang ingin menyendiri saat yang lain membuat keramaian untuk memecah kesunyia. Aku jarang peduli dengan apa yang orang katakan tentang aku. Baik buruknya selalu aku tampung, lalu aku filter mana yang penting, buang yang membuat down, kemudian akan melupakan semuanya dalam sekejap. Aku tak peduli perempuan-perempuan suka memakai high heels namun aku tidak. Aku tak peduli teman-temanku begitu suka nge-mall, sementara aku tidak. Kalau perempuan lebih suka berlama-lama Matahari, aku memilih berlama-lama di Gramedia. Aku kadang terlampau jauh dari kata perempuan. Kata orang aku tak ramah, ah aku sungguh tak peduli. Kata orang perempuan butuh perawatan wajah biar mukanya bersih, ah aku tak perlu itu. Aku belum ada dana khusus untuk perwatan segala macam. Cukuplah pembersih muka setiap hari. Aku juga tak mempermasalahkan wajahku yang senantiasa dibakar matahari. Biarlah kulit ini menghitam karena sejak lahir pun aku hitam. 


Kawan, kau tak akan pernah mengerti jalan pikiranku. Aku adalah pemberontak. Pikiranku selalu bertentangan dengan orang lain. Namun aku jarang mendebatkannya, aku lebih suka menyimpannya untukku sendiri dan melakukannya untukku sendiri. Mungkin dari kebiasaan inilah kalian menganggapku pribadi yang begitu cuek dan apatis. Butuh waktu yang agak lama untuk bisa mengerti aku, kawan. Kau bisa lihat aku tersenyum bahagia, hidup seolah tanpa beban, dan selalu membiarkan segalanya let it flow. Sebenarnya aku sama seperti kalian: banyak masalah, banyak pikiran, merasa memiliki beban bertubi-tubi yang tak tahu kapan hilangnya. Bedanya aku tak begitu mempedulikannya. Aku tak pernah berpikir lulus bulan April (namun kalian memikirkannya), aku tak pernah berpikir IPK cumlaude (namun sebagian kalian memikirkannya), aku tak pernah berpikir tak ada nilai C di transkrip (namun kalian memikirkannya), aku tak pernah ngoyo berpikir besok kerja apa (namun kalian selalu sudah merancangnya). Aku cuma manusia yang memegang teguh keyakinan bahwa semua itu ada waktunya. Aku percaya semuanya ini seperti angin malam saja, pasti akan berlalu begitu saja. Aku tak butuh heboh di hadapan kalian bahwa aku sibuk. Cukuplah kalian tahu bahwa aku kadang mulai gila dihadapkan 3 hal: PPK, KP, dan penelitian dengan 3 partner berbeda. Namun kini aku mulai terbiasa. Terbiasa mengerjakannya satu per satu. Terbiasa percaya bahwa semuanya pasti akan selesai. Terbiasa yakin bahwa sedikit usaha lebih berarti daripada hanya "memikirkannya" hingga membuat stress. 


Kadang aku juga ingin sekali memiliki waktu untuk sendiri. Sendirian di kamar. Kalau perlu aku matikan hape seharian biar tak ada yang ganggu. Sayangnya kalau begitu aku terlihat sangat egois. Ya benar, kadang aku mendambakan keegoisan dalam hidupku. Sekali saja aku tak ingin peduli pada orang lain. Sekali saja aku berhenti memikirkan perasaan orang lain. Sekali saja aku ingin menikmati hidup, persetan dengan nasib orang lain. Ya, sekali saja, sehari saja. Ah nampaknya sulit kawan. Ada sahabatku bilang aku ini terlalu baik, terlalu memikirkan nasib orang lain, hingga lupa akan perasaan sendiri. Sulit memang jadi orang baik karena terlalu baik pun juga tak dibenarkan. Aku cuma ingin jelaskan ke kalian bahwa sulit rasanya menyatukan antara ego dan realita. Ketika ego kita besar, kehendak kita begitu menggebu seolah tak ada yang bisa menahan. Saat kita ingin menang sendiri, naluri baik dalam diri kita selalu bicara. Pada akhirnya kau lah yang memilih, kawan. Kau memilih untuk menuruti ego atau hati nuranimu. Kau akan sadari pada saat nanti bahwa egomu akan berkebalikan dengan realita yang terjadi. Itu tandanya kau mengikuti hati nurani. Aku tak bisa bilang ini baik (karena belakangan aku simpulkan bahwa ini adalah hal bodoh). Semua pilihan ada di tanganmu, kawan. Percayalah bahwa menjadi diri sendiri lebih baik daripada menjadi orang lain. Kau perlu mendengar kritik orang lain, tapi jangan semuanya lolos dari filtermu. Filtermu harus baik sehingga kau tahu mana yang harus kau ikuti, mana yang tidak.

Sabtu, 12 November 2011

~Long Time No See~

Rasanya sudah terlalu lama tidak menulis di blog ini. Entah karena saya terlalu sibuk, terlalu larut tenggelam dalam neraca panas, terlalu egois untuk lebih sering mengurung diri di kamar mencari kedamaian, atau terlalu sering melupakan masalah yang ada. Ato mungkin karena saya lebih sering menuangkan uneg-uneg di akun Tumblr saya? Hahahahaha, entahlah. Yang jelas saya tidak berubah: saya tetap calon insinyur galau, saya tetap suka menulis, saya tetap masih gamang mau lulus kapan (*hoooohhhh males deh bicara ini)

Saya sudah tiga tahun lebih kuliah. Makin tua aja nih di tekim, makin ngrasa pengin cepet-cepet keluar. Padahal kalo mo keluar ga semudah itu. Kudu kelarin laporan kerja praktek, kelarin tugas PPK, dan tentu saja jalankan penelitian (yang sampai sekarang ga jalan-jalan). Saya bingung mau nulis apa, terlalu banyak pikiran di kepala ini. Niatnya hanya sekadar say "HAIIIIII" ama blog ini aja. Blog pertama saya, blog saksi keisengan hidup saya, blog tempat gilanya saya.

Cuma mau nulis sedikit selingan aja. Ini tentang seseorang. Seseorang yang dulu pernah ada dan kemudian terlupakan bertahun-tahun. Mendadak muncul lagi tapi lewat mimpi (ah ga asyik banget, semu). Nah mimpi itu mau tak mau membuat saya teringat akan kejadian-kejadian tahun-tahun lalu. Kadang membuat saya ketawa sendiri saat melihat barang-barang kenangan dulu. Melihat coretannya, mengingat lagu favoritnya (dan suaranya yang pas-pas an), mengingat betapa cerewetnya dia, betapa berisiknya dia, dan betapa sok pintarnya dia. Bahkan sempet sekilas mendadak ingat bau parfumnya. Gila! Mungkin kalau orangnya baca ini, dia bakal sadar. Kalau dia baca, saya cuma pengin bilang: Woiiiii... Saya kangen? Iya mungkin mengingat tak ada makhluk paling menyebalkan selain dia. Suka ngajak perang, tiba-tiba kadang berubah manis, dan yang terakhir cuma bisa bikin saya melongo heran. Tapi bukan kangen yang semacam 'cinta', kangen saja masa-masa kayak dulu. Singgasana kami tak pernah berubah, entah sengaja atau tidak, kami selalu menyukai tempat itu. Tak ada yang paling sering menempati tempat itu selain kami. Entah apa yang membuat kami nyaman di sana, padahal kami pun jarang tegur sapa ato bercanda. Ya cuma sekadar omongan: pinjem penggaris, pinjem pensil, pinjem tipex, lihat jawaban. Mungkin tak ada yang menyadari, karena hanya 'kami' yang menyadari ke'absurd'an ini. Kalau dia membaca ini, kalau dia lihat blog ini, kalau dia membaca tulisan-tulisan di sini, dia pasti tahu kalau saya tidak pernah berubah sejak dulu. Saya pasti akan menyapanya dengan lengkingan "Woiiiiiiiiiiiiiiiiiiii". Saya merindukannya seperti saya rindu akan blog ini. Saya rindu menumpahkan umpatan saya ke dia :) Hey boy, I know you feel the same with me. So why you have to hide from me? I remember you always stared at me, but I thought you would lend something from me. And I realize now that it doesn't mean for pencil or tipex, it means you wanna show your feeling. I'm sorry I can't see it. But now I really want we meet again as good friends. 






*sekian kegalauan hari ini...... 

Jumat, 22 Juli 2011

:: This Is Only A Story Between Us ::

You.. You.. You...
I remember the first time I saw you, it's been a long time ago
You were singing at there, and the people around you enjoyed your performance
next, I saw you again in every moment. You were always singing.... I don't know why I enjoyed every your performance
then you made me start feeling like this..
and now......
I always look at you when you pass
I never understand why you should play it cool
You never talk to me, but you just smile (sometimes)
Yeah, it's true that I'm a freak person
I do something that you call "absurd"
I'm sorry that I always disturb you.. I follow your path, I'm always looking for you...
It's a happiness for me to see you smile (though your smile is not for me)
This is something that I call "admire"
Yeah, I just admire you, boy
I don't know you can see it or not, I don't care
Do you know my name?  And (once again) I don't care
It's so nice to have a feeling like this...
I like the way you're walking, I like the way you're smiling
I like the way you're singing, and I like the way you keep everything on you so cool
That's why I admire you, boy...
This is only a story between us, between every our smile...
THIS IS US :))
You make me always sing ~ lalalalalalalala :D
I just sing like you do.... :))



*backsound: Everything by Michael Buble
....and when you smile at me you know exactly what you do.....
...and in this crazy life and through this crazy times, it's you it's you... You make me sing...
...you're every song and I sing along....

Kamis, 21 Juli 2011

Insiden Ganjel Pintu #sweetmemoriesontekim

Semester 6 ini hampir semua anak angkatan 2008 mengambil mata kuliah EKOTEK. Dilihat dari namanya saja sepertinya sudah nampak kalau di dalamnya ga jauh-jauh dari ekonomi. Mata kuliah ini memang perpaduan atau hasil sebuah fusion antara ekonomi dan teknik. Dua sisi yang jelas sangat bertolak belakang. Anak teknik kebanyakan lemah di ekonomi atau akuntansi, namun dengan amat sangat terpaksa harus mempelajari mata kuliah ini karena emang dibutuhin banget saat tugas PPK kelak. Sebenarnya ga cuma buat tugas PPK sih, besok-besok kalo udah kerja juga pasti butuh banget kalau misal mo ngrancang pabrik. Jadi biar ga salah pilih alat yang ekonomis, biar ga salah itung-itungan pas ngrancang biaya, dll. Namun kenyataannya, minat mahasiswa akan mata kuliah EKOTEK begitu rendah. Saking rendahnya bisa dihitung dengan jari berapa kali mahasiswa masuk mengikuti kelas ini. Kalau pun daftar hadir bisa penuh berarti telah terjadi persengkokolan busuk yang sudah menjadi hal biasa di kalangan mahasiswa. Yah, sudahlah saya ga mau bicara soal titip absen. Saya mau mengenang satu kisah yang lumayan lucu untuk dikenang…

Pak Darmadji, dosen EKOTEK yang satu ini memiliki tingkat kedisplinan yang tinggi. Bagi beliau kalau mau sukses ya disiplin. Kalau mau ikut kuliah EKOTEK ya jangan terlambat. Kalau terlambat ya ga usah masuk. Tegas. Beliau tidak suka kalau saat kuliah bangku-bangku depan masih kosong sementara bangku-bangku belakang berasa penuh sesak. Dengan tegas beliau pasti berkata, “Pindah depan mas/mbak. Depan masih banyak yang kosong. Jangan pernah mau hidup cuma jadi follower!”. Mahasiswa yang udah kena sentak begitu biasanya langsung nurut pindah duduk depan dengan muka sedikit manyun. Maka setelah bangku depan sudah terisi kuliah pun dimulai. Buka-buka diktat, buka-buka tabel, tapi biasanya ga ada satu pun yang nyantel di otak. Menit demi menit berlalu. Semakin lama waktu kuliah maka semakin lebar mulut mahasiswa menguap….

Jangan sekali-sekali terlalu pede untuk masuk kuliah kalau udah telat banget. Pintu di ruang A22 pasti sudah diganjel dengan kursi dengan tujuan agar mahasiswa telat ga bisa masuk. Kalau kamu masih punya nyali buat nerobos pintu yang diganjel itu maka kamu harus punya nyali juga buat dibentak: “KELUAR MAS/MBAK!!!”. Sejenak pasti kelas hening sambil pada ngelirik siapa yang telat tadi. Setalah mahasiswa yang telat sadar juga ga boleh masuk, pak Darmadji segera melanjutkan kuliah.
Namun ternyata pengganjal pintu itu pernah diterobos oleh beberapa mahasiswa telat. Siapa sangka niat para mahasiswa telat tadi yang begitu tulus untuk kuliah mampu mendobrak kuatnya kursi pengganjal pintu!

Alkisah, saat itu mahasiswa yang kuliah bisa dibilang sangat sedikit daripada biasanya. Pak Darmadji merasa waktu untuk mengganjal pintu telah tiba. Maka mahasiswa yang paling dekat dengan pintu saat itu disuruh untuk meletakkan kursi sebagai pengganjal pintu. Pada sutu saat, pak Darmadji sedang menerangkan sesuatu (yang entah apa itu) dan kebetulan butuh untuk menuliskannya di papan tulis. Entahlah ini yang disebut jodoh atau bukan: saat beliau menghadap papan tulis untuk menulis, serombongan mahasiswa telat datang. Dengan begitu pedenya mereka menerobos masuk, dengan suara-suara kaki mereka yang amat berisik plus suara cekakak-cekikik mahasiswa lain yang mengiringi langkah mereka. Saya sempat deg-deg an kalau-kalau pak Darmadji melihat kejadian ini, jangan-jangan luapan amarah besar akan beliau keluarkan. Parahnya, mahasiswa yang paling terakhir masuk tak sempurna menutup pntu sehingga kursi pengganjal nampak tak melakukan fungsinya dengan baik sebagai pengganjal. Belum sempat pintu ditutup rapat lagi, Pak Darmadji sudah selesai berurusan dengan papan tulis dan berbalik menghadap para mahasiswa lagi. Saya menahan napas siap-siap menerima bentakan beliau untuk kami. Namun hanya satu kalimat muncul dari mulut beliau: “Kok jumlahnya kayaknya nambah ya…”. Kalimat itu diucapkan dengan nada datar tanpa ekspresi marah atau kecewa. Setelah itu kuliah dilanjutkan kembali……..

Well. pak Darmadji mengajarkan saya tentang kedisplinan. Bagaimana cara kita menghargai waktu. Dan kawan-kawan saya yang telat tadi mengajarkan saya jangan pernah menyerah berjalan menghadapi penghalang sebesar apa pun. Berapa pun risikonya, harus diterjang. Hahahahahahahahahahahaha



*taken from another my blog: http://jessica066eksis08.tumblr.com/post/7107948652/insiden-ganjel-pintu-sweetmemoriesontekim

Surat untuk Bapak Presiden

Dear pak SBY,

Pak maaf sebelumnya kalo saya kelihatan ga sopan banget nulis surat kayak gini. Maklum lah pak saya anak gaoel gitu loooohhh. Sebenarnya saya cuma mau menyuarakan isi hati saya pak. Walau mungkin ga penting, mungkin ada baiknya bapak baca deh…

Saya mahasiswa semester 6 jurusan teknik kimia fakultas teknik Undip. Bapak tau Undip kan? Itu lo yang ada di Semarang. Yang terkenal dengan icon Patung Kuda-nya. Yang panas banget lingkungannya gara-gara kurang pohon. Yang biaya masuk kuliahnya ampun mahal banget bikin leher orang tua tercekik. Haduh maap pak, saya jadi ngalentur gini.. To the point aja ya pak..

Gini, pak. Saya jujur aja ga pernah ngerti apa yang terjadi ama bangsa ini. Kasus para koruptor ga pernah berhenti. Beritanya di tipi makin lama makin banyak hingga ngalahin berita video porno para artis. Sayangnya berita para koruptor belom mampu meredakan ketenaran sinetron kejar tayang Putri yang Ditukar dengan bintang utama Nikita Willy. Ya ampun maap ngelantur lagi. Jadi maksud saya: saya (dan mungkin jutaan masyarakat Indonesia lain) sudah muak dengan para koruptor itu pak. Persetan dengan persidangan kasus mereka yang lama, persetan dengan berapa duit yang mereka korupsi, persetan dengan hidup mereka yang masih bahagia-bahagia aja walau udah berstatus terdakwa. Tau ga sih pak, saya di sini geram lihat mereka. Kenapa kalo nangkap maling ayam lebih mudah daripada nangkap koruptor? Mungkin karena maling ayam ga punya cukup duit buat lari ke luar negeri kali ya, pak… Satu lagi pak. Saya bosan liat kasus korupsi yang seakan-akan mengikuti filosofi peribahasa: mati satu tumbuh seribu. Satu kasus terkuak muncul kasus lain. Satu nama terkuak muncul nama-nama yang lain. Saling lempar salah. Ga ada yang mau  ngaku. Heran saya ama koruptor pas dulu mereka SD dapat pelajaran agama ga sih? Atau jangan-jangan nilai agama mereka selalu merah kali ya, pak… Saya rasa sudah cukup bicara korupsi. Ganti topik.

Pak, saya tahu Bapak pasti banyak pikiran. Susah tidur kala malam. Pecah otak bapak pasti kalo tiap hari mikir nasib bangsa ini. Saya kasian ama Bapak. Tapi bisa ga pak, ga usah curhat melulu di depan media. Ga usah ngeluh melulu di depan media. Jujur saja, saya cuma bisa simpati dan tambah merasa kasihan ama segala keluhan bapak. Bapak kan pemimpin, simpan lah semua keluhan bapak. Kalau mau curhat boleh-boleh aja kok, tapi jangan ama seantero Indonesia juga. Cukup curhat ama orang terdekat aja. Justru menurut saya bapak harus e bisa tegar dan kuat di depan kami. Kalo kami liat bapak kuat kan otomatis sebagai warga negara kami juga tenang. Tapi kalo bapak curhat melulu gitu, kami jadi risih juga. Emang yang punya masalah bapak doang.. Saya juga pak.. Tau ga pak proposal penelitian saya belum beres? Tau ga pak saya belajar buat ujian ga mudeng-mudeng? PAP, ekotek, SOM, pemisahan dengan membran, PPK, dll itu susah pak mata kuliahnnya… Tau ga pak saya lagi butuh banyak duit buat penlit, kape, bayar listrik kost? Tau ga pak bahkan saya ga tau lulus ntar jadi apa? Parah kan pak. Bedanya saya ga pernah curhat di depan banyak media (lagian mana ada sih media nyari in saya„,). Gimana ya, pak.. Bingung bilang e. Intine yang kuat aja deh pak.

Sekian aja deh pak surat dari saya. Maap kalo banyak yang ga berkenan di hati bapak. Saya cuma manusia biasa pak. Kadang pengin juga ngeluarin uneg-uneg. Maap kalo cuma bisa lewat dunia maya. Kalo via pos, belum tentu bapak baca. Kalo via telpon, saya ga tau nomor telepon bapak. Kalo mau face to face, belum tentu bapak bisa dan mau ketemu saya. Anggap saja surat ini mewakili perasaan hampir seluruh bangsa Indonesia. Moga bapak bisa tegar membacanya. Makasih pak.

Warga negara yang cinta Indonesia,
Jessica


*taken from another my blog: http://jessica066eksis08.tumblr.com/post/7075464616/surat-untuk-bapak-presiden

Kamis, 16 Juni 2011

F R I E N D

Friend....
Can you tell me why I feel like this?
Can you see me that I'm so bored with you?
or you will wanna know everything?
I'm doubt about it....

Well, thank you for supporting me, thank you for listening to all my sigh, thank you for giving a lot of advices for me, thank you for all you've done to me. I'm proud to have a friend like you. But just "sometimes"....

Where are you when I feel so sad? Yeah, you're right beside me. But just "right beside me"
Where are you when I get some troubles in my life? Yeah, you'll be with me. But just "be with me"
What do you do when I always angry? Yeah, you say 'keep calm, dear'. But just "say keep calm"

Now...
Can you "really" understand what happen to me?
Can you "really" wanna know what I'm worried about?
Can you tell me how to solve this damn-freak-thing?
(Again) I'm doubt about it..
You say: "Spirit, dear!" But it's not easy like you say
You say: "I'll be there for you..." But actually you'll never always be there for me
You say: "You're great, you're strong. I'm sure that you can pass it!" But you have to know that I'm not strong like you think

Friend...
Can you hide your happiness from me when I'm down? Don't you think that I'm so depressed to watch it? Can you give me a hope? I don't need your advice because it seems just "a bullshit" to me. Don't you know that:
You can't understand me because YOU ARE NOT ME
You can't understand me because YOU DON'T GET THIS PROBLEM
You always ask the same question for me: Why.... why.... and why.....
You just try to "care for me" but you don't "really" care for me

Anyway, I think YOU ARE NOT ME but YOU ARE LIKE ME. Maybe sometimes you feel like me, you get a big trouble, you're sad; but I can't be your best friend when you feel all of this. That's why now you can't understand me. Actually now I can see that everyone has their own problems. Just like this: I don't wanna know your problem, so do you. It's true that: HARD TO BE UNDERSTOOD IF YOU CAN"T UNDERSTAND ANOTHER PERSON



Tulisan ini dibuat berdasarkan sebuah realita dalam pertemanan. Mudah memang mencari teman, namun sulit mencari sahabat. Jangan pernah menyuruh orang lain mengerti anda jika anda pun tak mampu mengerti orang lain :)). Spesial untuk kawan-kawan saya: I LOVE YOU ALL... Maap saya sering marah-marah ga jelas :)) I'm happy to be your friend...

Rabu, 27 April 2011

...when i talk about kormat....

Sebuah tulisan yang aku dedikasikan untuk para kormat. They are inspiring my life. They show me how to be faithful. Mereka mengajarkanku bagaimana caranya sabar....


Kormat. Nampaknya jabatan tadi sangatlah terhormat. Jika menjadi kormat, maka  bersiap-siaplah menjadi orang penting. Kau akan berhubungan langsung dan lebih intens  dengan dosen. Tak salah jika berharap nomor hapemu juga akan di-save oleh si dosen.  Inbox di hapemu akan dipenuhi pertanyaan kawan-kawanmu yang sama tiap minggunya: nanti  ada kuliah tidak? Maka setelah kau bosan dengan pertanyaan yang sama tiap minggunya,  setiap malam sebelum hari H kuliah kau akan membuat jarkom: JARKOM!! Besok ada kuliah  bla bla bla di ruang bla bla bla pukul bla bla bla. Kalau sudah musim menjelang ujian  maka sms yang masuk ke inboxmu berganti: besok ujiannya open apa close? Jenuh menjawab  pertanyaan yang sama pada tiap orang, ujung-ujungnya kau akan membuat jarkom lagi:  JARKOM!! Ujian bla bla close book. Derita kormat tak sampai di situ saja. Kadang jika  dosen memberi tugas yang rada "geje" dan sulit dipahami oleh otak mahasiswa rata-rata  macam kami, maka seolah-olah kormat lah yang harus bertanggung jawab. Ditanya ini itu,  kalau tak tahu disuruh tanya ke dosennya. Itulah kormat, mengemban tugas yang cukup  berat, menjadi penopang bagi mahasiswa malas macam kami ini.

Ada lagi derita kormat yang lain, dia hampir tak bisa membolos mata kuliah yang menjadi tanggung jawabnya (kecuali kalau dia nekat dan cuek pada nasib kawan-kawannya). Kormat biasanya duduk di depan saat kuliah. Dia akan mengikuti kuliah dengan amat baik, mencatat setiap tugas yang diberikan oleh dosen. Maka kutemukan lagi satu derita kormat: "memperhatikan kuliah dengan sungguh-sungguh". Sudah menjadi rahasia umum kalau mahasiswa bengal seperti kami jarang mengikuti kuliah dengan sungguh-sungguh. Ada saja yang dikerjakan: bergosip dengan teman sebelah, melamun, menggambar rupa-rupa bentuk di kertas, menyalin laporan praktikum, membuat proposal praktikum, mengantuk, tidur, sms an, browsing via hape. hingga sok serius memandang diktat kuliah padahal pikirannya ngelantur ke mana-mana. Namun sekali kau menyandang gelar kormat maka jangan harap bisa melakukan hal-hal tadi dengan leluasa. Kormat lah source of information bagi kawan-kawannya. Salah memberi info pasti akan menjadi pergunjingan walau hanya sesaat. Seperti tabiat kebanyakan orang Indonesia yang suka mengeluh, mahasiswa pun demikian. Sekali berbuat salah, pasti langsung dicibir, dianggap tak bertanggung jawab lah, lalai lah, malas lah, dan lain-lain. Padahal aku yakin, mereka yang tukang mengeluh tadi (termasuk aku) pasti belum tentu mengemban amanah mulia sebagai kormat. Oh ya satu hal lagi derita kormat yang paling akut: saat akan memfotocopy diktat dengan tebal yang lumayan ditambah jumlah mahasiswa yang lumayan banyak juga, mau tak mau dia harus menalangi uang pembayaran kawan-kawannya. Dapat kutarik kesimpulan bahwa kormat haruslah punya uang cadangan untuk keadaan mendadak macam ini. Belum lagi kalau ada beberapa kawan yang belum membayar uang diktat namun dia relakan memberikan diktat pada kawannya karena kasihan.

Atas dasar segala penderitaan yang kulihat jika menjadi kormat tadi, maka kuputuskan aku tak akan pernah mencalonkan diri menjadi kormat. Bahkan kalau sampai ada yang melambungkan namaku saat pemilihan kormat maka bisa kupastikan habislah dia di tanganku. Tak bisa kubayangkan bagaimana rasanya mengurusi puluhan mahasiswa-mahasiswa labil di kelasku. Aku malas sekali mengurusi nasib jadwal kuliah mereka. Aku malas juga jika ada jadwal yang bertabrakan atau dosen yang bersangkutan berhalangan hadir, maka aku harus mencari jadwal penggantinya. Belum lagi kalau kawan-kawanku selalu menghantui malamku dengan sms tentang kapan kuliah. Bukannya aku pelit pulsa, tapi malas saja membalas sms yang sama setiap minggu. Di mataku, setelah menjabat sebagai kormat maka hidup terasa gelap. Satu semester dijalani dengan kelelahan tiap minggu. Ambil absen, ambil LCD, mengingatkan dosen untuk kuliah, ada pula dosen minta dijemput di ruangannya (macam anak SD saja tipe dosen macam ini), kadang ada dosen meminta dibawakan air minum saat kuliah, dan hal-hal absurd lain. Aku akui kalau aku bukanlah tipe penyokong yang bisa melakukan hal-hal tadi. Aku malas mengurusi hajat hidup mahasiswa labil ini. Kalau aku jadi kormat maka pastilah kuliah berantakan. Kalau kau tanya tugas, mungkin kujawab: tidak ada tugas kok, santai saja. Kalau kau tanya ujian close book atau open book mungkin kujawab: open kok (padahal close book).

Kalian boleh men-judge aku sebagai mahasiswa tak bisa diandalkan dan tak bisa bertanggung jawab. Terserahlah. Namun daripada kalian menghujatku terus, aku bawa kalian ke sosok-sosok hebat yang sukses menjadi kormat. Kormat yang bisa aku katakan teladan karena kesabarannya, kepeduliannya pada nasib kami, kerajinannya, keuletannya, keramahnnya, dan terjaminnya nasib kami selama kuliah. Sosok pertama adalah TRINUG. Aku menyebutnya Master of Kormat. Bukan tanpa alasan aku menyebutnya seperti itu. Dia sosok paling bertanggung jawab dari semua kormat yang pernah aku lihat. Dia selalu datang lebih pagi dari yang lain. Dia selalu menyiapkan segala yang diperlukan sang dosen sebelum perkuliahan dimulai. Yang membuatku tambah kagum, meski saat tak menjabat sebagai kormat sekalipun, dia rela melakukan tugas kormat macam ambil LCD dan daftar absen saat kormat yang bersangkutan berhalangan bertugas tanpa alasan yang jelas. Dialah TRINUG, anak asli Semarang, cerdas, santun pula. Aku memandangnya sebagai muslim yang baik. Sosok yang kedua adalah ULIL. Dalam kamus kehidupan tekimku, aku menetapkannya sebagai orang kepercayaan Master of Kormat. Dia rajin datang pagi ke kampus (apalagi untuk download anime-anime kesukaannya). Kelakuannya mirip sang Master of Kormat. Hanya saja dia agak "grusa-grusu" alias agak mudah panik. Dia suka berlari-lari dari lantai dua gedung B menuju tempat perkuliahan. Dia juga ahli dalam memecahkan "masalah LCD". Ada kalanya LCD tidak mau connect dengan laptop, maka ULIL lah yang berhasil menjinakkan LCD tadi. Sebenarnya masih banyak lagi kormat-kormat yang di mataku baik, namun dari semuanya mereka berdua lah yang terbaik. Muncul pula nama kormat-kormat lain yang tak mungkin pula aku sebutkan satu per satu (karena sepertinya hampir semua anak sudah merasakan menjadi kormat..).

Keseluruhan, merekalah sebagian dari mahasiswa labil yang berani mengemban tanggung jawab berat. Mereka lah sosok yang menjadi panutan selama hidupku. Melalui mereka aku belajar agar aku jangan sampai hidup menderita seperti mereka. Ah, salah lagi. Maksudku melalui mereka aku belajar untuk menjadi pengayom bagi yang lain. Sulit memang sepertinya, namun aku tahu di balik kesengasaraan mereka muncul sebuah senyuman manis di akhir masa kerja mereka. Mereka patut berbangga karena melalui merekalah kuliah lancar, melalui merekalah tugas-tugas dapat dikumpulkan, melalui merekalah nilai-nilai  -baik indah maupun hancur-   milik kawan-kawannya akhirnya bisa terpampang di KHS. Sejuta hormatku untuk kalian, wahai para kormat...

Senin, 04 April 2011

Nge-Fans: Antara SUKA ato DEMEN??

Tulisan ini aku buat berdasarkan kisah pribadi, nyata, dan tanpa rekayasa. Apa yang ada di sini adalah bagain-bagian tak terpisahkan manusia ketika dia nge-fans dengan seseorang. Aku tertarik menulis hal "geje" ini karena sejujurnya inilah hal paling aneh yang sering aku lakukan. Mungkin hanya ingin sekadar share saja, kali aja ada yang kisahnya sama kayak aku.

Mengagumi seseorang bukanlah hal yang salah. Misal saja sekadar flash back, zaman SMA dulu aku kagum pada seorang pegawai TU di sekolahku. Beliau begitu santun, ramah, tidak neko-neko, dan tentu saja ganteng. Atau aku juga sempat kagum kepada guru SMP ku yang begitu galak namun sangat pintar dan membuat para siswanya pintar. Ada kalanya kagum itu dalam batasan "wajar", namun ada kalanya "kagum" itu dalam batasan yang "sangat tidak wajar". Untuk kategori "sangat tidak wajar" aku klasifikasikan untuk kisahku akhir-akhir ini selama duduk di bangku kuliah. Bentuk-bentuk tindakan "geje" plus aneh mulai muncul saat aku nge-fans dengan seseorang -sebut saja mas Oki- . Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari laki-laki itu. Dia begitu dingin dan teramat cuek plus sedikit jaim. Hal-hal itulah yang membuatku begitu penasaran dengannya. Sebenarnya sejak awal semester 1 aku sudah "tertarik" akan tingkah lakunya, namun mungkin baru semester ini lah aku menjadi terkena "penyakit gila" sebagai efek nge-fans kepadanya.

Aku membedakan antara nge-fans dan cinta. Perbedaan yang nyata terlihat tentu saja kalo nge-fans tuh ya cuma suka saja. Suka ama gerakannya, suka lihat wajah segernya, suka tingkah lakunya, pokoknya menjurus ke hal-hal yang berbau fisik. Tapi cinta itu lain. Cinta itu perasaan yang sulit didefinsikan, yang ada hanya perasaan gelisah, deg-deg an, berbunga-bunga, sampai patah hati. Kalau nge-fans biasanya aku tak sampai deg-deg an saat memandang wajahnya, namun jika cinta pasti ada deg-deg an di dalam dada. Nah, berdasarkan teori di atas (teori yang aku buat sendiri tentunya), maka bisa aku simpulkan apa-apa yang belakangan ini aku rasakan hanyalah sekadar perasaan sebagai fans mas Oki. Meski bukan cinta, namun tindakan yang akhir-akhir ini sering dilakukan sama "gila" nya dengan jatuh cinta. Inilah beberapa tindakan gila itu:
  • Mulai mencari wajahnya saat seharian tak melihat wajahnya. Ini tindakan gila pertama yang sering aku lakukan bersama partnerku (baca: Lia). Tempat-tempat yang sering menjadi sasaran utama kami biasanya gedung A bawah, gedung B bawah, dan parkiran (akhir-akhir ini perpustakaan juga menjadi target).
  • Mulai cengar-cengir kalau melihatnya berjalan atau lewat di hadapan kami. Ini juga tindakan gila karena kami dengan "geje" nya mengharapkan senyumnya untuk kami. Kadang yang muncul di bibirnya bukanlah sebuah senyuman untuk kami melainkan sebuah cengiran yang tak kalah geje bentuknya dengan tindakan kami
  • Mulai hapal jadwal mas Oki dari hari ke hari. Ini tindakan gila terparah yang kami alami. Entah karena sudah kebiasaan atau emang entah karena "sengaja" menghapal jadwal lewatnya jam berapa, jadwal hari apa biasanya dia di mana, jadwal jam berapa dia ada di parkiran, dan jadwal-jadwal lainnya. Ini makin menggila karena lama-kelamaan kami hapal di mana kami harus stand by buat menanti masnya lewat.
  • Mulai hapal baju yang dia pake. Ini tindakan gila yang jarang aku lakukan namun sering dilakuakan oleh partnerku (baca: Lia). Aku no comment untuk tindakan ini karena sudah termasuk level "parah".
Well, setidaknya itulah beberapa tindakan "gila" yang aku lakukan bersama partnerku.  Gila memang, namun kami seolah menikmatinya. Kadang kami menganggap sosok mas itu sebagai penyegar buat kami di tengah kejenuhan kuliah dan tugas plus kadang penyejuk hati kami yang kadang tersakiti oleh cinta. Namun makin ke sini jujur saja muncul pertanyaan di benakku, beda antara suka ama demen tipis sekali. Aku tidak demen ama mas itu, tapi suka aja lihat tingkah polahnya. Tapi lama-lama bisa saja suka itu jadi demen kalau aku sendiri tidak bisa mengendalikan "tindakan gila" di atas. Lucu memang kisah-kisah macam ini. Aku anggap ini sebagai kenangan, kenangan yang terlupakan saat aku berumur 20 tahun. Kenangan gila yang aku miliki di tengah frustasi hidup di teknik kimia. Nge-fans pada mas Oki menjadi sesuatu yang tidak akan aku sesali karena menurutku itu bukan hal salah.

Kamis, 24 November 2011

Jalan Kaki ke Kampus, antara Pelit Ato Sehat?

Aku terbiasa berjalan kaki ke mana pun selama di Tembalang. Ini gara-gara tidak punya motor seperti kebanyakan teman (dan karena bodohnya aku tak bisa naik motor). Jarak antara kost dan kampus yang tidak terlalu jauh membautku sering ke kampus dengan berjalan kaki, baik pagi ato siang ato sore. Capekkah? Lumayan, tapi paling hanya ngos-ngos an beberapa menit. Setelah itu akan biasa juga.

Hari ini, tepatnya siang hari bolong jam setengah dua, aku keluar kost demi ke kampus menghadiri preface Praktiukum Kompros. Wedyan pake bawa-bawa nama kompros! Sedikit pamer lah, aku kebetulan aslab kompros (yang entah kenapa bisa terpilih, sungguh beruntung aku). Rada sebel juga kenapa preface sangat sore yaitu jam setengah 4. Hal ini sungguh membuatku harus berdoa ekstra keras agar bus Semarang-Yogya tidak penuh saat aku pulang nanti. Selain menghambat jam kepulangan, ada hal yang paling membuat aku lemas: siang hari panas-panas aku harus jalan kaki ke kampus. Woooaaa... Hari ini sungguh matahari begitu terik (padahal hari-hari lalu jam segini mendung). Sebenarnya aku bisa milih naik angkot, tapi aku enggan. Enggan kenapa? Enggan mengeluarkan uang seribu rupiah untuk angkot (betapa pelitnya aku ini). Emang cuma seribu tapi sebenarnya sungguh sayang "seribu" untuk angkot yang seharusnya "seribu" bisa dapat gorengan dua biji!

Pada akhirnya, aku sering menutupi "kepelitan"ku dengan alasan: demi kesehatan jalan kaki aja! Hah, betapa naifnya aku. Sehat sih sehat, tapi kalo panas siang-siang bolong gini mana pas buat jalan kaki. Yang ada udah capek dua kali lipat, mandi keringat, plus sumpah serapah sepanjang jalan karena sinar matahari begitu silau. Well, di mata kalian jalan kaki ke kampus adalah hal yang melelahkan dan bodoh. Ga salah anggapan itu, karena aku juga kadang ngrasa begitu. Tapi buatku, jalan kaki adalah bagian dari seni. Siapa sangka dari perjalanan kost menuju kampus aku sering dapat inspirasi. Jalan kaki juga melepaskan penat. Kita bisa memandang tanaman jauh sedikit lebih lama daripada kita naik motor. Jalan kaki juga olahraga paling mudah yang bisa aku lakukan. Iklan aja ada yang bilang jalan kaki 10.000 langkah! Nah lo, seberapa seringkah kalian jalan kaki??? Aku yakin fisik kalian tak seberapa hebat jika dibandingkan dengan fisikku. Try it! Sehatlah dengan jalan kaki :)



ditulis saat hanya berdua dengan Ulil di Lab Kompros, pukul 14.03. Yang laen mana nih???? Lama banget datangnya!!!!! Grrrrr

Jumat, 18 November 2011

List Gombalan #1

Kayaknya gombalan emang lagi nge-trend di mana-mana. Sayangnya ga semua orang bisa ngegombal dengan baik atau pun suka digombalin. Aku udah beberapa hari ini menjadi penganut gombalan. Tiap ada gombalan di tivi pasti aku langsung antusias kemudian akan ketawa ketiwi ga jelas. Hingga tanpa sadar beberapa gombalan bisa membekas di otak ini. Iseng-iseng aku gombali orang lain dan alhamdulillah mereka suka hahahaha. Meski belum banyak gombalan yang aku dapat, paling tidak kebiasaan melihat gombalan di tivi membuat aku sedikit kreatif buat bikin gombalan. Ini nih beberapa list gombalan yang jadi favorit beberapa temanku:
  • Bapak kamu pemain bulutangkis ya? Kok tahu? Soalnya smash cinta kamu pas banget nyangkut di hatiku
  • Kamu atlet tuh mirip atlet sea games ya, pandai banget memenagkan hatiku...
  • Kalau aku disuruh milih 3 hal paling berharga di dunia, aku bakal pilih matahari, bintang, dan kamu. Matahari buat pagi dan siangku, bintang buat malamku, dan kamu buat SELAMANYA
  • Kamu ada duit dua ribu ga? Nggak, emang kenapa? Soalnya biar aku bisa parkir di hati kamu
  • Kamu udah lapor pak RT belum? Lapor? Buat apa? Ya karena kamu udah 1x24 jam nginep di pikiranku
  • Kamu takut tenggelam ga? Iya takut. Kalau aku ga bakal takut tenggelam, selama itu tenggelam di lautan cintamu
  • Seumur-umur aku takut banget ama hantu, apalagi kalo ampe menghantui mimpiku. Tapi aku ga akan keberatan kalo kamu yang menghantui pikiranku
  • Kadang kamu butuh lo mematikan semua lampu di malam hari. Lo kok gitu, ntar gelap dong. Ya ga apa-apa, asalkan kamu masih bisa liat dengan jelas sinar cintaku buat kamu
  • Bapak kamu nelayan ya? Kok tahu? Soalnya jangkar cintamu pas banget nancep di hatiku
  • Kalau di Palembang dan Jakarta sana banyak atlet berebut emas, kamu sadar ga kalo orang-orang di sekelilingmu pada berebut hati kamu
  • Coba deh kamu merem. Gelap ga? Gelap banget. Itu juga yang aku rasakan kalo ga ada kamu di sampingku
  • Kamu tahu filosofi cinta? Awalnya cinta itu dibawa oleh Adam dan Hawa, lalu disebarkan oleh Rama dan Sinta, hingga pada akhirnya dibawa mati oleh Romeo dan Juliet. Sekarang cinta itu kembali dihidupkan oleh AKU dan KAMU
  • Kalau penambahan reagen terus menerus bisa bikin larutan jenuh, lain halnya dengan penambahan rasa sayangku ke kamu yang ga bakal bikin kamu jenuh
  • Dulu kita pernah belajar trial dan error hingga diperoleh hasil yang benar. Namun rasa sayangku ke kamu ga butuh trial dan error karena aku selalu yakin perasaan ini BENAR
  • Kalau udara butuh blower buat naikin tekanan, maka aku cuma butuh kamu buat naikin semangatku

Sekian gombalan hari ini. Kapan kapan lanjut ya. Sekadar info beberapa gombalan diambil dari acara Comedy Project TRANS TV yang dibawain ama Deni Cagur. Esok ketika ada waktu untuk nggombal lagi, aku tak akan lupa buat posting di sini :)

Rabu, 16 November 2011

Aku, Ego, dan Realita

Aku ini pribadi yang sangat anomali. Kadang sedih saat seharusnya bahagia, kadang ingin menyendiri saat yang lain membuat keramaian untuk memecah kesunyia. Aku jarang peduli dengan apa yang orang katakan tentang aku. Baik buruknya selalu aku tampung, lalu aku filter mana yang penting, buang yang membuat down, kemudian akan melupakan semuanya dalam sekejap. Aku tak peduli perempuan-perempuan suka memakai high heels namun aku tidak. Aku tak peduli teman-temanku begitu suka nge-mall, sementara aku tidak. Kalau perempuan lebih suka berlama-lama Matahari, aku memilih berlama-lama di Gramedia. Aku kadang terlampau jauh dari kata perempuan. Kata orang aku tak ramah, ah aku sungguh tak peduli. Kata orang perempuan butuh perawatan wajah biar mukanya bersih, ah aku tak perlu itu. Aku belum ada dana khusus untuk perwatan segala macam. Cukuplah pembersih muka setiap hari. Aku juga tak mempermasalahkan wajahku yang senantiasa dibakar matahari. Biarlah kulit ini menghitam karena sejak lahir pun aku hitam. 


Kawan, kau tak akan pernah mengerti jalan pikiranku. Aku adalah pemberontak. Pikiranku selalu bertentangan dengan orang lain. Namun aku jarang mendebatkannya, aku lebih suka menyimpannya untukku sendiri dan melakukannya untukku sendiri. Mungkin dari kebiasaan inilah kalian menganggapku pribadi yang begitu cuek dan apatis. Butuh waktu yang agak lama untuk bisa mengerti aku, kawan. Kau bisa lihat aku tersenyum bahagia, hidup seolah tanpa beban, dan selalu membiarkan segalanya let it flow. Sebenarnya aku sama seperti kalian: banyak masalah, banyak pikiran, merasa memiliki beban bertubi-tubi yang tak tahu kapan hilangnya. Bedanya aku tak begitu mempedulikannya. Aku tak pernah berpikir lulus bulan April (namun kalian memikirkannya), aku tak pernah berpikir IPK cumlaude (namun sebagian kalian memikirkannya), aku tak pernah berpikir tak ada nilai C di transkrip (namun kalian memikirkannya), aku tak pernah ngoyo berpikir besok kerja apa (namun kalian selalu sudah merancangnya). Aku cuma manusia yang memegang teguh keyakinan bahwa semua itu ada waktunya. Aku percaya semuanya ini seperti angin malam saja, pasti akan berlalu begitu saja. Aku tak butuh heboh di hadapan kalian bahwa aku sibuk. Cukuplah kalian tahu bahwa aku kadang mulai gila dihadapkan 3 hal: PPK, KP, dan penelitian dengan 3 partner berbeda. Namun kini aku mulai terbiasa. Terbiasa mengerjakannya satu per satu. Terbiasa percaya bahwa semuanya pasti akan selesai. Terbiasa yakin bahwa sedikit usaha lebih berarti daripada hanya "memikirkannya" hingga membuat stress. 


Kadang aku juga ingin sekali memiliki waktu untuk sendiri. Sendirian di kamar. Kalau perlu aku matikan hape seharian biar tak ada yang ganggu. Sayangnya kalau begitu aku terlihat sangat egois. Ya benar, kadang aku mendambakan keegoisan dalam hidupku. Sekali saja aku tak ingin peduli pada orang lain. Sekali saja aku berhenti memikirkan perasaan orang lain. Sekali saja aku ingin menikmati hidup, persetan dengan nasib orang lain. Ya, sekali saja, sehari saja. Ah nampaknya sulit kawan. Ada sahabatku bilang aku ini terlalu baik, terlalu memikirkan nasib orang lain, hingga lupa akan perasaan sendiri. Sulit memang jadi orang baik karena terlalu baik pun juga tak dibenarkan. Aku cuma ingin jelaskan ke kalian bahwa sulit rasanya menyatukan antara ego dan realita. Ketika ego kita besar, kehendak kita begitu menggebu seolah tak ada yang bisa menahan. Saat kita ingin menang sendiri, naluri baik dalam diri kita selalu bicara. Pada akhirnya kau lah yang memilih, kawan. Kau memilih untuk menuruti ego atau hati nuranimu. Kau akan sadari pada saat nanti bahwa egomu akan berkebalikan dengan realita yang terjadi. Itu tandanya kau mengikuti hati nurani. Aku tak bisa bilang ini baik (karena belakangan aku simpulkan bahwa ini adalah hal bodoh). Semua pilihan ada di tanganmu, kawan. Percayalah bahwa menjadi diri sendiri lebih baik daripada menjadi orang lain. Kau perlu mendengar kritik orang lain, tapi jangan semuanya lolos dari filtermu. Filtermu harus baik sehingga kau tahu mana yang harus kau ikuti, mana yang tidak.

Sabtu, 12 November 2011

~Long Time No See~

Rasanya sudah terlalu lama tidak menulis di blog ini. Entah karena saya terlalu sibuk, terlalu larut tenggelam dalam neraca panas, terlalu egois untuk lebih sering mengurung diri di kamar mencari kedamaian, atau terlalu sering melupakan masalah yang ada. Ato mungkin karena saya lebih sering menuangkan uneg-uneg di akun Tumblr saya? Hahahahaha, entahlah. Yang jelas saya tidak berubah: saya tetap calon insinyur galau, saya tetap suka menulis, saya tetap masih gamang mau lulus kapan (*hoooohhhh males deh bicara ini)

Saya sudah tiga tahun lebih kuliah. Makin tua aja nih di tekim, makin ngrasa pengin cepet-cepet keluar. Padahal kalo mo keluar ga semudah itu. Kudu kelarin laporan kerja praktek, kelarin tugas PPK, dan tentu saja jalankan penelitian (yang sampai sekarang ga jalan-jalan). Saya bingung mau nulis apa, terlalu banyak pikiran di kepala ini. Niatnya hanya sekadar say "HAIIIIII" ama blog ini aja. Blog pertama saya, blog saksi keisengan hidup saya, blog tempat gilanya saya.

Cuma mau nulis sedikit selingan aja. Ini tentang seseorang. Seseorang yang dulu pernah ada dan kemudian terlupakan bertahun-tahun. Mendadak muncul lagi tapi lewat mimpi (ah ga asyik banget, semu). Nah mimpi itu mau tak mau membuat saya teringat akan kejadian-kejadian tahun-tahun lalu. Kadang membuat saya ketawa sendiri saat melihat barang-barang kenangan dulu. Melihat coretannya, mengingat lagu favoritnya (dan suaranya yang pas-pas an), mengingat betapa cerewetnya dia, betapa berisiknya dia, dan betapa sok pintarnya dia. Bahkan sempet sekilas mendadak ingat bau parfumnya. Gila! Mungkin kalau orangnya baca ini, dia bakal sadar. Kalau dia baca, saya cuma pengin bilang: Woiiiii... Saya kangen? Iya mungkin mengingat tak ada makhluk paling menyebalkan selain dia. Suka ngajak perang, tiba-tiba kadang berubah manis, dan yang terakhir cuma bisa bikin saya melongo heran. Tapi bukan kangen yang semacam 'cinta', kangen saja masa-masa kayak dulu. Singgasana kami tak pernah berubah, entah sengaja atau tidak, kami selalu menyukai tempat itu. Tak ada yang paling sering menempati tempat itu selain kami. Entah apa yang membuat kami nyaman di sana, padahal kami pun jarang tegur sapa ato bercanda. Ya cuma sekadar omongan: pinjem penggaris, pinjem pensil, pinjem tipex, lihat jawaban. Mungkin tak ada yang menyadari, karena hanya 'kami' yang menyadari ke'absurd'an ini. Kalau dia membaca ini, kalau dia lihat blog ini, kalau dia membaca tulisan-tulisan di sini, dia pasti tahu kalau saya tidak pernah berubah sejak dulu. Saya pasti akan menyapanya dengan lengkingan "Woiiiiiiiiiiiiiiiiiiii". Saya merindukannya seperti saya rindu akan blog ini. Saya rindu menumpahkan umpatan saya ke dia :) Hey boy, I know you feel the same with me. So why you have to hide from me? I remember you always stared at me, but I thought you would lend something from me. And I realize now that it doesn't mean for pencil or tipex, it means you wanna show your feeling. I'm sorry I can't see it. But now I really want we meet again as good friends. 






*sekian kegalauan hari ini...... 

Jumat, 22 Juli 2011

:: This Is Only A Story Between Us ::

You.. You.. You...
I remember the first time I saw you, it's been a long time ago
You were singing at there, and the people around you enjoyed your performance
next, I saw you again in every moment. You were always singing.... I don't know why I enjoyed every your performance
then you made me start feeling like this..
and now......
I always look at you when you pass
I never understand why you should play it cool
You never talk to me, but you just smile (sometimes)
Yeah, it's true that I'm a freak person
I do something that you call "absurd"
I'm sorry that I always disturb you.. I follow your path, I'm always looking for you...
It's a happiness for me to see you smile (though your smile is not for me)
This is something that I call "admire"
Yeah, I just admire you, boy
I don't know you can see it or not, I don't care
Do you know my name?  And (once again) I don't care
It's so nice to have a feeling like this...
I like the way you're walking, I like the way you're smiling
I like the way you're singing, and I like the way you keep everything on you so cool
That's why I admire you, boy...
This is only a story between us, between every our smile...
THIS IS US :))
You make me always sing ~ lalalalalalalala :D
I just sing like you do.... :))



*backsound: Everything by Michael Buble
....and when you smile at me you know exactly what you do.....
...and in this crazy life and through this crazy times, it's you it's you... You make me sing...
...you're every song and I sing along....

Kamis, 21 Juli 2011

Insiden Ganjel Pintu #sweetmemoriesontekim

Semester 6 ini hampir semua anak angkatan 2008 mengambil mata kuliah EKOTEK. Dilihat dari namanya saja sepertinya sudah nampak kalau di dalamnya ga jauh-jauh dari ekonomi. Mata kuliah ini memang perpaduan atau hasil sebuah fusion antara ekonomi dan teknik. Dua sisi yang jelas sangat bertolak belakang. Anak teknik kebanyakan lemah di ekonomi atau akuntansi, namun dengan amat sangat terpaksa harus mempelajari mata kuliah ini karena emang dibutuhin banget saat tugas PPK kelak. Sebenarnya ga cuma buat tugas PPK sih, besok-besok kalo udah kerja juga pasti butuh banget kalau misal mo ngrancang pabrik. Jadi biar ga salah pilih alat yang ekonomis, biar ga salah itung-itungan pas ngrancang biaya, dll. Namun kenyataannya, minat mahasiswa akan mata kuliah EKOTEK begitu rendah. Saking rendahnya bisa dihitung dengan jari berapa kali mahasiswa masuk mengikuti kelas ini. Kalau pun daftar hadir bisa penuh berarti telah terjadi persengkokolan busuk yang sudah menjadi hal biasa di kalangan mahasiswa. Yah, sudahlah saya ga mau bicara soal titip absen. Saya mau mengenang satu kisah yang lumayan lucu untuk dikenang…

Pak Darmadji, dosen EKOTEK yang satu ini memiliki tingkat kedisplinan yang tinggi. Bagi beliau kalau mau sukses ya disiplin. Kalau mau ikut kuliah EKOTEK ya jangan terlambat. Kalau terlambat ya ga usah masuk. Tegas. Beliau tidak suka kalau saat kuliah bangku-bangku depan masih kosong sementara bangku-bangku belakang berasa penuh sesak. Dengan tegas beliau pasti berkata, “Pindah depan mas/mbak. Depan masih banyak yang kosong. Jangan pernah mau hidup cuma jadi follower!”. Mahasiswa yang udah kena sentak begitu biasanya langsung nurut pindah duduk depan dengan muka sedikit manyun. Maka setelah bangku depan sudah terisi kuliah pun dimulai. Buka-buka diktat, buka-buka tabel, tapi biasanya ga ada satu pun yang nyantel di otak. Menit demi menit berlalu. Semakin lama waktu kuliah maka semakin lebar mulut mahasiswa menguap….

Jangan sekali-sekali terlalu pede untuk masuk kuliah kalau udah telat banget. Pintu di ruang A22 pasti sudah diganjel dengan kursi dengan tujuan agar mahasiswa telat ga bisa masuk. Kalau kamu masih punya nyali buat nerobos pintu yang diganjel itu maka kamu harus punya nyali juga buat dibentak: “KELUAR MAS/MBAK!!!”. Sejenak pasti kelas hening sambil pada ngelirik siapa yang telat tadi. Setalah mahasiswa yang telat sadar juga ga boleh masuk, pak Darmadji segera melanjutkan kuliah.
Namun ternyata pengganjal pintu itu pernah diterobos oleh beberapa mahasiswa telat. Siapa sangka niat para mahasiswa telat tadi yang begitu tulus untuk kuliah mampu mendobrak kuatnya kursi pengganjal pintu!

Alkisah, saat itu mahasiswa yang kuliah bisa dibilang sangat sedikit daripada biasanya. Pak Darmadji merasa waktu untuk mengganjal pintu telah tiba. Maka mahasiswa yang paling dekat dengan pintu saat itu disuruh untuk meletakkan kursi sebagai pengganjal pintu. Pada sutu saat, pak Darmadji sedang menerangkan sesuatu (yang entah apa itu) dan kebetulan butuh untuk menuliskannya di papan tulis. Entahlah ini yang disebut jodoh atau bukan: saat beliau menghadap papan tulis untuk menulis, serombongan mahasiswa telat datang. Dengan begitu pedenya mereka menerobos masuk, dengan suara-suara kaki mereka yang amat berisik plus suara cekakak-cekikik mahasiswa lain yang mengiringi langkah mereka. Saya sempat deg-deg an kalau-kalau pak Darmadji melihat kejadian ini, jangan-jangan luapan amarah besar akan beliau keluarkan. Parahnya, mahasiswa yang paling terakhir masuk tak sempurna menutup pntu sehingga kursi pengganjal nampak tak melakukan fungsinya dengan baik sebagai pengganjal. Belum sempat pintu ditutup rapat lagi, Pak Darmadji sudah selesai berurusan dengan papan tulis dan berbalik menghadap para mahasiswa lagi. Saya menahan napas siap-siap menerima bentakan beliau untuk kami. Namun hanya satu kalimat muncul dari mulut beliau: “Kok jumlahnya kayaknya nambah ya…”. Kalimat itu diucapkan dengan nada datar tanpa ekspresi marah atau kecewa. Setelah itu kuliah dilanjutkan kembali……..

Well. pak Darmadji mengajarkan saya tentang kedisplinan. Bagaimana cara kita menghargai waktu. Dan kawan-kawan saya yang telat tadi mengajarkan saya jangan pernah menyerah berjalan menghadapi penghalang sebesar apa pun. Berapa pun risikonya, harus diterjang. Hahahahahahahahahahahaha



*taken from another my blog: http://jessica066eksis08.tumblr.com/post/7107948652/insiden-ganjel-pintu-sweetmemoriesontekim

Surat untuk Bapak Presiden

Dear pak SBY,

Pak maaf sebelumnya kalo saya kelihatan ga sopan banget nulis surat kayak gini. Maklum lah pak saya anak gaoel gitu loooohhh. Sebenarnya saya cuma mau menyuarakan isi hati saya pak. Walau mungkin ga penting, mungkin ada baiknya bapak baca deh…

Saya mahasiswa semester 6 jurusan teknik kimia fakultas teknik Undip. Bapak tau Undip kan? Itu lo yang ada di Semarang. Yang terkenal dengan icon Patung Kuda-nya. Yang panas banget lingkungannya gara-gara kurang pohon. Yang biaya masuk kuliahnya ampun mahal banget bikin leher orang tua tercekik. Haduh maap pak, saya jadi ngalentur gini.. To the point aja ya pak..

Gini, pak. Saya jujur aja ga pernah ngerti apa yang terjadi ama bangsa ini. Kasus para koruptor ga pernah berhenti. Beritanya di tipi makin lama makin banyak hingga ngalahin berita video porno para artis. Sayangnya berita para koruptor belom mampu meredakan ketenaran sinetron kejar tayang Putri yang Ditukar dengan bintang utama Nikita Willy. Ya ampun maap ngelantur lagi. Jadi maksud saya: saya (dan mungkin jutaan masyarakat Indonesia lain) sudah muak dengan para koruptor itu pak. Persetan dengan persidangan kasus mereka yang lama, persetan dengan berapa duit yang mereka korupsi, persetan dengan hidup mereka yang masih bahagia-bahagia aja walau udah berstatus terdakwa. Tau ga sih pak, saya di sini geram lihat mereka. Kenapa kalo nangkap maling ayam lebih mudah daripada nangkap koruptor? Mungkin karena maling ayam ga punya cukup duit buat lari ke luar negeri kali ya, pak… Satu lagi pak. Saya bosan liat kasus korupsi yang seakan-akan mengikuti filosofi peribahasa: mati satu tumbuh seribu. Satu kasus terkuak muncul kasus lain. Satu nama terkuak muncul nama-nama yang lain. Saling lempar salah. Ga ada yang mau  ngaku. Heran saya ama koruptor pas dulu mereka SD dapat pelajaran agama ga sih? Atau jangan-jangan nilai agama mereka selalu merah kali ya, pak… Saya rasa sudah cukup bicara korupsi. Ganti topik.

Pak, saya tahu Bapak pasti banyak pikiran. Susah tidur kala malam. Pecah otak bapak pasti kalo tiap hari mikir nasib bangsa ini. Saya kasian ama Bapak. Tapi bisa ga pak, ga usah curhat melulu di depan media. Ga usah ngeluh melulu di depan media. Jujur saja, saya cuma bisa simpati dan tambah merasa kasihan ama segala keluhan bapak. Bapak kan pemimpin, simpan lah semua keluhan bapak. Kalau mau curhat boleh-boleh aja kok, tapi jangan ama seantero Indonesia juga. Cukup curhat ama orang terdekat aja. Justru menurut saya bapak harus e bisa tegar dan kuat di depan kami. Kalo kami liat bapak kuat kan otomatis sebagai warga negara kami juga tenang. Tapi kalo bapak curhat melulu gitu, kami jadi risih juga. Emang yang punya masalah bapak doang.. Saya juga pak.. Tau ga pak proposal penelitian saya belum beres? Tau ga pak saya belajar buat ujian ga mudeng-mudeng? PAP, ekotek, SOM, pemisahan dengan membran, PPK, dll itu susah pak mata kuliahnnya… Tau ga pak saya lagi butuh banyak duit buat penlit, kape, bayar listrik kost? Tau ga pak bahkan saya ga tau lulus ntar jadi apa? Parah kan pak. Bedanya saya ga pernah curhat di depan banyak media (lagian mana ada sih media nyari in saya„,). Gimana ya, pak.. Bingung bilang e. Intine yang kuat aja deh pak.

Sekian aja deh pak surat dari saya. Maap kalo banyak yang ga berkenan di hati bapak. Saya cuma manusia biasa pak. Kadang pengin juga ngeluarin uneg-uneg. Maap kalo cuma bisa lewat dunia maya. Kalo via pos, belum tentu bapak baca. Kalo via telpon, saya ga tau nomor telepon bapak. Kalo mau face to face, belum tentu bapak bisa dan mau ketemu saya. Anggap saja surat ini mewakili perasaan hampir seluruh bangsa Indonesia. Moga bapak bisa tegar membacanya. Makasih pak.

Warga negara yang cinta Indonesia,
Jessica


*taken from another my blog: http://jessica066eksis08.tumblr.com/post/7075464616/surat-untuk-bapak-presiden

Kamis, 16 Juni 2011

F R I E N D

Friend....
Can you tell me why I feel like this?
Can you see me that I'm so bored with you?
or you will wanna know everything?
I'm doubt about it....

Well, thank you for supporting me, thank you for listening to all my sigh, thank you for giving a lot of advices for me, thank you for all you've done to me. I'm proud to have a friend like you. But just "sometimes"....

Where are you when I feel so sad? Yeah, you're right beside me. But just "right beside me"
Where are you when I get some troubles in my life? Yeah, you'll be with me. But just "be with me"
What do you do when I always angry? Yeah, you say 'keep calm, dear'. But just "say keep calm"

Now...
Can you "really" understand what happen to me?
Can you "really" wanna know what I'm worried about?
Can you tell me how to solve this damn-freak-thing?
(Again) I'm doubt about it..
You say: "Spirit, dear!" But it's not easy like you say
You say: "I'll be there for you..." But actually you'll never always be there for me
You say: "You're great, you're strong. I'm sure that you can pass it!" But you have to know that I'm not strong like you think

Friend...
Can you hide your happiness from me when I'm down? Don't you think that I'm so depressed to watch it? Can you give me a hope? I don't need your advice because it seems just "a bullshit" to me. Don't you know that:
You can't understand me because YOU ARE NOT ME
You can't understand me because YOU DON'T GET THIS PROBLEM
You always ask the same question for me: Why.... why.... and why.....
You just try to "care for me" but you don't "really" care for me

Anyway, I think YOU ARE NOT ME but YOU ARE LIKE ME. Maybe sometimes you feel like me, you get a big trouble, you're sad; but I can't be your best friend when you feel all of this. That's why now you can't understand me. Actually now I can see that everyone has their own problems. Just like this: I don't wanna know your problem, so do you. It's true that: HARD TO BE UNDERSTOOD IF YOU CAN"T UNDERSTAND ANOTHER PERSON



Tulisan ini dibuat berdasarkan sebuah realita dalam pertemanan. Mudah memang mencari teman, namun sulit mencari sahabat. Jangan pernah menyuruh orang lain mengerti anda jika anda pun tak mampu mengerti orang lain :)). Spesial untuk kawan-kawan saya: I LOVE YOU ALL... Maap saya sering marah-marah ga jelas :)) I'm happy to be your friend...

Rabu, 27 April 2011

...when i talk about kormat....

Sebuah tulisan yang aku dedikasikan untuk para kormat. They are inspiring my life. They show me how to be faithful. Mereka mengajarkanku bagaimana caranya sabar....


Kormat. Nampaknya jabatan tadi sangatlah terhormat. Jika menjadi kormat, maka  bersiap-siaplah menjadi orang penting. Kau akan berhubungan langsung dan lebih intens  dengan dosen. Tak salah jika berharap nomor hapemu juga akan di-save oleh si dosen.  Inbox di hapemu akan dipenuhi pertanyaan kawan-kawanmu yang sama tiap minggunya: nanti  ada kuliah tidak? Maka setelah kau bosan dengan pertanyaan yang sama tiap minggunya,  setiap malam sebelum hari H kuliah kau akan membuat jarkom: JARKOM!! Besok ada kuliah  bla bla bla di ruang bla bla bla pukul bla bla bla. Kalau sudah musim menjelang ujian  maka sms yang masuk ke inboxmu berganti: besok ujiannya open apa close? Jenuh menjawab  pertanyaan yang sama pada tiap orang, ujung-ujungnya kau akan membuat jarkom lagi:  JARKOM!! Ujian bla bla close book. Derita kormat tak sampai di situ saja. Kadang jika  dosen memberi tugas yang rada "geje" dan sulit dipahami oleh otak mahasiswa rata-rata  macam kami, maka seolah-olah kormat lah yang harus bertanggung jawab. Ditanya ini itu,  kalau tak tahu disuruh tanya ke dosennya. Itulah kormat, mengemban tugas yang cukup  berat, menjadi penopang bagi mahasiswa malas macam kami ini.

Ada lagi derita kormat yang lain, dia hampir tak bisa membolos mata kuliah yang menjadi tanggung jawabnya (kecuali kalau dia nekat dan cuek pada nasib kawan-kawannya). Kormat biasanya duduk di depan saat kuliah. Dia akan mengikuti kuliah dengan amat baik, mencatat setiap tugas yang diberikan oleh dosen. Maka kutemukan lagi satu derita kormat: "memperhatikan kuliah dengan sungguh-sungguh". Sudah menjadi rahasia umum kalau mahasiswa bengal seperti kami jarang mengikuti kuliah dengan sungguh-sungguh. Ada saja yang dikerjakan: bergosip dengan teman sebelah, melamun, menggambar rupa-rupa bentuk di kertas, menyalin laporan praktikum, membuat proposal praktikum, mengantuk, tidur, sms an, browsing via hape. hingga sok serius memandang diktat kuliah padahal pikirannya ngelantur ke mana-mana. Namun sekali kau menyandang gelar kormat maka jangan harap bisa melakukan hal-hal tadi dengan leluasa. Kormat lah source of information bagi kawan-kawannya. Salah memberi info pasti akan menjadi pergunjingan walau hanya sesaat. Seperti tabiat kebanyakan orang Indonesia yang suka mengeluh, mahasiswa pun demikian. Sekali berbuat salah, pasti langsung dicibir, dianggap tak bertanggung jawab lah, lalai lah, malas lah, dan lain-lain. Padahal aku yakin, mereka yang tukang mengeluh tadi (termasuk aku) pasti belum tentu mengemban amanah mulia sebagai kormat. Oh ya satu hal lagi derita kormat yang paling akut: saat akan memfotocopy diktat dengan tebal yang lumayan ditambah jumlah mahasiswa yang lumayan banyak juga, mau tak mau dia harus menalangi uang pembayaran kawan-kawannya. Dapat kutarik kesimpulan bahwa kormat haruslah punya uang cadangan untuk keadaan mendadak macam ini. Belum lagi kalau ada beberapa kawan yang belum membayar uang diktat namun dia relakan memberikan diktat pada kawannya karena kasihan.

Atas dasar segala penderitaan yang kulihat jika menjadi kormat tadi, maka kuputuskan aku tak akan pernah mencalonkan diri menjadi kormat. Bahkan kalau sampai ada yang melambungkan namaku saat pemilihan kormat maka bisa kupastikan habislah dia di tanganku. Tak bisa kubayangkan bagaimana rasanya mengurusi puluhan mahasiswa-mahasiswa labil di kelasku. Aku malas sekali mengurusi nasib jadwal kuliah mereka. Aku malas juga jika ada jadwal yang bertabrakan atau dosen yang bersangkutan berhalangan hadir, maka aku harus mencari jadwal penggantinya. Belum lagi kalau kawan-kawanku selalu menghantui malamku dengan sms tentang kapan kuliah. Bukannya aku pelit pulsa, tapi malas saja membalas sms yang sama setiap minggu. Di mataku, setelah menjabat sebagai kormat maka hidup terasa gelap. Satu semester dijalani dengan kelelahan tiap minggu. Ambil absen, ambil LCD, mengingatkan dosen untuk kuliah, ada pula dosen minta dijemput di ruangannya (macam anak SD saja tipe dosen macam ini), kadang ada dosen meminta dibawakan air minum saat kuliah, dan hal-hal absurd lain. Aku akui kalau aku bukanlah tipe penyokong yang bisa melakukan hal-hal tadi. Aku malas mengurusi hajat hidup mahasiswa labil ini. Kalau aku jadi kormat maka pastilah kuliah berantakan. Kalau kau tanya tugas, mungkin kujawab: tidak ada tugas kok, santai saja. Kalau kau tanya ujian close book atau open book mungkin kujawab: open kok (padahal close book).

Kalian boleh men-judge aku sebagai mahasiswa tak bisa diandalkan dan tak bisa bertanggung jawab. Terserahlah. Namun daripada kalian menghujatku terus, aku bawa kalian ke sosok-sosok hebat yang sukses menjadi kormat. Kormat yang bisa aku katakan teladan karena kesabarannya, kepeduliannya pada nasib kami, kerajinannya, keuletannya, keramahnnya, dan terjaminnya nasib kami selama kuliah. Sosok pertama adalah TRINUG. Aku menyebutnya Master of Kormat. Bukan tanpa alasan aku menyebutnya seperti itu. Dia sosok paling bertanggung jawab dari semua kormat yang pernah aku lihat. Dia selalu datang lebih pagi dari yang lain. Dia selalu menyiapkan segala yang diperlukan sang dosen sebelum perkuliahan dimulai. Yang membuatku tambah kagum, meski saat tak menjabat sebagai kormat sekalipun, dia rela melakukan tugas kormat macam ambil LCD dan daftar absen saat kormat yang bersangkutan berhalangan bertugas tanpa alasan yang jelas. Dialah TRINUG, anak asli Semarang, cerdas, santun pula. Aku memandangnya sebagai muslim yang baik. Sosok yang kedua adalah ULIL. Dalam kamus kehidupan tekimku, aku menetapkannya sebagai orang kepercayaan Master of Kormat. Dia rajin datang pagi ke kampus (apalagi untuk download anime-anime kesukaannya). Kelakuannya mirip sang Master of Kormat. Hanya saja dia agak "grusa-grusu" alias agak mudah panik. Dia suka berlari-lari dari lantai dua gedung B menuju tempat perkuliahan. Dia juga ahli dalam memecahkan "masalah LCD". Ada kalanya LCD tidak mau connect dengan laptop, maka ULIL lah yang berhasil menjinakkan LCD tadi. Sebenarnya masih banyak lagi kormat-kormat yang di mataku baik, namun dari semuanya mereka berdua lah yang terbaik. Muncul pula nama kormat-kormat lain yang tak mungkin pula aku sebutkan satu per satu (karena sepertinya hampir semua anak sudah merasakan menjadi kormat..).

Keseluruhan, merekalah sebagian dari mahasiswa labil yang berani mengemban tanggung jawab berat. Mereka lah sosok yang menjadi panutan selama hidupku. Melalui mereka aku belajar agar aku jangan sampai hidup menderita seperti mereka. Ah, salah lagi. Maksudku melalui mereka aku belajar untuk menjadi pengayom bagi yang lain. Sulit memang sepertinya, namun aku tahu di balik kesengasaraan mereka muncul sebuah senyuman manis di akhir masa kerja mereka. Mereka patut berbangga karena melalui merekalah kuliah lancar, melalui merekalah tugas-tugas dapat dikumpulkan, melalui merekalah nilai-nilai  -baik indah maupun hancur-   milik kawan-kawannya akhirnya bisa terpampang di KHS. Sejuta hormatku untuk kalian, wahai para kormat...

Senin, 04 April 2011

Nge-Fans: Antara SUKA ato DEMEN??

Tulisan ini aku buat berdasarkan kisah pribadi, nyata, dan tanpa rekayasa. Apa yang ada di sini adalah bagain-bagian tak terpisahkan manusia ketika dia nge-fans dengan seseorang. Aku tertarik menulis hal "geje" ini karena sejujurnya inilah hal paling aneh yang sering aku lakukan. Mungkin hanya ingin sekadar share saja, kali aja ada yang kisahnya sama kayak aku.

Mengagumi seseorang bukanlah hal yang salah. Misal saja sekadar flash back, zaman SMA dulu aku kagum pada seorang pegawai TU di sekolahku. Beliau begitu santun, ramah, tidak neko-neko, dan tentu saja ganteng. Atau aku juga sempat kagum kepada guru SMP ku yang begitu galak namun sangat pintar dan membuat para siswanya pintar. Ada kalanya kagum itu dalam batasan "wajar", namun ada kalanya "kagum" itu dalam batasan yang "sangat tidak wajar". Untuk kategori "sangat tidak wajar" aku klasifikasikan untuk kisahku akhir-akhir ini selama duduk di bangku kuliah. Bentuk-bentuk tindakan "geje" plus aneh mulai muncul saat aku nge-fans dengan seseorang -sebut saja mas Oki- . Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari laki-laki itu. Dia begitu dingin dan teramat cuek plus sedikit jaim. Hal-hal itulah yang membuatku begitu penasaran dengannya. Sebenarnya sejak awal semester 1 aku sudah "tertarik" akan tingkah lakunya, namun mungkin baru semester ini lah aku menjadi terkena "penyakit gila" sebagai efek nge-fans kepadanya.

Aku membedakan antara nge-fans dan cinta. Perbedaan yang nyata terlihat tentu saja kalo nge-fans tuh ya cuma suka saja. Suka ama gerakannya, suka lihat wajah segernya, suka tingkah lakunya, pokoknya menjurus ke hal-hal yang berbau fisik. Tapi cinta itu lain. Cinta itu perasaan yang sulit didefinsikan, yang ada hanya perasaan gelisah, deg-deg an, berbunga-bunga, sampai patah hati. Kalau nge-fans biasanya aku tak sampai deg-deg an saat memandang wajahnya, namun jika cinta pasti ada deg-deg an di dalam dada. Nah, berdasarkan teori di atas (teori yang aku buat sendiri tentunya), maka bisa aku simpulkan apa-apa yang belakangan ini aku rasakan hanyalah sekadar perasaan sebagai fans mas Oki. Meski bukan cinta, namun tindakan yang akhir-akhir ini sering dilakukan sama "gila" nya dengan jatuh cinta. Inilah beberapa tindakan gila itu:
  • Mulai mencari wajahnya saat seharian tak melihat wajahnya. Ini tindakan gila pertama yang sering aku lakukan bersama partnerku (baca: Lia). Tempat-tempat yang sering menjadi sasaran utama kami biasanya gedung A bawah, gedung B bawah, dan parkiran (akhir-akhir ini perpustakaan juga menjadi target).
  • Mulai cengar-cengir kalau melihatnya berjalan atau lewat di hadapan kami. Ini juga tindakan gila karena kami dengan "geje" nya mengharapkan senyumnya untuk kami. Kadang yang muncul di bibirnya bukanlah sebuah senyuman untuk kami melainkan sebuah cengiran yang tak kalah geje bentuknya dengan tindakan kami
  • Mulai hapal jadwal mas Oki dari hari ke hari. Ini tindakan gila terparah yang kami alami. Entah karena sudah kebiasaan atau emang entah karena "sengaja" menghapal jadwal lewatnya jam berapa, jadwal hari apa biasanya dia di mana, jadwal jam berapa dia ada di parkiran, dan jadwal-jadwal lainnya. Ini makin menggila karena lama-kelamaan kami hapal di mana kami harus stand by buat menanti masnya lewat.
  • Mulai hapal baju yang dia pake. Ini tindakan gila yang jarang aku lakukan namun sering dilakuakan oleh partnerku (baca: Lia). Aku no comment untuk tindakan ini karena sudah termasuk level "parah".
Well, setidaknya itulah beberapa tindakan "gila" yang aku lakukan bersama partnerku.  Gila memang, namun kami seolah menikmatinya. Kadang kami menganggap sosok mas itu sebagai penyegar buat kami di tengah kejenuhan kuliah dan tugas plus kadang penyejuk hati kami yang kadang tersakiti oleh cinta. Namun makin ke sini jujur saja muncul pertanyaan di benakku, beda antara suka ama demen tipis sekali. Aku tidak demen ama mas itu, tapi suka aja lihat tingkah polahnya. Tapi lama-lama bisa saja suka itu jadi demen kalau aku sendiri tidak bisa mengendalikan "tindakan gila" di atas. Lucu memang kisah-kisah macam ini. Aku anggap ini sebagai kenangan, kenangan yang terlupakan saat aku berumur 20 tahun. Kenangan gila yang aku miliki di tengah frustasi hidup di teknik kimia. Nge-fans pada mas Oki menjadi sesuatu yang tidak akan aku sesali karena menurutku itu bukan hal salah.